Sayang, maaf banget ya mama baru berangkat! Tadi temen mama ke rumah
mendadak. Nanti mama jemput di BIP ya..
Hhh, kesal! Kenapa
Mama selalu ngasih tahu mendadak? Mama tidak mengerti, aku sudah sangat
menantikan saat-saat ini, karena jam lima nanti ada idolaku, David Archuleta di
suatu acara di televisi. Kalau begini,
mungkin sampai di rumah, acaranya sudah selesai! Aku memutuskan pergi ke
Hypermart untuk membeli cemilan sambil menunggu Mama datang.
“Pengen banget es
krim! J.cool aja deh,” saat aku keluar dari Hypermart, tiba-tiba....
BRUKK!
Cowok bertubuh tegap
menabrakku. “Oh---hm---I’m sorry,” ujarnya menarik lengan atasku. “No, I’m
sorry,” kataku sambil tersenyum. “Oh, no! It’s my fault! Hm, btw, lo mau
kemana?” tanyanya. “Aku mau ke J.co,” jawabku sambil memasukkan kantong keresek
ke dalam tasku. “Kebetulan banget! Bareng aja! Gue gak ada temen, nih,”
Lumayan juga nih cowok! Gumamku dalam hati. “Oh iya, lo mau mangga
atau berry?” tanyanya membuyarkan lamunanku. “Hm---aku yang berry aja deh! Aku
gak terlalu suka mangga,” cowok itu mengangguk lalu memesan j.coolnya.
“Oya, kita belum
kenalan! Nama gue Gani,” cowok itu menjulurkan tangannya ke arahku. “Aku Disha.
Kamu sekolah dimana? Kelas berapa?” aku memasukkan satu sendok yoghurt ke dalam
mulutku. “Gue di SMA Hilton, mau naik kelas 12. Lo?”, “Aku di SMP 2, kelas 9,
hehehe. Maaf, tadi aku gak manggil pake ‘Kak’,” kataku malu. “Hahaha, no
prob----Disha! Gak usah manggil ‘kakak’ juga gak apa-apa, kok!” aku tersenyum,
“tapi gak enak aja, kak!” “Hahaha, okay! Oh iya, btw, ngapain lo kesini?
Sendirian lagi!” tanya kak Gani. “Aku baru pulang bimbel, terus nunggu mama
jemput. Ya, jadi aku kesini deh. Kakak ngapain?”, “Gue? Gue cuma iseng
jalan-jalan aja. Di rumah gak ada siapa-siapa, ya sudah gue iseng kesini,”
“Disha, kamu dimana? Mama udah nyampe
parkiran! Mama nyamperin kamu aja, sekalian shalat Maghrib dulu” ternyata
itu Mama. “Lagi di J.co Ma! Okay, Disha tunggu di depan Hypermart aja ya!” aku
memencet tombol merah di Blackberry-ku.
“Hm, kak, maaf, mamaku udah jemput nih!” ujarku lalu memasukkan dompet ke dalam
tas. “Eh, tunggu dulu! Minta pin lo dong! Siapa tahu ntar lo di ospek sama gue,
hahahha,” Kak Gani mengeluarkan handphonenya lalu mulai mengetik ketika aku
berbicara. “Okay, thanks, Dish! Bye, hati-hati!” Aku melambaikan tangan ke
arahnya sambil berlari kecil.
***
“Oh iya, tadi siapa
Dish?” tanya Mama sambil menyalakan mesin mobil. “Siapa apaan?” aku balik
bertanya. “Hhhh, kamu pikir Mama gak liat ya tadi kamu bareng siapa?” aku
tersontak. “Eh---hm, itu kak Gani, Mah,” “Mama kan udah bilang sama kamu,
jangan jalan bareng sama orang yang kamu gak kenal sebelumnya,” Mama mulai
melajukan mobilnya. “Tapi dia baik kok, Ma. Dia bakal jadi kakak kelas Disha
entar SMA,” jawabku santai. “Maksudmu?” tanya Mama lagi. “Ya, dia sekolah di
SMA Hilton, Mah. Dia kelas 11,” Mama hanya berho-oh sambil memperhatikan jalan.
“Aaaaaahhhh,” Mama
kaget mendengarku berteriak tiba-tiba. “Kamu kenapa?” tanyanya dengan nada
sedikit marah. “Disha baru inget, Ma! Jam lima tadi ada David Archuleta!! Mama
sih, kenapa jemputnya telaaaaatt!!” ujarku merengek. “Ya ampun, Disha! Mama
kira apaan! Lagian yang kayak gitu mah banyak,” Hhhh, Mama selalu tidak
mengerti. Memang Mama dulu gak pernah muda apa? Pikirku. “Banyak darimana, Mah?
David tadi tuh nyanyi di acara live, Mah, LIVE!” “Ah, nanti liat aja di
youtube, gampang kan?” ujar Mama dengan santai. Aku mendesah lalu memainkan
handphoneku lagi.
Sesampainya di rumah,
aku segera menuju kamar tidurku. Aku membanting pintu kamar. “Bodo amat lah,
Mama mau marah-marah lagi juga! Lagian, salah sendiri kenapa buat anaknya
kesel?” Isakku sambil menjatuhkan tubuhku di atas kasur. Kemudian aku mengambil
headphone dan Ipod yang terletak di meja belajar, lalu memutar lagu David
Archuleta kesukaanku.
***
“Dish, ini siapa?!
Kece banget!!” Ghina, teman dekatku memperlihatkan layar handphoneku yang penuh
dengan foto kak Gani. “Oh, itu kak Gani,” jawabku singkat. “Mana, mana?---Eh,
iya Dish, kece sangaaaad pake d!” pekik Rahmi ikut nimbrung. “Anak SMA Hilton.
Kemaren aku gak sengaja ketemu dia di BIP, pas nungguin Mama jemput,” ujarku
santai. “Aihh, parah! Kece banget, Dish! Namanya Gani pula---Ghina---Gani. FIX,
JODOH!” Ghina berteriak di kelas layaknya tarzan. Aku dan Rahmi saling
memandang. “Ngarep lo, Ghin!” Rahmi mengubah posisi duduknya.
Sejak saat itu,
Rahmi dan Ghina mulai menjadi stalker twitter kak Gani, yang kebetulan tertulis
di status BBMnya. Aku sih, biasa saja, hanya mengagumi tampangnya yang lumayan
dan badannya yang kekar. Aku pun hanya chatting bareng kak Gani di malam hari.
“Ih, enak banget sih! Kalau aja kemaren aku pulang bareng kamu! Nyesel, Dish!
NYESEL!” rengek Rahmi. Aku hanya tertawa, “hey, udah lah, aku berasa jadi orang
paling beruntung di dunia ini, hahahah,” “tapi da bener atuh, Dish! Kamu emang
beruntung ketemu cowok kece kayak gitu!” balas Ghina. “Aih, woles, selow!
Banyak kali cowok di dunia ini yang lebih kece dari kak Gani,”
***
Graha Ganiarja: Dish, bsk jalan
yuk?
Aku yang sedang mengerjakan tugas bahasa Indonesia, tersontak kaget. Kak Gani?
Ngajak jalan? Pikirku.
Disha Syaputri Rahma: Hm, boleh! Kemana, kak?
Graha Ganiarja: Alah, yg deket
ajalah! BIP aja lagi! Mau? Ketemuan aja di J.Co
Disha Syaputri Rahma: jamber nih, kak? Soalnya aku ada pemantapan di
bimbel.
Graha Ganiarja: Km selesai bimbel
jam brp? Nah, sesudahnya aja.
Disha Syaputri Rahma: jam 11 selesai kok, hehe.
Graha Ganiarja: Boleh, jam 11.30
gue tunggu di J.Co ya. Mau nonton?
Disha Syaputri Rahma: Pengen sih, kak. Tp gaada duit, hehehe.
Graha Ganiarja: Ah, udah! Dari
gue aja! Nonton The Woman In Black gpp?
Disha Syaputri Rahma: Gausah, kak! Disha minta ke mama aja.
Graha Ganiarja: Eh, udah! Anak
kecil diem aja! Gue yang bayar! The Woman In Black gapapa ya? Gue penasaran
banget sama filmnya. Pemain utamanya juga abang gue tuh, Daniel Radcliffe.
Wkwk.
Disha Syaputri Rahma: Anak kecil-__- okedeh, gapapa kok kak! Oh iya,
kakak suka Daniel? Berarti suka harpot dong?! GABISA! Daniel tuh abang aku!
........
***
“Mah, nanti gak usah
jemput ya! Disha mau ke gramed dulu, nyari novel buat sesudah UN. Terus Disha
juga mau nonton The Woman In Black sama kak Gani,” kataku ditengah perjalanan.
“Oke deh. Tapi jangan macem-macem ya, awas!” “Apaan sih, Mah! Gak bakal kok,
emang Disha cewek apaan?” balasku dengan ketus. “Ya, Mama gak mau aja anak Mama
dimainin sama laki-laki kurang ajar!” ujar Mamaku. Aku tidak berkata-kata lagi.
Aku capek berdebat terus dengan Mama.
“Eh, Dish, makan
sushi yu!” ajak Rahmi. “Eh, maaf guys! Aku udah ada janji sama—” Ghina
memotong, “KAK GANI!!! CIE!!!!!” Mataku melebar, “Darimana kamu tau, Ghin?”
“Gak sengaja liat chat kamu sama kak Gani, hehehe,” Ghina tersenyum lebar.
“AAAA, GHINA!! BALIKIN!!” aku mengejar Ghina, tidak peduli orang-orang yang ada
disekitarku melihatnya. “Ghin, udah, balikin aja! Gak sopan baca chat orang,”
ujar Sino dari belakang. “Cie nih, Sino ngebela Disha nih? Oh iya Dish, gue
lupa! Sino kan ngeceng! Hahahaha,” mukaku memerah. “Apaan sih, Ghin! Udah
balikin sini!” aku menarik-narik baju Ghina. “Iya deh, kak Ganinya nelepon tuh!
Sin, kasih nih ke Disha! Cepetan!” Sino merebutnya dari tangan Ghina dengan
segera. Rahmi yang melihat, berusaha menahan tawa. Sino segera menghampiriku
dan aku merebut handphone dari tangannya dengan perasaan kesal. Kemudian aku
berlari meninggalkan mereka.
“Ternyata masih jam
sebelas. Oh iya, tadi kan keluar jam 10.45. Ya sudahlah, ke gramed aja dulu,”
gumamku dalam hati sambil melihat jam. Aku mempercepat langkahku. Ghina dan
Rahmi memanggilku dari arah belakang. Tapi aku tidak menghiraukan mereka. Aku
masih sedikit kesal dengan kejadian tadi. “Disha, maafin kita dong! Tadi kita
cuma bercanda!” teriak Ghina untuk terakhir kalinya setelah melihatku
menghilang di persimpangan.
Aku sampai di
gramedia. Kubuka tas ranselku dan memberikannya kepada penjaga tempat penitipan
barang sambil tersenyum. Setelah itu, aku segera melangkahkan kaki menuju
tempat novel-novel. Ya, aku memang penggila novel. Sudah banyak novel yang
tersimpan di rak bukuku, baik itu milik Mama atau milikku. Sebelum tiba di
tempat novel, aku melihat sesosok lelaki dengan badan tegap, bertampang lumayan
di sekitar komik. Itu pasti kak Gani, pikirku.
Aku menghampiri ka
Gani yang sedang membaca komik Naruto dan
satu komik Conan di tangannya tanpa
dibaca. “Hai, Kak! Kebetulan banget ya ketemu disini, hahahaha,” sapaku. “Oh,
hai! Kaget, dikira siapa,” kak Gani mengelus dada layaknya orang yang kaget,
yang baru saja bertemu dengan sesosok makhluk yang menyeramkan. “Hehehe, ampun,
kak. Oh iya, ngapain kak Gani kesini? Kakak suka baca komik ya?” tanyaku sambil
sesekali melihat isi dari komiknya. “Gue sengaja kesini, mau beli komik baru.
Sekalian mau nyari-nyari novel Harry Potter yang Half Blood Prince sama Deathly
Hallow, nih. Ngelengkapin gitu deh, hehehe. Lo sendiri kenapa kesini?” balasnya.
“Ya ampun, kak. Beli komik sekaligus novel! Novelnya Harry Potter pula! Aku
kesini kebetulan tadi selesai bimbel jam 10.45, karena masih ada waktu buat jam
setengah 12, ya sudah aku kesini, kak. Biasanya juga aku kesini, hehehe,”
jawabku dengan senyum lebar. “Sebenernya gue termasuk kutu buku untuk ukuran
seorang cowok,” Kak Gani menutup komik yang tadi dibaca, “Hm, gituuu. Temenin
gue ke tempat novel yuk!” lanjutnya sambil menarik tanganku.
Siang itu, kak Gani
menemaniku mencari novel yang aku mau.
“Nih, kenapa gak novel ini aja?” kak Gani menyodoran novel bersampul
biru. “Coba liat dulu, kak,” aku membaca bagian sinopsisnya dengan serius.
“Boleh juga kak!” aku menyimpan novel tadi, lalu mengambil lagi yang baru. “Udah?
Mau beli novel apalagi?” tanya kak Gani lagi. Kali ini sambil tersenyum. “Udah
aja deh. Gak bawa duit banyak,” balasku. “Eh, gak apa-apa lagi. Gue yang bayar
ini,” katanya sambil melihat-lihat novel remaja yang lain. “Hah? Kak, jangan!
Kakak udah bayarin tiket nonton bioskop, masa iya harus bayarin novel juga?
Mending novel gak usah deh, yaa,” aku menatap mata kak Gani yang berwarna
coklat tua itu. “Gak apa-apa, Dish. Lo mau yang i..” aku sudah tidak kuat. Kak
Gani selalu memaksakan segala kemauannya. Tapi kali ini, aku tidak akan
membiarkan uang kak Gani hanyut begitu saja. “Enggak! Kalo kakak terus kayak
gini, lebih baik Disha pulang!” aku menatapnya dengan tajam. Akhirnya kak Gani
mengalah untuk yang pertama kalinya.
Aku dan kak Gani
sudah duduk dengan nyaman di seat H 11 dan H 12. Ditemani dengan pop corn dan
seorang lelaki membuatku menjadi sedikit berani untuk menonton film horror.
“Kalo lo takut, lo bisa nutupin muka lo di bahu gue,” ujarnya sesaat sebelum
film di mulai. Aku mengangguk dan tersenyum. “Oh iya, lo sebelumnya pernah nonton
film horror juga?” tanyanya pelan. Aku menggeleng, “enggak, kak! Hehehe. Emang
kenapa?” balasku. “Wah, gawat. Gue harus nyiapin tabung oksigen nih kalo lo
lagi ketakutan,” canda kak Gani. “Lebay!” ujarku memukul lengan atas kak Gani.
Kak Gani tertawa lalu mengambil segenggam pop corn.
Aku menonton film
itu dengan serius. “Daniel kenapa keren banget ya?” tanyaku pada diriku
sendiri. “Pemberani! Jadi Harry Potter, pemberani. Jadi Arthur juga sama. Emang
nasibnya dia gitu kali ya,” komentar kak Gani yang ternyata mendengar
perkataanku. “Iya! Bener banget, kak! Ahhh—” aku menutup mataku. Kak Gani
tertawa melihatku ketakutan, “ya ampun, itu cuma bapak-bapak yang tadi nganter
Arthur ke rumah itu! Hahahaha,” “Ya tetep aja kaget, kak!” gerutuku. Kak Gani
tertawa semakin kencang. “Sshh!” ujar seseorang disebelahnya. “Hahaha, makanya
diem!” kataku.
***
Pagi ini, aku
berangkat ke SMA Hilton untuk menjalani ospek. Aku membawa karton, setangkai
bunga mawar, dan lainnya yang diperintahkan oleh senior. “Berat banget nih tas
kamu, Dish!” ujar Papa. “Hehe, gak tau, Pah. Disuruh sama kakak kelas,” balasku
sambil mengoleskan selai ke roti. “Ya sudahlah, ikutin aja apa kata kakak
kelas,” kata Mama.
“Okay, hati-hati di
jalan ya,” Mama melambaikan tangan
kepadaku dan Papa. “Eh iya, nanti anterin Papa ya,” kata Papa. “Kemana?” mataku
berpaling dari layar handphoneku. “Udah, ikut aja,” katanya lagi. Aku
mengangguk penasaran. Memang, Papa orangnya misterius. Jarang berbicara, tapi
sekalinya Papa memberi kejutan pada keluarganya, Papa termasuk orang yang
romantis. Diam-diam menghanyutkan. Dan sekalinya Papa marah, pasti ada satu
barang yang rusak di rumahku. “Nanti pulang jam berapa?” tanya Papa.
“Jam....12an, Pah,” jawabku. “Oke, Papa jemput kamu jam 12.15 ya,” ujar Papa
sambil memutar musik jazz kesukaannya. Aku mengangguk lagi, lalu menatap
kembali layar handphoneku.
“Selamat pagi
semuanya,” sapa seorang senior di SMA Hilton. “Pagi, kak!” semua teman-teman
seangkatanku menjawab dengan semangat. “Perkenalkan, nama saya Dimas. Saya
ketua OSIS tahun ajaran 2011-2012. Sebelah saya Tasya,” perempuan yang bernama
Tasya itu langsung maju dan membungkukkan badannya. “Dia sebagai wakil ketua
OSIS,” lanjut kak Dimas. “Hari ini, hari pertama kalian ospek. Kalian akan
dibagi menjadi beberapa kelompok dengan sepasang senior. Mengerti?” tanya kak
Dimas dengan muka galak. “Mengerti, kak!” jawab semua anak baru. “MENGERTI?”
tanya kak Tasya lebih keras. “MENGERTI, KAK,” akupun menjawab lebih kencang.
“Okay. Tiffany,
Sheila, Novia, Disha, Nabil, Rendra, Zhafran, dan Adit. Kalian kelompok
pertama, yang bakal di bimbing sama Cantika dan Gani,” mataku melebar. KAK
GANI?!?! Pikirku. Aku langsung memisahkan diri dari kumpulan semua murid baru,
dan bergabung bersama temanku yang tadi disebutkan. “KELOMPOK SATU MANA? LAMA
BANGET SIH!!” aku tersontak kaget. Kak Gani berubah 180 derajat sejak aku masuk
di SMA Hilton. Aku langsung berlari menghampiri kak Gani dan kak Cantika. “Udah
kumpul semua?” tanya kak Cantika lalu menghitung jumlah anak di regunya. “Okay,
udah lengkap. Perkenalkan diri kalian! Mulai dari---kamu!” kak Cantika menunjuk
perempuan berjilbab. “Nama saya Tiffany Audria. Saya berasal dari SMP 4,” lalu
kak Cantika menunjuk ke arahku. Aku maju dengan perasaan tegang dan malu. Malu
karena salah satu pembimbingku adalah orang yang ku kenal dan tegang karena
orang yang ku kenal itu menjadi pembimbingku. “Namaku Disha Syaputri Rahma.
Asal sekolah SMP 2,”, “nama yang bagus,” ujar kak Cantika. “Tapi sayang,
terlalu jutek untuk seorang adik kelas,” ceplos kak Gani.
Cess..
Hatiku menjadi
dingin. Dan lama-kelamaan sakit, seperti datang anak panah yang menusuk hati
yang beku. Kata-kata yang tidak biasa keluar dari mulut kak Gani. Aku langsung
kembali ke barisan reguku dengan perasaan marah. Kemudian kak Gani menyuruh
seorang laki-laki bernama Rendra untuk memperkenalkan diri.
***
Waktu istirahat
tiba. Aku bersama teman baruku, Tiffany, Sheila, dan Novia bergegas menuju
kantin. “Eh iya, pada mau jajan apa?” tanya Sheila. “Hm, aku gak bakal jajan,
Sheil. Aku udah bawa bekel. Tapi aku anter kalian aja, sekalian makan di
kantin,” balasku. “Oke, Dish! Ayo!” Tiffany memasukkan uang dan handphone ke
dalam saku bajunya. Di hari pertama ospek, aku, Tiffany, Sheila, dan Novia
sudah saling bertukar pengalaman dan melontarkan lelucon.
“Eh, pembi-hng kita,
gancen ya,” ujar Sheila sambil mengunyah makanannya. “Hah? Ngomong apa kamu,
Sheil?” tanya Novia dengan tampang polos. “Kunyah dulu yang bener, terus telen.
Baru deh ngomong,” ujar Tiffany. Aku hanya tertawa pelan. “Maaf, maaf,” Sheila
menelan makanannya, “tadi pembimbing kita, kak Gani, ganteng ya?” lanjutnya.
“Biasa aja tuh,” jawab Novia dengan tampang polos, lagi. “Lumayan sih kalo kata
aku,” komentarku. “Iya, Dish. Lumayan, gak ganteng-ganteng amat,” lanjut
Tiffany. “Eh, shh! Orangnya lewat,” bisikku. Kak Gani lewat tersenyum kepadaku,
seakan-akan dia tidak mengenalku. Bahkan melihatku pun tidak sama sekali. Aku
marah.
“Lanjut! Udah pergi
tuh orangnya,” pekik Tiffany. “Dan menurut aku, kak Cantika tuh cantik banget!
Sesuai sama namanya!” ujar Sheila lalu memasukkan sesendok bubur ke dalam
mulutnya. “Banget, Sheil! Cantik, berjilbab, pake kacamata, behel. Subhanallah
banget cantiknya!” komentar Novia yang sedikit berlebihan. “Cocok gak sih sama
kak Gani?” aku tersedak dan mata melotot. Tiffany, yang berada disebelahku
langsung mengambil air mineral yang ada di tasku lalu memberikannya kepadaku.
“Trims, Tiffany,” kataku dengan air mata berlinang di pelipis. “Kamu kenapa,
Dish? Jangan-jangan jealous gara-gara kita sebut kak Gani cocok sama kak
Cantika?” Sheila memasang muka jahil. “Bukan! Aku emang lagi gak konsen aja.
Kalo kepanasan emang suka gini,” jawabku. Tunggu. Kenapa terasa sangat panas?
Ku lihat, cuaca disini cukup cerah, tidak ada cahaya matahari yang menyorot.
Dan, aku sedang duduk di kantin dengan atap semen. Apa kurang cukup untuk
mengurangi hawa panas? Yang aku tak mengerti, udara terasa panas ketika mereka
menyebut, “Kak Gani cocok ya sama Kak Cantika.” Atau mungkin aku, benar-benar cemburu?
“REGU 1 SAMPAI 10, DIHARAP UNTUK BERKUMPUL SEKARANG DI RUANG 13,” pengumuman
itu membuyarkan lamunanku. “Dish, kita ke ruang 13 yuk! Regu satu dipanggil
tuh! Eh iya, Nabil, Rendra, Zhafran, sama Adit kemana ya? Eh, itu dia!” Sheila
menarikku dan berjalan cepat ke arah
anggota laki-laki dari regu 1. “Ke ruang 13 bareng, yuk! Sebagai
kelompok, kita harus bareng-bareng kan?” ucap Tiffany sebagai ketua reguku.
Keempat laki-laki itu mengangguk lalu berjalan bersama menuju ruang 13.
***
“Gimana tadi ospek
hari pertamanya?” tanya Papa saat aku menutup pintu mobil. “Ya, gitu deh, Pah.
Kak Gan---kakak senior pembimbingku galak banget!” Huff, hampir salah ngomong.
“Hahaha, galak gimana? Namanya juga ospek, Dish. Nanti kalo ospeknya udah
selesai juga sifatnya bakal kayak semula, kok!” kata Papa tertawa. Aku terdiam.
Apa mungkin kak Gani hanya berakting saja? “Ya, gak tahu juga sih, Pah,”
balasku. “Oh iya, sekarang mau kemana, Pah?” tanyaku. “Kita beli tiket ya,”
jawab Papa dengan santai. “TIKET APA PAH?!” tanyaku lagi. “Maunya tiket apa?”
tanya Papa tersenyum jahil. “Tiket pesawat ke Paris! Hehehe,” aku tersenyum
lebar. “Enak aja, mahal!” sentak Papa. “Papa mau beliin kamu tiket---konser,”
katanya lagi. “APA?!?! TIKET KONSER SIAPA, PAH?!?!” aku berteriak kegirangan.
“Seorang bocah lelaki yang hendak berusia 15 tahun pada bulan Agustus ini. Dia
terkenal berkat keahliannya memainkan piano dan menyanyikan lagu Paparazzi
milik idolanya,” ujar Papa panjang lebar. “GREYSON PAH?!?! GREYSON?!?! MAKASIH
BANGET PAH!!!” aku tak henti-hentinya mencium pipinya. “Sebagai hadiah dari
Papa karena anak Papa udah masuk SMA dan beranjak remaja! Boleh deh kamu sama
temen perginya. Tapi, jangan sama temen cowok ya!” Papa mengacak-ngacak
rambutku. Ah, benar-benar siang yang indah!
Sesampainya di
lokasi penjualan tiket konser, aku segera berlari ke antrian. Papa sedang
mencari tempat untuk parkir. “Disha?” seseorang menepuk pundakku. Aku kaget.
Mukaku sedikit pucat. Aku jadi teringat kejadian saat aku kecil. “Dish, kamu
kenapa?” saat aku berbalik, ternyata itu Rahmi! “Rahmi, aku kaget!” pekikku
memukul lengan atasnya. “Hahaha, ampun, Dish! Kamu kesini ngapain?” tanya
Rahmi. “Beli tiket lah! Ngapain lagi coba?” balasku. “Ya, siapa tahu cuma
sekedar nganterin. Tiket apaan?” tanya Rahmi lagi. “Dasar ya, keponya gak
pernah ilang dari dulu! Tiket konser Greyson,” jawabku. “Wah, move on dari
Archie nih? Aku juga beli tiket konser Greyson! AAAA, sebelahan aja duduknya!”
Rahmi menggoyang-goyangkan tubuhku. “Bukan move on, kamu lupa ya aku selain
ArchAngels itu Enchancers? Gimana sih, katanya sahabat!” candaku. “EH IYA,
LUPA! Hehehe,” Rahmi tersenyum memamerkan behelnya.
“Dish---eh, Rahmi!
Apa kabar?” Rahmi menyalami tangan Papa. “Alhamdulillah baik, Om. Om sendiri
gimana?” tanya Rahmi. “Om baik-baik aja. Eh, beli tiket konser juga? Bareng aja
atuh,” ujar Papa sambil mengeluarkan uang dari sakunya. “Nih, duitnya. Yang
paling depan ya,” Papa memberikan uang untukku dan Rahmi. “Oh iya, nih sekalian
buat Ghina. Ajak aja ya,” Papa mengeluarkan uang lagi dari dompetnya. Aku
melongo. Papa mendadak baik! Gumamku dalam hati. “Oke, Pah. Tunggu ya,” aku dan
Rahmi mulai berjalan menuju loketnya.
“Dish, Papa kamu
ternyata baik!” Bisik Rahmi. “Ya, tumben-tumbenan itu mah, Rah,” balasku sambil
tertawa. “Jahat banget, Dish! Tapi Papa kamu gak seburuk yang kamu omongin
waktu SMP loh,” ujar Rahmi. “Menjelang SMA, Papa emang mendadak baik---mbak, purple 3 yaa---sebenernya baik sih, cuma
jutek aja---oh, ini mbak uangnya---ya, kamu ngerti kan maksud aku?” tanyaku
sambil mengambil tiket dan kembalian. “Makasih, mbak,” ujarku lagi. “Iya, aku ngerti, kok!” Rahmi
menganggukan kepala. “Eh, kesini bareng siapa?” aku memberikan satu tiket ke
Rahmi. “Mau nelepon taksi, Dish,”
jawabnya. “Ya udah, bareng aja kali. Ngirit ongkos!” aku menarik tangan Rahmi.
***
Akhirnya masa ospek
pun berakhir kemarin. Aku, Tiffany, Sheila, dan Novia ternyata satu kelas.
“Sheil, duduk bareng yuk!” ajak Novia. “Oke. Dish, kamu sama Tiffany ya. Dia
belum dateng. Macet kayaknya,” Sheila duduk disebelah Novia. Aku menyimpan tas
tepat di depan Sheila dan Novia. “Dish, mau kemana?” tanya Novia. “Mau ke
gerbang, siapa tahu Tiffany dateng,” ujarku langsung meninggalkan kelas.
Aku berjalan cepat
sambil mengetik SMS untuk Tiffany. Tiba-tiba...BRUK! “Hm, maaf kak,” kataku
menundukkan kepala. “It’s my fault,” katanya. Saat aku menatap wajahnya, “kak
Gani?” “Iya, ini gue,” katanya. “Oh iya, lo mau kemana nih?” tanyanya lagi.
Hah? Sifat kak Gani berubah seperti semula. “Mau ke gerbang, kak. Mau nyamperin
temen yang baru mau dateng,” jawabku.
Deg... deg...
“Tolong! Jangan
gugup! Gak biasanya kamu gini, Dish!” gumamku dalam hati. “Oh, hati-hati ya! Eh
iya, nanti gue anter pulang! Jangan pergi kemana-mana dulu lo!” aku mengangguk
lalu meninggalkan kak Gani yang dihampiri oleh teman-temannya.
Tak lama kemudian,
aku melihat Tiffany baru muncul dari gerbang dengan tas ungunya. “Tiffany!”
Tiffany mengarahkan pandangannya kearahku. Aku langsung merangkul pundak
Tiffany, “darimana aja? Tumben, waktu ospek kamu dateng pagi banget. Sekarang
malah hampir bel masuk.” “Iya nih, tadi jalanan macet banget. Lagian tadi
berangkatnya juga telat,” jawab Tiffany dengan napas terengah-engah.