26 Des 2011

Diary Lily


Oktober 2010

Namaku Lily. Sekarang duduk di kelas 8 di Sekolah Menengah Pertama favorit di Bandung. Sebut saja SMP Hilton. Aku sudah bersekolah selama 3 bulan di sekolah itu. Ya, aku murid baru di sekolah itu. Walaupun begitu, aku sudah merasa cukup nyaman untuk bersosialisasi dan belajar.

Aku lupa kapan hal itu terjadi. Pagi itu aku merasa gugup. Aku akan pergi ke sekolah bersama seseorang yang sama sekali belum aku kenal. Bahkan aku tidak tahu bagaimana rupanya. Aku hanya mengenal adiknya, karena adiknya satu sekolah denganku saat aku masih Sekolah Dasar.

Tak lama kemudian, mobil orang yang ku maksud itu datang. Aku pun keluar mobilku sambil membawa tas, dan langsung menuju mobil orang itu. Aku pun berpamitan dengan ibuku sebelum aku naik ke mobil. Ternyata orang yang ku maksud itu adalah seorang laki-laki yang seumuran denganku. Sebut saja namanya James. Memang setiap pagi James selalu diantar oleh ayahnya. Karena kantor ayahnya searah dengan sekolahku, ayah James mengajakku untuk pergi ke sekolah bersama. Mungkin karena ibuku dan ibu James sudah saling kenal dekat, dan begitu juga dengan adikku dan adik James.

Ku kira James dan aku sekolah di sekolah yang sama. Ternyata James bersekolah di SMP Bintang. Sesampinya di SMP Bintang, James pun turun. Aku terkejut! James sangat tinggi untuk anak berumur 13 tahun. Tapi aku mengerti, dia adalah atlet basket di sekolahnya.

Akhirnya tiba juga di sekolahku. Karena hari ini hari pertama aku berangkat ke sekolah bersama, aku mengucapkan terima kasih dan salam. Aku pun turun dari mobil dan langsung masuk ke sekolahku.
                Februari 2011

                Horeee selamat ya udah bisa lupain yang lama hahaha!

                Kalimat itulah yang aku dengar sejak tanggal 13 Februari. Ya, aku mulai bisa melupakan----ya sebut saja kecengan hehehe. Tapi tidak lama dari situ, aku mulai menyimpan rasa dengan seorang lelaki yang selama ini sering bersamaku. Ya, James. Menurutku, James sangat berbeda dengan yang lain. Dia orangnya unik. Tidak bisa dijelaskan dengan apapun. Sejak itu aku tahu, kalau James adalah kapten basket di sekolahnya.

Tapi, aku sama sekali tidak memiliki harapan. Selama ini, aku tidak pernah berbicara dengannya. Lagipula James sudah mempunyai kekasih. Cantik, pintar menyanyi, pintar berbahasa Inggris. Sangat cocok dengan James. Dia bernama Hermione. Setiap pulang sekolah, mereka selalu bernyanyi bersama. Sungguh manis kisah cinta mereka. Aku hanya bisa menunggu. Aku hanya bisa tersenyum dalam kepedihan.
Mei 2011

19 Mei 2011. Tepat sehari sebelum James ulang tahun. Teman-temanku menyuruhku untuk memberi hadiah kepada James. Aku bingung akan memberinya apa. Lagipula, aku malu. Aku tidak mempunyai keberanian untuk ini. Akhirnya ku putuskan tidak akan memberinya hadiah ulang tahun.
20 Mei 2011. Hari ini James ulang tahun. Dan ternyata ayah James juga berulang tahun. Aku malu untuk mengucapkannya. Mungkin James akan bertanya, darimana aku tahu ulang tahun dia. Aku putuskan untuk berpura-pura tidak tahu akan hal ini.

Kenapa gak ngucapin aja? Padahal kalau ngucapin, entar ayahnya nilai kamu tuh baik, bla bla bla.
Aku gak berani. Ah, bodo amat deh! Entar aku ngucapin lewat facebook aja.”


 Juni 2011

Teh, kakak aku udah putus loh!


                Adik James lah yang memberitahuku kalau James sudah putus dari Hermione. Ah aku senang mendengarnya! Aku berpikir, ada kesempatan untuk kali ini. Aku pun memberitahu teman dekatku. Dengan antusias mereka berpikiran yang sama sepertiku.

                Eh ada kesempatan loh ini! Ajak ngobrol ya besok! Harus! Keburu disambet orang lain. 
                Hahaha

                Tak jauh dari situ, aku melihat James menulis tweet:

                Tadi liat kamu disana lagi! Wah kau buatku jadi gila:)))
                Apa itu aku? Tapi aku tadi gak lewat sana. Terus siapa dong?

                Sejak melihat James berkata begitu, aku menjadi tidak bersemangat setiap pergi bersamanya. Tapi setelah aku pikir-pikir, James belum memiliki gadis yang dimaksud itu. Mungkin aku bisa menarik perhatiannya.

Tapi nyatanya, aku tidak berani berbuat apa-apa. Aku hanya duduk terdiam. Sendiri. Hanya ditemani lagu-lagu yang diputarkan di radio. Ditemani oleh gurauan James dan ayahnya. Aku seperti tidak ada disini. Aku seakan mesin mobil yang menemani mereka kemana saja mereka mau.
Juli 2011

Tanggal 2 Juli. Ya, James kini telah memiliki gadis yang telah membuat James menjadi gila. Gadis itu bernama Ginny. Aku terkejut ketika mengetahui sekolah Ginny merupakan tetangga sebelah SMP Hilton. Dan yang lebih terkejutnya lagi, Ginny merupakan sahabat dari salah satu teman sekelasku. Kini semua harapan kembali hilang. Aku hanya bisa menunggu. Lagi.
Oktober 2011
            
    Aku tidak menyangka. James dan Ginny masih bertahan hingga hari ini. Aku menjadi tidak mempunyai semangat pagi sejak James bersama Ginny. Untungnya masih ada teman-teman yang selalu menghiburku.

Tenang aja, masih SMP gini. Masih ada kemungkinan buat putus! Jangan sedih Lily!!
            
    30 Oktober 2011. Pagi ini aku senang-----sekaligus sedih. Pagi ini adalah pagi terakhir aku pergi ke sekolah bersama James. Senang? Karena aku ada kesempatan untuk bisa melepas James dari pikiranku. Sedih? Bagaimana tidak? Sudah satu tahun aku pergi bersamanya. Tapi sampai saat ini aku dan James belum pernah berbincang-bincang satu kalimat pun.

Aku ingin memperpanjang waktu bersamanya. Aku ingin mengubah sifatku yang bisa dibilang jaim. Aku ingin mengenal James secara dekat. Tapi tidak bisa.
Desember 2011

Aku pikir, jika aku sudah tidak pergi bersamanya, aku bisa melupakannya. Tapi nyatanya? Aku hanya bisa menghapus sedikit kenangan bersamanya. Aku sekarang menyesal. Mengapa dulu aku tidak mengajaknya berbincang-bincang? Mengapa dulu aku tidak mengajaknya bercanda? Memang penyesalan itu selalu datang terakhir.

Kini dihatiku ada lelaki lain. Selain James. Ronald. Iya, Ronald. Lelaki unik di SMA Hilton. James harus berbagi tempat dengan Ronald.

Ya meskipun masih harapan.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar