19 Mei 2012

Without You, I'm nothing


Lelaki itu...

“Oh Tuhan, kenapa aku harus mengingatnya lagi?” Aku terisak tepat di depan buku-buku yang di tata rapi di meja belajarku.

Awalnya aku hanya ingin mengambil novel bersampul merah muda yang dikarang oleh penulis favoritku, Ilana Tan. Saat aku ingin mengambilnya, tepat di sebelah novel itu terletak sebuah pigura yang mengingatkanku kepada seseorang. Seseorang yang sangat berarti di hidupku. Tapi, itu dulu...

-flashback-

Pagi itu, di rumahku, tepatnya di daerah Lembang, udara yang dingin tak dapat aku rasakan karena kesibukanku untuk menyiapkan baju dan sarapan untuk kedua adikku dan ayahku. Aku melakukan ini setiap hari semenjak ibuku meninggal setahun yang lalu karena kanker rahim. Aku sebagai anak tertua di keluarga Singleton, bertanggung jawab mengurusi adik-adikku yang masih berumur tiga dan tujuh tahun itu.

“Georgina, sudah siap masakannya?” Ayahku berteriak saat keluar dari kamarnya sambil membetulkan dasinya. Aku mengangguk lalu menyajikannya di meja makan yang sudah di tata rapi. Adik kecilku, Oliver, berlari menghampiriku. “Iya, Oliver. Tunggu sebentar ya, aku akan membuat susu coklat hangat untukmu sebentar lagi,” ujarku menggosok-gosok kepala Oliver sehingga rambut coklatnya sedikit berantakan.

“Semua sudah siap?” Tanya ayah kepadaku, Oliver, dan Lucy, adikku yang pertama. Kami semua mengangguk dan berjalan membuntui ayah. Selagi ayah mengeluarkan mobilnya, aku mengunci pintu rumah lalu memberikannya kepada penjaga di rumahku. “Georgina, ayo putar lagu! Aku bosan!” Oliver mengeluh. Lucy yang sedang asyik membaca buku cerita mendesah, “tidak! Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau begini!”, “Memang aku peduli?” Tanya Oliver mengeluarkan lidah kecilnya. “Sudah, Oliver, Lucy! Bagaimana kalau Lucy di depan bersama ayah, aku pindah ke belakang untuk mendengarkan lagu bersama Oliver?” Keduanya mengangguk setuju.
***
Aku Georgina Singleton, anak pertama dari Oscar Singleton dan Emily Singleton, pemilik perusahaan pegadaian emas di yang tersebar di seluruh Indonesia. Aku berumur dua belas tahun saat Agustus nanti. Aku bersekolah di International Smart School, salah satu Sekolah International ternama di Bandung. Aku dari lahir sudah berada disini, namun saat aku berumur aku berumur empat tahun, orang tuaku memutuskan untuk tinggal sementara di Aussie sampai aku berusia delapan tahun.

Saat kembali ke Indonesia, aku akan mempunyai seorang adik lagi. Tapi, saat usia kandungan ibuku menginjak lima bulan, ibuku dinyatakan kanker rahim. Dokter memberi dua pilihan, menggugurkan adikku atau mempertahankan adikku dengan taruhan nyawa. Ayahku sudah menyuruh ibuku untuk menggugurkannya, tapi apa yang ibuku katakan? “Tidak, ini karunia Tuhan. Aku tidak akan menggugurkan kandunganku. Aku sayang pada anak-anakku, Oscar.” Ayahku hanya bisa mengalah dan berharap ibuku akan baik-baik saja.

Saat ibuku melahirkan Oliver, ibuku selamat, ibuku tidak apa-apa. Ayah sangat senang mendengarnya. Tapi, sepuluh bulan setelah melahirkan, kanker rahim ibuku semakin parah dan akhirnya meninggal saat ibuku akan di operasi.
***
Aku tiba di sekolahku tepat pukul 7. Bel baru akan dibunyikan 15 menit lagi. Aku menutup pintu mobil lalu berjalan ke arah gedung sekolah. Aku berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya karena aku belum mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh Mr. Lucas. Aku tertidur semalam karena aku sangat lelah.

“Georgina! Kenapa kau? Kau berkeringat sangat banyak!” Sahabatku, Greyson Chance, meghampiriku ke depan kelas sambil memberikan sapu tangan hitamnya. “Aku belum mengerjakan tgas Mr.Lucas, Grey! Ayolah, bantu aku! Ada soal yang tidak aku mengerti,” ujarku dengan keringat membanjiri tubuhku. “Tumben sekali kau belum mengerjakan tugas,” Greyson berjalan menuju bangkunya untuk mengambil buku matematikanya. “Mana yang kau tidak mengerti?” Lanjut Greyson saat kembali ke bangkuku. “Aku tadi malam terlalu lelah, dan aku tertidur. Hehehe,” Aku menunjuk nomor soal yang sangat sulit untuk di mengerti.

Teeett....

Bel istirahat berbunyi. “Oh, thank you so much, Grey! Kau menyelamatkan hidupku,” Greyson tertawa. “Kenapa kau tertawa?” Keningku mengkerut. “Kau ini! Tugas Mr.Lucas kau anggap sebagai suatu ancaman?” Suara tawa Greyson makin didengar oleh banyak orang. “Shh, Grey! Kau memalukan!” Aku berjalan lebih jauh di depan Greyson. Greyson mengejarku lalu mengecilkan volume tertawanya, “oh, ayolah, Georgin! Masa begitu saja kau marah?” Greyson menyubit kedua pipiku dengan kedua tangannya. Aku meringis kesakitan, “jika kau tidak mengajariku tadi, aku tidak harus dihukum di depan kelas karena aku tidak bisa mengerjakannya!” Bisikku saat mengambil nampan dari tangan Greyson.
***
Sore itu aku sangat bosan menunggu kehadiran teman kelompokku, yaitu Dinda, Nana, Michael, dan Greyson. Mereka janji akan datang ke rumahku jam 5 tepat. Saat aku melihat jam, “ah, yang benar saja? Baru jam 4? Jam 5, cepatlah datang!” Aku sesekali melihat ke luar rumah untuk memastikan mereka sudah datang atau belum.

Teng... tong...

Aku segera membukakan pintu. Aku sudah mengenali suara bel yang dibunyikan oleh Greyson. “Ya, tunggu sebentar,” ayah berteriak sambil melempar bola kepada Oliver.

“Halo semua! Jam 5 tepat!” Aku menyuruh mereka masuk. Selama aku mengambilkan minuman dan cemilan, aku menyuruh mereka untuk masuk ke kamarku. “Eh, tidak! Kita di ruang tamu saja, Georgina!” Nana menarik tanganku, mencegahku untuk mengantar mereka ke atas. “Bagaimana kalau di ruang tengah? Di ruang tamu ada Lucy dan Oliver yang sedang bermain. Mereka kedua adikku. Aku takut mereka mengganggu kita mengerjakan fisika ini,” jelasku. Mereka semua mengangguk. Aku mengantar mereka ke ruang tengah yang terdapat beberapa foto keluarga.

“Itu ibunya?” Michael menunjuk seorang wanita berjilbab dan berkulit putih halus. “Iyaa,” balas Greyson 
sambil tersenyum lalu mengeluarkan beberapa alat yang dibutuhkan untuk kerja kelompok fisika. “Cantik sekali!” Puji Dinda. “Ya, sangat cantik! Pantas saja Georgina dan Lucy cantik! Mereka sangat mirip,” tambah Nana. Greyson yang mendengarnya tersenyum-senyum sendiri sambil memeriksa alat-alat yang dibawa olehnya.

“Ini dia! Selamat menikmati,” Georgina datang membawa lima gelas minuman rasa jeruk. “Terima kasih, Georgin! Kau sangat tahu saat sahabatmu sedang kelaparan dan kehausan,” Greyson mengambil minuman paling awal diantara teman-temannya yang lain. Sore itu penuh dengan keceriaan, canda dan tawa.
***
Selama aku bersekolah di International Smart School, aku menemukan sahabat yang benar-benar sahabat. Saat lulus SMP, aku dan Greyson bersepakat untuk bersekolah kembali di International Smart High School.

“Halo, Grey! Aku sangat ingin bercerita padamu!” Kataku memulai percakapan.
Ceritalah, Georgin!” Balas Greyson dari seberang sana.
“Ah, aku ingin menceritakannya secara langsung! Aku ingin meluapkan semua kesenanganku hari ini!! Bagaimana kalau kita bertemu di taman?”
“Hm----Georg----okay, baiklah! Jam berapa?” Nada Greyson aneh, seperti yang tidak ingin bertemu di taman.
“Grey, kau tak apa kan? Atau mungkin aku bisa ke rum----“
“Tidak! Tidak usah, kita bertemu ditaman saja,” Greyson memotong pembicaraanku sambil tertawa kecil.
“Oh, oke! Sampai ketemu disana,” Aku menutup telepon dan mengambil baju hangat berwarna coklat tua kesukaanku. Aku segera turun untuk meminta izin membawa mobilnya.

Sesampainya di taman, aku melihat Greyson sedang duduk manis di bangku hijau muda. Dia baru saja menutup botol air mineralnya yang bergambarkan piano, alat musik yang dia sukai. Aku melangkahkan kakiku dengan pelan.

“Greyson!!” Aku menepuk pundaknya. “Aw, sakit!” Greyson mengelus-elus pundak yang tadi kutepuk. “Hehehe, I’m sorry, Grey!”, “It’s okay, Georgi. Oh ya, kau ingin bercerita apa?” Greyson melipat kaki kanannya diatas kaki kirinya. “Kau tahu kan aku, Lucy, dan Oliver pernah menyuruh ayahku untuk menikah?” Greyson mengangguk sambil memainkan tutup botol minum miliknya. “Ayahku menolaknya. Dia sangat mencintai ibuku. Tapi dia mengatakan sesuatu!” lanjutku. Greyson mengkerutkan keningnya melihat mataku melebar, “what?”, “Dia akan mengadopsi anak! Dia umurnya lebih tua dariku! Dia kuliah tingkat dua! Waaaa!” Aku menggoyang-goyangkan badan Greyson saking senangnya. “Yayayaya, I know you happy. But---kau tak perlu menggoyangkan badanku,” Greyson memegang kedua tanganku.
***
Bel masuk berbunyi. Aku gelisah, Greyson belum juga datang. Aku segera menanyakannya kepada teman sebangkunya, Joseph.

“Kenapa Greyson belum datang?” tanyaku pada Joseph yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Aku tak tahu. Ku kira kau----kekasih Greys---“, “Hey! I’m not talking to you, Peter! And I’m not his girlfriend! I’m his friend!” Aku menampar kedua teman Joseph yang menertawakanku, Joseph menyuruh keduanya diam. “I’m sorry, Georgina. Aku tidak tahu dia masuk atau tidak. Dia tak memberitahu apapun padaku,” jelas Joseph. “Okay, thanks, Joseph!” Aku tersenyum dan berbalik arah menuju mejaku.

Selama pelajaran, aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku memikirkan siapa kakak angkatku, dan----Greyson tentunya. Tidak berkonsentrasi saat pelajaran ekonomi menambah beban pikiranku. Bagaimana tidak? Aku dihukum oleh Mrs. Megan karena aku melamun dan tidak memperhatikan pembicaraannya. Aku harus membantunya mengisi daftar nilai dan itu membuatku terlambat pulang sekolah.

“Maaf, ayah. Tadi aku harus membantu Mrs. Megan mengisi daftar nilai,” kataku sambil menutup pintu. “Oke, tak apa, Georgina. Sekarang kita ke panti asuhan, kan? Lalu ke rumah sakit. Ingatkan ayah, Lucy,” Ayah menatap Lucy lewat spion. “Hah? Ke rumah sakit? Untuk apa, yah?” Tanyaku ketika ayah melajukan mobilnya. “Kau tidak tahu, Georgina? Greyson sakit!” Lucy mendekat padaku. Mataku melebar, kaget. “Ayah, lebih baik kita ke rumah sakit dulu!! Aku ingin bertemu Greyson!”, “tidak, Georgina. Lebih baik kita ke panti asuhan dulu. Ke panti asuhan hanya sebentar. Nanti kau bisa berlama-lama di rumah sakit,”
Aku hanya bisa terisak di sepanjang jalan memikirkan apa yang diderita Greyson. Saat aku tiba di panti asuhan pun aku hanya berdiam diri di mobil, menangis. Ayahku menyuruhku untuk turun dari mobil, untuk berkenalan dengan kakak angkatku. Tapi aku tidak bisa menahan air mataku, aku pun tidak mau memperlihatkan air mataku---air mata untuk sahabatku, Greyson---kepada orang lain.

“Georgina, ini Dini, kakak angkatmu,” aku hanya bisa tersenyum padanya sambil menahan genangan air mata yang sebentar lagi akan jatuh menjadi butiran-butiran kristal yang membasahi pipiku. “Tunggu, sebaiknya aku pindah ke belakang. Dini, kau duduk di depan,”, “Baiklah Dini, kau sudah tahu nama-nama mereka, kan? Georgina, Lucy, dan Oliver. Sekarang kau boleh memanggilku ayah,” Ujar Ayah tersenyum pada Dini lalu melihat ke arah kaca spion untuk melihat Lucy, Oliver, dan aku.

Tiba di rumah sakit, aku berlari menuju perawat untuk menanyakan kamar Greyson. Ayahku  menarik tanganku untuk mencegahku terburu-buru. Aku mengalah dan membiarkan ayahku yang menanyakan kamar Greyson. Aku hanya bersandar di dada Dini.

“Greyson ada di lantai tiga, kamar 311. Ayo!” Ayah menggandeng Oliver, Dini menggandeng Lucy, dan aku berjalan cepat di depan mereka. Ayahku berteriak kepadaku agar aku berjalan sedikit lebih santai. Tapi aku tidak bisa, sahabatku sakit.

Aku memasuki ruangan yang cukup luas. Disana terdapat seorang anak laki-laki yang terbaring lemah di kasur. Aku segera menghampirinya. Anak laki-laki terbaring dengan selang di hidungnya, tabung oksigen dan alat pengukur detak jantung di sampingnya. Air mataku langsung terjatuh saat tepat berada di sampingnya.

“Greyson...” aku menangis, lebih kencang dibandingkan saat menangis di mobil tadi. Aku langsung memegang erat tangan Greyson. “Georgin?” Greyson membuka matanya perlahan-lahan. Air mataku terhenti sejenak, kaget melihat Greyson tiba-tiba bangun, seakan-akan dia menyadari kehadiranku. “Georgina? Kapan kau datang?” Tanya Mom Lisa yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Oh, hello, Oscar! Hello Lucy, Oliver, dan....” lanjut Mom Lisa bingung melihat Dini berada di samping Oliver. “Dini. Saya kakak angkat dari Georgina, Lucy, dan Oliver,” Mom Lisa tersenyum dan mengangguk. “Jadi, kapan kalian datang?” tanya Mom Lisa. “Baru saja kami datang, Lisa,” jawab ayahku.

Aku tidak mempedulikan apa yang mereka bicarakan. Aku terus menatap mata Greyson sambil memegang tangan kirinya. “Georgin, kenapa kau menangis?” Suara Greyson lemah. Aku tidak bisa bersuara. Aku tidak kuat menahan air mataku, apalagi setelah mendengar suara Greyson yang tidak seperti biasanya.

“Georgina, ayah, Dini, dan adik-adikmu akan pulang. Kau ikut?” Tanya ayah menghampiriku. Aku menggeleng sambi melihat Greyson yang terdiam dengan mata setengah menutup. “Oke, nanti ayah akan kembali untuk menjemputmu,” Aku terisak-isak. “Mom,” Greyson memanggil Mom Lisa. “Mom Lisa,” ujarku lebih keras. Mom Lisa menengok ke arahku lalu menghampiri Greyson. “Mom, hari ini aku ingin Georgin yang menemaniku. Mom pulang saja, aku khawatir Mom terlalu capek, kurang tidur,” ujar Greyson dengan lemah. Mom Lisa mengangguk dan tersenyum. Beliau langsung membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. “Oke, ayah nanti kembali untuk membawakan baju untukmu. Ayo Lisa, pulang saja bersamaku,” ucap ayah. “Tolong jaga Greyson baik-baik. Mom percaya sama kamu, Georgina,” Mom Lisa mengecup keningku, aku mengangguk.

Hari itu aku dan Greyson saling melontarkan candaan. Walaupun sedang berbaring lemah, Greyson masih terbilang humoris. Aku sampai lupa kalau sebelumnya aku menangis. “Georgin, kenapa tadi kau menangis?” tanya Greyson tiba-tiba. Aku mengeluarkan air yang ada di mulutku dengan refleks, Greyson tertawa. “Aku khawatir denganmu, Grey! Kau tadi tidak ke sekolah tanpa memberi kabar kepadaku!” Suaraku mengencang, aku tahan kembali air mataku. “Maaf, Georgin. Tadi malam aku lemas, bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja aku sudah tertidur di kasur ini dengan selang dan kabel-kabel ditubuhku,” jelas Greyson. “Tapi setidaknya kau kabari aku saat kau sudah bangun!!” suaraku lebih kencang dari sebelumnya, sampai-sampai aku tidak kuat menahan air mata. “Georgina Singleton, sahabatku, y-----maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf! Aku sebenarnya tak ingin kau bersedih, aku tak ingin kau tahu kalau sebenarnya aku begini,” Greyson memegang tanganku. Aku merasakan tangan Greyson yang lebih dingin dari biasanya. Aku lemas-----semakin lemas, aku menangis.
***
Kemarin malam Greyson dinyatakan sembuh dari penyakit jantungnya. Aku sangat senang mendengarnya. Pagi ini aku ikut menjemputnya bersama Alexa dan Tanner. Sebelumnya, aku sudah menyiapkan hadiah untuknya.

Sesampainya di kamar, aku berlari ke arah Greyson yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Tapi saat aku sudah dekat dengannya, Greyson membalikkan badannya dan-------AW!----basah! “Oh, I’m sorry, Georgin!” Aku dan Greyson saling menertawakan diri sendiri, lalu Greyson memelukku. “Thanks! You’re everthing for me! Without you, I’m nothing!”

“Oh ya, ini untukmu!” aku memberikan kotak berwarna hitam dan putih--warna kesukannya--yang tidak terlalu besar. “Georgin, kau mengerjaiku! Sangat susah untuk dibuka-----Oh, Georgin! Pigura----penuh dengan foto kita berdua, dan---hei! Kenapa kau tempelkan foto saat aku sedang sakit dan tertidur? But, thank you so much!! I love this sweater!” Greyson mengeluarkan pigura dan sweaternya sambil tersenyum senang. “Oh iya, aku punya ini untukmu, Georgina!” Greyson memberiku sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf G. “Thank you so much, Grey! I like it!” aku berteriak hingga perawat yang melewati kamar Greyson melirik ke arahku. “Sama-sama, Georgin! Sini, aku akan mengalungkannya di lehermu,” aku mengikat rambutku yang sedikit panjang, lalu Greyson memakaikan kalung di leherku. “Oke, sudah! Lihat, Georgin----G—dan G! Georgina and Greyson!” Greyson menunjukkan kalung yang sedang dipakainya sambil tertawa.

Selama perjalanan pulang, aku dan Greyson bercanda, bermain, dan bernyanyi seperti dulu---sebelum penyakit jantungnya kambuh. “Oh, tadi menyenangkan!” ujar Greyson kepadaku. “Apanya yang menyenangkan?” aku mengkerutkan keningku. “Saat aku tak sengaja menciummu!” Bisik Greyson. Aku dan Alexa pun tertawa. “Alexa, kau mendengarnya?” Greyson menjulurkan lidah ke arah Alexa. Alexa kemudian menjulurkan lidahnya kepada Greyson. Mukaku memerah seperti buah tomat yang baru saja matang.
Semenjak Greyson dinyatakan sembuh, Greyson selalu mengajakku bermain di taman pada malam ataupun siang hari, mengajakku untuk berolahraga bersama. Padahal, dokter sudah menyuruhnya untuk beristirahat dan jangan kelelahan. Aku sudah berusaha memberitahunya, tapi dia keras kepala. Apa yang dia katakan? “No, Georgin! That’s me, Greyson Michael Chance! Aku ceria, tidak bisa diam, dan----kau sahabatku, Georgin! Kau seharusnya tahu aku!” Aku benar-benar tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa melihat Greyson tersenyum dan tertawa bahagia.
***
Cinta itu tumbuh dalam diriku. Aku tak mengerti kenapa rasa ini tumbuh. Sebab, aku dan Greyson adalah sahabat. Mungkin karena dia sangat baik kepadaku, memberikan semua perhatiannya untukku, dan memberikan segalanya untukku. Tapi aku tahu, Greyson memberikan semua itu hanya untuk membuatku bahagia sebagai sahabatnya.

“Morning, princess!” Greyson mengetuk pintu kamarku dengan sangat keras. “Wake up, Georgin!!” ujarnya lagi. “Okay, Grey! Wait a minute,” aku beranjak dari kasurku lalu berjalan dengan lesu untuk membuka pintu kamar. “What?” Tanyaku kepada Greyson. “Tolong, Georgin! Mukamu sangat kusut! Cepat mandi! Temani aku ke mall!” Greyson mengambilkan handukku lalu menarikku ke arah kamar mandi.

“Oh my---you’re so beautiful with your casual style, Georgin!” Greyson menyambutku di ruang tamu. “Thank you, Grey. You’re look so handsome this morning,” ujarku. Oh, jangan! Mukaku jangan memerah! “Hahahaha, I know I’m handsome, Georgin. Oh, come on! Nanti macet! Kau tahu kan sekarang malam Minggu? Dan kau tahu bagaimana keadaan Bandung kalau malam Minggu?” Greyson mengeluarkan kunci mobil dari sakunya. “Dad, I’ll go to mall with Greyson,” aku menghampiri ayahku yang sedang bermain duduk di ayunan bersama Lucy. “Oke,” ayah mengangguk setuju. “Bye Dad, bye Lucy!” “Bye, Georgin!” teriak Lucy saat aku memasukki mobil yang dikendarai Greyson. Terlihat dari kejauhan Lucy berlari keluar rumah dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku dan Greyson membalasnya.

“Greyson, tumben sekali kau mengajakku ke mall. Biasanya kalau aku ajak, kau tidak mau,” aku membuka percakapan di mobil berplat nomor D 1608 GC itu. “Ya, aku sadar, Georgin. Aku seharusnya tidak begitu kepada sahabat,” ujar Greyson yang sesekali melihat ke arahku. Aku terdiam, tak dapat bicara. Apa Greyson hanya menganggapku sebagai sahabat? “Georgin? Kau sakit?” pertanyaan Greyson membuyarkan lamunanku. “Oh, tidak. I’m just sleepy, Grey, hehehehe,” jawabku berbohong. “Ya Tuhan, Georgin! Kau sudah mandi, sudah terlihat sangat cantik, tapi kau mengantuk?” Greyson mengarahkan mobilnya ke salah satu mini market. “Oke, aku akan membelikan kopi untukmu. Tunggu sebentar,” Greyson keluar dari mobilnya, aku menarik pergelangan tangannya, mencegah Greyson membeli kopi. “Tidak, Greyson. Tidak usah,” “Tak apa, Georgin! Lagipula aku ingin kopi,” ujar Greyson tersenyum lalu menutup pintu mobil.
***
“Georgin, menurutmu bagus mana? Ini----atau ini?” Tanya Greyson memperlihatkan dua jaket pilihannya. “Aku suka yang hitam ini, Grey!” Aku menunjuk jaket kulit hitam. “Waw, pilihan yang tepat!” Greyson menyimpan kembali jaket berwarna coklat ke barisannya dan memasukkan jaket pilihanku ke dalam tas belanja yang disediakan disana.

“Kau suka ini, Georgin?” Tanya Greyson menunjuk gaun berwarna ungu. “I love it, Greyson!” pekikku. “Or-----this?” Greyson memperlihatkan gaun lain yang berwarna hitam. “Oh my----i love it very much!” aku memutar-mutar bagian gaun itu. “Coba kau pakai dua-duanya,” Greyson memberikan kedua gaun itu kepadaku. “Hah? Greyson, aku tidak bermaks---“ “Ah, sudah! Ayo coba!”  Greyson mendorongku ke fitting room.

“Grey----umm?” Aku keluar dengan gaun selutut yang berwarna ungu. “You’re so beautiful!! Coba pakai yang warna hitam,” Greyson mendorongku lagi. “Cepat berikan gaun ungu itu kepadaku sesudah kau melepasnya!” teriak Greyson di luar sana. Aku segera membuka gaunnya dan memberikannya pada Greyson. “Oke, cepat pakai gaunmu!” aku mengangguk. Tak lama aku kembali keluar, “Grey----bagaimana?” “Hm---oke. Cepat buka gaunmu, dan berikan kepadaku!” Greyson mendorongku kembali.

“Nah, ini pegang!” Greyson memberikan kantong belanjanya kepadaku lalu mengambil kunci mobilnya. Karena aku penasaran, aku membuka kantongnya. “Grey, gaun ini?! Kau membelinya?!” Greyson tak menghiraukan pertanyaanku. “Grey, jawab!!” aku memukul kepalanya dengan kantong belanjaan saat aku menutup pintu mobil. “Oke, Georgin! Itu hadiah untukmu, aku membelinya karena aku tahu kau sangat menyukainya,” jelas Greyson menatapku, kemudian mengelus pipiku dengan tangannya yang lembut. “Hm, Georgin, nanti malam aku tunggu di cafenya Syifa. Pakai gaun ungu itu,” aku mengangguk tersenyum sambil menatap matanya. Greyson tersenyum kembali kepadaku lalu menyalakan mobilnya.
***
“Oh, my----Georgin! You’re so beautiful this evening!” ayah menghampiriku ketika aku akan merapikan rambutku. “Thank you, Dad,” aku membalasnya dengan tersenyum. “Mau kemana?” tanya ayah. “Syifa’s cafe, yah. Tak jauh dari sini,” balasku. “Date with Greyson?” tanya ayahku lagi. Pipiku memerah, “no, Dad! But----Greyson ikut juga kesana----nah, itu sudah datang! Bye, Dad!” Ayah tersenyum senang melihatku selalu berpergian dengan Greyson.

Setibanya di cafe, Greyson menyuruhku untuk turun mobil terlebih dahulu. Alasannya, dia harus mencari tempat parkir. Aku menurutinya, lalu menghampiri teman-temanku yang lain. “Georgina! Kau-----cantik!!” Puji Syifa. “Thank you, Syifa. You too,” ujarku memeluk Syifa.

Aku gelisah, Greyson tak juga muncul di cafe itu. “Greyson kemana? Lama sekali dia memarkir mobil,” ujarku kepada Michelle. Michelle menggeleng lalu meninggalkanku. Aku kesal! Aku datang ke pesta ini bersama Greyson, lalu Greyson menghilang, dan semua orang disini sama sekali tidak memperhatikanku. “Georgin, kemarilah! Tutup matamu!” Syifa memberikan penutup mata kepadaku, dan dia menarikku agak kencang.

“Sekarang, biarkan aku membuka penutup matamu, Georgin,” Itu--suara yang sering ku dengar. Greyson. Saat penutup matanya dibuka---aku tidak bisa berkata apa-apa. Suasananya indah sekali. Tiba-tiba terdengar suara piano yang begitu merdu. Aku membalikkan badan, dan-----Greyson sedang bernyanyi tepat di depannya.

I’m waiting.... waiting... just waiting.. I’m waiting... waiting outside the lines~ I wanna be holding your hand in the sand by the tire swing, where we use to be, baby, Georgina, you and me~

Kedua lagu itu...

Air mata kembali tergenang di pelipis mataku. Tapi aku menahannya, aku tak mau menangis dihadapan banyak orang hanya karena lagu ini. Kemudian Greyson berjalan ke arahku, “Aku tahu kau sahabatku. Tapi apa karena sahabat, seseorang tidak bisa memendam rasa cinta?” Aku tak mengerti apa yang dia ucapkan. Greyson mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku celananya, “Georgina Singleton, do you want to be mine, for today, tomorrow, and forever?” Tanpa disadari, air mataku terjatuh, sampai-sampai mengenai wajah Greyson. Aku mengangguk senang, lalu Greyson berdiri dan memelukku. Semua teman-temanku bersorak. “Georgin, you’re mine. So don’t cry!” Greyson mengusap air mataku. Aku tersenyum lalu memakai cincin yang diberikan oleh Greyson.
***
Tak terasa, besok, aku dan Greyson telah menjalani hubungan selama dua tahun. Aku tak pernah menyangka akan begini. Karena sebelumnya, aku dan Greyson hanyalah sahabat biasa. Aku menuruni tangga untuk sarapan.

“Good morning, Georgin!” sapa Dini, Lucy, dan Oliver. “Good morning too,” aku mencium pipi Dini, Lucy, dan Oliver. “Dad mana?” tanyaku kepada Dini. “Dia sudah pergi kerja tadi, ada tugas penting,” jawab Dini. Aku mengangguk lalu mengambil selembar roti dan keju.

Ting... tong...

Bel rumah berbunyi. “Biar aku yang buka,” ujarku lalu menyimpan sisa rotinya. “Oh, hello, Grey! Ayo masuk, kebetulan kita lagi sarapan!” Greyson lalu merangkulku dan berjalan ke arah meja makan. “Hello, Greyson! How are you?” tanya Lucy. “Lucy, sebaiknya habiskan makanan yang ada di mulutmu, baru kau boleh bicara,” Lucy tersenyum lebar kepada Dini lalu menelan rotinya. “I’m sorry, Greyson,” Lucy malu-malu. “Tak apa, Lucy,” Greyson tertawa dan mengacak-ngacak rambut Lucy.

“Georgin, maaf, aku tak bisa berlama-lama. Mom sudah meneleponku untuk pulang. Bye, Georgin!” Greyson mengecup bibirku, sementara Lucy dan Oliver menutup matanya. “Hahahaha, you’re so cute, Lucy, Oliver! Okay, good bye!” Greyson berlari ke depan rumah. Tak lama, terdengar suara mobilnya yang baru keluar dari rumahku.
***
Malam itu aku kesal, sedih, dan gelisah. Bagaimana tidak? Greyson tidak membalas SMS dan BBM. Dia juga tidak menjawab teleponku.

Drrtttt..

Handphoneku bergetar. Segera aku mengambilnya. “Alexa---Halo?---APA?! OKE, AKU KESANA SEKARANG!” aku menutup teleponnya. “DAD, KE RUMAH SAKIT SEKARANG!! GREYSON, DAD!!!!” Aku menarik ayahku yang sedang asyik menonton, sambil terisak.

Ayah segera menyalakan mesin mobil. Aku tidak bisa berhenti menangis memikirkan Greyson. Bagaimana bisa penyakit itu menyerangnya lagi? Sedangkan dua tahun lalu, dokter sudah menyatakan sembuh. “Georgina, kau tahu kan....” obrolan ayahku tak aku hiraukan. Didalam pikiranku hanya ada Greyson, Greyson, dan Greyson. Tak lama kemudian, ayah terdiam. Di mobil hanya terdengar isak tangisku saja.
Sesampainya di rumah sakit, aku segera berlari menuju UGD tanpa peduli orang-orang yang memperhatikanku. Aku melihat Mom Lisa, Dad Scott, Alexa, dan Tanner gelisah. Aku langsung menghampiri mereka.

“Mom, Dad, kenapa Greyson---“ aku tak bisa meneruskan perkataanku. Air mataku terus dan terus mengalir membasahi pipiku. “Kita juga tidak tahu, Georgina. Awalnya dia sedang duduk di kursi taman di rumah. Tak lama kemudian, Tanner berteriak memanggil nama Greyson. Greyson jatuh dari kursi sambil memegang dadanya,” Mom Lisa menangis lebih keras dibandingkan aku.

Tak lama, dokter pun keluar. “Dokter, bagaimana dengan Greyson?!?!?!” aku langsung menghampiri dokter itu sambil menangis lebih kencang dari sebelumnya. “Kondisi Greyson saat ini sangat lemah. Tidak ada yang boleh menjenguknya sampai kondisinya membaik,” jelas dokter. “Tapi, aku mamanya, dok. Boleh kah aku menjaganya?” Mom Lisa memegang erat tangan Dad Scott. Dokter mengangguk. Mom Lisa mengikuti dokter dari belakang. “Sebaiknya kita pulang, Scott. Biarlah Lisa yang menjaga Greyson. Ayo Georgina, Alexa, Tanner,” ayah mengajak semuanya untuk pulang.

Keesokan harinya, aku terbangun oleh bunyi alarm di handphoneku---suara Greyson---dengan mata sembab. Aku segera membasuh mukaku. Tak sengaja aku melihat ke arah rumah Greyson, yang tak jauh dari rumahku. Kenapa rumahnya dikunjungi banyak orang? Aku langsung buru-buru berlari mencari ayahku.

“DAD!! WHAT HAPPEN?! KENAPA BANYAK ORANG YANG MENGUNJUNGI RUMAH GREYSON?!” Air mataku mulai menggenang kembali. “Greyson----meninggal, Georgina,” aku langsung menangis di pelukkan ayahku sambil memegang kalung dengan liontin “G” yang diberikan Greyson dua tahun lalu.

Aku melepas pelukkan ayahku dan bergegas mandi. Aku memilih gaun hitam yang diberikan Greyson kepadaku pada tanggal ini, dua tahun yang lalu. Terdengar ayah menyuruh Dini, Lucy, dan Oliver untuk mengganti bajunya lalu bersiap-siap untuk melayat Greyson.

Rumah Greyson---sesak. Banyak orang disana. Keluarga, temannya di sekolah, temannya saat berlatih untuk bernyanyi. Alexa dan Tanner melihatku, lalu terbangun dan menghampiriku. “Georgina, maafkan aku. Aku bukan kakak yang baik, aku tidak bisa menjaga Greyson dengan baik,” ujar Alexa. “Bukan, ini bukan salah kalian! Ini salahku! Aku bukan sahabat yang baik, aku bukan pacar yang baik untuknya,” aku terisak. Tanner dan Alexa langsung memelukku. “Oh iya, ini untukmu. Greyson menitipkannya kepadaku saat malam itu,” Alexa melepas pelukannya, lalu memberikan sepucuk surat berwarna merah muda becampur ungu. Alexa juga memberi jaket hitam milik Greyson. “Terima kasih,” aku segera menghampiri jasad Greyson.
Greyson Chance. Orang yang ceria, selalu bersemangat, tidak pernah menyerah, kini sekarang berada dihadapanku. Kaku, dingin, pucat. Kemudian aku memeluk erat jasad Greyson, air mataku mengalir semakin deras. Setelah puas memeluk tubuhnya untuk yang terakhir kalinya, aku mengecup bibirnya yang dingin dan pucat. Air mataku jatuh tepat di pelipis mata Greyson. “Greyson, I’ll miss you. I’ll always love you. Forever. I promise,” bisikku di telinga Greyson.

Semuanya berbalik badan lalu pulang. Kini, aku sendiri---di depan batu nisan yang bertulisan namanya, Greyson Chance. “Halo Greyson, lihat! Aku memakai gaun berwarna hitam yang kau berikan dua tahun lalu. Dan lihat! Aku memakai kalung dengan liontin huruf “G”. Kau ingat? Greyson and Georgina! Lalu---cincin ini yang kau berikan dua tahun lalu! Greyson!!” Aku memeluk batu nisan itu. Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku. “Sudahlah, kau tak usah bersedih. Dia akan bahagia jika kau bahagia. Oh iya, namaku Cody Simpson,” ujar laki-laki yang menepuk pundakku. “Tak usah takut, aku bersahabat dengannya. Aku sudah berjanji padanya, kalau aku akan menjagamu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis,” lanjut Cody.

“Nah, Cody. Ini taman yang memberiku banyak kenangan bersamanya,” ujarku setibanya di taman yang biasa aku dan Greyson kunjungi. “Taman ini indah. Oh iya, ayo buka surat itu,” Cody memegang pundakku untuk duduk bersama di kursi yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengangguk, lalu mengambil suratnya dari saku jaket Greyson.

Aku tahu ketika kau membaca ini, aku sudah pergi meninggalkanmu menuju kehidupan di surga.
Aku ingat ketika aku dinyatakan sembuh oleh dokter, kau dan aku tidak sengaja berciuman. Asal kau tahu, aku merasa senang dan pikiranku meluncur bebas di angkasa. Seandainya aku masih hidup, aku akan datang ke rumahmu untuk meminangmu, Georgin. You’re the best in my life, tapi jangan kau jadikan aku yang terbaik dihidupmu. Hidupmu masih panjang, Georgin. Carilah orang lain yang lebih pantas unuk menjadi sahabat dan kekasihmu.
Tak ada yang lebih indah di dunia ini selain persahabatan dan cinta. Georgina Singleton, terima kasih kau sudah mau menerimaku sebagai sahabat dihidupku dan cinta dihatiku
Yours,
Greyson Michael Chance
-now-

Masih terlihat bekas tetesan air matanya di surat ini...

“Georgina, bersiaplah,” ujar seorang laki-laki yang membuyarkan lamunanku. Aku langsung menyimpan surat itu ke dalam laciku, dan mematikan voice note dari Greyson---yang isinya rekaman isi dari surat itu.

“Oh, Georgina. Aku mengerti. Tapi, jangan biarkan butiran-butiran ini jatuh. Ini berharga,” aku tersenyum lalu memeluknya. Ya, aku mengerti isi surat yang diberikan Greyson itu. Cody lah ‘orang lain’ yang Greyson maksud. Aku berjanji, aku tidak akan pernah mengecewakannya. Aku akan terus mencintainya, walaupun sudah ada Cody disisiku.

-THE END-