10 Jan 2012

Me and Paris (part 2)


Eve menjatuhkan tubuhnya ke kasurnya yang empuk. Entah kenapa, pikiran Eve selalu dipenuhi oleh kejadian-kejadian menyebalkan kemarin. Terutama cowo yang bernama Rifky itu, Eve pikir dilihat dari penampilan Rifky, dia itu orang yang baik, lucu, tapi ? HAHA sebaliknya! 180 derajat! “huh! Nyebelin banget tuh orang, maunya apasih!” Eve cemberut saking kesalnya. Tiba tiba dia teringat oleh Robby yang tadi pagi juga tidak sengaja dia tabrak oleh sepedanya, alhasil sekarang sepedanya agak terbaret kena pagar trotoar. Eve tersenyum, “dipikir-pikir..... si Robby ganteng juga ya, dewasa banget hihihi kalem lagi orangnya, beda jauh sama Rifky!”

***

Setelah kejadian tabrakan tadi siang, Robby kelihatan terheran-heran. Robby memegang sebuah frame foto berwarna biru muda, yang terdapat didalamnya sebuah foto, foto orang yang sangat dia rindukan. Entah mengapa, ada yang mengganjal di hatinya, dia sendiri juga tidak tahu apa maksud ketidakenakan hatinya saat ini.

***

Rifky tertawa-tawa mengingat kejadian tadi, “kejadian yang konyol” kata Rifky. Sejenak dia berfikir, dikerutkannya keningnya itu, “hmm cewek itu bikin aku penasaran, cantik sih tapi ngeselin, cocok ya sama aku, ganteng tapi ngeselin huehehe.” Batin Rifky sambil sepertinya sedang merencanakan sesuatu.

***
KRIIING jam weker Eve berdering kencang sampai membangunkan gadis cantik itu dari mimpinya. Eve langsung meloncati kasurnya dan langsung mandi, dan bersiap siap untuk pergi. “Pak, anterin aku ke alamat ini ya” seru Eve pada Pak Atmo supirnya, mobil itu pun langsung melesat cepat.

Setiba nya Eve didepan gerbang sebuah rumah mewah yang bercat abu elegant ini, dia tersenyum berseri-seri dan langsung membunyikan bel rumah tersebut. “AAAAAA!!!! Eveee!!! Gue kangen banget sama kamuuu!!!!!!” teriak seorang gadis berwajah cantik yang keluar dari pintu garasi, inilah cewek yang ditunggu tunggu Eve. “Diana!!! Lo sama sekali ga berubah ya! Cuman.....nambah cantik aja! Hahahaha” seru Eve yang kemudian dipersilakan masuk oleh Diana.

Layaknya kedua orang ibu arisan se geng yang sudah sangat tidak bertemu, mereka sangat betah melepas kerinduan yang sudah dipendam sejak lama, sekitar----3 tahun! Dengan wajah berseri-seri Eve dan Diana saling tukar cerita, maklum siapa yang gak tahan curhat pada sahabatnya? Gak ada! Pada hari itu Eve memilih untuk menginap dirumah Diana karena belum puas melepas rindunya yang amat besar ini. Sejenak, ia teringat dengan kejadian menyebalkan sekaligus menyenangkan yang ditimpanya kemarin, “hm----cerita kan gak ya? Cerita ah!” kata Eve dalam hati
“Di, tahu gak---
“Tahu kok, ya ngga lah! Lo kan belum cerita” Balas Diana yang sedang meng-kutek kuku tangannya dengan saaangaaaaaaaat rapi, tidak kalah dengan yang di toko-toko.
“Iya ya, hehe canda! Jadi gini kemarin gue nabrak 2 orang cowo, yang pertama namanya Robby kalo yang nyebelin ini namanya Rifky.” tutur Eve
“Wah? Asik dong kenalan ama cowo tanpa sengaja huehehehe!”
“Asik kata lo? Gila, gue kesel banget sama yang namanya Rifky!”
“Kesel kenapa?” Tanya Diana terheran heran.
“Gue kan ga sengaja numpahin ice cream ke kepalanya dia, eh dia malah marah marah gak jelas kaya monyet kesurupan! Untunglah dia gak darah tinggi, kan bisa repot gue kalo pas lagi marah-marahin gue tiba-tiba strokenyaa kambuh, kan masalahnya bisa panjang, bisa-bisa nanti gue dikira yang aneh aneh lagi, dikira cewe yang ngebunuh sadis seorang cowo didepan umum, gak lucu!” jelas Eve yang sedikit hiperbola.
“Hahahaha gue ngakak denger cerita lo, Ve! Lo itu gak berubah-ubah ya? Lebaynya tetep melekat mau diubah gimana-gimana juga sifat itu gak ngilang-ngilang!” Ejek Diana dengan diselingi tawa manisnya itu. Sumpah Diana manis banget kalo ketawa! Gak mungkin ada cowo yang gak tergoda sama dia, kalo pun ada, cowo itu gak normal!
“Ya---berimajinasi tinggi dong Di! Lagian ini emang bisa terjadi kok gue gak selebay yang lo kira, gue masih ada batasnya, gak separah Olga!"
“Iyadeh iya mbak.” Ucap Diana sambil menjulurkan lidahnya.
“Eh, ngomong-ngomong----ada cowo yang lagi lo taksir ga sekarang Di? Kenalin gue ya? Tenang aja gue gak bakal ngerebut kecengan lo! Kalo pun iya, gue siap diterkam lo Di!”
Diana pun mengaku bahwa saat ini dia sedang naksir seorang cowo yang dimatanya sangat keren dan gentleman itu, namanya Angga, Angga ini adalah teman sekelas Diana saat dia duduk dikelas 2 sma. Diana menceritakan hampir seluruh yang dia tahu tentang cowo yang bernama Anggada itu, bukan hampir lagi, cewe ini benar benar meceritakan seluruhnya yang dia ketahui tentang Angga pada Eve, bahkan sampai hal yang sepele pun dia menceritakannya dengan panjang lebar.
“Wah aku jadi penasaran nih, seperti apa seorang Angga yang sampai ditaksir mati-matian sama cewe perfect kaya lo Di! Hahaha.”
“Mau gue kenalin? Ayo besok gue kenalin lo aja ke si Angga ya biar lo tau selera gue kayak gimana oke?” tawar Diana dengan sorot mata berbinar-binar, dapat dilihat jelas dengan Eve, Diana ini bukan menawarkannya untuk berkenalan dengan Angga, tapi ini lebih menjurus pada “memaksa” gue untuk kenalan sama cowo itu, pikir Eve yang ada akhirnya menerima tawaran sohibnya itu.
Tak lama kemudian, hp Diana berbunyi menandakan adanya telepon masuk. Setelah Diana melirik hpnya itu untuk melihat siapa yang meneleponnya sekarang, raut muka Diana berubah, merah padam.
“Ve! Bantu gue, ini telepon dari si Angga! Gue harus gimana Ve?!” Diana panik, tetapi senang, tetapi malu, tetapi---sudahlah, perasaannya saat ini yang jelas campur aduk! Sulit dijelaskan dengan kata kata.
“Beneran lo Di?! Mana liat” Eve melihatnya dan tersontak “Beneran Di! Angkat-angkat buruan nunggu apalagi!!!! Cepeeet keburu ditutup sama Angganya!” jerit Eve histeris, tak kalah histerisnya dengan Diana
“Halo?” Diana akhirnya menerima panggilan itu dengan perasaannya yang campur aduk itu dan sama sekali blank, tidak terpikirkan satu pun olehnya apa yang akan dibicarakan nanti.
“Halo Diana? Ini gue Angga.”
“Iya gue tau Ga, kenapa? Tumben lo telepon gue biasanya gak pernah!” balas Diana dengan hati yang berdebar seakan-akan ada konser mendadak di jantungnya.
“Gapapa ko, gak boleh ya? Yaudah deh lain kali kalo gue mau nelepon elo, gue bakalan minta ijin dulu ke elo boleh apa ngga hehe, oiya gue ada tugas nih lo mau bantuin gue nggak ? “
“Gak gitu juga kali Ga, tugas apaan emang? Ribet ya? Sampe sampe minta tolong ke gue.”
“Engga sih gak ribet juga. Gue disuruh motret 1 cewe 1 cowo, yaaa cowo sih udah ada modelnya, kalo yang cewe belum, tiba tiba gue kepikiran elo dan gue inget lo tuh pernah juara 1 modelling kan? Jadi, mau ga lo jadi model buat tugas gue ini?”
Diana tersontak kaget, wajahnya yang tadi sudah kembali seperti semula, kini kembali memerah, merah padam! Seperti direbus dengan air mendidih, jantungnya seakan akan berhenti, dia tidak tahu harus berkata apa, yang pasti dia mau jadi model untuk Angga! Sang pujaan hatinya itu!
“Eh----hm iyadeh--gue mau jadi model buat tugas lo hehe. Kapan?” balas Diana gugup.
“Kapan ya? Besok aja deh bisa gak? Gue tuggu jam 10 di taman dekat rumah lo, mau?”
“Oke! Eh gue sekalian mau ngenalin temen gue ke elo besok ya?”
"Yap! Gak masalah, gue tunggu ya, bye!”
“Bye!” sahut Diana mengakhiri pembicaraan mereka.
“AAAAAA!!!!!! GILA!!! GUE GAK PERCAYA GUE BAKALAN JADI MODELNYA SI ANGGA VE!!!”
Eve mendelikkan matanya kepada Diana dengan senyum yang tersungging diwajahnya “Di, lo harus siap mental nih jangan sampe lo salting didepan Angga!”

***

Pagi yang cerah ini mengiringi rasa gugupnya Diana yang sudah terlalu besar. Eve pun tak kalah gugupnya, bukan karena dia akan dikenalkan oleh seorang cowo idaman sahabatnya, tapi karena dia tidak ingin hari spesial Diana hancur oleh apapun. Dia bersumpah, jika ada yang menghancurkan hari indah Diana ini, dia akan menghancurkan pula pelakunya! Bagaimanapun caranya.
Eve melirik Diana yang sedari tadi tidak berkata-kata sedikit pun. Diana hanya duduk dengan manis dan tak henti hentinya melihat jam tangannya yang melekat di tangan. Eve tak tega melihat temannya dibanjiri oleh rasa gugup yang dahsyat. Segugup-gugupnya Diana, Eve tak pernah melihat Diana sampai begini. Akhirnya Eve pun memulai pembicaraan dengan tujuan sedikit menenangkan sahabatnya itu.
“Di, lo nervous ya?” tanya Eve dengan hati-hati.
“Udah tahu kenapa lo nanya Ve!”
“Iya gue tahu, tapi gue gak pernah ngeliat lo gugup sampe segini parahnya, hahaha.”
“hhhhhh gak tahu deh, Ve! Gue lagi males ngomong maaf ya ceritanya nanti aja!” balas Diana yang sedaritadi masih saja gugup hebat dan Diana berkata, “Ayo Ve, kita sampai!”

***

Apa yang terjadi saat Eve dan Diana sampai di taman? Apakah Angga akan mengajak Diana yang sudah tampil cantik? Atau justru Angga akan menyukai----Eve?