30 Des 2011

Happy Birthday Lord Voldemort

Lord Voldemort, pimpinan pelahap maut
Harry Potter and the Deathly Hallows part 1
Lord Voldemort adalah seorang tokoh ciptaan JK Rowling dalam novel Harry Potter. Voldemort digambarkan sebagai tokoh yang sangat jahat, kejam, licik, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Terlahir dengan nama Tom Marvolo Riddle, Voldemort dikenal sebagai salah satu siswa Hogwartssihir dan ditakuti oleh nyaris seluruh penyihir hingga titik dimana rakyat sihir takut untuk menyebut namanya. Sehingga, Voldemort kerap disebut sebagai "Kau-Tahu-Siapa", "Pangeran Kegelapan", atau "Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut". Pada Harry Potter dan Relikui Kematian, radio pemberontak "Pantauan Potter" (Potterwatch), menyebutnya sebagai "Pemimpin Pelahap Maut". yang paling cemerlang di masanya. Tidak heran, ia sangat hebat dalam sihir dan ditakuti oleh nyaris seluruh penyihir hingga titik dimana rakyat sihir takut untuk menyebut namanya. Sehingga, Voldemort kerap disebut sebagai "Kau-Tahu-Siapa", "Pangeran Kegelapan", atau "Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut". Pada Harry Potter dan Relikui Kematian, radio pemberontak "Pantauan Potter" (Potterwatch), menyebutnya sebagai "Pemimpin Pelahap Maut".

Kata Voldemort sendiri berasal dari anagram nama "Tom Marvolo Riddle" yaitu "I Am Lord Voldemort". Cerita perubahan Voldemort dari Tom Marvolo Riddle menjadi Lord Voldemort merupakan sebuah kisah psikologis menarik dari JK Rowling. Tom Marvolo Riddle(Voldemort) dilahirkan pada tanggal 31 Desember 1926 di sebuah panti asuhan di London.

 Tom Marvolo Riddle kecil
Harry Potter and the Half Blood Prince

 Tom Marvolo Riddle remaja
Harry Potter and the Chamber of Secrets
Harry Potter and the Half Blood Prince

 Harry Potter vs Lord Voldemort
Harry Potter and the Deathly Hallows part 2

 Voldemort dari masa ke masa

 Saat Voldemort bangkit kembali
Harry Potter and the Goblet of Fire

Me and Paris


Paris, nama Kota kesukaan Evelyna Raudya saat ini. Saking cintanya dia dengan kota cinta ini, dia selalu meluangkan hari liburnya untuk pergi berlibur ke kota Paris, yang kebetulan Diana, teman lamanya tinggal disana.

“Maa ayo kita berangkat, bisa bisa kita ditinggal pesawat!” Celetuk Evelyna di pagi yang hawanya cukup dingin.
“Iya Eve, tunggu sebentar, mama lagi tulis pesan untuk papa agar segera terbang ke sana kalau papa sudah pulang” Balas mama.

Pagi ini Eve dan mamanya memang sengaja untuk berlibur ke kota “kesayangan” mereka, tentu saja Paris. Eve dan mamanya berangkat ke bandara dengan diantar oleh supir mereka, pak Atmo.

“Ayo paaaaak! Ngebuuuut dooong kaya pembalap, kan sekali kali hehehe.” Eve sudah tidak sabar untuk menginjakan kakinya ke kota kesayangannya itu untuk pertama kalinya selama 6 bulan terakhir.
“Sabar sayaaang, kita kan gamungkin menerobos kemacetan ini, lagipula pesawatnya juga take off jam 10 kok!” Timpal mama Eve yang saat ini sedang berdandan.

Eve tertawa geli saat dia mengintip mamanya yang sedang berdandan lewat kaca spion depan.

“Baikalah, mah. Hehe” Balas Eve

6 jam pun telah berlalu dan----AKHIRNYA, PARIS!!!” kata Eve dalam hati, kini dia bisa ber-“kangen kangenan” sama Diana teman lamanya itu dan----selain itu dia juga bisa meminta Diana untuk memperkenalkan dia kepada teman temannya di Paris! “aku harap sih bisa berkenalan dengan cowo yang baik hati! Hihihi ngomong apasih aku” Batin Eve lagi.

Sesampainya Eve dirumah (di Paris), Eve langsung berganti pakaian dan pergi keluar rumah, alasannya ke mamanya sih untuk mencari udara segar karena lama di pesawat. 

Karena rumah “keduannya” Itu dekat dengan lokasi menara Eiffel, dia memutuskan untuk pergi ke menara itu dengan menggunakan sepeda.

“AAAAAA!” Tteriak Eve nyaring.

Sepeda Eve menabrak seorang pria berwajah kalem bersweater merah yang baru saja keluar dari sebuah toko yang ternyata toko buku, pantas saja dia membawa sebuah buku yang kini sudah rusak terlindas sepeda Eve.

Hey! Comment allez-vous? Si vous voulez passer, regardez voir! Mon livre est aujourd'huidétruite!” Kata pria itu mengomel pada Eve.

Eve sendiri tidak mengerti ucapan pria itu. Walaupun dia sangat menyukai Kota ini, belum tentu dia bisa berbahasa Prancis.

“Itu bahasa yang rumit!” Kata Eve.
“Uhm I’m sorry, I don’t speak France, can you speak English?” Lanjut Eve pada pria itu.
“Oh, you’re a tourist, aren’t you?”
“Yes, I am, I’m so sorry about this, I don't mean it to crash you when you’re out of the building, I’m soooo sorryyyyy! Please forgive me!” Pinta Eve.

Tapi kelihatannya cowok itu santai santai saja, dia sepertinya tidak marah pada Eve, dia merasa wajah gadis ini tidak asing baginya---sangat familiar.

“It’s okay it’s okay don’t worry about it” Balas cowok itu.
“What’s your name ?” Tambah cowok itu dengan muka terheran heran.
“My name is Evelyna Raudya, you can call me Eve, and you ?”
“Evelyna Raudya? Hm” Lelaki ini terdiam dan terlihat bahwa dia sedang berfikir, “Oh, my name is Robby, nice to meet you. Sorry I have to go, bye!”
“Okay, bye!”

Eve berpikir, “mengapa cowok itu menanyakan namaku? Untuk apa sebenarnya? Dia kan tidak kenal aku, lalu----yasudahlah

Eve pun sampai di menara Eiffel, dia sudah sangat lama tidak mengunjungi menara ini dan langsung ia menaiki menara itu.

Saat Eve sedang berjalan naik ke tingkar kedua Eiffel, dia tertubruk oleh seorang cewe yang berlari kencang, dan menjatuhkan Ice creamnya yang dibeli tadi sebelum berjalan naik.

Eve melihat kebawah, Ice creamnya terjatuh! Dan teryata, Ice creamnya jatuh tepat mengenain kepala seorang cowo yang saat ini berteriak teriak kepada Eve untuk turun, ya sepertinya cowo itu marah padanya.

huh! Salah apasih aku! Baru sehari di Paris aja sudah banyak masalah gini! Siaaaaaal!” Kata Eve dalam hati sambil menuruni Eiffel.

*percakapan menggunakan bahasa inggris*

“Hey kamu galiat liat apa ? liat nih kepala aku jadi manis gini kan !”
“Maaaaf! Maaf bangeeeet tadi aku kedorong sama orang lain, akhirnya ice creamnya jatuh ke kamu, lagipula kamunya yang salah, berdiri ditempat ice cream aku jatuh!”
“Ya Tuhan kenapa aku dipertemukan sama cewek kaya gini, apa salah aku? Ampuuun!” Balas cowo itu sambil mengejek Eve.
Eve yang merasa terhina pun membalasnya “kamu tuh kenapa sih? Ngeselinnya gaada 23456789!”
“Eh udah salah, malah ngejek lagi! Gak sadar kamu salah?”
“Huh! Iya, iya aku salah, maaf!” pinta Eve dengan sedikit kesal. (sedikit? hm)
“Dimana-mana, minta maaf gaada yang marah marah!”
Aaah! Ngeselin banget! Cowok ini maunya apaaa?!” Kata Eve dalam hati. Eve pun menghela napas dan----“Kakak, maafin saya ya, saya sudah menjatuhkan ice cream saya tepat di kepala kakak. Sekali lagi maaf!”
Cowok itu pun tertawa dengan terbahak bahak, “Hahahaha, geli liatnya kaya yang dipaksa gitu (memang dipaksa kan?) ya sudah, aku maafin.”
“Kenalin, aku Rifky” Lanjut cowok itu, sambil menjulurkan tangannya yang menunjukan ingin berkenalan.
“Orang Paris tapi kok namanya Islami?” Balas Eve sambil tertawa kecil.
“Aku sebenernya orang Indonesia, tapi orang tuaku udah tinggal disini sejak aku lahir."
“Oooh” Balas Eve.
“Heh, nama kamu siapa?---Gak denger ya? Nama kamu siapa, adik manis?”
“Hiiiis! Denger denger! Kamu kira aku apa, aku Eve, Evelyna Raudya”
“Nama yang bagus!” Kata Rifky
“Sudah dulu ya! Aku mau naik lagi!” Balas Eve menyudahi percakapan.
“Hey sebentar! Kamu tinggal dimana?” Tanya Rifky
“Di perumahan sebelah, blok 2 nomor 15.” Jawab Eve sambil berlari menuju lift.

Created by: Deandra. twitter: @deaandra

Just for Teenagers

Kalian punya atau hobi bikin cerpen? Jika iya, kalian bisa loh mengirim cerita kalian ke blog ini.

Caranya, kalian buat cerpen dengan tema bebas (pengalaman pribadi atau mengrang), kirim cerpen kalian ke emailku di jcikalfadhlia@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama kalian+twitter kalian!

Untuk lebih lanjut, kalian bisa follow twitterku; @jascikalf atau add Yahoo Messenger; jcikalfadhlia

Terima kasih:-)

27 Des 2011

Gara-gara Insomnia (part 2)


Teeeetttt----bel pulang berbunyi.

“Vivi! Vivi!”
“Vi, tunggu! Denger kita dulu! Vivi!”

Gue terus menarik Annisa dan Dimas tanpa menghiraukan Nanda dan Rifky. Gue yakin, mereka pasti mau mencegah gue beli obat tidur. Ah gue gak peduli! Akhirnya gue ke apotek ditemani oleh Annisa dan Dimas.

“Vi, kita mau kemana?”
“Ke apotek.”
“Hah? Ngapain? Lo sakit?”
“Engga. Gue cuma mau beli obat tidur.”
“Vi----gak salah?! Jangan! Lo tahu kan akibatnya? Ap----
“Kalian sama saja dengan Na----mereka! Oke, gue bakal pergi sendiri!”
“Eh----jangan!----oke deh, kita ikut.”

Gue menutup pintu mobil. Saat di perjalanan, gue liat muka khawatir dari Annisa dan Dimas dari kaca spion. Gue bingung, emang salah ya kalau gue beli obat tidur? Gue gak peduli deh!

***

“Mbak, ada obat tidur?”
“Ada.”
“Berapaan nih?”
“Rp 10.000,-“
“Hmm---yaudah deh mbak, gue beli 2 bungkus ya.”
“Vi, gak salah lo beli 2 bungkus?”
“Engga---oke mbak. Makasih ya.”
“Lo gak pake resep dokter?”
“Halah, ngapain. Tuh, udah tertera di bungkusnya----satu tablet sehari----setengah jam  sebelum tidur. Ada yang salah?”

Dimas dan Annisa menggelengkan kepala. Gue tersenyum puas. Akhirnya malam ini gue bisa tertidur dengan pulas. Gue mengantarkan Dimas dan Annisa ke rumahnya. Gue mengucapkan banyak terima kasih, karena mereka sudah nganter gue ke apotek.

***

‘Vi, besok lo mau kan jln2 bareng? Ntr gue ajak Rifky.’

Dari Nanda. Hah males banget gue. Tanpa basa-basi gue tolak ajakan Nanda dengan dingin. Lagipula gue sudah ada rencana bareng Dimas dan Annisa.

‘Maaf gue g bisa.’

Gue tahu Nanda mungkin kecewa. Tapi menurut gue, kecewanya Nanda tuh tidak lebih dari yang gue rasain sekarang. Kecewanya Nanda tuh bukan karena disakitin sama sahabatnya sendiri. Gak kayak gue.

Gak kerasa, sekarang jam setengah 9 malam. Gue langsung mencari obat tidur itu. Tapi setelah gue cari di tas, ternyata obat itu gak ada. Padahal selama ini gue menyimpan obat itu di tas gue.

“Mungkin gue udah simpen di kotak obat.”

Tapi setelah gue cari di kotak obat-obatan, obat itu lagi-lagi tidak ada. Gue khawatir. Gue coba mencari sekali lagi. Kali ini di meja belajar.

“Akhirnya ketemu! Untung tidak ada yang melihat. Sekarang jam------hah?! Jam 9? Gue harus tidur jam setengah 10 dong?! Ya sudahlah.”

Kemudian aku meminum obat itu dan segera memasukkannya ke tas pribadi gue. Setengah jam kemudian gue tertidur.

***

“Vivi, ayo bangun. Lihat jam berapa?------Vivi?”
               
Mama yang awalnya mengetuk pintu kamar gue, langsung membuka dengan terpaksa. Memang sejak gue beli obat tidur, gue gak mengizinkan semua orang masuk ke kamar gue. Termasuk orang tua dan kakak gue. Kejam sih, tapi-----mau gimana lagi? Gue gak mungkin memberitahu keluarga gue kalau gue beli obat tidur cuma buat mencegah insomnia gue. Pasti mereka menyuruh gue untuk gak mengkonsumsi obat tidur.

“Vi----VIVI?! KAMU KENAPA?”
“Ada apa, ma? YA TUHAN, VIVI! Kenapa mulutnya jadi penuh busa. Cepat bawa Vivi ke rumah sakit!”

***

Apa sebenarnya yang menyebabkan mulut Vivi berbusa? Kau tidak akan tahu........

26 Des 2011

Gara-gara Insomnia (part 1)

"Asalkan kalian tahu. Gue gak suka!"
"Kenapa Vi? Jangan-jangan lo gak bisa tidur lagi?"
"Iya, Nda. Gue gak suka suasana sepi! Tapi kenapa gue gak bisa tidur malem? Hampir setiap malem!"


Gue Vivi. Akhir-akhir ini emang gue gak bisa tidur malam. Entah kenapa gue jadi kayak gini. Padahal gue gak bisa disuasana yang sepi. Gue bingung harus gimana. Tapi sahabat gue, Nanda dan Rifky nyaranin supaya gue minum susu coklat hangat setiap malam. Gue gak setuju? Gimana mau setuju, kalo sebenarnya gue punya alergi sama susu dan gue gak suka sama coklat.

"Nanda, Rifky, lo berdua itu kan sahabat gue dari kelas 1 SD. Masa lo masih gak tahu apa yang gue suka dan yang gue gak suka?
"Iya deh, iya. Maaf . Terus cara ngilangin insomnia lo gimana nih?"
"Hah? Apa?"

"Insomnia, Vi. Lo gak tau Vi? Ya ampun, kemana aja lo?"

 ***

Setelah gue searching di internet gimana cara menghilangkan insomnia gue, akhirnya gue menemukan cara yang lebih cepat. Hhhh akhirnya! Kenapa gak dari dulu aja sih?

Pagi itu gue berangkat ke sekolah dengan semangat. Gue bakal ngasih tahu ke Nanda dan Rifky tentang cara ini! Gue yakin mereka setuju.

"Nanda! Rifky! Gue udah tahu gimana cara ngilangin insomnia nih!"
"Horee! Akhirnya lo bisa merasakan tidur nyenyak! Hahahaha."
"Emang caranya gimana, Vi?"
"Pake obat tidur! Cara yang praktis kan?"
"Jangan Vi! Obat tidur itu bahaya! Coba deh lo searching cara lain lagi."
"Iya, Vi. Betul kata Nanda. Obat tidur itu bisa ngebuat lo ketergantungan. Kalo lo udah berhenti minum obat tidur lagi, entar insomnia lo malah makin parah!"
"Tapi lebih praktis, Rifky!"
"Tapi ada cara lain., kan? Minum susu coklat hangat atau-----"

"Gue alergi susu!! Gue gak suka coklat!! Lo berdua mau dukung gue gak sih?! Atau----kalian udah gak mau jadi sahabat gue lagi?!----Oke, kalo gitu gue masih bisa cari sahabat yang lebih dukung gue!"
"Tap----tapi, Vi. Kita ngasih saran terbaik buat lo. Kita gak mau lo kenapa-kenapa cuma gara-gara obat tidur! Kita kayak gini, karena kita sayang sama lo, Vi. Gue sama Nanda gak mau kehilangan lo sebagai sahabat kita----"

Gue gak peduli apa lagi apa yang mau mereka omongin ke gue! Gue udah emosi! Tanpa basa-basi gue pergi ke kelas. Tinggal satu langkah lagi air mata gue jatuh. Nggak! Gua gak boleh cengeng!  Tapi-----gue gak bisa. Gue gak bisa menahan air mata ini. Akhirnya gue berlari dengan kepala menunduk.

Setibanya gue di kelas, gue langsung menghampiri bangku gue. Teman-teman yang saat itu ada di kelas, bingung melihat gue tiba-tiba menangis. Lalu Annisa dan Dimas datang ke bangku gue.

"Kenapa Vi? Ada masalah?"







"Gue gak bisa cerita sekarang, Nis."
"Iya, Vi. Gue ngerti kok!
"Nis----gue boleh kan duduk sama lo? Sampai gue baikkan sama mereka. Lo tahu siapa, kan?"
"Ayo, Vi. Dimas pasti ngerti kenapa lo pindah ke sebelah gue. Entar lo cerita ya, Vi."



Akhirnya gue bisa meluapkan kekesalan gue ke Annisa dan Dimas. Baru kali ini gue cerita ke orang lain selain Nanda dan Rifky. Sesekali Dimas merangkul dan mengusap air mata gue.

***

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Vivi lebih memilih Annisa dan Dimas, yang menurutnya lebih mengerti keadaannya? Atau persahabatan Vivi, Nanda, dan Rifky akan kembali seperti dulu? Kita tidak tahu..............

Diary Lily


Oktober 2010

Namaku Lily. Sekarang duduk di kelas 8 di Sekolah Menengah Pertama favorit di Bandung. Sebut saja SMP Hilton. Aku sudah bersekolah selama 3 bulan di sekolah itu. Ya, aku murid baru di sekolah itu. Walaupun begitu, aku sudah merasa cukup nyaman untuk bersosialisasi dan belajar.

Aku lupa kapan hal itu terjadi. Pagi itu aku merasa gugup. Aku akan pergi ke sekolah bersama seseorang yang sama sekali belum aku kenal. Bahkan aku tidak tahu bagaimana rupanya. Aku hanya mengenal adiknya, karena adiknya satu sekolah denganku saat aku masih Sekolah Dasar.

Tak lama kemudian, mobil orang yang ku maksud itu datang. Aku pun keluar mobilku sambil membawa tas, dan langsung menuju mobil orang itu. Aku pun berpamitan dengan ibuku sebelum aku naik ke mobil. Ternyata orang yang ku maksud itu adalah seorang laki-laki yang seumuran denganku. Sebut saja namanya James. Memang setiap pagi James selalu diantar oleh ayahnya. Karena kantor ayahnya searah dengan sekolahku, ayah James mengajakku untuk pergi ke sekolah bersama. Mungkin karena ibuku dan ibu James sudah saling kenal dekat, dan begitu juga dengan adikku dan adik James.

Ku kira James dan aku sekolah di sekolah yang sama. Ternyata James bersekolah di SMP Bintang. Sesampinya di SMP Bintang, James pun turun. Aku terkejut! James sangat tinggi untuk anak berumur 13 tahun. Tapi aku mengerti, dia adalah atlet basket di sekolahnya.

Akhirnya tiba juga di sekolahku. Karena hari ini hari pertama aku berangkat ke sekolah bersama, aku mengucapkan terima kasih dan salam. Aku pun turun dari mobil dan langsung masuk ke sekolahku.
                Februari 2011

                Horeee selamat ya udah bisa lupain yang lama hahaha!

                Kalimat itulah yang aku dengar sejak tanggal 13 Februari. Ya, aku mulai bisa melupakan----ya sebut saja kecengan hehehe. Tapi tidak lama dari situ, aku mulai menyimpan rasa dengan seorang lelaki yang selama ini sering bersamaku. Ya, James. Menurutku, James sangat berbeda dengan yang lain. Dia orangnya unik. Tidak bisa dijelaskan dengan apapun. Sejak itu aku tahu, kalau James adalah kapten basket di sekolahnya.

Tapi, aku sama sekali tidak memiliki harapan. Selama ini, aku tidak pernah berbicara dengannya. Lagipula James sudah mempunyai kekasih. Cantik, pintar menyanyi, pintar berbahasa Inggris. Sangat cocok dengan James. Dia bernama Hermione. Setiap pulang sekolah, mereka selalu bernyanyi bersama. Sungguh manis kisah cinta mereka. Aku hanya bisa menunggu. Aku hanya bisa tersenyum dalam kepedihan.
Mei 2011

19 Mei 2011. Tepat sehari sebelum James ulang tahun. Teman-temanku menyuruhku untuk memberi hadiah kepada James. Aku bingung akan memberinya apa. Lagipula, aku malu. Aku tidak mempunyai keberanian untuk ini. Akhirnya ku putuskan tidak akan memberinya hadiah ulang tahun.
20 Mei 2011. Hari ini James ulang tahun. Dan ternyata ayah James juga berulang tahun. Aku malu untuk mengucapkannya. Mungkin James akan bertanya, darimana aku tahu ulang tahun dia. Aku putuskan untuk berpura-pura tidak tahu akan hal ini.

Kenapa gak ngucapin aja? Padahal kalau ngucapin, entar ayahnya nilai kamu tuh baik, bla bla bla.
Aku gak berani. Ah, bodo amat deh! Entar aku ngucapin lewat facebook aja.”


 Juni 2011

Teh, kakak aku udah putus loh!


                Adik James lah yang memberitahuku kalau James sudah putus dari Hermione. Ah aku senang mendengarnya! Aku berpikir, ada kesempatan untuk kali ini. Aku pun memberitahu teman dekatku. Dengan antusias mereka berpikiran yang sama sepertiku.

                Eh ada kesempatan loh ini! Ajak ngobrol ya besok! Harus! Keburu disambet orang lain. 
                Hahaha

                Tak jauh dari situ, aku melihat James menulis tweet:

                Tadi liat kamu disana lagi! Wah kau buatku jadi gila:)))
                Apa itu aku? Tapi aku tadi gak lewat sana. Terus siapa dong?

                Sejak melihat James berkata begitu, aku menjadi tidak bersemangat setiap pergi bersamanya. Tapi setelah aku pikir-pikir, James belum memiliki gadis yang dimaksud itu. Mungkin aku bisa menarik perhatiannya.

Tapi nyatanya, aku tidak berani berbuat apa-apa. Aku hanya duduk terdiam. Sendiri. Hanya ditemani lagu-lagu yang diputarkan di radio. Ditemani oleh gurauan James dan ayahnya. Aku seperti tidak ada disini. Aku seakan mesin mobil yang menemani mereka kemana saja mereka mau.
Juli 2011

Tanggal 2 Juli. Ya, James kini telah memiliki gadis yang telah membuat James menjadi gila. Gadis itu bernama Ginny. Aku terkejut ketika mengetahui sekolah Ginny merupakan tetangga sebelah SMP Hilton. Dan yang lebih terkejutnya lagi, Ginny merupakan sahabat dari salah satu teman sekelasku. Kini semua harapan kembali hilang. Aku hanya bisa menunggu. Lagi.
Oktober 2011
            
    Aku tidak menyangka. James dan Ginny masih bertahan hingga hari ini. Aku menjadi tidak mempunyai semangat pagi sejak James bersama Ginny. Untungnya masih ada teman-teman yang selalu menghiburku.

Tenang aja, masih SMP gini. Masih ada kemungkinan buat putus! Jangan sedih Lily!!
            
    30 Oktober 2011. Pagi ini aku senang-----sekaligus sedih. Pagi ini adalah pagi terakhir aku pergi ke sekolah bersama James. Senang? Karena aku ada kesempatan untuk bisa melepas James dari pikiranku. Sedih? Bagaimana tidak? Sudah satu tahun aku pergi bersamanya. Tapi sampai saat ini aku dan James belum pernah berbincang-bincang satu kalimat pun.

Aku ingin memperpanjang waktu bersamanya. Aku ingin mengubah sifatku yang bisa dibilang jaim. Aku ingin mengenal James secara dekat. Tapi tidak bisa.
Desember 2011

Aku pikir, jika aku sudah tidak pergi bersamanya, aku bisa melupakannya. Tapi nyatanya? Aku hanya bisa menghapus sedikit kenangan bersamanya. Aku sekarang menyesal. Mengapa dulu aku tidak mengajaknya berbincang-bincang? Mengapa dulu aku tidak mengajaknya bercanda? Memang penyesalan itu selalu datang terakhir.

Kini dihatiku ada lelaki lain. Selain James. Ronald. Iya, Ronald. Lelaki unik di SMA Hilton. James harus berbagi tempat dengan Ronald.

Ya meskipun masih harapan.........