Texas, 16 Agustus
1997
Pagi itu, suasana
peperangan antar penyihir masih terasa, bahkan sampai ke dunia muggle. Scott
sebagai kepala keluarga berusaha menyelamatkan istri, kedua anaknya, dan
seorang calon anak yang sebentar lagi akan menghirup udara di dunia untuk yang
pertama kalinya.
“Dad, ada apa ini?
Kenapa kita harus kabur dari rumah? Lihat, Mom sudah kesakitan,” ujar Tanner.
Alexa, adik Tanner yang masih berusia 3 tahun, hanya bisa terdiam disebelah
mamanya yang merintuh kesakitan. “Sekarang kita akan mengantar Mom ke rumah
sakit, Tanner,” ujar Scott berbohong.
Sebenarnya Scott tidak
berbohong. Dia memang akan membawa istrinya, Lisa, ke rumah sakit muggle untuk
melahirkan. Tapi, dia juga harus berhati-hati terhadap serangan dari dunia
sihir. Scott tidak bisa memberitahu anaknya tentang sihir terlebih dahulu,
khawatir anak-anaknya menyalahgunakan sihir itu.
Scott menyuruh Alexa
dan Tanner masuk ke mobil, sementara dirinya menggotong Lisa yang sebentar lagi
akan melahirkan. Setelah semuanya telah berada di dalam mobil, Scott mulai
melajukan mobilnya dengan kencang dan sangat hati-hati. Scott menghindari
sejumlah penyihir yang berperang di dunia muggle.
***
London, 20 Juli 2006
“Dad, ada burung
hantu di ruang tamu!!” Greyson kecil berlari ke arah Scott dengan sedikit
ketakutan. “Kenapa, Grey? Apa kau takut?” tanya Scott mengelus. Greyson
menganggukan kepalanya. “Hahaha, ngapain kau takut? Nanti kau perlu burung
hantu suatu hari nanti,” kemudian Scott menggendong putra kecilnya dan berjalan
menuju ruang tamu untuk menghampiri burung hantu miliknya.
Greyson ketakutan
saat ayahnya mengambil surat dari paruh burung tersebut. “Apa itu, Dad?” tanya
Greyson. “Ini? Surat untuk Alexa. Sama seperti Tanner empat tahun lalu. Mungkin
kau tidak ingat ya, hahaha,” Scott menurunkan Greyson dari pangkuannya kemudian
duduk di sofa terdekat.
Terdengar suara
langkah kaki yang cepat. Alexa berlari menuju Scott lalu memeluknya dari
belakang. “Dad, itu apa?” tanya Alexa. “Surat untukmu, Alexa. Dari Hogwarts,”
jawab Scott memberikan suratnya kepada Alexa. “Hogwarts?! Oh, Dad, benarkan?!
Akhirnya aku bisa sekolah disitu!!!!” Alexa melompat kegirangan. Greyson yang
tidak mengerti apa-apa hanya bisa terdiam.
“Mungkin besok kita
akan ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan untukmu dan Tanner---” “But,
Dad, bagaimana denganku? Tempat apa itu?” tanya Greyson memotong pembicaraan
ayahnya. “Kau? Untukmu masih tiga tahun lagi. Tapi Dad akan mengajakmu juga ke
Diagon Alley,” Scott tersenyum. “DAD!! Kau tidak adil! Kau membiarkan Greyson
dan Alexa tahu tentang sihir sejak kecil, sedangkan aku tidak boleh
mengetahuinnya sampai surat itu tiba!” ujar Tanner yang masuk ke ruang tamu
dengan tiba-tiba. “Kata siapa?! Aku baru mengetahui sihir sejak kau baru pulang
dari Hogwarts pada tahun pertamamu!” Alexa memprotes kepada Tanner. “Dan itu
empat tahun yang lalu, Alexa!” Tanner membuang muka. Dad Scott tertawa.
“Dad tidak pilih
kasih. Dad melakukan ini semua juga demi kebaikan kalian. Kalau kau, Tanner..”
Lisa mencubit pelan hidung Tanner, “kalau kau tidak aku perlakukan seperti
tujuh tahun lalu, sepertinya kau dan adik-adikmu akan membuat ulah,” lanjutnya.
Tanner dan Alexa terdiam, lalu mengangguk tanda mengerti. “Mengerti apa yang
Mom bicarakan?” tanya Scott. “Mengerti, Dad,” jawab Tanner dan Alexa bersamaan.
Kemudian Scott bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar tidurnya.
“Sekarang, kalian
bersiaplah untuk makan siang tanpa ayah kalian. Dia sedang beristirahat, tidak
bisa diganggu,” ujar Lisa sambil memasukkan makan siangnya ke piring. “Masak
apa, Mom?” tanya Greyson yang heran melihat warna kuning dengan ukuran kecil
keluar dari panci. “Kita makan makaroni keju leleh ya!” Lisa memberikan piring
untuk Tanner dan Greyson, lalu mengambil dua piring lagi untuk dirinya dan Alexa.
***
“Anak-anak, ayo
bangun! Hari ini kita akan membeli perlengkapan ke Diagon Alley!” Lisa menepuk
pinggul ketiga anaknya dengan perlahan. “Mom, berilah waktu sedikit! Aku masih
mengantuk,” ujar Greyson dengan mata masih tertutup. “Ayolah, bukankah kau
ingin pergi kesana, Grey?” tanya Lisa sambil menggelitik pinggang Greyson.
Greyson terbangun sambil tertawa geli lalu memeluk mamanya. “Aku mau mandi!”
celetuk Greyson.
Setelah semua sudah
siap, Scott mengajak Lisa dan ketiga anaknya ke depan perapian di rumahnya.
“Dad, apa-apaan ini? Katanya kau akan mengajakku ke Die-a-gun a-li!” ujar
Greyson sambil berkacak pinggang. “Die-a-gun a-li? Diagon Alley maksudmu?” Lisa
mengkerutkan keningnya. “Ya, terserah! Tempat itu maksudku! Kenapa kita ke
perapian?” tanya Greyson. “Karena ini jalan menuju Diagon Alley, adikku
sayaaang,” kata Tanner tertawa. “Tapi---”, “Sudah, kita berangkat sekarang. Dad
sudah ada janji disana,” Greyson cemberut karena pembicaraannya dipotong oleh
Scott.
Dad membuka sebuah
pintu kecil yang ada di dalam perapian tersebut. Tanner masuk ke pintu paling
awal dari yang lainnya, diikuti Alexa, Lisa, Greyson , lalu Scott. Greyson melihat
sekelilingnya. Tidak terlihat seperti pertokoan. “Dad, ini Die---Diagon Alley.
Yeah, Diagon Alley! Aku bisa, Dad! Diagon Alley! Yeeaaa! Ini terlihat seperti
rumah,” Greyson melompat kegirangan.
“Ayo kita keluar!”
Scott menggandeng tangan kecil Greyson lalu mengajaknya keluar. “Waw, Dad! It’s
amazing! Tapi, dimana Mom, Alexa, dan Tanner?” Greyson kembali melihat
sekeliling. “Mungkin di Potage’s Cauldron Shop,” jawab Dad yang memang melihat
mereka dari luar. “Tempat apa itu, Dad?” tanya Greyson lago. “Kau akan tahu
suatu hari nanti, Grey! Oh, come on, Mom dan kakak-kakakmu sudah menunggu
kita,” Scott mempercepat langkahnya kemudian memasuki “Potage’s Cauldron Shop”.
***
1 September 2006
10.00 am
Greyson telah sampai
di Stasiun kereta api King Cross. Dia melihat kedua kakaknya membawa koper
besar dan burung hantu peliharaan keduanya. Greyson heran, kenapa orang-orang
yang berlalu lalang jarang yang membawa troli seperti kedua kakaknya. “Mungkin aku akan tahu tiga tahun lagi,”
pikirnya.
Greyson dan
keluarganya berhenti di peron 9 dan 10. “Tanner, kau duluan,” ujar Scott. Lalu
Tanner berlari ke arah tembok itu, dan---“menghilang?!
Untuk apa?” tanya Greyson dalam hati. “Oke, Alexa! Kau bersamaku. Pegang
erat-erat trolimu,” ujar Lisa, lalu berlari ke tempat Tanner tadi menghilang
bersama Alexa. “Are you ready, boy?!” tanya Scott sambil meletakkan tangannya
di bahu Greyson. “Yeah, I’m ready!” jawab Greyson dengan semangat, ragu, dan
penasaran. Mereka pun berlari ke arah yang sama seperti mama dan kedua
kakaknya.
Greyson memejamkan
kedua matanya. Hey---dia tidak merasakan apa-apa! “Menyenangkan!” pekiknya.
Scott yang melihat hanya tertawa kecil. Greyson mendecak kagum. Kereta kuno
yang bertulisan “HOGWARTS EXPRESS”, sudah siap membawa para penyihir menuju
sekolahnya. “Lisa!” Scott memanggil istrinya yang sedang berdiri dihadapan
Alexa. “Dimana Tanner?” tanya Greyson. “Dia sudah masuk kereta,” jawab Alexa
tersenyum. “Ready?” tanya Scott. Alexa mengangguk lalu mencium pipi kedua orang
tuanya dan Greyson, kemudian masuk ke kereta.
Tutt... tuutttt...
Kereta kuno itu
segera berangkat. Alexa dan Tanner melambaikan tangan ke arah keluarganya dari
tempat duduk yang sama. “Bye Tanner! Bye Alexa!” Greyson berteriak sambil
melambaikan tangannya. “Oke, Grey! We must to go now,” ujar Lisa merangkul
Greyson. “Yap! Ah, ternyata dunia sihir sangat menyenangkan! Aku tidak sabar
tiga tahun lagi!” kata Greyson tersenyum lebar.
(to be continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar