16 Jan 2012

Kenangan Indah Bersamanya


Aku duduk di meja rias yang berada di depan kasurku. Aku memandangi diriku sendiri. Aku melihat ke arah leherku yang terdapat kalung emas putih indah. Aku memegangnya lalu menciumnya. Tiba-tiba saja aku teringat sebuah kenangan bersamanya.


10 tahun lalu..........

Aku mempunyai seseorang yang aku kagumi. Hampir setiap hari aku melihatnya. Dia adalah tetanggaku di sebuah apartemen sekaligus teman di kampus. Dia tampan, pintar, sangat baik, dan unik. Dia adalah laki-laki terunik yang pernah aku kenal. Dia bernama Yoga.

Aku mengenalnya saat dia memperbaiki pintu kamar mandiku, karena aku terkunci didalamnya. Oh, konyol sekali!

Pagi yang cerah! Ujarku dalam hati. Ku lihat jam dindingku---tepat pukul 6 pagi. Aku cepat-cepat membereskan tempat tidurku dan pergi mandi. Aku ada janji dengannya---Yoga. Ya, pagi ini aku diantar ke kampus oleh Yoga. Dan malamnya Yoga mengajakku makan malam. Aku sangat senang!
Waktu sudah menunjukkan pukul 6.45 pagi. Aku mempercepat sarapanku. Aku harus menemui Yoga di lobby apartemen. Setelah sarapanku habis, aku mengambil tas dan buku-buku di meja dan langsung berlari menuju lift yang tempatnya cukup jauh dari kamarku.

**

“Oke, sampe nih! Lo turun duluan aja, Ris. Gue mau cari tempat buat mobil.” Katanya sambil tersenyum manis. Aku membalas senyumnya dan berjalan menuju kelas yang berada di lantai 2.

Saat menuju kelas, aku bertemu dengan sahabatku, Elina. Dia juga sedang berjalan menuju kelas. Kemudian aku menceritakan kejadianku di pagi hari.

“Wah, asyik tuh! Enak banget ya, satu apartemen dan satu kampus sekaligus! Coba kalau gue sama Rio kayak lo sama Yoga. Ah---surga dunia kayaknya!”
Aku tertawa kecil. Sifat Elina memang sedikit berlebihan ketika merespon orang-orang.
“Oh iya! Ris, lo nanti malem mau kan dateng ke kamar gue? Ya---gue ngundang ke pesta kecil aja sih. Cuma sedikit pula yang gue undang. Lo pertama yang gue undang!” Tawar Elina.
“Maaf Elina, bukannya gue gak mau dateng ke peta kecil lo. Tapi masalahnya, entar malem gue diajak makan malem sama Yoga.”
“SERIUS?! Lo diajak makan malem sama Yoga?!” Teriak Elina. Mata birunya kini terlihat sangat jelas dan indah.
“Iya, gue serius! Gak usah teriak bisa kali.” Candaku.
“Ya sudah, gue undur acaranya. Besok malem harus dateng!” Pinta Elina ketika sampai di kelas.

**

5 tahun yang lalu......

Yoga kini sudah menjadi kekasihku selama kurang lebih 3 tahun. Tapi akhir-akhir ini aku merasa ada yang disembunyikan Yoga. Dan sepertinya bukan hal biasa. Aku sudah lama ingin menanyakan hal ini, tapi aku belum berani. Aku tidak mau kehilangan cinta yang tulus dari Yoga hanya karena hal kecil saja.

Hari ini aku ingin mengajaknya pergi ke tempat tenang, jauh dari polusi udara dan suara. Aku dan Yoga sangat menikmati suasananya. Hamparan rumput hijau mengelilingi danaunya, pohon-pohon menari mengikuti arah angin.

“Jadi----ini tempat favorit gue waktu masih kecil.”
“Pilihan lo tepat banget. Sejuk dan tenang.” Yoga menarik nafas dalam-dalam, menikmati setiap angin yang menerpa wajah manisnya.
Aku tersenyum kepadanya. Yoga yang menyadari itu, langsung membalasnya dan memelukku. Aku bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang tulus saat Yoga memelukku. Yoga berhenti memeluk, lalu mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ternyata itu kalung! Kalung emas putih indah, dengan liontin berbentuk hati.

Yoga memakaikan kalung itu di leherku. Aku merasakan cinta berlari mengelilingi kalung itu, seakan mencari jalan keluar, tapi mereka tidak berhasil melakukannya. Apakah itu menandakan cinta dari seorang Yoga? Sekuat itukah cinta Yoga kepadaku? Kemudian aku menangis dalam pangkuan hangatnya.

Yoga melepas pelukanku dan mengambil gitar akustiknya. Kemudian memainkan gitarnya menggunakan tangan besarnya dan bernyanyi dengan merdu. Menghangatkan suasana.......

I wanna be holding your hand
In the sand by the tire swing
Were we use to be, baby you and me
I traveled thousand miles
Just so I can see you smile
Feel so far away
When you cry, cause home is in your eyes
 Greyson Chance-Home Is In Your Eyes

**

Jadi, selama ini yang disembunyikan Yoga adalah-----penyakit jantung yang sudah dia derita sejak dia tinggal di apartemen itu. Mau tidak mau aku harus percaya. Sekarang Yoga ada di Rumah Sakit, menjalani perawatan. Penyakit jantungnya kambuh.

Tak lama, orang tua dan kakak perempuan Yoga datang. Mereka bertanya mengapa Yoga bisa seperti ini.

“Saya tidak tahu apa yang dilakukannya, tante. Saat saya membuka pintu kamarnya, saya melihat Yoga sedang memegangi dada bagian kiri. Karena panik, saya langsung menelepon ambulans.” Jelasku. Telihat khawatir di wajah orang tua dan kakak perempuannya.
“Permisi, anda orang tua dari Yoga? Alhamdulillah sekarang Yoga sudah sadar. Tapi masih butuh istirahat. Silakan ibu, bapak, dan adik-adik boleh menjenguknya. Asalkan jangan mengganggunya.” Jelas dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“Alhamdulillah. Terima kasih, dokter!” Balas ayah Yoga.
Aku sangat bahagia! Aku masih diberi kesempatan untuk merasakan belaian lembut dari tangan Yoga.
Aku melihat Yoga sedang tertidur dengan alat bantu nafas di mulutnya. Aku menangis terharu. Kakak perempuan Yoga menghampiriku.
“Gue percaya lo, Risma. Jaga baik-baik Yoga.” Katanya.

Aku mengangguk tanda mengerti. Tentu saja aku akan menjaga Yoga sampai kapan pun. Aku janji!

**

Malam ini aku berkeliling kota bersama Yoga. Senang rasanya ketika Yoga dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang dari Rumah Sakit tiga bulan yang lalu.

“Gaun yang indah!” Ujarku saat melewati toko gaun untuk pernikahan.
“Mungkin suatu saat nanti kau bisa memakainya saat hari kebahagiaan kita.” Aku melihat mata indahnya. Kata-kata Yoga sangat membuatku terharu sekaligus bangga. Aku dan Yoga melanjutkan perjalanan menuju  restoran klasik yang tak jauh dari toko gaun itu.

**

Jam beker berbunyi dengan nyaring. Saat ku buka mataku, aku melihat----gaun putih cantik dengan hiasan bunga putih di bagian pinggang. Persis seperti yang aku dan Yoga lihat saat di kota. Apa mungkin dari Yoga? Pikirku sambil tersenyum.

Aku melihat sepucuk surat beramplop merah muda dan wangi. Kemudian aku membacanya...

Risma sayang,
Maaf sebelumnya gue belum pernah ngasih tahu kalo gue kena penyakit jantung.
Gue gak mau lo ninggalin gue cuma gara-gara ini.
Dan gue juga mau minta maaf kalau gue belum sempet pamit sama lo.
Gue gak mau lo sedih cuma karena gue gak ada disisi lo, untuk selamanya.
Gue cuma mau bilang,  gue sayang banget sama lo!
Walaupun gue udah gak disisi lo lagi.
Yoga.
NB: Risma, lo bisa dateng hari Minggu jam 10 pagi.

**

Aku datang tepat saat Yoga mau dimakamkan. Saat tiba di pemakaman, rasanya aku tidak ingin melihat dan berada di tempat ini. Marty, kakak perempuan Yoga menghampiriku dan membujukku untuk melihatnya.

“Yoga mau lo ngeliat ini!” Katanya.

Aku mengikuti apa kata Marty. Aku melihat, jasad Yoga. Dia---dia tersenyum! Aku membalas senyumnya untuk terakhir kali. Aku harus menerima kenyataan bahwa Yoga telah tiada di dunia ini.

Selamat tinggal, Yoga!

Kini, kalung dan gaun yang aku pakai sekarang hanya kenangan darinya. Aku akan selalu mencintainya. Walaupun dia sudah tidak ada di dunia.

Aku berjalan keluar kamar diiringi ibu dan ayahku. Setibanya aku diruang utama, aku melihat seseorang----dia Yoga! Dia sedang duduk diantara orang tuanya dan Marty. Dia tersenyum bahagia. Dia bahagia melihatku senang, walau bukan bersamanya.

15 Jan 2012

Sebotol Hujan Rindu



Aku membuka pintu kamarku dengan malas-malasan, lalu menutupnya. Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan memandang langit-langit kamar yang putih. Aku jadi ingat aku belum mandi sore. Dengan cepat aku melangkah ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Rasa saat setelah mandi mampu membuatku menjadi sedikit segar. Saat aku ingin mencari bedak, aku melangkah ke meja rias dan mengambil benda apa yang aku butuhkan. Saat aku ingin meraih bedak tersebut mataku menatap lekat benda yang sudah berdebu. ‘Apa itu?’ pikirku, sambil mengambil benda yang berdebu tersebut, dan membatalkan rencana untuk berbedak sejenak. 

Saat berhasil meraih benda berdebu itu, aku hanya bisa menatap benda tersebut dengan nanar. Sebotol parfum. Entah sudah berapa lama parfum ini di sini hingga bisa berdebu seperti ini. Aku membersihkan debunya bermaksud untuk melihat parfum merk apa ini. Saat tangan ini berhasil menyingkirkan debu yang menempel, kini terlihat begitu jelas. Aku terkesiap saat tulisan merk itu dapat di baca dengan mataku, Tiba-tiba dadaku terasa sesak, degup janungku berdetak lebih cepat. Dengan tangan yang bergetar hebat aku memberanikan diri untuk mencium aromanya. 

“Cssttt” 

Aroma coklat yang kuat menyambut hidungku seketika. Dan saat itu juga tanganku bertambah bergetar. Baunya begitu kuat, mampu membuka lagi kotak memori di otakku. Ya, parfum ini miliknya. Seseorang yang dulu begitu istimewa di sudut hatiku. Bersama dengan itu juga kenangan anatara aku dan dirinya menyeruak tanpa ampun, menginjak-injak hati ini, semakin sesak. Tanpa di sadari air mata terbit di pelupuk mataku. Mataku mengabur menerawang jauh, saat waktu bersama dengan dirinya.


***

Aku menatap papan tulis putih itu dengan serius. Mengamati angka-angka yang tertera di sana. Otakku memikirkan mengapa angka tersebut ada di sana, dan mengapa itu bisa begitu. Rumus-rumus itu membuat jalan pikiranku menjadi kusut. Otak ini sudah menyerah bagaimana asal-muasal angka tersebut. Aku menghela napas dan menyenderkan punggung ke sandarannya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kelas tempat kursusku. Semuanya melihat papan tulis lalu menuliskannya ke dalam buku mereka masing-masing. Situasi kursus yang membosankan, menurutku.


“Brak!” 

Tiba-tiba ada sosok yang menjulang membuka pintu ruang kelasku dengan napas yang tersengal-sengal. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas dan pandangannya berhenti di guru lesku. Aku bisa melihat dia begitu khawatir. Dia mengambil oksigen di sekitarnya, seakan-akan dia akan kehilangan jika tidak menghirupnya cepat-cepat.

“Maaf bu saya terlambat. Tadi macet banget!” jelasnya di antara napasnya yang terburu-buru. Aku juga memperhatikan mukanya yang merah karena berlari dari tempat parkir ke kelas ini. Tiba-tiba seulas senyum terkembang di mulutku. 

Dia lalu berjalan ke bangku belakang dan mulai mengeluarkan bukunya. Saat dia akan melihat ke papan tulis, matanya bertumbu dengan mataku. Aku merasa kaget karena tertangkap basah diam-diam memperhatikannya langsung menghadap ke depan dengan pipi memanas.

***

Aku hanya menatap pemandangan di depanku dengan perasaan kesal. Air turun dengan derasnya saat waktu kursusku telah berakhir. Saat tadi terpenjara dalam rumus-rumus yang rumit, kini terpenjara dalam hujan yang deras. Karena tidak mau mengambil resiko aku hanya bisa duduk dengan lunglai di kursi tunggu. Dinginnya hujan memelukku begitu erat. Aku hanya bisa mengencangkan jaket yang aku gunakan.
Tiba-tiba sebuah mobil jazz biru berhenti di depanku. Aku terlihat bingung sambil melihat kea rah jendela mobil. Kupikir orang yang menjemput, tapi saat jendela mobil tersebut turun, aku tersentak. Dia yang tadi terlambat. Ah, aku belum tau namanya, ngomong-ngomong. 

“Rumah lo di mana?” tanyanya setengah berteriak, berusaha mengalahkan suara bising yang hujan ciptakan. Aku hanya terdiam sejenak, masih belum sadar. ‘Dia menanyakan rumahku?’ kataku dalam hati.
“Daerah Dago atas, kenapa emang?” jawabku tak kalah keras. Aku bisa melihat senyumnya merekah. Itu senyum pertama yang aku hilat dari dirinya, dia tampan.
“Baguslah! Rumah gue searah ko, ayo masuk, gue antar lo pulang.”
“Hah? Ga salah? Gue ga kenal sama lo, main ajak pulang aja. Sekarang ini lagi musim penculikan tau!” jawabku kesal sembari membuang muka. Dia hanya mendengus geli. Lalu selanjutnya aku hanya terkejut melihat dia keluar dari mobilnya, berlari menerobos hujan yang deras, lalu dia ada di depanku sukses dengan tubuhnya yang basah kuyup. 

“Lo ngapain sih?” Ujarku setengah berteriak kesal dengan kelakuannya ini. Dia hanya tersenyum simpul, seolah ini bukan masalah yang penting.
“Lo mikir penculik itu kursus?” tanyanya mengabaikan ucapanku tadi.
“Ya…. Ga ada salahnya juga kan jaga-jaga.” Dia menyeruak dengan tawanya. Ya, kali ini juga dia tertawa di depanku. Aku rekam suara tawanya dan menyimpannya baik-baik dalam ingatan.
“Gue Nico.” Katanya sambil menyodorkan tangannya. Aku melihat tangan tersebut sebentar, lalu meraihnya dengan ragu.
“Gue Dina.” Ada kehangatan yang menjalar saat persentuhan kulit kami berdua. Aku tenggelam dalam pesona matanya, jernih. Saat tangan kami berpisah, ada keinginan masih ingin menggenggamnya.

“Jadi? Lo mau nginep di sini atau mau di anter sama cowo ganteng?” katanya kepedean tingkat dewa. Aku memukul pundaknya.
“Eh, tapi gue ga bawa payung. Jadi gue ga bisa bukain pintu bak seorang pangeran mengantarkan putrinya menuju istana.”  Aku terbahak mendengarnya, ternyata dia orang yang cukup menyenangkan.
“Emangnya penting ya yang kayak begituan? Gimana kalo kita lomba lari dari sini sampai mobil?” Tantangku dengan wajah jahil, dia berpikir dengan mengerutkan dahinya.

“Siapa takut?” katanya mantap, sambil mengambil ancang-ancang berlari.
“Siap? Satu…dua…tiga!” sontak kami berdua berlari menerobos hujan yang masih deras. Aku begitu bersemangat akan memenangkan lomba kecil ini. Karena terlalu bersemangat aku tak dapat mengenali air yang menggenang tersebut ternyata sebuah lobang, otomatis aku tersungkur. Nico yang hampir menggapai pintu mobil melihat ke belakang, dan menahan tawa. Aku berusaha berdiri, sampai sebuah tangan menarik lenganku lembut. Kami berdiri berbarengan, di antara derasnya hujan kami menikmatinya. Aku menatap lekat matanya yang jernih itu. Lalu tiba-tiba kami tertawa berbarengan. 

“Lo sih! Lari ga liat-liat! Udah ah ayo, liat kan lo jadi basah kuyup!” cecarnya, seraya kami berjalan menuju mobilnya.
“Lo juga basah kuyup.” Kataku membalasnya. Tiba-tiba dia berhenti, karena refleks aku menabrak punggungnya. Lalu dia berbalik dan menatapku.
“Lo tau? Lo itu ga bisa di kasih tau ya? Dasar keras kepala!” katanya agak keras sambil memegang pucuk kepalaku. Rasa dinginnya hujan tiba-tiba lenyap, seakan ada kehangatan yang mengguyur.
“Ayo! Lama-lama kita bisa masuk angin gara-gara terlalu lama main hujan-hujanan.” Katanya sambil menarikku ke dalam mobilnya. Aku membasahi jok mobilnya, tapi dia tidak begitu memikirkannya. Pas saat kami berdua sudah duduk di mobil, dia tiba-tiba membuka kaosnya yang basah kuyup dengan cepat dan mengambil kaos yang baru yang sudah dia sediakan di jok belakang, dan memakainya dengan cepat. Aku termangu melihatnya.

“Astaga! Lo ini ga malu apa? Gue ini cewe!”
“Terus? Masalah? Bilang aja seneng liat yang begituan.” Balasnya polos.
“IH!!!” kataku sambil memukulnya bertubi-tubi, sampai dia mengatakan kata ampun. Aku begitu kesal dengan sikapnya ini. Tapi, sungguh. Ini pertama kali kami bertemu, berkenalan, tapi sudah banyak hal yang tak terduga terjadi. Dia ini cowo yang paling aneh yang pernah kutemui. 

Kukira saat dia menyalakan mobil kami akan langsung melesat meninggalkan temapat kursus kami. Tapi setelah menyalakan mobilnya dia seperti teringat sesuatu lalu mengambil sebuah benda dari jok belakangnya, aku hanya bisa memperhatikannya. Dia memegang sebotol parfum laki-laki, sebuah senyum berkembang di wajahnya, melihat perfume itu. Aku hanya bisa mengerutkan dahi, terlihat kebingungan. Dia langsung menyemprotkan isinya ke seluruh badannya.

“Csssttt”

“Uhuk! Uhuk!” aku terbatuk-batuk begitu bau parfum tersebut memenuhi isi mobilnya.
“Kenapa? Harumnya enak ko rasa coklat.” Katanya riang seakan dia sedang memamerkan mainan terbarunya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya.
“Engga. Baunya ga enak, aku ga suka tuh” jawabku sambil melihat tangan kesal dan menatap ke arah depan. Aku masih bisa menghirup aroma parfumnya ini, begitu maskulin.
“Masa? Coba cium sekali lagi deh, enak ko baunya!” katanya memberikan parfumnya padaku, aku menatap parfumnya dengan nanar.
“Oh ya. Buat kamu aja sekalian, soalnya yang itu udah mau habis, lagian aku udah beli yang baru ko.” Katanya seraya menyimpan parfumnya itu di atas pangkuanku. Setelah itu baru kami meninggalkan tempat kursus kami. 

Bagiku hari itu adalah hari paling manis yang bisa ku rasakan. Setelah saat itu kamu menjadi lebih akrab dan dia sering mengantarku pulang dengan mobilnya. Kini aku terbiasa dengan parfumnya yang begitu maskulin yang menyambut hidupku saat aku memasuki mobilnya. Lama-lama aku terbiasa dengan hadirnya di sisiku. Aku bisa mengenal kehangatan, kehangatan yang di berikannya. Aku belajar menari di bawah hujan. Kami tetap berusaha tertawa di sela kesedihan yang menerpa. Dan kita membangun sebuah kisah, kisah yang begitu banyak mimpi yang kita buat. Merajut sebuah kenangan yang begitu manis, melipatnya dan menyimpannya di kotak hati kami masing-masing. 

***

Ya, tentu saja aku masih ingat pertemuan pertama kita. Pertemuan yang indah. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kamu menghilang saat aku menunggumu di ruang kelas. Ternyata hari itu aku hanya menunggu kekosongan. Aku tidak pernah terlihat batang hidungnya lagi. Dia meninggalkan aku dengan rumus-rumus yang berjumpalitan di papan tulis putih itu. Padahal aku sudah menatap pintu kelas berharap ada sosokmu di balik pintu itu, tapi kau tak kunjung datang.

Aku masih memegang erat botol parfum yang kutemukan tadi. Menghirup lagi aromanya dalam-dalam, mengingat-ingat aroma tubuhnya yang dapat gapai saat kesedihan melanda. Kukira kita akan memiliki kisah dengan akhir seperti novel-novel yang pernah ku baca. Aku tersadar bahwa aku begitu merindukan sosoknya. Aku selalu tenggelam dalam lautan rindu yang aku ciptakan sendiri. 

Tapi inilah akhir ceritanya, sudah benar-benar berakhir. Mungkin memang kita tidak di takdirkan untuk menapaki jalan yang sama sambil bertautan tangan. Ada kalanya tautan tangan itu harus terlepas. Mungkin di jalanku aku akan menemukan sosok yang akan mengganti dirimu, tapi itu belum pasti.
Jika memang kamulah orang yang tepat untukku, Tuhan akan membuat sebuah jalan yang menghubungkan jalanmu dan jalanku di ujung sana, di satu titik di mana kita akan bertemu lagi, berbekal dengan kerinduan dan cinta

Aku mengembalikan parfum itu ke tempat asalnya. Berusaha tersenyum melihatnya, tapi hanya senyum lirih yang aku ciptakan. Aku memandang ke luar jendela, hujan deras. Aku dapat melihat kamu dengan senyummu itu, Nico. Hanya tawanya yang menggaung dalam pikiranku, dan wajahnya yang hangat. Aku menciptakan hujanku sendiri, hujan untukumu. Hujan itu adalah air mata. 

Created by: Natasya Rawis, twitter: @nananatCR

14 Jan 2012

Harry Potter, The Memories (3)

Mike Newell, sutradara Harry Potter and the Goblet of Fire
"Aku pernah bertanya ke Rowling bagaimana ending kisah Harry Potter. Dia nggak mau jawab, bahkan diam seribu bahasa waktu puterinya yang waktu itu berumur 7-8 tahun menanyakan hal yang sama."

Helena Bonham Carter, Bellatrix Lestrange
"Ada banyak sekali aktor-aktris Inggris yang kesal karena nggak tampil di Harry Potter. Mereka nggak pernah mendapat tawaran untuk main di film ini."

Evanna Lynch, Luna Lovegood
"Adegan Dumbledore tewas dilakukan malam hari. Semua orang sangat bersemangat melakukannya sampai lupa untuk pasang tampang sedih. Everyone was just not sad. David Yates (sutradara Harry Potter 5, 6, 7 part 1, 7 part 2) sampai kesal. Dia mengingatkan kami, 'Dumbledore tewas!'"

Helen McCrory, Narcissa Malfoy
"Momen favoritku adalah ketika kami akan melakukan adegan pertempuran besar terakhir (Harry Potter and the Deathly Hallows part 2). Aku liat Tom Felton bertingkah aneh, seperti orang gila. Aku tanya padanya, 'kamu baik-baik saja?' Tom menjawab, 'oh ya, aku baik-baik saja. Aku menunggu momen ini seumur hidupku.'"



Harry Potter, The Memories (2)

Emma Watson, Hermione Granger
"Di sela-sela syuting Deathly Hallows, aku makan malam bareng Bonnie Wright (Ginny Weasley). Kami ngobrol tentang betapa kami butuh melakukan sesuatu untuk menandai akhir  dari sesuatu yang begitu besar yang seama ini menjadi bagian dari hidup kamu. Dan saat itu tercetus ide untuk potong rambut. Menurutku itu cara paling pantas untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Hermione."

Alan Rickman, Severus Snape
"Karakter Snape mengharuskanku pakai kostum hitam, wig, dan lensa mata warna hitam. Di awal-awal syuting, butuh waktu untuk meyakinkan para pemain (Daniel-Rupert-Emma) kalau aku bukan Snape dan gak jahat kayak dia."

Matthew Lewis, Neville Longbottom
"Nomor antrian audisiku 743. Aku dan ibuku menunggu 4,5 jam. Ibuku akhirnya ngomong, 'kita pulang aja ya? Nanti mom beliin kamu McDonald's deh'. Secara aku fan berat buku Harry Potter, aku tolak mentah-mentah tawaran ibuku."

David Heyman
"Richard Harris (pemeran Dumbledore sebelum Michael Gambon) menolak waktu kami tawari peran Dumbledore. Tapi waktu cucu Richard bilang nggak akan mau ngomong lagi ke kakeknya kalau kakeknya itu nggak mau memerankan Dumbledore, Richard langsung menerima tawaran kami."

Julie Walters, Molly Weasley

"Mesin jahit yang bisa menjahit sendiri di film Harry Potter, aslinya benar-benar sebuah mesing jahit yang bisa menjahit sendiri."

Harry Potter, The Memories

"Sampah!" Itulah homen produser film Harry Potter, David Heyman waktu pertama kali melihat naskah Harry Potter and the Philosopher's Stone bertengger di meja kerjanya, kiriman dari J.K Rowling pada tahun 1997. Untung saja Pak Heyman akhirnya mau membaca naskah Harry Potter sampai selesai.

Seperti Muggles lainnya di seluruh dunia, Pak Heyman tersihir oleh kisah menakjubkan tentang Harry Potter. Terima kasih untuk Pak Heyman dan Warner Bros. Pictures, naskah itu diangkat ke layar lebar dan berlanjut hingga saat ini. Mau tau memori-memori lainnya selama lebih dari 10 tahun pemutaran film Harry Potter? Yuk!

Steve Kloves, penulis skenario film Harry Potter
"Aku menulis skenario tanpa tau akhir cerita Harry Potter. Jo (J.K Rowling) mengarahkanku dan hanya memberi petunjukpetunjuk tanpa mau ngasih bocoran besar apa yang terjadi di buku terakhir Harry Potter."

Daniel Radcliffe, Harry Potter
"Aku ingat, ayahku ngajak nonton pertunjukan drama Stones in His Pockets. Waktu nonton, aku terus diawasi seseorang yang duduk nggak jauh dariku. Aneh rasanya. Setelah pertunjukan selesai, orang itu menemuiku dan memperkenalkan dirinya. Dia adalah David Heyman. Saat itu mereka belum mengkasting pemeran Harry Potter."
"Setiap kesempatan yang datang kepadaku sampai aku tiada nanti akan berhubungan dengan kenyataan bahwa aku adalah anak yang dipilih menjadi Harry Potter pada tahun 2000 lalu. Film ini memberiku cukup banyak kenangan sampai 10.000 tahun ke depan."

Rupert Grint, Ronald Weasley
"Waktu aku baca novel Harry Potter, aku selalu bilang, 'kalau ada yang bikin ini film, aku bisa menjadi Ron."

Tom Felton, Draco Malfoy
"Pada audisi pertama, aku ditanya pengin memerankan tokoh siapa. Karena aku belum baca satupun buku Harry Potter, jawabanku sama dengan peserta di sebelahku. Kayaknya kemampuanku untuk berbohong adalah sebagian alasan aku menerima peran Draco."

Emma Watson, Hermione Granger
"Salah satu hal terberat syuting di studio Leavesden adalah orang-orang harus tau dimana aku berada. Hal ini bikin aku frustasi, apalagi waktu umurku jauh lebih muda dari sekarang. Dulu aku biasa sembunyi dari beberapa asisten sutradara, yang punya tugas mencari dimana aku berada sepanjang hari. Kasian banget para asisten sutradara itu mencariku kemana-mana!"

10 Jan 2012

Me and Paris (part 2)


Eve menjatuhkan tubuhnya ke kasurnya yang empuk. Entah kenapa, pikiran Eve selalu dipenuhi oleh kejadian-kejadian menyebalkan kemarin. Terutama cowo yang bernama Rifky itu, Eve pikir dilihat dari penampilan Rifky, dia itu orang yang baik, lucu, tapi ? HAHA sebaliknya! 180 derajat! “huh! Nyebelin banget tuh orang, maunya apasih!” Eve cemberut saking kesalnya. Tiba tiba dia teringat oleh Robby yang tadi pagi juga tidak sengaja dia tabrak oleh sepedanya, alhasil sekarang sepedanya agak terbaret kena pagar trotoar. Eve tersenyum, “dipikir-pikir..... si Robby ganteng juga ya, dewasa banget hihihi kalem lagi orangnya, beda jauh sama Rifky!”

***

Setelah kejadian tabrakan tadi siang, Robby kelihatan terheran-heran. Robby memegang sebuah frame foto berwarna biru muda, yang terdapat didalamnya sebuah foto, foto orang yang sangat dia rindukan. Entah mengapa, ada yang mengganjal di hatinya, dia sendiri juga tidak tahu apa maksud ketidakenakan hatinya saat ini.

***

Rifky tertawa-tawa mengingat kejadian tadi, “kejadian yang konyol” kata Rifky. Sejenak dia berfikir, dikerutkannya keningnya itu, “hmm cewek itu bikin aku penasaran, cantik sih tapi ngeselin, cocok ya sama aku, ganteng tapi ngeselin huehehe.” Batin Rifky sambil sepertinya sedang merencanakan sesuatu.

***
KRIIING jam weker Eve berdering kencang sampai membangunkan gadis cantik itu dari mimpinya. Eve langsung meloncati kasurnya dan langsung mandi, dan bersiap siap untuk pergi. “Pak, anterin aku ke alamat ini ya” seru Eve pada Pak Atmo supirnya, mobil itu pun langsung melesat cepat.

Setiba nya Eve didepan gerbang sebuah rumah mewah yang bercat abu elegant ini, dia tersenyum berseri-seri dan langsung membunyikan bel rumah tersebut. “AAAAAA!!!! Eveee!!! Gue kangen banget sama kamuuu!!!!!!” teriak seorang gadis berwajah cantik yang keluar dari pintu garasi, inilah cewek yang ditunggu tunggu Eve. “Diana!!! Lo sama sekali ga berubah ya! Cuman.....nambah cantik aja! Hahahaha” seru Eve yang kemudian dipersilakan masuk oleh Diana.

Layaknya kedua orang ibu arisan se geng yang sudah sangat tidak bertemu, mereka sangat betah melepas kerinduan yang sudah dipendam sejak lama, sekitar----3 tahun! Dengan wajah berseri-seri Eve dan Diana saling tukar cerita, maklum siapa yang gak tahan curhat pada sahabatnya? Gak ada! Pada hari itu Eve memilih untuk menginap dirumah Diana karena belum puas melepas rindunya yang amat besar ini. Sejenak, ia teringat dengan kejadian menyebalkan sekaligus menyenangkan yang ditimpanya kemarin, “hm----cerita kan gak ya? Cerita ah!” kata Eve dalam hati
“Di, tahu gak---
“Tahu kok, ya ngga lah! Lo kan belum cerita” Balas Diana yang sedang meng-kutek kuku tangannya dengan saaangaaaaaaaat rapi, tidak kalah dengan yang di toko-toko.
“Iya ya, hehe canda! Jadi gini kemarin gue nabrak 2 orang cowo, yang pertama namanya Robby kalo yang nyebelin ini namanya Rifky.” tutur Eve
“Wah? Asik dong kenalan ama cowo tanpa sengaja huehehehe!”
“Asik kata lo? Gila, gue kesel banget sama yang namanya Rifky!”
“Kesel kenapa?” Tanya Diana terheran heran.
“Gue kan ga sengaja numpahin ice cream ke kepalanya dia, eh dia malah marah marah gak jelas kaya monyet kesurupan! Untunglah dia gak darah tinggi, kan bisa repot gue kalo pas lagi marah-marahin gue tiba-tiba strokenyaa kambuh, kan masalahnya bisa panjang, bisa-bisa nanti gue dikira yang aneh aneh lagi, dikira cewe yang ngebunuh sadis seorang cowo didepan umum, gak lucu!” jelas Eve yang sedikit hiperbola.
“Hahahaha gue ngakak denger cerita lo, Ve! Lo itu gak berubah-ubah ya? Lebaynya tetep melekat mau diubah gimana-gimana juga sifat itu gak ngilang-ngilang!” Ejek Diana dengan diselingi tawa manisnya itu. Sumpah Diana manis banget kalo ketawa! Gak mungkin ada cowo yang gak tergoda sama dia, kalo pun ada, cowo itu gak normal!
“Ya---berimajinasi tinggi dong Di! Lagian ini emang bisa terjadi kok gue gak selebay yang lo kira, gue masih ada batasnya, gak separah Olga!"
“Iyadeh iya mbak.” Ucap Diana sambil menjulurkan lidahnya.
“Eh, ngomong-ngomong----ada cowo yang lagi lo taksir ga sekarang Di? Kenalin gue ya? Tenang aja gue gak bakal ngerebut kecengan lo! Kalo pun iya, gue siap diterkam lo Di!”
Diana pun mengaku bahwa saat ini dia sedang naksir seorang cowo yang dimatanya sangat keren dan gentleman itu, namanya Angga, Angga ini adalah teman sekelas Diana saat dia duduk dikelas 2 sma. Diana menceritakan hampir seluruh yang dia tahu tentang cowo yang bernama Anggada itu, bukan hampir lagi, cewe ini benar benar meceritakan seluruhnya yang dia ketahui tentang Angga pada Eve, bahkan sampai hal yang sepele pun dia menceritakannya dengan panjang lebar.
“Wah aku jadi penasaran nih, seperti apa seorang Angga yang sampai ditaksir mati-matian sama cewe perfect kaya lo Di! Hahaha.”
“Mau gue kenalin? Ayo besok gue kenalin lo aja ke si Angga ya biar lo tau selera gue kayak gimana oke?” tawar Diana dengan sorot mata berbinar-binar, dapat dilihat jelas dengan Eve, Diana ini bukan menawarkannya untuk berkenalan dengan Angga, tapi ini lebih menjurus pada “memaksa” gue untuk kenalan sama cowo itu, pikir Eve yang ada akhirnya menerima tawaran sohibnya itu.
Tak lama kemudian, hp Diana berbunyi menandakan adanya telepon masuk. Setelah Diana melirik hpnya itu untuk melihat siapa yang meneleponnya sekarang, raut muka Diana berubah, merah padam.
“Ve! Bantu gue, ini telepon dari si Angga! Gue harus gimana Ve?!” Diana panik, tetapi senang, tetapi malu, tetapi---sudahlah, perasaannya saat ini yang jelas campur aduk! Sulit dijelaskan dengan kata kata.
“Beneran lo Di?! Mana liat” Eve melihatnya dan tersontak “Beneran Di! Angkat-angkat buruan nunggu apalagi!!!! Cepeeet keburu ditutup sama Angganya!” jerit Eve histeris, tak kalah histerisnya dengan Diana
“Halo?” Diana akhirnya menerima panggilan itu dengan perasaannya yang campur aduk itu dan sama sekali blank, tidak terpikirkan satu pun olehnya apa yang akan dibicarakan nanti.
“Halo Diana? Ini gue Angga.”
“Iya gue tau Ga, kenapa? Tumben lo telepon gue biasanya gak pernah!” balas Diana dengan hati yang berdebar seakan-akan ada konser mendadak di jantungnya.
“Gapapa ko, gak boleh ya? Yaudah deh lain kali kalo gue mau nelepon elo, gue bakalan minta ijin dulu ke elo boleh apa ngga hehe, oiya gue ada tugas nih lo mau bantuin gue nggak ? “
“Gak gitu juga kali Ga, tugas apaan emang? Ribet ya? Sampe sampe minta tolong ke gue.”
“Engga sih gak ribet juga. Gue disuruh motret 1 cewe 1 cowo, yaaa cowo sih udah ada modelnya, kalo yang cewe belum, tiba tiba gue kepikiran elo dan gue inget lo tuh pernah juara 1 modelling kan? Jadi, mau ga lo jadi model buat tugas gue ini?”
Diana tersontak kaget, wajahnya yang tadi sudah kembali seperti semula, kini kembali memerah, merah padam! Seperti direbus dengan air mendidih, jantungnya seakan akan berhenti, dia tidak tahu harus berkata apa, yang pasti dia mau jadi model untuk Angga! Sang pujaan hatinya itu!
“Eh----hm iyadeh--gue mau jadi model buat tugas lo hehe. Kapan?” balas Diana gugup.
“Kapan ya? Besok aja deh bisa gak? Gue tuggu jam 10 di taman dekat rumah lo, mau?”
“Oke! Eh gue sekalian mau ngenalin temen gue ke elo besok ya?”
"Yap! Gak masalah, gue tunggu ya, bye!”
“Bye!” sahut Diana mengakhiri pembicaraan mereka.
“AAAAAA!!!!!! GILA!!! GUE GAK PERCAYA GUE BAKALAN JADI MODELNYA SI ANGGA VE!!!”
Eve mendelikkan matanya kepada Diana dengan senyum yang tersungging diwajahnya “Di, lo harus siap mental nih jangan sampe lo salting didepan Angga!”

***

Pagi yang cerah ini mengiringi rasa gugupnya Diana yang sudah terlalu besar. Eve pun tak kalah gugupnya, bukan karena dia akan dikenalkan oleh seorang cowo idaman sahabatnya, tapi karena dia tidak ingin hari spesial Diana hancur oleh apapun. Dia bersumpah, jika ada yang menghancurkan hari indah Diana ini, dia akan menghancurkan pula pelakunya! Bagaimanapun caranya.
Eve melirik Diana yang sedari tadi tidak berkata-kata sedikit pun. Diana hanya duduk dengan manis dan tak henti hentinya melihat jam tangannya yang melekat di tangan. Eve tak tega melihat temannya dibanjiri oleh rasa gugup yang dahsyat. Segugup-gugupnya Diana, Eve tak pernah melihat Diana sampai begini. Akhirnya Eve pun memulai pembicaraan dengan tujuan sedikit menenangkan sahabatnya itu.
“Di, lo nervous ya?” tanya Eve dengan hati-hati.
“Udah tahu kenapa lo nanya Ve!”
“Iya gue tahu, tapi gue gak pernah ngeliat lo gugup sampe segini parahnya, hahaha.”
“hhhhhh gak tahu deh, Ve! Gue lagi males ngomong maaf ya ceritanya nanti aja!” balas Diana yang sedaritadi masih saja gugup hebat dan Diana berkata, “Ayo Ve, kita sampai!”

***

Apa yang terjadi saat Eve dan Diana sampai di taman? Apakah Angga akan mengajak Diana yang sudah tampil cantik? Atau justru Angga akan menyukai----Eve?

1 Jan 2012

Butterbeer

Recipe for butterbeer – create a Butter beer Your self. You may be curious about the butterbeer recipe, butterbeer be a special topic among film lovers of Harry Potter, especially Harry Potter and the Deathly Hallow 2.
Butterbeer is the drink cold and foamy cream that became the most popular food items at the new Wizarding World of Harry Potter at Universal Orlando.

butterbeer
Butterbeer
In the Harry Potter books, butterbeer appears to have an inebriating effect, and some older online recipes include butterscotch schnapps, but the Universal version is nonalcoholic. In Bon Appetit’s January 2002 issue, author J.K. Rowling was asked what butterbeer tastes like, and she said: “I made it up. I imagine it to taste a little bit like less sickly butterscotch.”
Butterbeer is sold in two varieties, regular and frozen.The drink is drawn from a tap, like a beer and the dense, whipped topping is added from a separate tap. It’s served in cups, about $3 ($4 for frozen) for a disposable cup and about $10 ($11 for frozen) for a hard plastic souvenir stein.

BUTTERBEER RECIPE

Start to finish: 1 hour (10 minutes active)
Servings: 4
  • 1 cup light or dark brown sugar
  • 2 tablespoons water
  • 6 tablespoon butter
  • 1/2 teaspoon salt
  • 1/2 teaspoon cider vinegar
  • 3/4 cup heavy cream, divided
  • 1/2 teaspoon rum extract
  • Four 12-ounce bottles cream soda

How do I make a butterbeer?

  1. In a small saucepan, combine the brown sugar and water. Bring to a gentle boil and cook, stirring often, until the mixture reads 240 F on a candy thermometer.
  2. Stir in the butter, salt, vinegar and 1/4 heavy cream. Set aside to cool to room temperature.
  3. Once the mixture has cooled, stir in the rum extract.
  4. In a medium bowl, combine 2 tablespoons of the brown sugar mixture and the remaining 1/2 cup of heavy cream. Use an electric mixer to beat until just thickened, but not completely whipped, about 2 to 3 minutes.
  5. To serve, divide the brown sugar mixture between 4 tall glasses (about 1/4 cup for each glass). Add 1/4 cup of cream soda to each glass, then stir to combine. Fill each glass nearly to the top with additional cream soda, then spoon the whipped topping over each.