Teeeetttt----bel pulang berbunyi.
“Vivi! Vivi!”
“Vi, tunggu! Denger kita dulu! Vivi!”
Gue terus menarik Annisa dan
Dimas tanpa menghiraukan Nanda dan Rifky. Gue yakin, mereka pasti mau mencegah
gue beli obat tidur. Ah gue gak peduli! Akhirnya gue ke apotek ditemani oleh Annisa
dan Dimas.
“Vi, kita mau kemana?”
“Ke apotek.”
“Hah? Ngapain? Lo sakit?”
“Engga. Gue cuma mau beli obat tidur.”
“Vi----gak salah?! Jangan! Lo tahu kan akibatnya? Ap----“
“Kalian sama saja dengan Na----mereka! Oke, gue bakal pergi sendiri!”
“Eh----jangan!----oke deh, kita ikut.”
Gue menutup pintu mobil. Saat di
perjalanan, gue liat muka khawatir dari Annisa dan Dimas dari kaca spion. Gue
bingung, emang salah ya kalau gue beli obat tidur? Gue gak peduli deh!
***
“Mbak, ada obat tidur?”
“Ada.”
“Berapaan nih?”
“Rp 10.000,-“
“Hmm---yaudah deh mbak, gue beli 2 bungkus ya.”
“Vi, gak salah lo beli 2 bungkus?”
“Engga---oke mbak. Makasih ya.”
“Lo gak pake resep dokter?”
“Halah, ngapain. Tuh, udah tertera di bungkusnya----satu tablet
sehari----setengah jam sebelum tidur. Ada
yang salah?”
Dimas dan Annisa menggelengkan
kepala. Gue tersenyum puas. Akhirnya malam ini gue bisa tertidur dengan pulas. Gue
mengantarkan Dimas dan Annisa ke rumahnya. Gue mengucapkan banyak terima kasih,
karena mereka sudah nganter gue ke apotek.
***
‘Vi, besok lo mau kan
jln2 bareng? Ntr gue ajak Rifky.’
Dari Nanda. Hah males banget gue.
Tanpa basa-basi gue tolak ajakan Nanda dengan dingin. Lagipula gue sudah ada
rencana bareng Dimas dan Annisa.
‘Maaf gue g bisa.’
Gue tahu Nanda mungkin kecewa. Tapi
menurut gue, kecewanya Nanda tuh tidak lebih dari yang gue rasain sekarang. Kecewanya
Nanda tuh bukan karena disakitin sama sahabatnya sendiri. Gak kayak gue.
Gak kerasa, sekarang jam setengah
9 malam. Gue langsung mencari obat tidur itu. Tapi setelah gue cari di tas,
ternyata obat itu gak ada. Padahal selama ini gue menyimpan obat itu di tas
gue.
“Mungkin gue udah simpen di kotak obat.”
Tapi setelah gue cari di kotak
obat-obatan, obat itu lagi-lagi tidak ada. Gue khawatir. Gue coba mencari
sekali lagi. Kali ini di meja belajar.
“Akhirnya ketemu! Untung tidak ada yang melihat. Sekarang jam------hah?!
Jam 9? Gue harus tidur jam setengah 10 dong?! Ya sudahlah.”
Kemudian aku meminum obat itu dan
segera memasukkannya ke tas pribadi gue. Setengah jam kemudian gue tertidur.
***
“Vivi, ayo bangun. Lihat jam berapa?------Vivi?”
Mama yang awalnya mengetuk pintu
kamar gue, langsung membuka dengan terpaksa. Memang sejak gue beli obat tidur, gue
gak mengizinkan semua orang masuk ke kamar gue. Termasuk orang tua dan kakak
gue. Kejam sih, tapi-----mau gimana lagi? Gue gak mungkin memberitahu keluarga
gue kalau gue beli obat tidur cuma buat mencegah insomnia gue. Pasti mereka
menyuruh gue untuk gak mengkonsumsi obat tidur.
“Vi----VIVI?! KAMU KENAPA?”
“Ada apa, ma? YA TUHAN, VIVI! Kenapa mulutnya jadi penuh busa. Cepat bawa
Vivi ke rumah sakit!”
***
Apa sebenarnya yang menyebabkan
mulut Vivi berbusa? Kau tidak akan tahu........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar