9 Jun 2012

Ka(mu)lian yang Terbaik #1

Laras. Itulah panggilannya. Gadis cantik bermata hijau melangkah menuju sebuah ruangan. Disana sudah banyak orang-orang jenius yang akan menjadi teman sekaligus saingannya selama tiga sampai empat tahun kedepan.

Finally, Oxford University! Huaaaa,” Laras berteriak dalam hati. Kemudian Laras berjalan cepat menuju kursi kosong yang berada di paling kanan. Dengan perasaan senang sekaligus gugup, Laras mengeluarkan alat tulis dan bukunya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. “Uhm, hello. What’s your name?” tanyanya. “My name is Laras. And you?” balas Laras sambil menjulurkan tangan. “Hi, Laras! I’m Cody. Cody Simpson. Nice to meet you!” katanya. “Hi Cody, nice to meet you too. Btw, where are you come from?” “I was born in Australia. But, at 2011 I moved to America to debut my first album. And finally, I’m here!” Jelas Cody. “Tatapannya. Oh Tuhan!!” tanpa sadar Laras tersenyum sendiri. Aneh, Cody tidak merasa ada yang aneh dariku. Dia terus menatapku dan sepertinya menanti jawabanku walaupun dia tidak bertanya. “Ooohh. I’m from Indonesia. Wait! First album? Are you a singer?” kening Laras mengkerut. “Yeah, hehehe,” Cody tersenyum lebar. Dia mengambil sesuai dari dalam tasnya. “This is for you. Just for you! Don’t tell anybody,” Cody memberi albumnya kepada Laras. “Gratis?” tanya Laras kebingungan. “Eh---uhm, free?” Laras lupa kalau dia sedang berada di Inggris, bukan Indonesia. Cody mengangguk. “Uhm, thanks!” Laras tersenyum. Tak lama, dosen pun datang.

“Laras! Where do you live?” Cody menghampiriku dari arah belakang. “Uhm, at---I don’t know. I’m new here. The place is not far from here. I forgot the name of the street,” kata Laras tersenyum lebar. “Laras has a sweet smile!” Pikir Cody. “Oh, okay! Come on, get into my car! Who knows we’re living in the same apartemen,” Cody menarik tangan Laras dengan lembut. Pertemuan pertama yang sedikit konyol menurut Laras.

Diperjalanan menuju apartemen, Cody dan Laras saling bertukar cerita tentang masa lalu mereka, dan saling melontarkan candaan. “Stop here, Cody. This is my apartemen,” Laras menepuk pundak kanan Cody. “I live there also! Waw, I never thought we could meet and stay in the same apartment!” kata Cody sambil tertawa. “Okay, Cody! You’re blocking the others. Hurry up!” Laras menyuruh Cody melajukan mobilnya setelah melihat antrian dibelakang semakin panjang. Laras dan Cody tertawa ketika telah menemukan tempat parkir. “What number you stay in the room?” tanya Cody melepas sabuk pengamannya. “248. You?” tanya Laras balik. “251. Oh, come on!” Cody menarik tangan Laras.
***
Sudah hampir setahun Laras dan Cody berteman. Mereka selalu saling membantu dalam mengerjakan tugas. Mereka juga sering melepas kepenatan dengan berjalan-jalan di mall bersama. Saking seringnya mereka bersama, teman-teman sering mengira mereka pacaran. Laras dan Cody hanya bisa tertawa mendengar pendapat teman-temannya.

Sebenarnya, dari hati Laras, tersimpan rasa yang tak biasa kepada Cody. Selain baik, Cody juga perhatian, tampan, gentle, dan berbeda.Tapi Laras menyadari, Cody adalah superstar. Pasti banyak perempuan yang mengidolakannya. Kadang terpikir dibenak Laras, “aku mencintai Cody lebih dari mereka. Aku benar-benar tulus mencintainya. Tidak seperti perempuan-perempuan lainnya yang hanya sekedar ‘mencintai’ Cody,” tapi Laras berusaha untuk tidak mengharapkan yang lebih. Laras takut kehilangan Cody sebagai sahabatnya. Laras tidak mau.

Brrrtt... brrrtt...

Handphone Laras bergetar. Pesan dari Cody.

Laras, I want us to meet at the park tonight at 8. And I want you to wear dress –Cody-

Laras mengangguk. Perasaan senang dan penasaran bercampur dibenaknya. Kira-kira ada apa? Laras tak peduli. Dilihatnya jarum sudah menunjukkan pukul 7. Laras harus bersiap-siap. Dia beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Dia sudah memutuskan untuk memakai gaun tak berlengan dengan warna hijau, warna kesukaannya. Tepat jam 7.45, Laras keluar kamar dan berjalan menuju taman untuk memenuhi janjinya kepada Cody.

Laras telah menunggu selama 30 menit di taman itu. “Mana Cody? Katanya mau ketemu disini jam 8. Apaan, sekarang udah jam 8.15 gini!” ujar Laras kesal. Orang-orang yang sedang berlalu-lalang bingung melihat Laras berbicara sendiri dengan bahasa asing bagi mereka. Laras tak peduli. Air mata Laras sudah menggenang di kelopak matanya.

Tak lama kemudian, ada bunyi kembang api. Laras tersontak kaget. Kembang api itu membentuk hati. Tiba-tiba terdengar alunan gitar yang Laras kenal. Cody. Ya, alunan gitar khas Cody. Laras membalikkan badannya. Cody tersenyum manis kepadanya sambil memainkan gitar. “Lagu apa ini? Aku belum pernah mendengar sebelumnya,” gumam Laras dalam hati.

“Laras, I love your eyes. I love your brown hair. I love all of you,” Cody menyimpan gitarnya lalu berjalan ke arah Laras. “Laras, will you be my girlfriend?” tanya Cody saat tepat berada di depan Laras. Tanpa sadar, Laras membuka mulutnya lalu membisikan kalimat, “Yes, Cody,” Cody langsung memeluk Laras lalu memutar-mutar badannya. Malam yang indah bagi mereka berdua.