“Finally, Oxford University! Huaaaa,”
Laras berteriak dalam hati. Kemudian Laras berjalan cepat menuju kursi kosong
yang berada di paling kanan. Dengan perasaan senang sekaligus gugup, Laras
mengeluarkan alat tulis dan bukunya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari
belakang. “Uhm, hello. What’s your name?” tanyanya. “My name is Laras. And
you?” balas Laras sambil menjulurkan tangan. “Hi, Laras! I’m Cody. Cody
Simpson. Nice to meet you!” katanya. “Hi Cody, nice to meet you too. Btw, where
are you come from?” “I was born in Australia. But, at 2011 I moved to America
to debut my first album. And finally, I’m here!” Jelas Cody. “Tatapannya. Oh Tuhan!!” tanpa sadar
Laras tersenyum sendiri. Aneh, Cody tidak merasa ada yang aneh dariku. Dia
terus menatapku dan sepertinya menanti jawabanku walaupun dia tidak bertanya.
“Ooohh. I’m from Indonesia. Wait! First album? Are you a singer?” kening Laras
mengkerut. “Yeah, hehehe,” Cody tersenyum lebar. Dia mengambil sesuai dari
dalam tasnya. “This is for you. Just for you! Don’t tell anybody,” Cody memberi
albumnya kepada Laras. “Gratis?” tanya Laras kebingungan. “Eh---uhm, free?”
Laras lupa kalau dia sedang berada di Inggris, bukan Indonesia. Cody
mengangguk. “Uhm, thanks!” Laras tersenyum. Tak lama, dosen pun datang.
“Laras! Where do you
live?” Cody menghampiriku dari arah belakang. “Uhm, at---I don’t know. I’m new
here. The place is not far from here. I forgot the name of the street,” kata
Laras tersenyum lebar. “Laras has a sweet
smile!” Pikir Cody. “Oh, okay! Come on, get into my car! Who knows we’re
living in the same apartemen,” Cody menarik tangan Laras dengan lembut. Pertemuan
pertama yang sedikit konyol menurut Laras.
Diperjalanan menuju
apartemen, Cody dan Laras saling bertukar cerita tentang masa lalu mereka, dan
saling melontarkan candaan. “Stop here, Cody. This is my apartemen,” Laras
menepuk pundak kanan Cody. “I live there also! Waw, I never thought we could
meet and stay in the same apartment!” kata Cody sambil tertawa. “Okay, Cody!
You’re blocking the others. Hurry up!” Laras menyuruh Cody melajukan mobilnya
setelah melihat antrian dibelakang semakin panjang. Laras dan Cody tertawa
ketika telah menemukan tempat parkir. “What number you stay in the room?” tanya
Cody melepas sabuk pengamannya. “248. You?” tanya Laras balik. “251. Oh, come
on!” Cody menarik tangan Laras.
***
Sudah hampir setahun
Laras dan Cody berteman. Mereka selalu saling membantu dalam mengerjakan tugas.
Mereka juga sering melepas kepenatan dengan berjalan-jalan di mall bersama.
Saking seringnya mereka bersama, teman-teman sering mengira mereka pacaran.
Laras dan Cody hanya bisa tertawa mendengar pendapat teman-temannya.
Sebenarnya, dari
hati Laras, tersimpan rasa yang tak biasa kepada Cody. Selain baik, Cody juga perhatian,
tampan, gentle, dan berbeda.Tapi Laras
menyadari, Cody adalah superstar. Pasti banyak perempuan yang mengidolakannya.
Kadang terpikir dibenak Laras, “aku mencintai Cody lebih dari mereka. Aku
benar-benar tulus mencintainya. Tidak seperti perempuan-perempuan lainnya yang hanya
sekedar ‘mencintai’ Cody,” tapi Laras berusaha untuk tidak mengharapkan yang
lebih. Laras takut kehilangan Cody sebagai sahabatnya. Laras tidak mau.
Brrrtt... brrrtt...
Handphone Laras
bergetar. Pesan dari Cody.
Laras, I want us to meet
at the park tonight at 8. And I want you to wear dress –Cody-
Laras mengangguk.
Perasaan senang dan penasaran bercampur dibenaknya. Kira-kira ada apa? Laras
tak peduli. Dilihatnya jarum sudah menunjukkan pukul 7. Laras harus
bersiap-siap. Dia beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Dia
sudah memutuskan untuk memakai gaun tak berlengan dengan warna hijau, warna
kesukaannya. Tepat jam 7.45, Laras keluar kamar dan berjalan menuju taman untuk
memenuhi janjinya kepada Cody.
Laras telah menunggu
selama 30 menit di taman itu. “Mana Cody? Katanya mau ketemu disini jam 8.
Apaan, sekarang udah jam 8.15 gini!” ujar Laras kesal. Orang-orang yang sedang
berlalu-lalang bingung melihat Laras berbicara sendiri dengan bahasa asing bagi
mereka. Laras tak peduli. Air mata Laras sudah menggenang di kelopak matanya.
Tak lama kemudian,
ada bunyi kembang api. Laras tersontak kaget. Kembang api itu membentuk hati.
Tiba-tiba terdengar alunan gitar yang Laras kenal. Cody. Ya, alunan gitar khas
Cody. Laras membalikkan badannya. Cody tersenyum manis kepadanya sambil
memainkan gitar. “Lagu apa ini? Aku belum
pernah mendengar sebelumnya,” gumam Laras dalam hati.
“Laras, I love your eyes.
I love your brown hair. I love all of you,” Cody menyimpan gitarnya lalu
berjalan ke arah Laras. “Laras, will you be my girlfriend?” tanya Cody saat tepat berada di
depan Laras. Tanpa sadar, Laras membuka mulutnya lalu membisikan kalimat, “Yes,
Cody,” Cody langsung memeluk Laras lalu memutar-mutar badannya. Malam yang
indah bagi mereka berdua.