Lelaki itu...
“Oh Tuhan, kenapa
aku harus mengingatnya lagi?” Aku terisak tepat di depan buku-buku yang di tata
rapi di meja belajarku.
Awalnya aku hanya
ingin mengambil novel bersampul merah muda yang dikarang oleh penulis favoritku,
Ilana Tan. Saat aku ingin mengambilnya, tepat di sebelah novel itu terletak
sebuah pigura yang mengingatkanku kepada seseorang. Seseorang yang sangat
berarti di hidupku. Tapi, itu dulu...
-flashback-
Pagi itu, di
rumahku, tepatnya di daerah Lembang, udara yang dingin tak dapat aku rasakan
karena kesibukanku untuk menyiapkan baju dan sarapan untuk kedua adikku dan
ayahku. Aku melakukan ini setiap hari semenjak ibuku meninggal setahun yang
lalu karena kanker rahim. Aku sebagai anak tertua di keluarga Singleton,
bertanggung jawab mengurusi adik-adikku yang masih berumur tiga dan tujuh tahun
itu.
“Georgina, sudah
siap masakannya?” Ayahku berteriak saat keluar dari kamarnya sambil membetulkan
dasinya. Aku mengangguk lalu menyajikannya di meja makan yang sudah di tata
rapi. Adik kecilku, Oliver, berlari menghampiriku. “Iya, Oliver. Tunggu
sebentar ya, aku akan membuat susu coklat hangat untukmu sebentar lagi,” ujarku
menggosok-gosok kepala Oliver sehingga rambut coklatnya sedikit berantakan.
“Semua sudah siap?”
Tanya ayah kepadaku, Oliver, dan Lucy, adikku yang pertama. Kami semua
mengangguk dan berjalan membuntui ayah. Selagi ayah mengeluarkan mobilnya, aku
mengunci pintu rumah lalu memberikannya kepada penjaga di rumahku. “Georgina,
ayo putar lagu! Aku bosan!” Oliver mengeluh. Lucy yang sedang asyik membaca
buku cerita mendesah, “tidak! Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau begini!”,
“Memang aku peduli?” Tanya Oliver mengeluarkan lidah kecilnya. “Sudah, Oliver,
Lucy! Bagaimana kalau Lucy di depan bersama ayah, aku pindah ke belakang untuk
mendengarkan lagu bersama Oliver?” Keduanya mengangguk setuju.
***
Aku Georgina
Singleton, anak pertama dari Oscar Singleton dan Emily Singleton, pemilik
perusahaan pegadaian emas di yang tersebar di seluruh Indonesia. Aku berumur
dua belas tahun saat Agustus nanti. Aku bersekolah di International Smart
School, salah satu Sekolah International ternama di Bandung. Aku dari lahir
sudah berada disini, namun saat aku berumur aku berumur empat tahun, orang
tuaku memutuskan untuk tinggal sementara di Aussie sampai aku berusia delapan
tahun.
Saat kembali ke
Indonesia, aku akan mempunyai seorang adik lagi. Tapi, saat usia kandungan
ibuku menginjak lima bulan, ibuku dinyatakan kanker rahim. Dokter memberi dua
pilihan, menggugurkan adikku atau mempertahankan adikku dengan taruhan nyawa. Ayahku
sudah menyuruh ibuku untuk menggugurkannya, tapi apa yang ibuku katakan?
“Tidak, ini karunia Tuhan. Aku tidak akan menggugurkan kandunganku. Aku sayang
pada anak-anakku, Oscar.” Ayahku hanya bisa mengalah dan berharap ibuku akan
baik-baik saja.
Saat ibuku
melahirkan Oliver, ibuku selamat, ibuku tidak apa-apa. Ayah sangat senang
mendengarnya. Tapi, sepuluh bulan setelah melahirkan, kanker rahim ibuku
semakin parah dan akhirnya meninggal saat ibuku akan di operasi.
***
Aku tiba di
sekolahku tepat pukul 7. Bel baru akan dibunyikan 15 menit lagi. Aku menutup
pintu mobil lalu berjalan ke arah gedung sekolah. Aku berjalan sedikit lebih
cepat dari biasanya karena aku belum mengerjakan tugas matematika yang diberikan
oleh Mr. Lucas. Aku tertidur semalam karena aku sangat lelah.
“Georgina! Kenapa
kau? Kau berkeringat sangat banyak!” Sahabatku, Greyson Chance, meghampiriku ke
depan kelas sambil memberikan sapu tangan hitamnya. “Aku belum mengerjakan tgas
Mr.Lucas, Grey! Ayolah, bantu aku! Ada soal yang tidak aku mengerti,” ujarku
dengan keringat membanjiri tubuhku. “Tumben sekali kau belum mengerjakan
tugas,” Greyson berjalan menuju bangkunya untuk mengambil buku matematikanya.
“Mana yang kau tidak mengerti?” Lanjut Greyson saat kembali ke bangkuku. “Aku
tadi malam terlalu lelah, dan aku tertidur. Hehehe,” Aku menunjuk nomor soal
yang sangat sulit untuk di mengerti.
Teeett....
Bel istirahat
berbunyi. “Oh, thank you so much, Grey! Kau menyelamatkan hidupku,” Greyson tertawa.
“Kenapa kau tertawa?” Keningku mengkerut. “Kau ini! Tugas Mr.Lucas kau anggap
sebagai suatu ancaman?” Suara tawa Greyson makin didengar oleh banyak orang.
“Shh, Grey! Kau memalukan!” Aku berjalan lebih jauh di depan Greyson. Greyson
mengejarku lalu mengecilkan volume tertawanya, “oh, ayolah, Georgin! Masa
begitu saja kau marah?” Greyson menyubit kedua pipiku dengan kedua tangannya.
Aku meringis kesakitan, “jika kau tidak mengajariku tadi, aku tidak harus
dihukum di depan kelas karena aku tidak bisa mengerjakannya!” Bisikku saat
mengambil nampan dari tangan Greyson.
***
Sore itu aku sangat
bosan menunggu kehadiran teman kelompokku, yaitu Dinda, Nana, Michael, dan
Greyson. Mereka janji akan datang ke rumahku jam 5 tepat. Saat aku melihat jam,
“ah, yang benar saja? Baru jam 4? Jam 5, cepatlah datang!” Aku sesekali melihat
ke luar rumah untuk memastikan mereka sudah datang atau belum.
Teng... tong...
Aku segera
membukakan pintu. Aku sudah mengenali suara bel yang dibunyikan oleh Greyson.
“Ya, tunggu sebentar,” ayah berteriak sambil melempar bola kepada Oliver.
“Halo semua! Jam 5
tepat!” Aku menyuruh mereka masuk. Selama aku mengambilkan minuman dan cemilan,
aku menyuruh mereka untuk masuk ke kamarku. “Eh, tidak! Kita di ruang tamu
saja, Georgina!” Nana menarik tanganku, mencegahku untuk mengantar mereka ke
atas. “Bagaimana kalau di ruang tengah? Di ruang tamu ada Lucy dan Oliver yang
sedang bermain. Mereka kedua adikku. Aku takut mereka mengganggu kita
mengerjakan fisika ini,” jelasku. Mereka semua mengangguk. Aku mengantar mereka
ke ruang tengah yang terdapat beberapa foto keluarga.
“Itu ibunya?”
Michael menunjuk seorang wanita berjilbab dan berkulit putih halus. “Iyaa,”
balas Greyson
sambil tersenyum lalu mengeluarkan beberapa alat yang dibutuhkan
untuk kerja kelompok fisika. “Cantik sekali!” Puji Dinda. “Ya, sangat cantik!
Pantas saja Georgina dan Lucy cantik! Mereka sangat mirip,” tambah Nana.
Greyson yang mendengarnya tersenyum-senyum sendiri sambil memeriksa alat-alat
yang dibawa olehnya.
“Ini dia! Selamat
menikmati,” Georgina datang membawa lima gelas minuman rasa jeruk. “Terima
kasih, Georgin! Kau sangat tahu saat sahabatmu sedang kelaparan dan kehausan,”
Greyson mengambil minuman paling awal diantara teman-temannya yang lain. Sore
itu penuh dengan keceriaan, canda dan tawa.
***
Selama aku
bersekolah di International Smart School, aku menemukan sahabat yang
benar-benar sahabat. Saat lulus SMP, aku dan Greyson bersepakat untuk
bersekolah kembali di International Smart High School.
“Halo, Grey! Aku
sangat ingin bercerita padamu!” Kataku memulai percakapan.
“Ceritalah, Georgin!” Balas Greyson dari seberang sana.
“Ah, aku ingin
menceritakannya secara langsung! Aku ingin meluapkan semua kesenanganku hari
ini!! Bagaimana kalau kita bertemu di taman?”
“Hm----Georg----okay, baiklah! Jam berapa?” Nada Greyson aneh,
seperti yang tidak ingin bertemu di taman.
“Grey, kau tak apa
kan? Atau mungkin aku bisa ke rum----“
“Tidak! Tidak usah, kita bertemu ditaman saja,” Greyson memotong
pembicaraanku sambil tertawa kecil.
“Oh, oke! Sampai
ketemu disana,” Aku menutup telepon dan mengambil baju hangat berwarna coklat
tua kesukaanku. Aku segera turun untuk meminta izin membawa mobilnya.
Sesampainya di
taman, aku melihat Greyson sedang duduk manis di bangku hijau muda. Dia baru saja
menutup botol air mineralnya yang bergambarkan piano, alat musik yang dia
sukai. Aku melangkahkan kakiku dengan pelan.
“Greyson!!” Aku
menepuk pundaknya. “Aw, sakit!” Greyson mengelus-elus pundak yang tadi kutepuk.
“Hehehe, I’m sorry, Grey!”, “It’s okay, Georgi. Oh ya, kau ingin bercerita
apa?” Greyson melipat kaki kanannya diatas kaki kirinya. “Kau tahu kan aku,
Lucy, dan Oliver pernah menyuruh ayahku untuk menikah?” Greyson mengangguk
sambil memainkan tutup botol minum miliknya. “Ayahku menolaknya. Dia sangat
mencintai ibuku. Tapi dia mengatakan sesuatu!” lanjutku. Greyson mengkerutkan
keningnya melihat mataku melebar, “what?”, “Dia akan mengadopsi anak! Dia
umurnya lebih tua dariku! Dia kuliah tingkat dua! Waaaa!” Aku
menggoyang-goyangkan badan Greyson saking senangnya. “Yayayaya, I know you
happy. But---kau tak perlu menggoyangkan badanku,” Greyson memegang kedua
tanganku.
***
Bel masuk berbunyi.
Aku gelisah, Greyson belum juga datang. Aku segera menanyakannya kepada teman
sebangkunya, Joseph.
“Kenapa Greyson
belum datang?” tanyaku pada Joseph yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
“Aku tak tahu. Ku kira kau----kekasih Greys---“, “Hey! I’m not talking to you,
Peter! And I’m not his girlfriend! I’m his friend!” Aku menampar kedua teman
Joseph yang menertawakanku, Joseph menyuruh keduanya diam. “I’m sorry,
Georgina. Aku tidak tahu dia masuk atau tidak. Dia tak memberitahu apapun
padaku,” jelas Joseph. “Okay, thanks, Joseph!” Aku tersenyum dan berbalik arah
menuju mejaku.
Selama pelajaran,
aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku memikirkan siapa kakak angkatku,
dan----Greyson tentunya. Tidak berkonsentrasi saat pelajaran ekonomi menambah
beban pikiranku. Bagaimana tidak? Aku dihukum oleh Mrs. Megan karena aku
melamun dan tidak memperhatikan pembicaraannya. Aku harus membantunya mengisi
daftar nilai dan itu membuatku terlambat pulang sekolah.
“Maaf, ayah. Tadi
aku harus membantu Mrs. Megan mengisi daftar nilai,” kataku sambil menutup
pintu. “Oke, tak apa, Georgina. Sekarang kita ke panti asuhan, kan? Lalu ke
rumah sakit. Ingatkan ayah, Lucy,” Ayah menatap Lucy lewat spion. “Hah? Ke
rumah sakit? Untuk apa, yah?” Tanyaku ketika ayah melajukan mobilnya. “Kau
tidak tahu, Georgina? Greyson sakit!” Lucy mendekat padaku. Mataku melebar,
kaget. “Ayah, lebih baik kita ke rumah sakit dulu!! Aku ingin bertemu
Greyson!”, “tidak, Georgina. Lebih baik kita ke panti asuhan dulu. Ke panti
asuhan hanya sebentar. Nanti kau bisa berlama-lama di rumah sakit,”
Aku hanya bisa
terisak di sepanjang jalan memikirkan apa yang diderita Greyson. Saat aku tiba
di panti asuhan pun aku hanya berdiam diri di mobil, menangis. Ayahku
menyuruhku untuk turun dari mobil, untuk berkenalan dengan kakak angkatku. Tapi
aku tidak bisa menahan air mataku, aku pun tidak mau memperlihatkan air
mataku---air mata untuk sahabatku, Greyson---kepada orang lain.
“Georgina, ini Dini,
kakak angkatmu,” aku hanya bisa tersenyum padanya sambil menahan genangan air
mata yang sebentar lagi akan jatuh menjadi butiran-butiran kristal yang
membasahi pipiku. “Tunggu, sebaiknya aku pindah ke belakang. Dini, kau duduk di
depan,”, “Baiklah Dini, kau sudah tahu nama-nama mereka, kan? Georgina, Lucy,
dan Oliver. Sekarang kau boleh memanggilku ayah,” Ujar Ayah tersenyum pada Dini
lalu melihat ke arah kaca spion untuk melihat Lucy, Oliver, dan aku.
Tiba di rumah sakit,
aku berlari menuju perawat untuk menanyakan kamar Greyson. Ayahku menarik tanganku untuk mencegahku
terburu-buru. Aku mengalah dan membiarkan ayahku yang menanyakan kamar Greyson.
Aku hanya bersandar di dada Dini.
“Greyson ada di
lantai tiga, kamar 311. Ayo!” Ayah menggandeng Oliver, Dini menggandeng Lucy,
dan aku berjalan cepat di depan mereka. Ayahku berteriak kepadaku agar aku
berjalan sedikit lebih santai. Tapi aku tidak bisa, sahabatku sakit.
Aku memasuki ruangan
yang cukup luas. Disana terdapat seorang anak laki-laki yang terbaring lemah di
kasur. Aku segera menghampirinya. Anak laki-laki terbaring dengan selang di
hidungnya, tabung oksigen dan alat pengukur detak jantung di sampingnya. Air
mataku langsung terjatuh saat tepat berada di sampingnya.
“Greyson...” aku
menangis, lebih kencang dibandingkan saat menangis di mobil tadi. Aku langsung
memegang erat tangan Greyson. “Georgin?” Greyson membuka matanya
perlahan-lahan. Air mataku terhenti sejenak, kaget melihat Greyson tiba-tiba
bangun, seakan-akan dia menyadari kehadiranku. “Georgina? Kapan kau datang?”
Tanya Mom Lisa yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Oh, hello, Oscar! Hello
Lucy, Oliver, dan....” lanjut Mom Lisa bingung melihat Dini berada di samping Oliver.
“Dini. Saya kakak angkat dari Georgina, Lucy, dan Oliver,” Mom Lisa tersenyum
dan mengangguk. “Jadi, kapan kalian datang?” tanya Mom Lisa. “Baru saja kami
datang, Lisa,” jawab ayahku.
Aku tidak
mempedulikan apa yang mereka bicarakan. Aku terus menatap mata Greyson sambil
memegang tangan kirinya. “Georgin, kenapa kau menangis?” Suara Greyson lemah.
Aku tidak bisa bersuara. Aku tidak kuat menahan air mataku, apalagi setelah
mendengar suara Greyson yang tidak seperti biasanya.
“Georgina, ayah,
Dini, dan adik-adikmu akan pulang. Kau ikut?” Tanya ayah menghampiriku. Aku
menggeleng sambi melihat Greyson yang terdiam dengan mata setengah menutup.
“Oke, nanti ayah akan kembali untuk menjemputmu,” Aku terisak-isak. “Mom,”
Greyson memanggil Mom Lisa. “Mom Lisa,” ujarku lebih keras. Mom Lisa menengok
ke arahku lalu menghampiri Greyson. “Mom, hari ini aku ingin Georgin yang
menemaniku. Mom pulang saja, aku khawatir Mom terlalu capek, kurang tidur,”
ujar Greyson dengan lemah. Mom Lisa mengangguk dan tersenyum. Beliau langsung
membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. “Oke, ayah nanti kembali
untuk membawakan baju untukmu. Ayo Lisa, pulang saja bersamaku,” ucap ayah.
“Tolong jaga Greyson baik-baik. Mom percaya sama kamu, Georgina,” Mom Lisa
mengecup keningku, aku mengangguk.
Hari itu aku dan
Greyson saling melontarkan candaan. Walaupun sedang berbaring lemah, Greyson
masih terbilang humoris. Aku sampai lupa kalau sebelumnya aku menangis.
“Georgin, kenapa tadi kau menangis?” tanya Greyson tiba-tiba. Aku mengeluarkan
air yang ada di mulutku dengan refleks, Greyson tertawa. “Aku khawatir
denganmu, Grey! Kau tadi tidak ke sekolah tanpa memberi kabar kepadaku!”
Suaraku mengencang, aku tahan kembali air mataku. “Maaf, Georgin. Tadi malam
aku lemas, bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja aku sudah
tertidur di kasur ini dengan selang dan kabel-kabel ditubuhku,” jelas Greyson.
“Tapi setidaknya kau kabari aku saat kau sudah bangun!!” suaraku lebih kencang
dari sebelumnya, sampai-sampai aku tidak kuat menahan air mata. “Georgina
Singleton, sahabatku, y-----maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf! Aku
sebenarnya tak ingin kau bersedih, aku tak ingin kau tahu kalau sebenarnya aku
begini,” Greyson memegang tanganku. Aku merasakan tangan Greyson yang lebih
dingin dari biasanya. Aku lemas-----semakin lemas, aku menangis.
***
Kemarin malam
Greyson dinyatakan sembuh dari penyakit jantungnya. Aku sangat senang
mendengarnya. Pagi ini aku ikut menjemputnya bersama Alexa dan Tanner.
Sebelumnya, aku sudah menyiapkan hadiah untuknya.
Sesampainya di
kamar, aku berlari ke arah Greyson yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Tapi
saat aku sudah dekat dengannya, Greyson membalikkan badannya
dan-------AW!----basah! “Oh, I’m sorry, Georgin!” Aku dan Greyson saling
menertawakan diri sendiri, lalu Greyson memelukku. “Thanks! You’re everthing
for me! Without you, I’m nothing!”
“Oh ya, ini
untukmu!” aku memberikan kotak berwarna hitam dan putih--warna kesukannya--yang
tidak terlalu besar. “Georgin, kau mengerjaiku! Sangat susah untuk dibuka-----Oh,
Georgin! Pigura----penuh dengan foto kita berdua, dan---hei! Kenapa kau
tempelkan foto saat aku sedang sakit dan tertidur? But, thank you so much!! I
love this sweater!” Greyson mengeluarkan pigura dan sweaternya sambil tersenyum
senang. “Oh iya, aku punya ini untukmu, Georgina!” Greyson memberiku sebuah
kalung dengan liontin berbentuk huruf G. “Thank you so much, Grey! I like it!”
aku berteriak hingga perawat yang melewati kamar Greyson melirik ke arahku.
“Sama-sama, Georgin! Sini, aku akan mengalungkannya di lehermu,” aku mengikat
rambutku yang sedikit panjang, lalu Greyson memakaikan kalung di leherku. “Oke,
sudah! Lihat, Georgin----G—dan G! Georgina and Greyson!” Greyson menunjukkan
kalung yang sedang dipakainya sambil tertawa.
Selama perjalanan
pulang, aku dan Greyson bercanda, bermain, dan bernyanyi seperti dulu---sebelum
penyakit jantungnya kambuh. “Oh, tadi menyenangkan!” ujar Greyson kepadaku.
“Apanya yang menyenangkan?” aku mengkerutkan keningku. “Saat aku tak sengaja
menciummu!” Bisik Greyson. Aku dan Alexa pun tertawa. “Alexa, kau
mendengarnya?” Greyson menjulurkan lidah ke arah Alexa. Alexa kemudian menjulurkan
lidahnya kepada Greyson. Mukaku memerah seperti buah tomat yang baru saja
matang.
Semenjak Greyson
dinyatakan sembuh, Greyson selalu mengajakku bermain di taman pada malam
ataupun siang hari, mengajakku untuk berolahraga bersama. Padahal, dokter sudah
menyuruhnya untuk beristirahat dan jangan kelelahan. Aku sudah berusaha
memberitahunya, tapi dia keras kepala. Apa yang dia katakan? “No, Georgin!
That’s me, Greyson Michael Chance! Aku ceria, tidak bisa diam, dan----kau
sahabatku, Georgin! Kau seharusnya tahu aku!” Aku benar-benar tak bisa
melakukan apa-apa. Aku hanya bisa melihat Greyson tersenyum dan tertawa
bahagia.
***
Cinta itu tumbuh
dalam diriku. Aku tak mengerti kenapa rasa ini tumbuh. Sebab, aku dan Greyson
adalah sahabat. Mungkin karena dia sangat baik kepadaku, memberikan semua
perhatiannya untukku, dan memberikan segalanya untukku. Tapi aku tahu, Greyson
memberikan semua itu hanya untuk membuatku bahagia sebagai sahabatnya.
“Morning, princess!”
Greyson mengetuk pintu kamarku dengan sangat keras. “Wake up, Georgin!!”
ujarnya lagi. “Okay, Grey! Wait a minute,” aku beranjak dari kasurku lalu
berjalan dengan lesu untuk membuka pintu kamar. “What?” Tanyaku kepada Greyson.
“Tolong, Georgin! Mukamu sangat kusut! Cepat mandi! Temani aku ke mall!”
Greyson mengambilkan handukku lalu menarikku ke arah kamar mandi.
“Oh my---you’re so
beautiful with your casual style, Georgin!” Greyson menyambutku di ruang tamu.
“Thank you, Grey. You’re look so handsome this morning,” ujarku. Oh, jangan!
Mukaku jangan memerah! “Hahahaha, I know I’m handsome, Georgin. Oh, come on!
Nanti macet! Kau tahu kan sekarang malam Minggu? Dan kau tahu bagaimana keadaan
Bandung kalau malam Minggu?” Greyson mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.
“Dad, I’ll go to mall with Greyson,” aku menghampiri ayahku yang sedang bermain
duduk di ayunan bersama Lucy. “Oke,” ayah mengangguk setuju. “Bye Dad, bye
Lucy!” “Bye, Georgin!” teriak Lucy saat aku memasukki mobil yang dikendarai
Greyson. Terlihat dari kejauhan Lucy berlari keluar rumah dan melambaikan
tangannya ke arahku. Aku dan Greyson membalasnya.
“Greyson, tumben
sekali kau mengajakku ke mall. Biasanya kalau aku ajak, kau tidak mau,” aku
membuka percakapan di mobil berplat nomor D 1608 GC itu. “Ya, aku sadar,
Georgin. Aku seharusnya tidak begitu kepada sahabat,” ujar Greyson yang
sesekali melihat ke arahku. Aku terdiam, tak dapat bicara. Apa Greyson hanya menganggapku sebagai sahabat? “Georgin? Kau
sakit?” pertanyaan Greyson membuyarkan lamunanku. “Oh, tidak. I’m just sleepy,
Grey, hehehehe,” jawabku berbohong. “Ya Tuhan, Georgin! Kau sudah mandi, sudah
terlihat sangat cantik, tapi kau mengantuk?” Greyson mengarahkan mobilnya ke
salah satu mini market. “Oke, aku akan membelikan kopi untukmu. Tunggu
sebentar,” Greyson keluar dari mobilnya, aku menarik pergelangan tangannya,
mencegah Greyson membeli kopi. “Tidak, Greyson. Tidak usah,” “Tak apa, Georgin!
Lagipula aku ingin kopi,” ujar Greyson tersenyum lalu menutup pintu mobil.
***
“Georgin, menurutmu
bagus mana? Ini----atau ini?” Tanya Greyson memperlihatkan dua jaket
pilihannya. “Aku suka yang hitam ini, Grey!” Aku menunjuk jaket kulit hitam.
“Waw, pilihan yang tepat!” Greyson menyimpan kembali jaket berwarna coklat ke
barisannya dan memasukkan jaket pilihanku ke dalam tas belanja yang disediakan
disana.
“Kau suka ini,
Georgin?” Tanya Greyson menunjuk gaun berwarna ungu. “I love it, Greyson!”
pekikku. “Or-----this?” Greyson memperlihatkan gaun lain yang berwarna hitam.
“Oh my----i love it very much!” aku memutar-mutar bagian gaun itu. “Coba kau
pakai dua-duanya,” Greyson memberikan kedua gaun itu kepadaku. “Hah? Greyson,
aku tidak bermaks---“ “Ah, sudah! Ayo coba!”
Greyson mendorongku ke fitting
room.
“Grey----umm?” Aku
keluar dengan gaun selutut yang berwarna ungu. “You’re so beautiful!! Coba
pakai yang warna hitam,” Greyson mendorongku lagi. “Cepat berikan gaun ungu itu
kepadaku sesudah kau melepasnya!” teriak Greyson di luar sana. Aku segera
membuka gaunnya dan memberikannya pada Greyson. “Oke, cepat pakai gaunmu!” aku
mengangguk. Tak lama aku kembali keluar, “Grey----bagaimana?” “Hm---oke. Cepat
buka gaunmu, dan berikan kepadaku!” Greyson mendorongku kembali.
“Nah, ini pegang!”
Greyson memberikan kantong belanjanya kepadaku lalu mengambil kunci mobilnya.
Karena aku penasaran, aku membuka kantongnya. “Grey, gaun ini?! Kau
membelinya?!” Greyson tak menghiraukan pertanyaanku. “Grey, jawab!!” aku
memukul kepalanya dengan kantong belanjaan saat aku menutup pintu mobil. “Oke,
Georgin! Itu hadiah untukmu, aku membelinya karena aku tahu kau sangat
menyukainya,” jelas Greyson menatapku, kemudian mengelus pipiku dengan
tangannya yang lembut. “Hm, Georgin, nanti malam aku tunggu di cafenya Syifa.
Pakai gaun ungu itu,” aku mengangguk tersenyum sambil menatap matanya. Greyson
tersenyum kembali kepadaku lalu menyalakan mobilnya.
***
“Oh, my----Georgin!
You’re so beautiful this evening!” ayah menghampiriku ketika aku akan merapikan
rambutku. “Thank you, Dad,” aku membalasnya dengan tersenyum. “Mau kemana?”
tanya ayah. “Syifa’s cafe, yah. Tak jauh dari sini,” balasku. “Date with
Greyson?” tanya ayahku lagi. Pipiku memerah, “no, Dad! But----Greyson ikut juga
kesana----nah, itu sudah datang! Bye, Dad!” Ayah tersenyum senang melihatku
selalu berpergian dengan Greyson.
Setibanya di cafe,
Greyson menyuruhku untuk turun mobil terlebih dahulu. Alasannya, dia harus
mencari tempat parkir. Aku menurutinya, lalu menghampiri teman-temanku yang
lain. “Georgina! Kau-----cantik!!” Puji Syifa. “Thank you, Syifa. You too,”
ujarku memeluk Syifa.
Aku gelisah, Greyson
tak juga muncul di cafe itu. “Greyson kemana? Lama sekali dia memarkir mobil,”
ujarku kepada Michelle. Michelle menggeleng lalu meninggalkanku. Aku kesal! Aku
datang ke pesta ini bersama Greyson, lalu Greyson menghilang, dan semua orang
disini sama sekali tidak memperhatikanku. “Georgin, kemarilah! Tutup matamu!”
Syifa memberikan penutup mata kepadaku, dan dia menarikku agak kencang.
“Sekarang, biarkan aku
membuka penutup matamu, Georgin,” Itu--suara yang sering ku dengar. Greyson.
Saat penutup matanya dibuka---aku tidak bisa berkata apa-apa. Suasananya indah
sekali. Tiba-tiba terdengar suara piano yang begitu merdu. Aku membalikkan
badan, dan-----Greyson sedang bernyanyi tepat di depannya.
I’m waiting.... waiting... just waiting.. I’m waiting... waiting
outside the lines~ I wanna be holding your hand in the sand by the tire swing,
where we use to be, baby, Georgina, you and me~
Kedua lagu itu...
Air mata kembali
tergenang di pelipis mataku. Tapi aku menahannya, aku tak mau menangis
dihadapan banyak orang hanya karena lagu ini. Kemudian Greyson berjalan ke
arahku, “Aku tahu kau sahabatku. Tapi apa karena sahabat, seseorang tidak bisa
memendam rasa cinta?” Aku tak mengerti apa yang dia ucapkan. Greyson
mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku celananya, “Georgina
Singleton, do you want to be mine, for today, tomorrow, and forever?” Tanpa
disadari, air mataku terjatuh, sampai-sampai mengenai wajah Greyson. Aku
mengangguk senang, lalu Greyson berdiri dan memelukku. Semua teman-temanku
bersorak. “Georgin, you’re mine. So don’t cry!” Greyson mengusap air mataku.
Aku tersenyum lalu memakai cincin yang diberikan oleh Greyson.
***
Tak terasa, besok,
aku dan Greyson telah menjalani hubungan selama dua tahun. Aku tak pernah
menyangka akan begini. Karena sebelumnya, aku dan Greyson hanyalah sahabat
biasa. Aku menuruni tangga untuk sarapan.
“Good morning,
Georgin!” sapa Dini, Lucy, dan Oliver. “Good morning too,” aku mencium pipi
Dini, Lucy, dan Oliver. “Dad mana?” tanyaku kepada Dini. “Dia sudah pergi kerja
tadi, ada tugas penting,” jawab Dini. Aku mengangguk lalu mengambil selembar
roti dan keju.
Ting... tong...
Bel rumah berbunyi.
“Biar aku yang buka,” ujarku lalu menyimpan sisa rotinya. “Oh, hello, Grey! Ayo
masuk, kebetulan kita lagi sarapan!” Greyson lalu merangkulku dan berjalan ke
arah meja makan. “Hello, Greyson! How are you?” tanya Lucy. “Lucy, sebaiknya
habiskan makanan yang ada di mulutmu, baru kau boleh bicara,” Lucy tersenyum
lebar kepada Dini lalu menelan rotinya. “I’m sorry, Greyson,” Lucy malu-malu.
“Tak apa, Lucy,” Greyson tertawa dan mengacak-ngacak rambut Lucy.
“Georgin, maaf, aku
tak bisa berlama-lama. Mom sudah meneleponku untuk pulang. Bye, Georgin!”
Greyson mengecup bibirku, sementara Lucy dan Oliver menutup matanya. “Hahahaha,
you’re so cute, Lucy, Oliver! Okay, good bye!” Greyson berlari ke depan rumah.
Tak lama, terdengar suara mobilnya yang baru keluar dari rumahku.
***
Malam itu aku kesal,
sedih, dan gelisah. Bagaimana tidak? Greyson tidak membalas SMS dan BBM. Dia
juga tidak menjawab teleponku.
Drrtttt..
Handphoneku
bergetar. Segera aku mengambilnya. “Alexa---Halo?---APA?! OKE, AKU KESANA
SEKARANG!” aku menutup teleponnya. “DAD, KE RUMAH SAKIT SEKARANG!! GREYSON, DAD!!!!”
Aku menarik ayahku yang sedang asyik menonton, sambil terisak.
Ayah segera
menyalakan mesin mobil. Aku tidak bisa berhenti menangis memikirkan Greyson.
Bagaimana bisa penyakit itu menyerangnya lagi? Sedangkan dua tahun lalu, dokter
sudah menyatakan sembuh. “Georgina, kau tahu kan....” obrolan ayahku tak aku
hiraukan. Didalam pikiranku hanya ada Greyson, Greyson, dan Greyson. Tak lama
kemudian, ayah terdiam. Di mobil hanya terdengar isak tangisku saja.
Sesampainya di rumah
sakit, aku segera berlari menuju UGD tanpa peduli orang-orang yang
memperhatikanku. Aku melihat Mom Lisa, Dad Scott, Alexa, dan Tanner gelisah.
Aku langsung menghampiri mereka.
“Mom, Dad, kenapa
Greyson---“ aku tak bisa meneruskan perkataanku. Air mataku terus dan terus
mengalir membasahi pipiku. “Kita juga tidak tahu, Georgina. Awalnya dia sedang
duduk di kursi taman di rumah. Tak lama kemudian, Tanner berteriak memanggil
nama Greyson. Greyson jatuh dari kursi sambil memegang dadanya,” Mom Lisa menangis
lebih keras dibandingkan aku.
Tak lama, dokter pun
keluar. “Dokter, bagaimana dengan Greyson?!?!?!” aku langsung menghampiri
dokter itu sambil menangis lebih kencang dari sebelumnya. “Kondisi Greyson saat
ini sangat lemah. Tidak ada yang boleh menjenguknya sampai kondisinya membaik,”
jelas dokter. “Tapi, aku mamanya, dok. Boleh kah aku menjaganya?” Mom Lisa
memegang erat tangan Dad Scott. Dokter mengangguk. Mom Lisa mengikuti dokter
dari belakang. “Sebaiknya kita pulang, Scott. Biarlah Lisa yang menjaga Greyson.
Ayo Georgina, Alexa, Tanner,” ayah mengajak semuanya untuk pulang.
Keesokan harinya,
aku terbangun oleh bunyi alarm di handphoneku---suara Greyson---dengan mata
sembab. Aku segera membasuh mukaku. Tak sengaja aku melihat ke arah rumah
Greyson, yang tak jauh dari rumahku. Kenapa rumahnya dikunjungi banyak orang?
Aku langsung buru-buru berlari mencari ayahku.
“DAD!! WHAT HAPPEN?!
KENAPA BANYAK ORANG YANG MENGUNJUNGI RUMAH GREYSON?!” Air mataku mulai
menggenang kembali. “Greyson----meninggal, Georgina,” aku langsung menangis di
pelukkan ayahku sambil memegang kalung dengan liontin “G” yang diberikan
Greyson dua tahun lalu.
Aku melepas pelukkan
ayahku dan bergegas mandi. Aku memilih gaun hitam yang diberikan Greyson
kepadaku pada tanggal ini, dua tahun yang lalu. Terdengar ayah menyuruh Dini,
Lucy, dan Oliver untuk mengganti bajunya lalu bersiap-siap untuk melayat
Greyson.
Rumah
Greyson---sesak. Banyak orang disana. Keluarga, temannya di sekolah, temannya
saat berlatih untuk bernyanyi. Alexa dan Tanner melihatku, lalu terbangun dan
menghampiriku. “Georgina, maafkan aku. Aku bukan kakak yang baik, aku tidak
bisa menjaga Greyson dengan baik,” ujar Alexa. “Bukan, ini bukan salah kalian!
Ini salahku! Aku bukan sahabat yang baik, aku bukan pacar yang baik untuknya,”
aku terisak. Tanner dan Alexa langsung memelukku. “Oh iya, ini untukmu. Greyson
menitipkannya kepadaku saat malam itu,” Alexa melepas pelukannya, lalu
memberikan sepucuk surat berwarna merah muda becampur ungu. Alexa juga memberi
jaket hitam milik Greyson. “Terima kasih,” aku segera menghampiri jasad
Greyson.
Greyson Chance.
Orang yang ceria, selalu bersemangat, tidak pernah menyerah, kini sekarang
berada dihadapanku. Kaku, dingin, pucat. Kemudian aku memeluk erat jasad
Greyson, air mataku mengalir semakin deras. Setelah puas memeluk tubuhnya untuk
yang terakhir kalinya, aku mengecup bibirnya yang dingin dan pucat. Air mataku
jatuh tepat di pelipis mata Greyson. “Greyson, I’ll miss you. I’ll always love
you. Forever. I promise,” bisikku di telinga Greyson.
Semuanya berbalik
badan lalu pulang. Kini, aku sendiri---di depan batu nisan yang bertulisan
namanya, Greyson Chance. “Halo Greyson, lihat! Aku memakai gaun berwarna hitam
yang kau berikan dua tahun lalu. Dan lihat! Aku memakai kalung dengan liontin
huruf “G”. Kau ingat? Greyson and Georgina! Lalu---cincin ini yang kau berikan
dua tahun lalu! Greyson!!” Aku memeluk batu nisan itu. Tiba-tiba saja ada yang
menepuk pundakku. “Sudahlah, kau tak usah bersedih. Dia akan bahagia jika kau
bahagia. Oh iya, namaku Cody Simpson,” ujar laki-laki yang menepuk pundakku.
“Tak usah takut, aku bersahabat dengannya. Aku sudah berjanji padanya, kalau
aku akan menjagamu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis,” lanjut
Cody.
“Nah, Cody. Ini
taman yang memberiku banyak kenangan bersamanya,” ujarku setibanya di taman
yang biasa aku dan Greyson kunjungi. “Taman ini indah. Oh iya, ayo buka surat
itu,” Cody memegang pundakku untuk duduk bersama di kursi yang tak jauh dari
tempatku berdiri. Aku mengangguk, lalu mengambil suratnya dari saku jaket
Greyson.
Aku tahu ketika kau
membaca ini, aku sudah pergi meninggalkanmu menuju kehidupan di surga.
Aku ingat ketika aku dinyatakan sembuh oleh dokter, kau dan aku tidak sengaja berciuman. Asal kau tahu, aku merasa senang dan pikiranku meluncur bebas di angkasa. Seandainya aku masih hidup, aku akan datang ke rumahmu untuk meminangmu, Georgin. You’re the best in my life, tapi jangan kau jadikan aku yang terbaik dihidupmu. Hidupmu masih panjang, Georgin. Carilah orang lain yang lebih pantas unuk menjadi sahabat dan kekasihmu.
Aku ingat ketika aku dinyatakan sembuh oleh dokter, kau dan aku tidak sengaja berciuman. Asal kau tahu, aku merasa senang dan pikiranku meluncur bebas di angkasa. Seandainya aku masih hidup, aku akan datang ke rumahmu untuk meminangmu, Georgin. You’re the best in my life, tapi jangan kau jadikan aku yang terbaik dihidupmu. Hidupmu masih panjang, Georgin. Carilah orang lain yang lebih pantas unuk menjadi sahabat dan kekasihmu.
Tak ada yang lebih indah
di dunia ini selain persahabatan dan cinta. Georgina Singleton, terima kasih
kau sudah mau menerimaku sebagai sahabat dihidupku dan cinta dihatiku♥
Yours,
♥Greyson Michael Chance♥
-now-
Masih
terlihat bekas tetesan air matanya di surat ini...
“Georgina,
bersiaplah,” ujar seorang laki-laki yang membuyarkan lamunanku. Aku langsung menyimpan
surat itu ke dalam laciku, dan mematikan voice note dari Greyson---yang isinya
rekaman isi dari surat itu.
“Oh,
Georgina. Aku mengerti. Tapi, jangan biarkan butiran-butiran ini jatuh. Ini berharga,”
aku tersenyum lalu memeluknya. Ya, aku mengerti isi surat yang diberikan
Greyson itu. Cody lah ‘orang lain’ yang Greyson maksud. Aku berjanji, aku tidak
akan pernah mengecewakannya. Aku akan terus mencintainya, walaupun sudah ada
Cody disisiku.
-THE END-