23 Jun 2012

Ka(mu)lian yang Terbaik #2


-Greyson-

Greyson. Cowok ganteng, imut, berambut dan bermata coklat. Greyson adalah sahabat Cody sejak mereka bertemu di Amerika, saat mereka diputuskan untuk tour bersama di Amerika. Keduanya memutuskan untuk berkuliah di Inggris, walaupun mereka berkuliah di tempat berbeda. Karena Inggris adalah tempat teraman untuk ‘mengungsi’ dari paparazzi. Pagi itu, Greyson bersiap-siap untuk menjemput sahabatnya di bandara.

-Laras&Cody-

Laras dan Cody sampai di bandara Internasional di Inggris. Mereka baru pulang dari Indonesia. Ya, mereka telah bertunangan. Cody yang menginginkan semua ini, spesial untuk Laras. Lagipula,Laras sudah sering bertemu  orang tua Cody, jadi Cody menggunakan kesempatan ini untuk bertemu orang tua Laras. Laras merasa bahwa dia adalah salah satu orang yang beruntung di dunia ini, karena memiliki calon suami yang benar-benar baik dan perhatian.

“And last, is yours,” Cody menyerahkan koper milik Laras. Kemudian Laras menyimpannya di troli lalu melajukan trolinya. “Now, my friend has already promised to meet  me at the airport now,” kata Cody. “Okay! So, we got to meet him now. Maybe he’s been waiting,” ujar Laras mempercepat langkahnya. Cody mengangguk lalu membantu Laras mendorong trolinya.

-Greyson-

“Cody!!” Greyson berteriak memanggil Cody. “Greyson!” Cody mengarahkan trolinya ke arah Greyson. Laras mengikuti Cody dari arah belakang. “Hi, bro! How are you? Long time not see you!” kata Greyson memeluk Cody. “I’m fine. Greyson, she’s Laras. She’s my fianc,” Cody memperkenalkan Laras. Laras tersenyum pada Greyson. “Greyson. Greyson Chance,” Greyson membalas senyum Laras. “Oh guys, we have to go now! There’s someone waiting for us. It seems to talk about our concerts,” ujar Greyson melihat jam tangannya. Cody dan Laras mengangguk, lalu menarik kopernya.

She’s look different. Uh, Grey! What  do you think?! She belongs to Cody!!” gumam Greyson dalam hati. Ya, Greyson terpesona pada Laras. Pada pandangan pertama. Tapi Greyson tahu, Laras milik Cody. Bahkan mereka telah bertunangan. “Greyson, are you okay?” tanya Cody membuyarkan lamunan Greyson. “I’m okay Cody,” ujar Greyson tersenyum. “Are you---”, “Laras, I’m fine! I’m just tired,” Greyson memotong pembicaraan Laras. “Oh. Uhm, it’s okay!” balas Laras sambil tersenyum.

Selama di perjalanan, Greyson dan Cody mulai membicarakan konsep untuk konser mereka nanti. Laras hanya bisa memperhatikan mereka sambil mendengarkan lagu dari Ipodnya. Karena Laras tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, Laras memutuskan  untuk tidur. Greyson yang menyadarinya langsung melihat ke arah Laras lalu tersenyum kecil. “Grey,” panggil Cody. “Laras. She’s sleeping,” ujar Greyson kepada Cody. Greyson melihat senyum yang menghiasi wajah Cody. Belum pernah Greyson melihat Cody tersenyum sebahagia ini. “Mungkin aku harus mengalah,” gumam Greyson dalam hati sambil tersenyum. Air matanya sudah menggenang di matanya. Tapi Greyson tak membiarkan air mata itu jatuh di depan sahabatnya.
***
Pagi ini, Laras, Cody, dan Greyson sudah tiba di bandara untuk pergi ke Korea sebagai negara yang mereka kunjungi ketiga setelah Taiwan dan Indonesia. Laras sangat suka dengan Korea! Oleh sebab itu, Cody memutuskan untuk lebih lama berdiam di Korea, dan Greyson menyetujuinya.

“Laras, come on!” ujar Cody setelah mendengar pengumuman. Laras menyelendangkan tas kecilnya lalu menggandeng tangab Cody. “Greyson, let’s go!” kata Laras yang melihat Greyson masih terdiam di tempat duduknya sambil menatap layar handphonenya. “Grey, are you okay?” Cody menghampiri Greyson. “Uhm, I’m okay, Coco!” Greyson langsung menyembunyikan handphonenya. Cody dan Laras langsung mengkerutkan keningnya. “Let’s go, guys!” Greyson menarik tangan Cody lalu berlari kencang menuju pesawat.

Selama perjalanan dari Taiwan menuju Korea yang memakan waktu kurang lebih 2 jam, Laras tertidur dibahu Cody dengan earphone di telinganya. Cody dan Greyson berbincang sambil meminum segelas kopi yang baru saja diberi oleh pramugari. Ketika Greyson berdiri untuk mengambil barang ditasnya, Greyson tak sengaja melihat Laras yang tertidur. “She’s beautiful,” gumam Greyson dalam hati. Kemudian matanya kembali tertuju kepada tas miliknya.

Tak terasa mereka akhirnya tiba di Korea. Laras yang masih mengantuk tidak bisa melepaskan tangan Cody dan tidak bisa menyandarkan kepalanya ke bahu Cody. “Annyeong! Welcome to South Korea, Cody, Greyson!” sapa salah satu fans---lucky fans mereka yang menyambut tepat di pintu keluar pesawat. “Thank you---what’s your name?” tanya Greyson sambil menjabat tangan gadis itu. “My name is Chung Ae,” balas gadis Korea itu sambil tersenyum. “And, what’s your name?” tanya Chung Ae kepada Laras. “Oh, uhm, Laras. Nice to meet you, Chung Ae,” jawab Laras sambil tersenyum sambil membetulkan poninya yang hampir menutup mata kirinya.

Chung Ae mengajak Greyson, Cody, dan Laras untuk segera mengambil koper-koper mereka lalu keluar bandara. Mereka mengikuti langkah Chung Ae. Laras tampak lebih bersemangat, lalu menghampiri Chung Ae yang berjalan didepannya. Mereka asyik berbincang dengan bahasa Korea, membuat Cody dan Greyson mengkerutkan keningnya. “Laras can speak in Korean, Cody?” Greyson mengalihkan pandangannya dari Blackberrynya. Cody menggelengkan kepalanya. Cody selama ini tidak tahu bahwa Laras sangat mencintai Korea, sampai-sampai fasih berbahasa Korea. Cody dan Greyson lalu tertawa, dan Laras kemudian menatap keduanya dengan tajam.

The-Boy-Who-Are-Destined had been Born


Texas, 16 Agustus 1997

Pagi itu, suasana peperangan antar penyihir masih terasa, bahkan sampai ke dunia muggle. Scott sebagai kepala keluarga berusaha menyelamatkan istri, kedua anaknya, dan seorang calon anak yang sebentar lagi akan menghirup udara di dunia untuk yang pertama kalinya.

“Dad, ada apa ini? Kenapa kita harus kabur dari rumah? Lihat, Mom sudah kesakitan,” ujar Tanner. Alexa, adik Tanner yang masih berusia 3 tahun, hanya bisa terdiam disebelah mamanya yang merintuh kesakitan. “Sekarang kita akan mengantar Mom ke rumah sakit, Tanner,” ujar Scott berbohong.

Sebenarnya Scott tidak berbohong. Dia memang akan membawa istrinya, Lisa, ke rumah sakit muggle untuk melahirkan. Tapi, dia juga harus berhati-hati terhadap serangan dari dunia sihir. Scott tidak bisa memberitahu anaknya tentang sihir terlebih dahulu, khawatir anak-anaknya menyalahgunakan sihir itu.

Scott menyuruh Alexa dan Tanner masuk ke mobil, sementara dirinya menggotong Lisa yang sebentar lagi akan melahirkan. Setelah semuanya telah berada di dalam mobil, Scott mulai melajukan mobilnya dengan kencang dan sangat hati-hati. Scott menghindari sejumlah penyihir yang berperang di dunia muggle.
***
London, 20 Juli 2006

“Dad, ada burung hantu di ruang tamu!!” Greyson kecil berlari ke arah Scott dengan sedikit ketakutan. “Kenapa, Grey? Apa kau takut?” tanya Scott mengelus. Greyson menganggukan kepalanya. “Hahaha, ngapain kau takut? Nanti kau perlu burung hantu suatu hari nanti,” kemudian Scott menggendong putra kecilnya dan berjalan menuju ruang tamu untuk menghampiri burung hantu miliknya.

Greyson ketakutan saat ayahnya mengambil surat dari paruh burung tersebut. “Apa itu, Dad?” tanya Greyson. “Ini? Surat untuk Alexa. Sama seperti Tanner empat tahun lalu. Mungkin kau tidak ingat ya, hahaha,” Scott menurunkan Greyson dari pangkuannya kemudian duduk di sofa terdekat. 

Terdengar suara langkah kaki yang cepat. Alexa berlari menuju Scott lalu memeluknya dari belakang. “Dad, itu apa?” tanya Alexa. “Surat untukmu, Alexa. Dari Hogwarts,” jawab Scott memberikan suratnya kepada Alexa. “Hogwarts?! Oh, Dad, benarkan?! Akhirnya aku bisa sekolah disitu!!!!” Alexa melompat kegirangan. Greyson yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa terdiam.

“Mungkin besok kita akan ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan untukmu dan Tanner---” “But, Dad, bagaimana denganku? Tempat apa itu?” tanya Greyson memotong pembicaraan ayahnya. “Kau? Untukmu masih tiga tahun lagi. Tapi Dad akan mengajakmu juga ke Diagon Alley,” Scott tersenyum. “DAD!! Kau tidak adil! Kau membiarkan Greyson dan Alexa tahu tentang sihir sejak kecil, sedangkan aku tidak boleh mengetahuinnya sampai surat itu tiba!” ujar Tanner yang masuk ke ruang tamu dengan tiba-tiba. “Kata siapa?! Aku baru mengetahui sihir sejak kau baru pulang dari Hogwarts pada tahun pertamamu!” Alexa memprotes kepada Tanner. “Dan itu empat tahun yang lalu, Alexa!” Tanner membuang muka. Dad Scott tertawa.

“Dad tidak pilih kasih. Dad melakukan ini semua juga demi kebaikan kalian. Kalau kau, Tanner..” Lisa mencubit pelan hidung Tanner, “kalau kau tidak aku perlakukan seperti tujuh tahun lalu, sepertinya kau dan adik-adikmu akan membuat ulah,” lanjutnya. Tanner dan Alexa terdiam, lalu mengangguk tanda mengerti. “Mengerti apa yang Mom bicarakan?” tanya Scott. “Mengerti, Dad,” jawab Tanner dan Alexa bersamaan. Kemudian Scott bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar tidurnya.

“Sekarang, kalian bersiaplah untuk makan siang tanpa ayah kalian. Dia sedang beristirahat, tidak bisa diganggu,” ujar Lisa sambil memasukkan makan siangnya ke piring. “Masak apa, Mom?” tanya Greyson yang heran melihat warna kuning dengan ukuran kecil keluar dari panci. “Kita makan makaroni keju leleh ya!” Lisa memberikan piring untuk Tanner dan Greyson, lalu mengambil dua piring  lagi untuk dirinya dan Alexa.
***
“Anak-anak, ayo bangun! Hari ini kita akan membeli perlengkapan ke Diagon Alley!” Lisa menepuk pinggul ketiga anaknya dengan perlahan. “Mom, berilah waktu sedikit! Aku masih mengantuk,” ujar Greyson dengan mata masih tertutup. “Ayolah, bukankah kau ingin pergi kesana, Grey?” tanya Lisa sambil menggelitik pinggang Greyson. Greyson terbangun sambil tertawa geli lalu memeluk mamanya. “Aku mau mandi!” celetuk Greyson.

Setelah semua sudah siap, Scott mengajak Lisa dan ketiga anaknya ke depan perapian di rumahnya. “Dad, apa-apaan ini? Katanya kau akan mengajakku ke Die-a-gun a-li!” ujar Greyson sambil berkacak pinggang. “Die-a-gun a-li? Diagon Alley maksudmu?” Lisa mengkerutkan keningnya. “Ya, terserah! Tempat itu maksudku! Kenapa kita ke perapian?” tanya Greyson. “Karena ini jalan menuju Diagon Alley, adikku sayaaang,” kata Tanner tertawa. “Tapi---”, “Sudah, kita berangkat sekarang. Dad sudah ada janji disana,” Greyson cemberut karena pembicaraannya dipotong oleh Scott.

Dad membuka sebuah pintu kecil yang ada di dalam perapian tersebut. Tanner masuk ke pintu paling awal dari yang lainnya, diikuti Alexa, Lisa, Greyson , lalu Scott. Greyson melihat sekelilingnya. Tidak terlihat seperti pertokoan. “Dad, ini Die---Diagon Alley. Yeah, Diagon Alley! Aku bisa, Dad! Diagon Alley! Yeeaaa! Ini terlihat seperti rumah,” Greyson melompat kegirangan.

“Ayo kita keluar!” Scott menggandeng tangan kecil Greyson lalu mengajaknya keluar. “Waw, Dad! It’s amazing! Tapi, dimana Mom, Alexa, dan Tanner?” Greyson kembali melihat sekeliling. “Mungkin di Potage’s Cauldron Shop,” jawab Dad yang memang melihat mereka dari luar. “Tempat apa itu, Dad?” tanya Greyson lago. “Kau akan tahu suatu hari nanti, Grey! Oh, come on, Mom dan kakak-kakakmu sudah menunggu kita,” Scott mempercepat langkahnya kemudian memasuki “Potage’s Cauldron Shop”.
***
1 September 2006
10.00 am

Greyson telah sampai di Stasiun kereta api King Cross. Dia melihat kedua kakaknya membawa koper besar dan burung hantu peliharaan keduanya. Greyson heran, kenapa orang-orang yang berlalu lalang jarang yang membawa troli seperti kedua kakaknya. “Mungkin aku akan tahu tiga tahun lagi,” pikirnya.

Greyson dan keluarganya berhenti di peron 9 dan 10. “Tanner, kau duluan,” ujar Scott. Lalu Tanner berlari ke arah tembok itu, dan---menghilang?! Untuk apa?” tanya Greyson dalam hati. “Oke, Alexa! Kau bersamaku. Pegang erat-erat trolimu,” ujar Lisa, lalu berlari ke tempat Tanner tadi menghilang bersama Alexa. “Are you ready, boy?!” tanya Scott sambil meletakkan tangannya di bahu Greyson. “Yeah, I’m ready!” jawab Greyson dengan semangat, ragu, dan penasaran. Mereka pun berlari ke arah yang sama seperti mama dan kedua kakaknya.

Greyson memejamkan kedua matanya. Hey---dia tidak merasakan apa-apa! “Menyenangkan!” pekiknya. Scott yang melihat hanya tertawa kecil. Greyson mendecak kagum. Kereta kuno yang bertulisan “HOGWARTS EXPRESS”, sudah siap membawa para penyihir menuju sekolahnya. “Lisa!” Scott memanggil istrinya yang sedang berdiri dihadapan Alexa. “Dimana Tanner?” tanya Greyson. “Dia sudah masuk kereta,” jawab Alexa tersenyum. “Ready?” tanya Scott. Alexa mengangguk lalu mencium pipi kedua orang tuanya dan Greyson, kemudian masuk ke kereta.

Tutt... tuutttt...

Kereta kuno itu segera berangkat. Alexa dan Tanner melambaikan tangan ke arah keluarganya dari tempat duduk yang sama. “Bye Tanner! Bye Alexa!” Greyson berteriak sambil melambaikan tangannya. “Oke, Grey! We must to go now,” ujar Lisa merangkul Greyson. “Yap! Ah, ternyata dunia sihir sangat menyenangkan! Aku tidak sabar tiga tahun lagi!” kata Greyson tersenyum lebar.

(to be continued)