Aku duduk
di meja rias yang berada di depan kasurku. Aku memandangi diriku sendiri. Aku
melihat ke arah leherku yang terdapat kalung emas putih indah. Aku memegangnya
lalu menciumnya. Tiba-tiba saja aku teringat sebuah kenangan bersamanya.
10 tahun lalu..........
Aku mempunyai seseorang yang aku
kagumi. Hampir setiap hari aku melihatnya. Dia adalah tetanggaku di sebuah
apartemen sekaligus teman di kampus. Dia tampan, pintar, sangat baik, dan unik.
Dia adalah laki-laki terunik yang pernah aku kenal. Dia bernama Yoga.
Aku mengenalnya saat dia
memperbaiki pintu kamar mandiku, karena aku terkunci didalamnya. Oh, konyol
sekali!
Pagi yang cerah! Ujarku dalam hati. Ku lihat jam dindingku---tepat
pukul 6 pagi. Aku cepat-cepat membereskan tempat tidurku dan pergi mandi. Aku
ada janji dengannya---Yoga. Ya, pagi ini aku diantar ke kampus oleh Yoga. Dan
malamnya Yoga mengajakku makan malam. Aku sangat senang!
Waktu sudah menunjukkan pukul
6.45 pagi. Aku mempercepat sarapanku. Aku harus menemui Yoga di lobby apartemen. Setelah sarapanku
habis, aku mengambil tas dan buku-buku di meja dan langsung berlari menuju lift yang tempatnya cukup jauh dari
kamarku.
**
“Oke, sampe nih! Lo turun duluan
aja, Ris. Gue mau cari tempat buat mobil.” Katanya sambil tersenyum manis. Aku
membalas senyumnya dan berjalan menuju kelas yang berada di lantai 2.
Saat menuju kelas, aku bertemu
dengan sahabatku, Elina. Dia juga sedang berjalan menuju kelas. Kemudian aku
menceritakan kejadianku di pagi hari.
“Wah, asyik tuh! Enak banget ya,
satu apartemen dan satu kampus sekaligus! Coba kalau gue sama Rio kayak lo sama
Yoga. Ah---surga dunia kayaknya!”
Aku tertawa kecil. Sifat Elina
memang sedikit berlebihan ketika merespon orang-orang.
“Oh iya! Ris, lo nanti malem mau
kan dateng ke kamar gue? Ya---gue ngundang ke pesta kecil aja sih. Cuma sedikit
pula yang gue undang. Lo pertama yang gue undang!” Tawar Elina.
“Maaf Elina, bukannya gue gak mau
dateng ke peta kecil lo. Tapi masalahnya, entar malem gue diajak makan malem
sama Yoga.”
“SERIUS?! Lo diajak makan malem
sama Yoga?!” Teriak Elina. Mata birunya kini terlihat sangat jelas dan indah.
“Iya, gue serius! Gak usah teriak
bisa kali.” Candaku.
“Ya sudah, gue undur acaranya.
Besok malem harus dateng!” Pinta Elina ketika sampai di kelas.
**
5 tahun yang lalu......
Yoga kini sudah menjadi kekasihku
selama kurang lebih 3 tahun. Tapi akhir-akhir ini aku merasa ada yang
disembunyikan Yoga. Dan sepertinya bukan hal biasa. Aku sudah lama ingin
menanyakan hal ini, tapi aku belum berani. Aku tidak mau kehilangan cinta yang
tulus dari Yoga hanya karena hal kecil saja.
Hari ini aku ingin mengajaknya
pergi ke tempat tenang, jauh dari polusi udara dan suara. Aku dan Yoga sangat
menikmati suasananya. Hamparan rumput hijau mengelilingi danaunya, pohon-pohon
menari mengikuti arah angin.
“Jadi----ini tempat favorit gue
waktu masih kecil.”
“Pilihan lo tepat banget. Sejuk
dan tenang.” Yoga menarik nafas dalam-dalam, menikmati setiap angin yang
menerpa wajah manisnya.
Aku tersenyum kepadanya. Yoga
yang menyadari itu, langsung membalasnya dan memelukku. Aku bisa merasakan
cinta dan kasih sayang yang tulus saat Yoga memelukku. Yoga berhenti memeluk,
lalu mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ternyata itu kalung! Kalung
emas putih indah, dengan liontin berbentuk hati.
Yoga memakaikan kalung itu di
leherku. Aku merasakan cinta berlari mengelilingi kalung itu, seakan mencari
jalan keluar, tapi mereka tidak berhasil melakukannya. Apakah itu menandakan
cinta dari seorang Yoga? Sekuat itukah cinta Yoga kepadaku? Kemudian aku
menangis dalam pangkuan hangatnya.
Yoga melepas pelukanku dan mengambil gitar akustiknya.
Kemudian memainkan gitarnya menggunakan tangan besarnya dan bernyanyi dengan
merdu. Menghangatkan suasana.......
I wanna be holding your hand
In the sand by the tire swing
Were we use to be, baby you and me
I traveled thousand miles
Just so I can see you smile
Feel so far away
When you cry, cause home is in your eyes
Greyson Chance-Home Is In Your Eyes
**
Jadi, selama ini yang
disembunyikan Yoga adalah-----penyakit jantung yang sudah dia derita sejak dia
tinggal di apartemen itu. Mau tidak mau aku harus percaya. Sekarang Yoga ada di
Rumah Sakit, menjalani perawatan. Penyakit jantungnya kambuh.
Tak lama, orang tua dan kakak
perempuan Yoga datang. Mereka bertanya mengapa Yoga bisa seperti ini.
“Saya tidak tahu apa yang
dilakukannya, tante. Saat saya membuka pintu kamarnya, saya melihat Yoga sedang
memegangi dada bagian kiri. Karena panik, saya langsung menelepon ambulans.”
Jelasku. Telihat khawatir di wajah orang tua dan kakak perempuannya.
“Permisi, anda orang tua dari
Yoga? Alhamdulillah sekarang Yoga sudah sadar. Tapi masih butuh istirahat.
Silakan ibu, bapak, dan adik-adik boleh menjenguknya. Asalkan jangan
mengganggunya.” Jelas dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“Alhamdulillah. Terima kasih,
dokter!” Balas ayah Yoga.
Aku sangat bahagia! Aku masih
diberi kesempatan untuk merasakan belaian lembut dari tangan Yoga.
Aku melihat Yoga sedang tertidur
dengan alat bantu nafas di mulutnya. Aku menangis terharu. Kakak perempuan Yoga
menghampiriku.
“Gue percaya lo, Risma. Jaga
baik-baik Yoga.” Katanya.
Aku mengangguk tanda mengerti.
Tentu saja aku akan menjaga Yoga sampai kapan pun. Aku janji!
**
Malam ini aku berkeliling kota
bersama Yoga. Senang rasanya ketika Yoga dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang
dari Rumah Sakit tiga bulan yang lalu.
“Gaun yang indah!” Ujarku saat
melewati toko gaun untuk pernikahan.
“Mungkin suatu saat nanti kau
bisa memakainya saat hari kebahagiaan kita.” Aku melihat mata indahnya. Kata-kata Yoga sangat membuatku
terharu sekaligus bangga. Aku dan Yoga melanjutkan perjalanan menuju restoran klasik yang tak jauh dari toko gaun
itu.
**
Jam beker berbunyi dengan
nyaring. Saat ku buka mataku, aku melihat----gaun putih cantik dengan hiasan
bunga putih di bagian pinggang. Persis seperti yang aku dan Yoga lihat saat di
kota. Apa mungkin dari Yoga? Pikirku
sambil tersenyum.
Aku melihat sepucuk surat
beramplop merah muda dan wangi. Kemudian aku membacanya...
Risma sayang,
Maaf sebelumnya gue belum pernah ngasih tahu kalo gue kena penyakit
jantung.
Gue gak mau lo ninggalin gue cuma gara-gara ini.
Dan gue juga mau minta maaf kalau gue belum sempet pamit sama lo.
Gue gak mau lo sedih cuma karena gue gak ada disisi lo, untuk
selamanya.
Gue cuma mau bilang, gue sayang
banget sama lo!
Walaupun gue udah gak disisi lo lagi.
Yoga.
NB: Risma, lo bisa dateng hari Minggu jam 10 pagi.
**
Aku datang tepat saat Yoga mau
dimakamkan. Saat tiba di pemakaman, rasanya aku tidak ingin melihat dan berada
di tempat ini. Marty, kakak perempuan Yoga menghampiriku dan membujukku untuk
melihatnya.
“Yoga mau lo ngeliat ini!”
Katanya.
Aku
mengikuti apa kata Marty. Aku melihat, jasad Yoga. Dia---dia tersenyum! Aku
membalas senyumnya untuk terakhir kali. Aku harus menerima kenyataan bahwa Yoga
telah tiada di dunia ini.
Selamat tinggal, Yoga!
Kini, kalung dan gaun yang aku
pakai sekarang hanya kenangan darinya. Aku akan selalu mencintainya. Walaupun dia
sudah tidak ada di dunia.
Aku berjalan keluar kamar
diiringi ibu dan ayahku. Setibanya aku diruang utama, aku melihat
seseorang----dia Yoga! Dia sedang duduk diantara orang tuanya dan Marty. Dia
tersenyum bahagia. Dia bahagia melihatku senang, walau bukan bersamanya.

Mike Newell, sutradara Harry Potter and the Goblet of Fire
Helena Bonham Carter, Bellatrix Lestrange
Evanna Lynch, Luna Lovegood
Helen McCrory, Narcissa Malfoy
Emma Watson, Hermione Granger
Alan Rickman, Severus Snape
Matthew Lewis, Neville Longbottom
David Heyman
Julie Walters, Molly Weasley
Steve Kloves, penulis skenario film Harry Potter
Daniel Radcliffe, Harry Potter
Rupert Grint, Ronald Weasley
Tom Felton, Draco Malfoy