-Greyson-
Greyson sangat bosan
pagi itu. Tidak ada yang dilakukannya selain berdiam diri di kamar. Dia tidak
boleh keluar kamar. Manager Greyson tidak mengizinkannya untuk keluar kamar
karena takut Greyson terluka karena penggemarnya.
“Ah, ini sangat
berlebihan!” Greyson mendesah lalu mengambil MacBook di meja yang tak jauh darinya.
Tiba-tiba saja Greyson
berpikir untuk membuka blog milik Luna. Dia sangat menyukai cerita Luna, baik
itu kenyataan maupun karangannya.
“Dia membuat cerita
baru!----eh tunggu? Cerita ini?” Greyson membacanya dengan sangat serius.
Greyson kaget. Ini persis pengalamannya dengan Siska dan Luna. “Luna---cinta
denganku?” Tanyanya dalam hati.
Greyson ingin
menanyakannya secara langsung. Tapi skype dan y!m milik Luna sedang offline. Greyson lalu membuka
twitternya. Tak ada satu tweet dari
Luna yang terlihat di timeline
Greyson. Greyson sedikit resah. Dia memutuskan untuk menulisnya di twitter,
siapa tahu Luna membacanya.
@greysonchance That story. Is it for me? Did you fall in love with me?
Greyson membuka y!m
miliknya. Dia tersenyum senang, Luna sedang online!
Dia segera mengecek twitternya.
@Lunaaa Do you feel? So,
what you feeling? Happy? Because you’ve got
a new FAN?
Greyson tertawa
sambil menyebut nama Luna. Greyson langsung mengetik pesan pada Luna.
G: Hi Luna! Is it for me?
L: What?
G: Your story, of course!
L: What do you think? Do you feel
that the story was for you?
Greyson mengerutkan
dahi lalu tertawa kecil.
G: I don’t know Luna.
Saat Greyson ingin
mengetik kalimat selanjutnya-----zepp----tiba-tiba saja laptopnya mati. Dia
lupa mengisi
baterainya tadi malam. Greyson lalu mengambil Blackberry nya untuk kembali menanyakan karangan Luna. Tapi dia
tidak bisa membukanya. Koneksinya sedang buruk disana. Greyson melempar Blackberry nya ke ujung kasur. Alexa
yang baru masuk kamar setelah sarapan di restoran hotel, melihat Greyson dengan
heran.
“Kau kenapa,
Greyson?” Tanya Alexa menghampiri Greyson. Greyson menggeleng. “Oh, ayolah adikku!
Cerita, apa yang sedang kau rasakan saat ini,” Alexa menyuruh Greyson untuk
duduk lalu merangkul pundak adiknya itu.
Greyson lalu
menceritakan mulai dari dia bosan berdiam terus di kamar, sampai laptopnya
mati. Alexa menyimak dengan serius. *omaygat kakak yang baik._.*
“Oh, jadi kau
mengira karangan Luna itu untukmu?”
Tanya Alexa. “Iya! Bagaimana tidak? Lihat ini! Dia menceritakan semua
pengalamannya bersamaku!” Greyson memperlihatkannya memakai hp kakaknya. Alexa
mengangguk, “ya, mungkin dia memang jatuh cinta padamu, Grey! Bukankah kau juga
jatuh cinta kepada Luna? Sekarang tinggal kau pikirkan bagaimana Luna tahu
kalau kau mencintainya!” Ujar Alexa mencium kening adiknya. Greyson tersenyum
lalu memeluk kakaknya. “Okay, sekarang kau siap-siap! Sebentar lagi kita akan
pergi menuju lokasi pemotretan.” Alexa melepas pelukan Greyson lalu menarik
tangannya menuju kamar mandi.
***
“Waaaaa, Greyson!
Kau tidak bilang kalau kau pulang?” Siska berlari menghampiri Greyson lalu
memeluknya kencang. “Hahaha, aku sengaja tidak memberitahumu. Takutnya kau dan
Siska berencana untuk memberiku kejutan!” Canda Greyson. Muka Siska berubah
menjadi muka datar. Greyson yang melihatnya hanya tertawa.
Dari kejauhan,
Greyson melihat Luna yang berhenti mengayuh sepedanya. Terlihat ekspresi kaget
dari wajah Luna.
“Itu Luna,” Kata
Siska melihat ke arah Luna sambil berjingkat karena tubuh Siska yang mungil.
“Jangan dipanggil!” Bisik Greyson dengan tatapan tajam. “Loh kenapa? Kau ada
masalah dengannya?” Tanya Siska sedikit keras karena menyadari Luna sudah
berbalik arah. Greyson membalikkan badannya untuk melihat keadaan. “Begini, aku
melihat blog Luna. Dia menulis karangan, dan menurutku itu pengalamannya
bersama kita. Lihat ini---“ Greyson menunjukkan hpnya. “Ya, Grey! Dia memang
cinta denganmu! Jangan-jangan kau juga----“ Siska menyiku perut Greyson.
Greyson terdiam, “Ah, sudah! Aku harus membereskan barang-barangku.”, “Kau
pindah?!” Siska kaget. Greyson mengangguk, “Tapi aku tidak akan menjual
rumahku! Aku akan berkunjung kembali suatu saat nanti. Sampai jumpa, Siska!” Greyson melepaskan pelukan Siska dan berlari
menuju rumahnya.
“Grey, darimana saja
kau?” Tanya Mom Lisa saat Greyson tiba di rumah. “Tadi aku bertemu Siska, Mom,”
Jawab Greyson dengan singkat. “Grey, kau akan kemana?” Tanya Mom Lisa lagi.
Tapi Greyson tak menjawab.
Greyson mencari
Alexa. Dia membutuhkan kakak perempuannya sekarang. Dia mencari mulai dari
kamar Alexa, Tanner, kamar orang tuanya, dan kamarnya sendiri. Tapi dia tidak
menemukan Alexa. Greyson pun berlari menuju dapur untuk menemui Mom Lisa.
“Mom, apa kau
melihat Alexa?” Tanya Greyson sambil menepuk pundah ibunya. “Coba kau cari di
garasi. Siapa tahu dia sedang bermain basket bersama Tanner,” jawab Mom Lisa.
“Oh, Greyson! Tanyakan kepada Tanner, apa dia mau ikut ke Las Vegas atau tidak.
Jika iya, suruh dia untuk mengepak bajunya sekarang,” lanjut Mom Lisa. Greyson
mengedipkan mata lalu berlari menuju garasi.
BUKK!
Wajah Greyson
terkena bola basket yang dilempar Tanner. Alexa mengambil sapu tangan yang ada
di dekatnya lalu berlari ke arah Greyson.
“Greyson, maaf!”
Ujar Tanner mengangkat kepala Greyson. “Oh, aku tidak apa-apa, Tanner. Ini
menyenangkan!” Kata Greyson sambil tertawa. “Hei, kau bodoh ya? Mukamu itu
terkena bola basket, bukan bermain basket,” Tanner mengambil sapu tangan yang dibawa
Alexa lalu membersihkan sedikit darah yang keluar dari hidung Greyson. “Ah,
sudah lah, Tanner. Lagi pula tulang hidungku tidak patah. Kau akan ikut pindah ke Las Vegas?” Greyson terbangun lalu
merebut sapu tangan dari tangan Tanner. “Tidak, aku akan tinggal disini saja.
Tapi---ah, aku ikut saja! Ada pertandingan basket seru di Las Vegas dua hari lagi!”,“Ya kalau begitu kau siapkan baju dari sekarang! Ini perintah Mom,”
kata Greyson kepada kakak pertamanya itu.
Tanner berlari
menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Alexa menghampiri Greyson, “Grey,
kau yakin tidak apa-apa?”. Greyson menggeleng lalu tersenyum. “Oh iya, Alexa!
Aku akan membuat surat untuk Luna. Tadi aku sempat bertemu dengannya, tapi
tidak tahu kenapa Luna berbalik arah ketika melihatku,” Greyson sedikit
berbohong. Alexa mengangguk, lalu membantu Greyson untuk berdiri.
“Nah, Alexa! Pakai
kertas ini saja,” Greyson meletakkan secarik kertas berwarna merah muda dan
amplop berbentuk hati di meja belajarnya. “Grey, aku saja yang menulisnya. Kau
harus tiduran, agak darahmu tidak mengucur terus,” Alexa mengambil pulpen dari
tas Greyson lalu mendampingi Greyson ke kasurnya. “Apa saja yang harus aku
tulis?” Tanya Alexa.
“Sudah?” Tanya Alexa
kepada Greyson. Greyson mengangguk sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan
berwarna biru milik Alexa. “Terima kasih, Alexa!” Greyson tersenyum kepada
kakaknya. “Ya, Greyson. Sama-sama. Aku harus memberinya pada siapa?” Tanya
Alexa lagi. “Jika kau bertemu orangnya, berilah padanya. Jika tidak----titip
saja pada Siska atau siapa pun yang kenal Luna,” jelas Greyson. Alexa
mengangguk dan mencium kening Greyson.
Alexa berjalan
menuruni tangga. Dia melihat Dad Scott sedang berbincang-bincang dengan Tanner.
Alexa tidak pedulikan itu. Dia terus berjalan keluar rumah. Saat Alexa tiba di
taman tempat biasa Greyson, Siska, dan Luna bermain, Alexa melihat Jennifer.
“Hai, Jennifer!!”
Alexa menepuk pundak Jennifer dari belakang. “Waa! Alexa! Kapan kau kembali?
Bagaimana dengan Greyson?” Tanya Jennifer. “2 hari yang lalu, Jennifer! Dia
baik-baik saja, Luna bagaimana? Oh iya, Greyson menitipkan sesuatu untuk Luna!”
Alexa mengeluarkan amplop berbentuk hati dari saku celananya. “Oh, Alexa! Ini
sangat----tunggu. Greyson menyukai Luna?” Alexa mengangguk dan tertawa kecil.
“Alexa, asal kau tahu! Luna juga menyukai Greyson sejak lama---“ Jennifer
menceritakan semua peristiwa saat setelah adik mereka lulus. “Ah, kurasa sampai
sini dulu! Aku harus bersiap-siap untuk ke Las Vegas besok pagi. Jangan lupa
berikan ini kepada Luna. Sampai jumpa!” Alexa memeluk Jennifer lalu berjalan
menuju rumahnya.
***
“Ayo, Greyson!
Masukkan kopermu ke dalam mobil!” Perintah Tanner.
Greyson mengambil
kopernya di ruang tamu lalu membawanya keluar. Tanner membantunya memasukkan
koper ke dalam mobil. “Ayo, masuk, Grey!” Perintah Mom Lisa. Saat Greyson
membuka pintu mobil, dia melihat ke arah jendela rumah Luna. Dan jendela itu
adalah tempat dimana Luna menyimpan semua koleksi doraemon---ya, kamar Luna.
Terlihat Luna juga sedang menatapnya dengan rindu, sedih, bercampur kesal. Greyson
menatapnya sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.
Greyson melamun
selama di perjalanan. Tanner yang menyadari itu langsung merangkul Greyson
dengan erat. “Aw! Sakit!” keluhnya. Greyson lalu melihat ke arah jendela lagi.
***
Setelah
berbulan-bulan tinggal di Las Vegas, Greyson
jarang sekali berkomunikasi dengan Siska maupun Luna. Greyson sangat
merindukan mereka, terutama----Luna. Greyson harus mencari cara agak dia,
Siska, dan Luna bisa bersama lagi seperti dulu.
“AH! Aku tahu!”
Greyson berlari mencari Mom Lisa di kamarnya. “Mom!” panggil Greyson saat
menemukan Mom Lisa yang sedang menonton televisi di kamarnya. “Mom, ayolaah!”
Greyson menghampiri Mom Lisa sambil menarik lengannya. “Ada apa, Grey?” Mom
Lisa mengecilkan volume suara televisi. “Kapan lagi aku akan tour, Mom?” Mom
Lisa beranjak dari sofanya lalu membuka kertas berukuran sedang yang terdapat
banyak lipatan. “Hm, kurasa 3 minggu lagi,” ujar Mom Lisa menatap kertas itu
dengan serius. “Kemana?” Tanya Greyson lagi. “Eropa,” jawab Mom Lisa lalu
melipat kembali kertasnya. “Mom, besok aku ingin kembali ke Edmond!” Pinta
Greyson. Mom Lisa bingung. “Aku ingin mengajak Siska dan Luna! Aku sudah lama
tidak bertemu dengan mereka, aku rindu
bermain dengan mereka! Ayolah, Mom, boleh ya?” Greyson mengedipkan kedua matanya
berulang kali *centil ya._.* Mom Lisa mengangguk setuju, “baiklah, Grey! Tapi
besok Dad tidak bisa mengantarmu ke Edmond, dia sedang ada tugas minggu ini.”,
“Okay, aku akan pergi bersama Tanner dan Alexa besok! Bye, Mom!” Greyson
mengecup pipi Mom Lisa lalu berlari keluar kamar untuk mencari Alexa dan
Tanner.
***
“Halo, Siska! Aku
mau kau ke lapangan basket jam 2 siang nanti---ya, aku sedang di perjalanan
menuju Edmond----jangan lupa ajak Luna!----apa yang---ah, sudah! Sampai nanti!”
Greyson mengakhiri percakapannya dengan Siska. “Kenapa kau tidak menghubungi
Luna langsung?” Tanya Tanner diikuti dengan anggukan kepala Alexa. “Aku tidak
punya kontak Luna. Semenjak Luna----hm, tidak,” Greyson memamerkan giginya yang
putih bersih kepada Tanner melalui spion. Tanner menatap Greyson dengan tatapan
curiga.
Sesampainya di
Edmond, Tanner memasukkan mobil ke garasi rumah, sedangkan Greyson buru-buru masuk
untuk mengambil kunci motor lalu pergi menuju lapangan basket. Greyson sudah
tidak sabar bertemu dengan kedua sahabat lamanya, sampai-sampai teriakan Alexa
tidak dihiraukannya. Saat hampir melewati rumah Luna, Greyson melihat gadis
cantik dengan rambut pirang panjang sedang menutup pagar. Greyson menghampiri
gadis itu.
“Hai, Luna!” Sapa
Greyson saat tepat di samping gadis itu yang ternyata Luna. Luna kaget, “hai,
Greyson! Kapan kau kesini?” “Baru saja sampai, hahaha. Apa kabar, Luna? Kau
cantik sekali dengan bandana yang kau pakai itu, ” Tanya Greyson. “Kau tidak
lelah? Baru saja kau sampai kesini, kau sudah keluar rumah lagi. Terima kasih,
Grey,” Muka Luna memerah. “Ah, aku sudah tidak sabar bertemu dengan kau----dan
Siska. Ada yang ingin aku bicarakan di lapangan basket nanti. Ayo, pergi
denganku!” Greyson menarik lengan Luna lalu mengisyaratkan agar Luna segera naik
ke motornya.
Selama di
perjalanan, banyak gadis-gadis yang meneriakan namanya dan tak segan-segan
berkata, “Hi you’re Greyson?” “Greyson! You’re
singing paparazzi by Lady Gaga?” “Grey, I love you!! Hi,who’s she?!” Greyson
hanya tertawa kecil lalu sesekali melihat ke arah Luna sambil tersenyum. Dan
saat Greyson mengendarai motornya, dia sering melontarkan lelucon lucu dan Luna
tertawa dengan manis.
Sesampainya di
lapangan basket, terlihat Siska yang sedang bermain basket sendirian.
“Dia masih tomboy
seperti dulu, ya!” Bisik Greyson kepada Luna. Luna mengangguk sambil tertawa.
“Hai, Greyson, Luna!” Teriak Siska yang baru menyadari bahwa kedua sahabatnya
telah datang. “Hai, Siska! I miss you!” Greyson memeluk Siska lalu merangkul
pundak Luna dan Siska. “I miss you too, Grey! Kau—datang bersama Luna?” Bisik
Siska. “Tadi aku bertemu dengannya saat aku melewati rumahnya,” jelas Greyson.
“Bagaimana kalo kita main basket dulu?” Greyson berlari mengambil bola basket
lalu melemparnya ke arah Luna. “Hei, tangkapan yang bagus, Luna!” Greyson
bertepuk tangan lalu mengangkat kedua tangannya agar bola dilempar kembali
kepadanya. “Jadi, kau menantang?” Luna melempar bolanya kepada Siska dan mereka
bermain basket.
Saat Greyson ingin
melempar bola ke ring basket, tiba-tiba saja Luna terjatuh. Greyson dan Siska
sangat panik. Dari kejauhan terdengar suara tawa. Greyson segera menoleh ke
belakang dan mencari asal suara tawa itu. Siska dan Greyson tersontak! Itu
adalah Maria dan Justin, teman sekolah mereka.
“Hei, kalian! Apa
ini? Kenapa kalian melakukan ini pada Luna?!” Greyson menghampiri Maria dan
Justin dengan sangat marah. Keduanya hanya tertawa puas. “Oh, kau GREYSON
MICHAEL CHANCE? Penyanyi terkenal itu? Yang dulu satu sekolah dengan kita?”
Ujar Justin berkacak pinggang. Greyson mengkerutkan keningnya, “Haloo! Aku
bertanya kepada kalian!!”, “Ow, Justin! Jawab pertanyaan dia! Dia artis besar!
Kalau kau tidak menjawabnya dia akan mengadu kepada paparazzi! Tidak!!” Maria
tertawa mengejek. Greyson menarik kerah baju Justin, “kenapa kalian melakukan
ini pada Luna?!”, “Karena kami kesal dengannya!! Puas?!?” Mata Justin melebar.
“Oh, Luna! Aku tak menyangka pacarmu seorang penyanyi! HA!” Ejek Maria.
Saat mereka sedang
bertengkar, tak lama kemudian datang Alexa dan Tanner. Tanner langsung keluar
dari mobilnya lalu berlari ke arah mereka, terutama Greyson dan Justin, juga
Siska dan Maria, sedangkan Alexa menghampiri Luna yang terluka di bagian
hidung. Tanner lalu melerai mereka berempat.
“HEI, ADA APA INI?!”
Tanner berteriak dan membuat keempatnya menoleh ke arah kanan. “Dia melempar
bola basket dengan kencang ke arah Luna, Tanner! Lihat! Hidung Luna berdarah!”
Greyson berteriak yang tak kalah kencang dengan Tanner karena emosi. Justin dan
Maria terdiam. “Kalau kalian tidak menyukai seseorang, kalian tidak
harus melakukan ini! Coba bayangkan jika ini terjadi pada kalian! Apa kalian
mau?” Tanya Tanner dengan santai. Justin dan Maria terdiam lagi lalu
mengangguk. “Baiklah, sebaiknya kalian minta maaf kepada Luna,” Greyson melepas
kerah Justin lalu mengisyaratkan agar Justin dan Maria segera meminta maaf
kepada Luna. “Luna, maafkan kami. Kami hanya bermaks----“, “Ah, sudahlah! Tidak
apa-apa. Hanya berdarah sedikit,” ujar Luna tersenyum. Alexa menyuruh Justin
dan Maria untuk meninggalkan lapangan basket.
“Luna, berdarah
sedikit darimana? Lihat, darahmu terus mengalir!” Siska lalu berlari menuju
mobil yang dikendarai Tanner dan mengambil kotak perlengkapan obat-obatan. “Ini
harus dibawa ke rumah sakit! Aku tidak bisa menyembuhkannya! Tulangnya patah,”
Ujar Alexa. Greyson segera mengangkut Luna menuju mobil. “Siska, buka pintunya!
Sekarang kita ke rumah sakit! Cepat!”
***
“Ayo, kalian sudah
siap?” Tanya Greyson saat tiba di rumah Luna. “Aku sudah siap! Koperku sudah
dimasukkan ke mobil,” balas Siska sambil memakai jaketnya. “Waaa! Tunggu aku!
Aku akan mengambil laptopku!” Saat Luna sedang berlari di tangga, Luna tidak
seimbang dan-----hampir terjatuh. “Oh, Grey! Thank you,” Luna kembali berdiri
dari pangkuan Greyson yang berusaha menahan Luna. “Oke, sama-sama, Luna. Lain
kali hati-hati, hidungmu baru saja sembuh. Sekarang cepat ambil laptopmu!”
Greyson tersenyum lalu mendorong tubuh Luna dengan pelan.
Luna menutup pintu
mobil lalu menurunkan kaca mobil. Siska, Luna, Greyson, Dad Scott, dan Alexa
melambaikan tangan kepada orang tua Siska dan Luna. Mom Lisa dan Tanner sudah
berada di bandara terlebih dahulu untuk mengurus semua tiketnya. Di perjalanan,
penuh dengan suara merdu dan canda tawa.
“Mom! Tanner!”
Greyson berlari lalu memeluk Mom Lisa dan Tanner. Begitupun dengan Alexa, Luna,
dan Siska. Sedangkan Dad Scott mencium bibir mungil dari Mom Lisa *aw co
cwit:3*. “Bagaimana, Lisa? Sekarang kita kemana?” Tanya Dad Scott sambil
menutup pintu bagasi mobil. “Sekarang kita harus check in terlebih dahulu,”
jawab Tanner melihat jam tangannya.
“Oke, Tanner. Ayo, anak-anak, bawa troli masing-masing!” Dad Scott berjalan
membawa troli berisikan kopernya dan Mom Lisa, Tanner membawa troli berisikan
kopernya dan Alexa, sedangkan Greyson membawa koper troli berisikan kopernya,
Luna, dan Siska.
***
Greyson tiba di London
setelah 9 jam duduk di pesawat sambil bercanda ria bersama Luna dan Siska.
Greyson keluar bandara disambut dengan beberapa penggemarnya. Greyson
mengedipkan mata kepada Luna dan Siska lalu berjalan menghampiri penggemarnya.
Luna dan Siska saling bertatap muka lalu mengangguk mengerti. Mereka memegang
troli yang tadi Greyson bawa lalu menyusul Greyson.
“AAAAA, GREYSON!!”
Teriak salah satu penggemarnya. “Aw, you’re amazing fans! I love you!” Ujar
Greyson tersenyum manis. “Oke, Grey, sekarang kau harus istirahat!” Bisik Mom Lisa lalu
tersenyum pada gadis-gadis yang sedang berhadapan dengan Greyson. “Sampai
bertemu di konserku besok malam!! I love you all!” Greyson berjalan menghampiri
Luna dan Siska, lalu mendorong trolinya. Teriakan penggemar Greyson membuat
Siska sedikit kesal. Tapi dia memakluminya, dia ikut berkelilng bersama
sahabatnya yang merupakan bintang besar.
“Grey, aku tidak
menyangka penggemarmu sebanyak itu!! Aku ikut bangga!” Ujar Luna diikuti
anggukan kepala Siska. “Kalian sangat berlebihan, teman!” Greyson tertawa. “Oh,
Grey! Bagaimana dengan Tanner, Alexa, dan orang tuamu?” Tanya Siska sambil
memainkan hpnya. “Mereka berada di mobil yang berbeda,” jawab Greyson dengan
santai. Siska dan Luna mengangguk lalu mengambil pizza yang sudah ada di depan mereka.
***
Running away through the night so black, the stars on your shoulder pulling
me back...
Suara Greyson saat
menyanyikan lagunya yang berjudul Running
Away membuat Luna meneteskan air mata. Luna tidak mengerti, entah karena
lirik lagunya yang menyentuh, atau memang lagu ini sangat cocok dengan
keadaannya selama 4 bulan terakhir ini. Siska yang menyadarinya langsung
merangkul Luna.
“Aku tahu kenapa kau
menangis, Luna. Sudahlah, Greyson pasti tidak akan suka melihatmu menangis.
Begitupun denganku,” Siska menghapus air mata di pipi Luna. “Tolong jangan
katakan ini pada Greyson, Siska!” ujar Luna dengan penuh harap. Siska
mengangguk sambil tersenyum. “Luna, Siska! Ayo
bersiap-siap! Greyson sudah menyanyikan lagu terakhirnya,” ujar Alexa
tersenyum. Luna dan Siska mengangguk lalu beranjak dari sofa di belakang
panggung. “Tunggu! Luna, kau berikan ini pada Greyson ya! Siska, bantu aku
mengangkut barang-barang ini,” lanjut Alexa memberikan handuk kecil kepada
Luna. Luna berjalan mendekati belakang panggung, menunggu Greyson turun.
Thank you so much, London! I love you! Good night! Ketika Luna
mendengarkan kalimat terakhir Greyson, Luna bangkit dari kursinya lalu
menghampiri Greyson.
“Nih,” Luna memberikan
sebotol air mineral kepada Greyson. “Terima kasih, Luna!” Greyson meminum minuman
yang diberikan Luna. Tubuh Greyson dibanjiri oleh keringat, dengan refleks Luna
mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya. “Eh—um---sorry,
Grey!” Luna terlihat salah tingkah lalu memberikan handuk kecil kepada Greyson.
“Hm---no prob, Luna,” Greyson membalasnya sambil tersenyum, walaupun sebenarnya
jantung Greyson berdetak sangat kencang. “Lun---umm---kita ke mobil yuk!
Mungkin yang lain sudah menunggu,” Greyson menarik tangan Luna.
***
@greysonchance Arrived. Paris with @Lunaaa and @siskaw !! I can’t wait
for my last concert tonight! See you, fans!
Paris adalah kota
terakhir yang Greyson kunjungi selama tour di Eropa. Terlihat ekspresi bahagia di wajah mereka,
terutama Luna. Ya, Luna memang pecinta Paris. Sudah lama dia ingin ke Paris.
“Grey, kau sengaja
ya mengadakan tour terakhirmu di kota favorit Luna?” Bisik Siska saat berjalan
menuju kamar hotel. Greyson mengangguk, lalu membisikan sesuatu kepada Siska.
Saat Luna melihat, Greyson dan Siska hanya tersenyum lebar. “Kalian
membicarakan apa?” Tanya Luna heran. “Kau mau tahu ya?” balas Greyson diikuti
dengan tawa manis Siska. “Suatu hari juga kau akan mengetahuinya, Luna,” lanjut
Siska. Luna hanya bisa tersenyum-----tersenyum dalam kecemburuan yang membakar
hatinya.
Sesampainya di
kamar, ternyata sudah ada Alexa dan Tanner. Greyson berlari lalu memeluk kedua
kakaknya seakan-akan mereka tidak pernah bertemu selama beberapa tahun. Tanner
lalu mendorong Greyson ke kasur dan menggelitik pinggang Greyson. Greyson
langsung teringat saat dia berumur 5 tahun, saat dia masih menetap di Oklahoma,
dan saat dia masih membawa angan-angan bahwa suatu saat nanti dia akan
berkeliling dunia.
***
“Hai, Paris!! Aku
senang sekali bisa kembali ke sini untuk menemui kalian semua! Tapi ada yang
berbeda pada kunjunganku hari ini. Aku membawa kedua sahabatku yang cantik dan
manis. Tunggu sebentar!” Greyson berlari ke belakang panggung dan menarik
lengan Siska dan Luna. Saat Greyson kembali ke atas panggung, semua
penggemarnya histeris saat Greyson membawa Siska dan Luna. Keduanya hanya bisa
tertawa melihat tingkah penggemar Greyson. “Halo, namaku Luna,” Luna
memperlihatkan keahliannya. “Namaku Siska! Salam kenal semua!” lanjut Siska.
“Kalian tahu? Luna sangat mencintai kalian! Luna sangat mencintai Paris!”
Greyson bercerita kenapa dia bisa kenal dengan Luna dan Siska.
Selama konser, Siska
dan Luna adalah ‘model’ dari setiap lagu yang dibawakan Greyson. Saat lagu Stranded, Luna dan Siska berdansa dengan
Greyson. Lagu Home Is In Your Eyes, Luna
dan Greyson duduk bersama di sebuah ayunan berhias bunga-bunga. Dan saat lagu Running Away, seperti biasa, butiran air
mata jatuh ke pipi Luna. Greyson menatap wajah Luna dengan jarak yang tidak
terlalu jauh, lalu menghapus air mata Luna. Setelah Greyson menghapus air
matanya, Greyson tak ragu-ragu untuk mencium bibir kecil Luna.
***
Pagi itu Alexa dan
Tanner berteriak agar Greyson bangun. Greyson mendesah lalu menutup wajahnya
dengan selimut. Tapi Alexa dan Tanner terus mencari cara agar adik kecilnya
bangun.
“Ayo, Grey! Bangun!
Katanya kau akan pergi berkeliling Paris!! Ayooo, ingat malam ini kita ke
menara Eiffel!” Alexa menarik selimutnya dan Tanner menarik tangan Greyson agak
beranjak dari kasur. “Iya, Alexa, Tanner! Cukup! Aku akan bangun, aku akan
mandi, aku akan berdandan!” Greyson berjalan ke kamar mandi dengan mata masih
tertutup. Tanpa disadari, Tanner diam-diam masuk terlebih dahulu ke kamar mandi
dari Greyson lalu mengubah suhu air menjadi sangat panas. Lalu kembali ke
tempat tidur tanpa suara. “AAAAAAAAAAAAAAA PANAS!!!” Mata Greyson melebar
saking kagetnya. “TANNER!!! ALEXA!!!!!!!!!!” teriaknya lagi. Tanner dan Alexa
hanya tertawa terbahak-bahak di depan televisi.
Greyson turun ke
lobby paling terakhir dari yang lainnya. Alexa dan Tanner sudah terlebih dahulu
turun agar tidak diomeli oleh Greyson. Siska dan Luna sedang asyik memainkan hp
masing-masing sambi tertawa.
“Hei, kalian! Ayo
kita berangkat!” Greyson menepuk pundak kedua sahabatnya. “Mom, Dad!” Greyson
berlari lalu mengecup pipi kedua orang tuanya. “Hei Alexa! Tanner! Kau sangat
kurang hajar tadi!!” Greyson memukul keduanya. Mom Lisa dan Dad Scott hanya
bisa tertawa melihat kelakuan ketiga anaknya yang saling menjahili.
“Hm---mobilnya sudah ada di depan! Ayo!” Ujar Siska yang menghampiri Greyson
bersama Luna. “Oh, tunggu apa lagi? Ayo! Eh, ada yang tertinggal?” Tanya
Greyson kepada kedua sahabatnya. Luna menggeleng, “tidak! Aku sudah membawa
kamera milik Siska dan laptopku! Lengkap!”
***
“Waaaaa, menara
Eiffel!!!” Luna berlari mendekati menara Eiffel, diikuti oleh Siska dan
Greyson. Luna langsung memotret dari segala sudut menara Eiffel. “Bagaimana
kalau aku yang memotretmu?” Greyson menjulurkan tangannya. Luna mengangguk
senang dan memberikan kameranya kepada Greyson.
“Siska, Luna, ini
untuk kalian!” Greyson memberikan es krim rasa blueberry cheescake kesukaan
Luna dan rasa strawberry favorit Siska. “Terima kasih, Grey!”, “Dimana Mom Lisa
dan Dad Scott? Dimana Alexa, Tanner?” Tanya Luna. “Mom sama Dad di restoran, Alexa dan Tanner----setahuku
mereka sedang mencoba kuliner pinggiran situ---itu dia!” Greyson menunjuk ke
arah Alexa dan Tanner sedang berjalan bersama.
Mereka sangat
menikmati es krim dengan pemandangan indah kota Paris malam itu. Banyak orang
yang memanfaatkan momen ini, termasuk Greyson dan kedua sahabatnya. Benar-benar
malam yang romantis! Mom Lisa dengan Dad Scott, Alexa dengan Tanner, Luna
dengan laptop novel romantis favoritnya, Greyson dengan headphone dan iPodnya,
Siska dengan permen karet dan kameranya.
“Aw, ada apa? Jangan
menyiku,” bisik Greyson kepada Siska. “Sekarang saja!” ujar Siska mengedipkan mata. Greyson mengangguk.
I wanna be holding your
hand, in the sand by the tire swing,
Were we use to be, Luna, you and me
I traveled thousand miles, just so I can see you smile
Feel so far away, when you cry, cause home is in your eyes♥
Jari-jari Greyson
memetik gitarnya dengan indah, suaranya membuat hati Luna menangis,
penghayatannya membuat orang-orang disekitarnya ikut merasakan suasana hatinya.
“Luna
Fills, aku tahu kau sangat mencintai menara Eiffel itu. Aku tahu kau sangat
mencintai kota Paris. Aku tahu kau selalu menjatuhkan butiran air mata saat kau
mendengar laguku. Tapi mereka semua tidak akan pernah mencintaimu seperti kamu
mencintai mereka. Apakah ada yang mencintaimu? Ada, Luna. Lihatlah orang di
depanmu, lihatlah seorang lelaki yang ada di depanmu. Ya, aku. Aku cinta
padamu, Luna,” Greyson menatap Luna dengan penuh cinta.
-Luna-
Dag....
Dig.... Dug....
Luna tak
percaya kalau Greyson Chance----seseorang yang ia cintai----sedang berada tepat
di depannya, sedang menyatakan cinta kepadanya, di hadapan menara Eiffel. Luna
tidak percaya Greyson memainkan gitar dengan sangat indah. Dia ingat, saat dia
mengajari Greyson bermain gitar, tangan Greyson terluka dan membuatnya sedikit
trauma terhadap gitar. Tapi sekarang, Greyson bernyanyi dengan petikan gitar.
Jari-jarinya dengan lincah memainkan gitar, walaupun tidak selincah saat
jari-jarinya menari diatas tuts
piano.
Luna
terdiam sejenak. Dia bingung apa yang harus dia katakan pada Greyson.
Ayo Luna, bilang “YA!” gumamnya dalam
hati. Tapi mulut Luna tidak bisa digerakkan. Seperti menunggu kata-kata tepat
yang dikatakan Greyson.
“Luna, mau
kah kau menjadi kekasihku, untuk hari ini, dan selamanya?” Greyson memegang
kedua tangan Luna. “Ya, Greyson. Aku mau," tanpa disadari mulut Luna
terbuka sendiri seperti telah menemukan kuncinya. Greyson lalu
mendekat----semakin mendekat, dan-----mencium bibir Luna.
KLIK..
Siska
memotret pada saat yang tepat. Luna menjauh dari Greyson , kaget. Dia pikir
tidak ada sahabatnya disana. Siska berlari menghampiri Luna lalu memeluknya.
Dengan malu-malu Luna membalas pelukan Siska. Malam yang awalnya dingin,
menjadi malam yang hangat. Mereka bertiga pun bermain dan bercanda tawa bersama
angin malam disekitar menara Eiffel.
***
21 tahun
kemudian..........
“Daddy!
Ini dimana? Aku ingin sekali pergi kesana!” ujar seorang bocah laki-laki
berambut coklat sambil menarik baju ayahnya. “Adhelm, Daddy sedang sibuk! Ayo
sini, main dengan Mommy!” Luna berdiri tepat di depan pintu mini studio milik
Greyson. “But, Mommy....aku ingin sekali ke menara itu! Aku ingin melihat
langsung tempat kalian menikah!” balas Adhelm. “Oke, enam bulan lagi Daddy ada
konser disana. Kau bisa ikut, boy!”
Greyson menggendong anak keduanya.
Ya,
Greyson dan Luna menikah 11 tahun yang lalu, di Paris, kota favorit Luna, tepat
dihadapan menara Eiffel, dimana Greyson menyatakan cintanya kepada Luna saat
keduanya berusia 15 tahun. Mereka dikaruniai dua orang anak. Anak pertama,
seorang gadis cantik bernama Paris Aethelburg Chance yang sekarang berusia 10
tahun. Greyson dan Luna menamainya Paris karena anak pertama mereka lahir di
kota Paris. Paris sangat mirip dengan Luna, terutama rambutnya yang berwarna
pirang panjang. Hanya saja Paris memiliki bentuk mata sama seperti Greyson, sleepy eyes. Anak keduanya bernama
Adhelm Bradley Chance, bocah laki-laki
yang masih berusia 5 tahun. Adhelm sangat mirip dengan Greyson saat
berumur 5 tahun.
Anak-anak
mereka mewarisi bakal di bidang musik dan menulis. Paris mewarisi suara emas
Greyson. Tak tanggung-tanggung, Greyson mengajak Paris berduet di setiap
konsernya dan membuatkan lagu dan album untuk Paris. Paris juga mewarisi bakat
menulis dari Luna. Dia mengeluarkan kurang lebih tiga novel dan menjadi bestseller di Amerika. Sedangkan Adhelm
mewarisi bakat dalam bermain alat musik. Setiap hari dia memukul drum yang ada
di dalam studio Greyson.
***
Greyson
telah selesai konser dan mengajak Paris dan Adhelm pergi ke menara Eiffel,
sesuai keinginan mereka. Saat Luna sedang membelikan es krim blueberry
cheesecake untuk Adhelm, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya.
“Luna! Apa
kabar?” ternyata itu Siska, sahabat Luna dan Greyson. “Hai, Siska! Baik!
Bagaimana denganmu? Greyson!” Luna memanggil Greyson yang sedang bermain dengan
Paris dan Adhelm. “Hai, Siska! Senang bertemu denganmu lagi! Apa kabar?”
Greyson menjabat tangan Siska. “Baik! Baik sekali! Charlie, Chandler! Ayo
sini!” Siska memanggil kedua anaknya yang sedang bermain bersama kupu-kupu.
“Namaku Paris,” Paris menyalami Siska sambil tersenyum manis. “Aku Adhelm.
Salam kenal,” Adhelm melambaikan tangan pada Siska. Siska tertawa lalu
memperkenalkan kedua anaknya.
“Charlie,
anak keduaku. Dan ini Chandler, anak ketigaku,” ujar Siska. “Loh, anak
pertamamu? Suamimu kemana?” Tanya Luna. “Anak pertamaku David, dia sedang
membantu George, suamiku yang bekerja sebagai fotografer. Aku hanya mengantar
Charlie dan Chandler kesini, karena mereka bosan berada di kantor George,”
jelas Siska. “Wah! Keren! Kau dan keluargamu semuanya fotografer,” Greyson
tertawa sambil memasukkan satu sendok es krim ke dalam mulut Adhelm. “Paris
juga mewarisi bakat menyanyimu, Grey! Dan kalau tidak salah dia berduet
denganmu ya saat konser tadi? Dan dia juga menulis tiga novel bestseller? Waw, it’s awesome! Dia
mewarisi bakat kedua orang tuanya,” Siska merangkul kedua anaknya.
“Daddy,
aku ingin foto dengan menara itu, seperti Daddy dan Mommy saat menikah!” Adhelm
mengelus wajah Greyson. “Wah, boleh! Ayo aku yang memotret, ya!
Satu..dua..tiga!”
***
Setelah
sekian tahun lost contact akibat
berbeda hobi dan profesi, akhirnya ketiga sahabat itu berkumpul kembali di kota
favorit mereka. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di rumah yang bersebelahan
di daerah Oklahoma, kampung halaman mereka.