
Aku membuka pintu kamarku dengan
malas-malasan, lalu menutupnya. Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan
memandang langit-langit kamar yang putih. Aku jadi ingat aku belum mandi sore.
Dengan cepat aku melangkah ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Rasa
saat setelah mandi mampu membuatku menjadi sedikit segar. Saat aku ingin
mencari bedak, aku melangkah ke meja rias dan mengambil benda apa yang aku
butuhkan. Saat aku ingin meraih bedak tersebut mataku menatap lekat benda yang
sudah berdebu. ‘Apa itu?’ pikirku, sambil mengambil benda yang berdebu
tersebut, dan membatalkan rencana untuk berbedak sejenak.
Saat berhasil meraih benda berdebu itu,
aku hanya bisa menatap benda tersebut dengan nanar. Sebotol parfum. Entah sudah
berapa lama parfum ini di sini hingga bisa berdebu seperti ini. Aku
membersihkan debunya bermaksud untuk melihat parfum merk apa ini. Saat tangan
ini berhasil menyingkirkan debu yang menempel, kini terlihat begitu jelas. Aku
terkesiap saat tulisan merk itu dapat di baca dengan mataku, Tiba-tiba dadaku
terasa sesak, degup janungku berdetak lebih cepat. Dengan tangan yang bergetar
hebat aku memberanikan diri untuk mencium aromanya.
“Cssttt”
Aroma coklat yang kuat menyambut
hidungku seketika. Dan saat itu juga tanganku bertambah bergetar. Baunya begitu
kuat, mampu membuka lagi kotak memori di otakku. Ya, parfum ini miliknya.
Seseorang yang dulu begitu istimewa di sudut hatiku. Bersama dengan itu juga
kenangan anatara aku dan dirinya menyeruak tanpa ampun, menginjak-injak hati
ini, semakin sesak. Tanpa di sadari air mata terbit di pelupuk mataku. Mataku
mengabur menerawang jauh, saat waktu bersama dengan dirinya.
***
Aku menatap papan tulis putih itu dengan
serius. Mengamati angka-angka yang tertera di sana. Otakku memikirkan mengapa
angka tersebut ada di sana, dan mengapa itu bisa begitu. Rumus-rumus itu
membuat jalan pikiranku menjadi kusut. Otak ini sudah menyerah bagaimana
asal-muasal angka tersebut. Aku menghela napas dan menyenderkan punggung ke
sandarannya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kelas tempat kursusku.
Semuanya melihat papan tulis lalu menuliskannya ke dalam buku mereka
masing-masing. Situasi kursus yang membosankan, menurutku.
“Brak!”
Tiba-tiba ada sosok yang menjulang
membuka pintu ruang kelasku dengan napas yang tersengal-sengal. Dia mengedarkan
pandangannya ke seluruh kelas dan pandangannya berhenti di guru lesku. Aku bisa
melihat dia begitu khawatir. Dia mengambil oksigen di sekitarnya, seakan-akan
dia akan kehilangan jika tidak menghirupnya cepat-cepat.
“Maaf bu saya terlambat. Tadi macet
banget!” jelasnya di antara napasnya yang terburu-buru. Aku juga memperhatikan
mukanya yang merah karena berlari dari tempat parkir ke kelas ini. Tiba-tiba
seulas senyum terkembang di mulutku.
Dia lalu berjalan ke bangku belakang dan
mulai mengeluarkan bukunya. Saat dia akan melihat ke papan tulis, matanya
bertumbu dengan mataku. Aku merasa kaget karena tertangkap basah diam-diam
memperhatikannya langsung menghadap ke depan dengan pipi memanas.
***
Aku hanya menatap pemandangan di depanku
dengan perasaan kesal. Air turun dengan derasnya saat waktu kursusku telah
berakhir. Saat tadi terpenjara dalam rumus-rumus yang rumit, kini terpenjara
dalam hujan yang deras. Karena tidak mau mengambil resiko aku hanya bisa duduk
dengan lunglai di kursi tunggu. Dinginnya hujan memelukku begitu erat. Aku
hanya bisa mengencangkan jaket yang aku gunakan.
Tiba-tiba sebuah mobil jazz biru berhenti
di depanku. Aku terlihat bingung sambil melihat kea rah jendela mobil. Kupikir
orang yang menjemput, tapi saat jendela mobil tersebut turun, aku tersentak.
Dia yang tadi terlambat. Ah, aku belum tau namanya, ngomong-ngomong.
“Rumah lo di mana?” tanyanya setengah
berteriak, berusaha mengalahkan suara bising yang hujan ciptakan. Aku hanya
terdiam sejenak, masih belum sadar. ‘Dia menanyakan rumahku?’ kataku dalam
hati.
“Daerah Dago atas, kenapa emang?”
jawabku tak kalah keras. Aku bisa melihat senyumnya merekah. Itu senyum pertama
yang aku hilat dari dirinya, dia tampan.
“Baguslah! Rumah gue searah ko, ayo
masuk, gue antar lo pulang.”
“Hah? Ga salah? Gue ga kenal sama lo,
main ajak pulang aja. Sekarang ini lagi musim penculikan tau!” jawabku kesal
sembari membuang muka. Dia hanya mendengus geli. Lalu selanjutnya aku hanya
terkejut melihat dia keluar dari mobilnya, berlari menerobos hujan yang deras,
lalu dia ada di depanku sukses dengan tubuhnya yang basah kuyup.
“Lo ngapain sih?” Ujarku setengah
berteriak kesal dengan kelakuannya ini. Dia hanya tersenyum simpul, seolah ini
bukan masalah yang penting.
“Lo mikir penculik itu kursus?” tanyanya
mengabaikan ucapanku tadi.
“Ya…. Ga ada salahnya juga kan
jaga-jaga.” Dia menyeruak dengan tawanya. Ya, kali ini juga dia tertawa di
depanku. Aku rekam suara tawanya dan menyimpannya baik-baik dalam ingatan.
“Gue Nico.” Katanya sambil menyodorkan
tangannya. Aku melihat tangan tersebut sebentar, lalu meraihnya dengan ragu.
“Gue Dina.” Ada kehangatan yang menjalar
saat persentuhan kulit kami berdua. Aku tenggelam dalam pesona matanya, jernih.
Saat tangan kami berpisah, ada keinginan masih ingin menggenggamnya.
“Jadi? Lo mau nginep di sini atau mau di
anter sama cowo ganteng?” katanya kepedean tingkat dewa. Aku memukul pundaknya.
“Eh, tapi gue ga bawa payung. Jadi gue
ga bisa bukain pintu bak seorang pangeran mengantarkan putrinya menuju
istana.” Aku terbahak mendengarnya,
ternyata dia orang yang cukup menyenangkan.
“Emangnya penting ya yang kayak
begituan? Gimana kalo kita lomba lari dari sini sampai mobil?” Tantangku dengan
wajah jahil, dia berpikir dengan mengerutkan dahinya.
“Siapa takut?” katanya mantap, sambil
mengambil ancang-ancang berlari.
“Siap? Satu…dua…tiga!” sontak kami
berdua berlari menerobos hujan yang masih deras. Aku begitu bersemangat akan
memenangkan lomba kecil ini. Karena terlalu bersemangat aku tak dapat mengenali
air yang menggenang tersebut ternyata sebuah lobang, otomatis aku tersungkur.
Nico yang hampir menggapai pintu mobil melihat ke belakang, dan menahan tawa.
Aku berusaha berdiri, sampai sebuah tangan menarik lenganku lembut. Kami berdiri
berbarengan, di antara derasnya hujan kami menikmatinya. Aku menatap lekat
matanya yang jernih itu. Lalu tiba-tiba kami tertawa berbarengan.
“Lo sih! Lari ga liat-liat! Udah ah ayo,
liat kan lo jadi basah kuyup!” cecarnya, seraya kami berjalan menuju mobilnya.
“Lo juga basah kuyup.” Kataku
membalasnya. Tiba-tiba dia berhenti, karena refleks aku menabrak punggungnya.
Lalu dia berbalik dan menatapku.
“Lo tau? Lo itu ga bisa di kasih tau ya?
Dasar keras kepala!” katanya agak keras sambil memegang pucuk kepalaku. Rasa
dinginnya hujan tiba-tiba lenyap, seakan ada kehangatan yang mengguyur.
“Ayo! Lama-lama kita bisa masuk angin
gara-gara terlalu lama main hujan-hujanan.” Katanya sambil menarikku ke dalam
mobilnya. Aku membasahi jok mobilnya, tapi dia tidak begitu memikirkannya. Pas
saat kami berdua sudah duduk di mobil, dia
tiba-tiba membuka kaosnya yang basah kuyup dengan cepat dan mengambil kaos yang
baru yang sudah dia sediakan di jok belakang, dan memakainya dengan cepat. Aku
termangu melihatnya.
“Astaga! Lo ini ga malu apa? Gue ini
cewe!”
“Terus? Masalah? Bilang aja seneng liat
yang begituan.” Balasnya polos.
“IH!!!” kataku sambil memukulnya
bertubi-tubi, sampai dia mengatakan kata ampun. Aku begitu kesal dengan
sikapnya ini. Tapi, sungguh. Ini pertama kali kami bertemu, berkenalan, tapi
sudah banyak hal yang tak terduga terjadi. Dia ini cowo yang paling aneh yang
pernah kutemui.
Kukira saat dia menyalakan mobil kami
akan langsung melesat meninggalkan temapat kursus kami. Tapi setelah menyalakan
mobilnya dia seperti teringat sesuatu lalu mengambil sebuah benda dari jok
belakangnya, aku hanya
bisa memperhatikannya. Dia memegang sebotol parfum laki-laki, sebuah senyum
berkembang di wajahnya, melihat perfume itu. Aku hanya bisa mengerutkan dahi,
terlihat kebingungan. Dia langsung menyemprotkan isinya ke seluruh badannya.
“Csssttt”
“Uhuk! Uhuk!” aku terbatuk-batuk begitu
bau parfum tersebut memenuhi isi mobilnya.
“Kenapa? Harumnya enak ko rasa coklat.”
Katanya riang seakan dia sedang memamerkan mainan terbarunya. Aku hanya bisa
menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya.
“Engga. Baunya ga enak, aku ga suka tuh”
jawabku sambil melihat tangan kesal dan menatap ke arah depan. Aku masih bisa
menghirup aroma parfumnya ini, begitu maskulin.
“Masa? Coba cium sekali lagi deh, enak
ko baunya!” katanya memberikan parfumnya padaku, aku menatap parfumnya dengan
nanar.
“Oh ya. Buat kamu aja sekalian, soalnya
yang itu udah mau habis, lagian aku udah beli yang baru ko.” Katanya seraya
menyimpan parfumnya itu di atas pangkuanku. Setelah itu baru kami meninggalkan
tempat kursus kami.
Bagiku hari itu adalah hari paling manis
yang bisa ku rasakan. Setelah saat itu kamu menjadi lebih akrab dan dia sering
mengantarku pulang dengan mobilnya. Kini aku terbiasa dengan parfumnya yang
begitu maskulin yang menyambut hidupku saat aku memasuki mobilnya. Lama-lama
aku terbiasa dengan hadirnya di sisiku. Aku bisa mengenal kehangatan,
kehangatan yang di berikannya. Aku belajar menari di bawah hujan. Kami tetap
berusaha tertawa di sela kesedihan yang menerpa. Dan kita membangun sebuah
kisah, kisah yang begitu banyak mimpi yang kita buat. Merajut sebuah kenangan
yang begitu manis, melipatnya dan menyimpannya di kotak hati kami
masing-masing.
***
Ya, tentu saja aku masih ingat pertemuan
pertama kita. Pertemuan yang indah. Hari berganti hari, bulan berganti bulan.
Kamu menghilang saat aku menunggumu di ruang kelas. Ternyata hari itu aku hanya
menunggu kekosongan. Aku tidak pernah terlihat batang hidungnya lagi. Dia
meninggalkan aku dengan rumus-rumus yang berjumpalitan di papan tulis putih
itu. Padahal aku sudah menatap pintu kelas berharap ada sosokmu di balik pintu
itu, tapi kau tak kunjung datang.
Aku masih memegang erat botol parfum
yang kutemukan tadi. Menghirup lagi aromanya dalam-dalam, mengingat-ingat aroma
tubuhnya yang dapat gapai saat kesedihan melanda. Kukira kita akan memiliki
kisah dengan akhir seperti novel-novel yang pernah ku baca. Aku tersadar bahwa
aku begitu merindukan sosoknya. Aku selalu tenggelam dalam lautan rindu yang
aku ciptakan sendiri.
Tapi inilah akhir ceritanya, sudah
benar-benar berakhir. Mungkin memang kita tidak di takdirkan untuk
menapaki jalan yang sama sambil bertautan tangan. Ada kalanya tautan tangan itu
harus terlepas. Mungkin di jalanku aku akan menemukan sosok yang akan mengganti
dirimu, tapi itu belum pasti.
Jika memang kamulah orang yang tepat untukku,
Tuhan akan membuat sebuah jalan yang menghubungkan jalanmu dan jalanku di ujung
sana, di satu titik di mana kita akan bertemu lagi, berbekal dengan kerinduan
dan cinta.
Aku
mengembalikan parfum itu ke tempat asalnya. Berusaha tersenyum melihatnya, tapi
hanya senyum lirih yang aku ciptakan. Aku memandang ke luar jendela, hujan
deras. Aku dapat melihat kamu dengan senyummu itu, Nico. Hanya tawanya yang
menggaung dalam pikiranku, dan wajahnya yang hangat. Aku menciptakan hujanku
sendiri, hujan untukumu. Hujan itu adalah air mata.
Created by: Natasya Rawis, twitter: @nananatCR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar