Oktober 2010
Namaku Lily.
Sekarang duduk di kelas 8 di Sekolah Menengah Pertama favorit di Bandung. Sebut
saja SMP Hilton. Aku sudah bersekolah selama 3 bulan di sekolah itu. Ya, aku
murid baru di sekolah itu. Walaupun begitu, aku sudah merasa cukup nyaman untuk
bersosialisasi dan belajar.
Aku lupa kapan
hal itu terjadi. Pagi itu aku merasa gugup. Aku akan pergi ke sekolah bersama seseorang
yang sama sekali belum aku kenal. Bahkan aku tidak tahu bagaimana rupanya. Aku hanya
mengenal adiknya, karena adiknya satu sekolah denganku saat aku masih Sekolah
Dasar.
Tak lama
kemudian, mobil orang yang ku maksud itu datang. Aku pun keluar mobilku sambil
membawa tas, dan langsung menuju mobil orang itu. Aku pun berpamitan dengan
ibuku sebelum aku naik ke mobil. Ternyata orang yang ku maksud itu adalah
seorang laki-laki yang seumuran denganku. Sebut saja namanya James. Memang
setiap pagi James selalu diantar oleh ayahnya. Karena kantor ayahnya searah
dengan sekolahku, ayah James mengajakku untuk pergi ke sekolah bersama. Mungkin
karena ibuku dan ibu James sudah saling kenal dekat, dan begitu juga dengan
adikku dan adik James.
Ku kira James
dan aku sekolah di sekolah yang sama. Ternyata James bersekolah di SMP Bintang.
Sesampinya di SMP Bintang, James pun turun. Aku terkejut! James sangat tinggi
untuk anak berumur 13 tahun. Tapi aku mengerti, dia adalah atlet basket di
sekolahnya.
Akhirnya
tiba juga di sekolahku. Karena hari ini hari pertama aku berangkat ke sekolah
bersama, aku mengucapkan terima kasih dan salam. Aku pun turun dari mobil dan
langsung masuk ke sekolahku.
Februari
2011
“Horeee selamat ya udah bisa lupain yang lama
hahaha!”
Kalimat
itulah yang aku dengar sejak tanggal 13 Februari. Ya, aku mulai bisa
melupakan----ya sebut saja kecengan hehehe. Tapi tidak lama dari situ, aku
mulai menyimpan rasa dengan seorang lelaki yang selama ini sering bersamaku. Ya,
James. Menurutku, James sangat berbeda dengan yang lain. Dia orangnya unik. Tidak
bisa dijelaskan dengan apapun. Sejak itu aku tahu, kalau James adalah kapten
basket di sekolahnya.
Tapi,
aku sama sekali tidak memiliki harapan. Selama ini, aku tidak pernah berbicara
dengannya. Lagipula James sudah mempunyai kekasih. Cantik, pintar menyanyi,
pintar berbahasa Inggris. Sangat cocok dengan James. Dia bernama Hermione. Setiap
pulang sekolah, mereka selalu bernyanyi bersama. Sungguh manis kisah cinta
mereka. Aku hanya bisa menunggu. Aku hanya bisa tersenyum dalam kepedihan.
Mei 2011
19 Mei 2011. Tepat
sehari sebelum James ulang tahun. Teman-temanku menyuruhku untuk memberi hadiah
kepada James. Aku bingung akan memberinya apa. Lagipula, aku malu. Aku tidak
mempunyai keberanian untuk ini. Akhirnya ku putuskan tidak akan memberinya
hadiah ulang tahun.
20 Mei 2011.
Hari ini James ulang tahun. Dan ternyata ayah James juga berulang tahun. Aku
malu untuk mengucapkannya. Mungkin James akan bertanya, darimana aku tahu ulang
tahun dia. Aku putuskan untuk berpura-pura tidak tahu akan hal ini.
“Kenapa gak ngucapin aja? Padahal kalau
ngucapin, entar ayahnya nilai kamu tuh baik, bla bla bla.”
“Aku gak berani. Ah, bodo amat deh! Entar aku ngucapin lewat facebook aja.”
Juni 2011
“Teh, kakak aku udah putus loh!”
Adik
James lah yang memberitahuku kalau James sudah putus dari Hermione. Ah aku
senang mendengarnya! Aku berpikir, ada kesempatan untuk kali ini. Aku pun
memberitahu teman dekatku. Dengan antusias mereka berpikiran yang sama
sepertiku.
“Eh ada kesempatan loh ini! Ajak ngobrol ya
besok! Harus! Keburu disambet orang lain.
Hahaha”
Tak
jauh dari situ, aku melihat James menulis tweet:
“Tadi liat kamu disana lagi! Wah kau buatku
jadi gila:)))”
“Apa itu aku? Tapi aku tadi gak lewat sana. Terus
siapa dong?”
Sejak melihat James berkata
begitu, aku menjadi tidak bersemangat setiap pergi bersamanya. Tapi setelah aku
pikir-pikir, James belum memiliki gadis yang dimaksud itu. Mungkin aku bisa
menarik perhatiannya.
Tapi
nyatanya, aku tidak berani berbuat apa-apa. Aku hanya duduk terdiam. Sendiri. Hanya
ditemani lagu-lagu yang diputarkan di radio. Ditemani oleh gurauan James dan
ayahnya. Aku seperti tidak ada disini. Aku seakan mesin mobil yang menemani
mereka kemana saja mereka mau.
Juli 2011
Tanggal
2 Juli. Ya, James kini telah memiliki gadis yang telah membuat James menjadi
gila. Gadis itu bernama Ginny. Aku terkejut ketika mengetahui sekolah Ginny
merupakan tetangga sebelah SMP Hilton. Dan yang lebih terkejutnya lagi, Ginny
merupakan sahabat dari salah satu teman sekelasku. Kini semua harapan kembali
hilang. Aku hanya bisa menunggu. Lagi.
Oktober 2011
Aku
tidak menyangka. James dan Ginny masih bertahan hingga hari ini. Aku menjadi
tidak mempunyai semangat pagi sejak James bersama Ginny. Untungnya masih ada
teman-teman yang selalu menghiburku.
“Tenang aja, masih SMP gini. Masih ada kemungkinan
buat putus! Jangan sedih Lily!!”
30
Oktober 2011. Pagi ini aku senang-----sekaligus sedih. Pagi ini adalah pagi
terakhir aku pergi ke sekolah bersama James. Senang? Karena aku ada kesempatan
untuk bisa melepas James dari pikiranku. Sedih? Bagaimana tidak? Sudah satu
tahun aku pergi bersamanya. Tapi sampai saat ini aku dan James belum pernah
berbincang-bincang satu kalimat pun.
Aku
ingin memperpanjang waktu bersamanya. Aku ingin mengubah sifatku yang bisa
dibilang jaim. Aku ingin mengenal James secara dekat. Tapi tidak bisa.
Desember 2011
Aku pikir,
jika aku sudah tidak pergi bersamanya, aku bisa melupakannya. Tapi nyatanya?
Aku hanya bisa menghapus sedikit kenangan bersamanya. Aku sekarang menyesal. Mengapa
dulu aku tidak mengajaknya berbincang-bincang? Mengapa dulu aku tidak
mengajaknya bercanda? Memang penyesalan itu selalu datang terakhir.
Kini dihatiku
ada lelaki lain. Selain James. Ronald. Iya, Ronald. Lelaki unik di SMA Hilton.
James harus berbagi tempat dengan Ronald.
Ya meskipun
masih harapan.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar