16 Jan 2012

Kenangan Indah Bersamanya


Aku duduk di meja rias yang berada di depan kasurku. Aku memandangi diriku sendiri. Aku melihat ke arah leherku yang terdapat kalung emas putih indah. Aku memegangnya lalu menciumnya. Tiba-tiba saja aku teringat sebuah kenangan bersamanya.


10 tahun lalu..........

Aku mempunyai seseorang yang aku kagumi. Hampir setiap hari aku melihatnya. Dia adalah tetanggaku di sebuah apartemen sekaligus teman di kampus. Dia tampan, pintar, sangat baik, dan unik. Dia adalah laki-laki terunik yang pernah aku kenal. Dia bernama Yoga.

Aku mengenalnya saat dia memperbaiki pintu kamar mandiku, karena aku terkunci didalamnya. Oh, konyol sekali!

Pagi yang cerah! Ujarku dalam hati. Ku lihat jam dindingku---tepat pukul 6 pagi. Aku cepat-cepat membereskan tempat tidurku dan pergi mandi. Aku ada janji dengannya---Yoga. Ya, pagi ini aku diantar ke kampus oleh Yoga. Dan malamnya Yoga mengajakku makan malam. Aku sangat senang!
Waktu sudah menunjukkan pukul 6.45 pagi. Aku mempercepat sarapanku. Aku harus menemui Yoga di lobby apartemen. Setelah sarapanku habis, aku mengambil tas dan buku-buku di meja dan langsung berlari menuju lift yang tempatnya cukup jauh dari kamarku.

**

“Oke, sampe nih! Lo turun duluan aja, Ris. Gue mau cari tempat buat mobil.” Katanya sambil tersenyum manis. Aku membalas senyumnya dan berjalan menuju kelas yang berada di lantai 2.

Saat menuju kelas, aku bertemu dengan sahabatku, Elina. Dia juga sedang berjalan menuju kelas. Kemudian aku menceritakan kejadianku di pagi hari.

“Wah, asyik tuh! Enak banget ya, satu apartemen dan satu kampus sekaligus! Coba kalau gue sama Rio kayak lo sama Yoga. Ah---surga dunia kayaknya!”
Aku tertawa kecil. Sifat Elina memang sedikit berlebihan ketika merespon orang-orang.
“Oh iya! Ris, lo nanti malem mau kan dateng ke kamar gue? Ya---gue ngundang ke pesta kecil aja sih. Cuma sedikit pula yang gue undang. Lo pertama yang gue undang!” Tawar Elina.
“Maaf Elina, bukannya gue gak mau dateng ke peta kecil lo. Tapi masalahnya, entar malem gue diajak makan malem sama Yoga.”
“SERIUS?! Lo diajak makan malem sama Yoga?!” Teriak Elina. Mata birunya kini terlihat sangat jelas dan indah.
“Iya, gue serius! Gak usah teriak bisa kali.” Candaku.
“Ya sudah, gue undur acaranya. Besok malem harus dateng!” Pinta Elina ketika sampai di kelas.

**

5 tahun yang lalu......

Yoga kini sudah menjadi kekasihku selama kurang lebih 3 tahun. Tapi akhir-akhir ini aku merasa ada yang disembunyikan Yoga. Dan sepertinya bukan hal biasa. Aku sudah lama ingin menanyakan hal ini, tapi aku belum berani. Aku tidak mau kehilangan cinta yang tulus dari Yoga hanya karena hal kecil saja.

Hari ini aku ingin mengajaknya pergi ke tempat tenang, jauh dari polusi udara dan suara. Aku dan Yoga sangat menikmati suasananya. Hamparan rumput hijau mengelilingi danaunya, pohon-pohon menari mengikuti arah angin.

“Jadi----ini tempat favorit gue waktu masih kecil.”
“Pilihan lo tepat banget. Sejuk dan tenang.” Yoga menarik nafas dalam-dalam, menikmati setiap angin yang menerpa wajah manisnya.
Aku tersenyum kepadanya. Yoga yang menyadari itu, langsung membalasnya dan memelukku. Aku bisa merasakan cinta dan kasih sayang yang tulus saat Yoga memelukku. Yoga berhenti memeluk, lalu mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ternyata itu kalung! Kalung emas putih indah, dengan liontin berbentuk hati.

Yoga memakaikan kalung itu di leherku. Aku merasakan cinta berlari mengelilingi kalung itu, seakan mencari jalan keluar, tapi mereka tidak berhasil melakukannya. Apakah itu menandakan cinta dari seorang Yoga? Sekuat itukah cinta Yoga kepadaku? Kemudian aku menangis dalam pangkuan hangatnya.

Yoga melepas pelukanku dan mengambil gitar akustiknya. Kemudian memainkan gitarnya menggunakan tangan besarnya dan bernyanyi dengan merdu. Menghangatkan suasana.......

I wanna be holding your hand
In the sand by the tire swing
Were we use to be, baby you and me
I traveled thousand miles
Just so I can see you smile
Feel so far away
When you cry, cause home is in your eyes
 Greyson Chance-Home Is In Your Eyes

**

Jadi, selama ini yang disembunyikan Yoga adalah-----penyakit jantung yang sudah dia derita sejak dia tinggal di apartemen itu. Mau tidak mau aku harus percaya. Sekarang Yoga ada di Rumah Sakit, menjalani perawatan. Penyakit jantungnya kambuh.

Tak lama, orang tua dan kakak perempuan Yoga datang. Mereka bertanya mengapa Yoga bisa seperti ini.

“Saya tidak tahu apa yang dilakukannya, tante. Saat saya membuka pintu kamarnya, saya melihat Yoga sedang memegangi dada bagian kiri. Karena panik, saya langsung menelepon ambulans.” Jelasku. Telihat khawatir di wajah orang tua dan kakak perempuannya.
“Permisi, anda orang tua dari Yoga? Alhamdulillah sekarang Yoga sudah sadar. Tapi masih butuh istirahat. Silakan ibu, bapak, dan adik-adik boleh menjenguknya. Asalkan jangan mengganggunya.” Jelas dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“Alhamdulillah. Terima kasih, dokter!” Balas ayah Yoga.
Aku sangat bahagia! Aku masih diberi kesempatan untuk merasakan belaian lembut dari tangan Yoga.
Aku melihat Yoga sedang tertidur dengan alat bantu nafas di mulutnya. Aku menangis terharu. Kakak perempuan Yoga menghampiriku.
“Gue percaya lo, Risma. Jaga baik-baik Yoga.” Katanya.

Aku mengangguk tanda mengerti. Tentu saja aku akan menjaga Yoga sampai kapan pun. Aku janji!

**

Malam ini aku berkeliling kota bersama Yoga. Senang rasanya ketika Yoga dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang dari Rumah Sakit tiga bulan yang lalu.

“Gaun yang indah!” Ujarku saat melewati toko gaun untuk pernikahan.
“Mungkin suatu saat nanti kau bisa memakainya saat hari kebahagiaan kita.” Aku melihat mata indahnya. Kata-kata Yoga sangat membuatku terharu sekaligus bangga. Aku dan Yoga melanjutkan perjalanan menuju  restoran klasik yang tak jauh dari toko gaun itu.

**

Jam beker berbunyi dengan nyaring. Saat ku buka mataku, aku melihat----gaun putih cantik dengan hiasan bunga putih di bagian pinggang. Persis seperti yang aku dan Yoga lihat saat di kota. Apa mungkin dari Yoga? Pikirku sambil tersenyum.

Aku melihat sepucuk surat beramplop merah muda dan wangi. Kemudian aku membacanya...

Risma sayang,
Maaf sebelumnya gue belum pernah ngasih tahu kalo gue kena penyakit jantung.
Gue gak mau lo ninggalin gue cuma gara-gara ini.
Dan gue juga mau minta maaf kalau gue belum sempet pamit sama lo.
Gue gak mau lo sedih cuma karena gue gak ada disisi lo, untuk selamanya.
Gue cuma mau bilang,  gue sayang banget sama lo!
Walaupun gue udah gak disisi lo lagi.
Yoga.
NB: Risma, lo bisa dateng hari Minggu jam 10 pagi.

**

Aku datang tepat saat Yoga mau dimakamkan. Saat tiba di pemakaman, rasanya aku tidak ingin melihat dan berada di tempat ini. Marty, kakak perempuan Yoga menghampiriku dan membujukku untuk melihatnya.

“Yoga mau lo ngeliat ini!” Katanya.

Aku mengikuti apa kata Marty. Aku melihat, jasad Yoga. Dia---dia tersenyum! Aku membalas senyumnya untuk terakhir kali. Aku harus menerima kenyataan bahwa Yoga telah tiada di dunia ini.

Selamat tinggal, Yoga!

Kini, kalung dan gaun yang aku pakai sekarang hanya kenangan darinya. Aku akan selalu mencintainya. Walaupun dia sudah tidak ada di dunia.

Aku berjalan keluar kamar diiringi ibu dan ayahku. Setibanya aku diruang utama, aku melihat seseorang----dia Yoga! Dia sedang duduk diantara orang tuanya dan Marty. Dia tersenyum bahagia. Dia bahagia melihatku senang, walau bukan bersamanya.