12 Mei 2012

Greyson Love Story #6


-Greyson-

Greyson sangat bosan pagi itu. Tidak ada yang dilakukannya selain berdiam diri di kamar. Dia tidak boleh keluar kamar. Manager Greyson tidak mengizinkannya untuk keluar kamar karena takut Greyson terluka karena penggemarnya.

“Ah, ini sangat berlebihan!” Greyson mendesah lalu mengambil MacBook di meja yang tak jauh darinya.
Tiba-tiba saja Greyson berpikir untuk membuka blog milik Luna. Dia sangat menyukai cerita Luna, baik itu kenyataan maupun karangannya.

“Dia membuat cerita baru!----eh tunggu? Cerita ini?” Greyson membacanya dengan sangat serius. Greyson kaget. Ini persis pengalamannya dengan Siska dan Luna. “Luna---cinta denganku?” Tanyanya dalam hati.
Greyson ingin menanyakannya secara langsung. Tapi skype dan y!m milik Luna sedang offline. Greyson lalu membuka twitternya. Tak ada satu tweet dari Luna yang terlihat di timeline Greyson. Greyson sedikit resah. Dia memutuskan untuk menulisnya di twitter, siapa tahu Luna membacanya.

@greysonchance That story. Is it for me? Did you fall in love with me?

Greyson membuka y!m miliknya. Dia tersenyum senang, Luna sedang online! Dia segera mengecek twitternya.

@Lunaaa Do you feel? So, what you feeling? Happy? Because you’ve got  a new FAN?

Greyson tertawa sambil menyebut nama Luna. Greyson langsung mengetik pesan pada Luna.

G: Hi Luna! Is it for me?
L: What?
G: Your story, of course!
L: What do you think? Do you feel that the story was for you?

Greyson mengerutkan dahi lalu tertawa kecil.

G: I don’t know Luna.

Saat Greyson ingin mengetik kalimat selanjutnya-----zepp----tiba-tiba saja laptopnya mati. Dia lupa mengisi 
baterainya tadi malam. Greyson lalu mengambil Blackberry nya untuk kembali menanyakan karangan Luna. Tapi dia tidak bisa membukanya. Koneksinya sedang buruk disana. Greyson melempar Blackberry nya ke ujung kasur. Alexa yang baru masuk kamar setelah sarapan di restoran hotel, melihat Greyson dengan heran.

“Kau kenapa, Greyson?” Tanya Alexa menghampiri Greyson. Greyson menggeleng. “Oh, ayolah adikku! Cerita, apa yang sedang kau rasakan saat ini,” Alexa menyuruh Greyson untuk duduk lalu merangkul pundak adiknya itu.

Greyson lalu menceritakan mulai dari dia bosan berdiam terus di kamar, sampai laptopnya mati. Alexa menyimak dengan serius. *omaygat kakak yang baik._.*

“Oh, jadi kau mengira karangan Luna itu untukmu?”  Tanya Alexa. “Iya! Bagaimana tidak? Lihat ini! Dia menceritakan semua pengalamannya bersamaku!” Greyson memperlihatkannya memakai hp kakaknya. Alexa mengangguk, “ya, mungkin dia memang jatuh cinta padamu, Grey! Bukankah kau juga jatuh cinta kepada Luna? Sekarang tinggal kau pikirkan bagaimana Luna tahu kalau kau mencintainya!” Ujar Alexa mencium kening adiknya. Greyson tersenyum lalu memeluk kakaknya. “Okay, sekarang kau siap-siap! Sebentar lagi kita akan pergi menuju lokasi pemotretan.” Alexa melepas pelukan Greyson lalu menarik tangannya menuju kamar mandi.
***
“Waaaaa, Greyson! Kau tidak bilang kalau kau pulang?” Siska berlari menghampiri Greyson lalu memeluknya kencang. “Hahaha, aku sengaja tidak memberitahumu. Takutnya kau dan Siska berencana untuk memberiku kejutan!” Canda Greyson. Muka Siska berubah menjadi muka datar. Greyson yang melihatnya hanya tertawa.

Dari kejauhan, Greyson melihat Luna yang berhenti mengayuh sepedanya. Terlihat ekspresi kaget dari wajah Luna.

“Itu Luna,” Kata Siska melihat ke arah Luna sambil berjingkat karena tubuh Siska yang mungil. “Jangan dipanggil!” Bisik Greyson dengan tatapan tajam. “Loh kenapa? Kau ada masalah dengannya?” Tanya Siska sedikit keras karena menyadari Luna sudah berbalik arah. Greyson membalikkan badannya untuk melihat keadaan. “Begini, aku melihat blog Luna. Dia menulis karangan, dan menurutku itu pengalamannya bersama kita. Lihat ini---“ Greyson menunjukkan hpnya. “Ya, Grey! Dia memang cinta denganmu! Jangan-jangan kau juga----“ Siska menyiku perut Greyson. Greyson terdiam, “Ah, sudah! Aku harus membereskan barang-barangku.”, “Kau pindah?!” Siska kaget. Greyson mengangguk, “Tapi aku tidak akan menjual rumahku! Aku akan berkunjung kembali suatu saat nanti. Sampai jumpa, Siska!” Greyson melepaskan pelukan Siska dan berlari menuju rumahnya.

“Grey, darimana saja kau?” Tanya Mom Lisa saat Greyson tiba di rumah. “Tadi aku bertemu Siska, Mom,” Jawab Greyson dengan singkat. “Grey, kau akan kemana?” Tanya Mom Lisa lagi. Tapi Greyson tak menjawab.

Greyson mencari Alexa. Dia membutuhkan kakak perempuannya sekarang. Dia mencari mulai dari kamar Alexa, Tanner, kamar orang tuanya, dan kamarnya sendiri. Tapi dia tidak menemukan Alexa. Greyson pun berlari menuju dapur untuk menemui Mom Lisa.

“Mom, apa kau melihat Alexa?” Tanya Greyson sambil menepuk pundah ibunya. “Coba kau cari di garasi. Siapa tahu dia sedang bermain basket bersama Tanner,” jawab Mom Lisa. “Oh, Greyson! Tanyakan kepada Tanner, apa dia mau ikut ke Las Vegas atau tidak. Jika iya, suruh dia untuk mengepak bajunya sekarang,” lanjut Mom Lisa. Greyson mengedipkan mata lalu berlari menuju garasi.

BUKK!

Wajah Greyson terkena bola basket yang dilempar Tanner. Alexa mengambil sapu tangan yang ada di dekatnya lalu berlari ke arah Greyson.

“Greyson, maaf!” Ujar Tanner mengangkat kepala Greyson. “Oh, aku tidak apa-apa, Tanner. Ini menyenangkan!” Kata Greyson sambil tertawa. “Hei, kau bodoh ya? Mukamu itu terkena bola basket, bukan bermain basket,” Tanner mengambil sapu tangan yang dibawa Alexa lalu membersihkan sedikit darah yang keluar dari hidung Greyson. “Ah, sudah lah, Tanner. Lagi pula tulang hidungku tidak patah. Kau akan ikut pindah ke Las Vegas?” Greyson terbangun lalu merebut sapu tangan dari tangan Tanner. “Tidak, aku akan tinggal disini saja. Tapi---ah, aku ikut saja! Ada pertandingan basket seru di Las Vegas dua hari lagi!”,“Ya kalau begitu kau siapkan baju dari sekarang! Ini perintah Mom,” kata Greyson kepada kakak pertamanya itu.

Tanner berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Alexa menghampiri Greyson, “Grey, kau yakin tidak apa-apa?”. Greyson menggeleng lalu tersenyum. “Oh iya, Alexa! Aku akan membuat surat untuk Luna. Tadi aku sempat bertemu dengannya, tapi tidak tahu kenapa Luna berbalik arah ketika melihatku,” Greyson sedikit berbohong. Alexa mengangguk, lalu membantu Greyson untuk berdiri.

“Nah, Alexa! Pakai kertas ini saja,” Greyson meletakkan secarik kertas berwarna merah muda dan amplop berbentuk hati di meja belajarnya. “Grey, aku saja yang menulisnya. Kau harus tiduran, agak darahmu tidak mengucur terus,” Alexa mengambil pulpen dari tas Greyson lalu mendampingi Greyson ke kasurnya. “Apa saja yang harus aku tulis?” Tanya Alexa.

“Sudah?” Tanya Alexa kepada Greyson. Greyson mengangguk sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan berwarna biru milik Alexa. “Terima kasih, Alexa!” Greyson tersenyum kepada kakaknya. “Ya, Greyson. Sama-sama. Aku harus memberinya pada siapa?” Tanya Alexa lagi. “Jika kau bertemu orangnya, berilah padanya. Jika tidak----titip saja pada Siska atau siapa pun yang kenal Luna,” jelas Greyson. Alexa mengangguk dan mencium kening Greyson.

Alexa berjalan menuruni tangga. Dia melihat Dad Scott sedang berbincang-bincang dengan Tanner. Alexa tidak pedulikan itu. Dia terus berjalan keluar rumah. Saat Alexa tiba di taman tempat biasa Greyson, Siska, dan Luna bermain, Alexa melihat Jennifer.

“Hai, Jennifer!!” Alexa menepuk pundak Jennifer dari belakang. “Waa! Alexa! Kapan kau kembali? Bagaimana dengan Greyson?” Tanya Jennifer. “2 hari yang lalu, Jennifer! Dia baik-baik saja, Luna bagaimana? Oh iya, Greyson menitipkan sesuatu untuk Luna!” Alexa mengeluarkan amplop berbentuk hati dari saku celananya. “Oh, Alexa! Ini sangat----tunggu. Greyson menyukai Luna?” Alexa mengangguk dan tertawa kecil. “Alexa, asal kau tahu! Luna juga menyukai Greyson sejak lama---“ Jennifer menceritakan semua peristiwa saat setelah adik mereka lulus. “Ah, kurasa sampai sini dulu! Aku harus bersiap-siap untuk ke Las Vegas besok pagi. Jangan lupa berikan ini kepada Luna. Sampai jumpa!” Alexa memeluk Jennifer lalu berjalan menuju  rumahnya.
***
“Ayo, Greyson! Masukkan kopermu ke dalam mobil!” Perintah Tanner.

Greyson mengambil kopernya di ruang tamu lalu membawanya keluar. Tanner membantunya memasukkan koper ke dalam mobil. “Ayo, masuk, Grey!” Perintah Mom Lisa. Saat Greyson membuka pintu mobil, dia melihat ke arah jendela rumah Luna. Dan jendela itu adalah tempat dimana Luna menyimpan semua koleksi doraemon---ya, kamar Luna. Terlihat Luna juga sedang menatapnya dengan rindu, sedih, bercampur kesal. Greyson menatapnya sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.

Greyson melamun selama di perjalanan. Tanner yang menyadari itu langsung merangkul Greyson dengan erat. “Aw! Sakit!” keluhnya. Greyson lalu melihat ke arah jendela lagi.
***
Setelah berbulan-bulan tinggal di Las Vegas, Greyson  jarang sekali berkomunikasi dengan Siska maupun Luna. Greyson sangat merindukan mereka, terutama----Luna. Greyson harus mencari cara agak dia, Siska, dan Luna bisa bersama lagi seperti dulu.

“AH! Aku tahu!” Greyson berlari mencari Mom Lisa di kamarnya. “Mom!” panggil Greyson saat menemukan Mom Lisa yang sedang menonton televisi di kamarnya. “Mom, ayolaah!” Greyson menghampiri Mom Lisa sambil menarik lengannya. “Ada apa, Grey?” Mom Lisa mengecilkan volume suara televisi. “Kapan lagi aku akan tour, Mom?” Mom Lisa beranjak dari sofanya lalu membuka kertas berukuran sedang yang terdapat banyak lipatan. “Hm, kurasa 3 minggu lagi,” ujar Mom Lisa menatap kertas itu dengan serius. “Kemana?” Tanya Greyson lagi. “Eropa,” jawab Mom Lisa lalu melipat kembali kertasnya. “Mom, besok aku ingin kembali ke Edmond!” Pinta Greyson. Mom Lisa bingung. “Aku ingin mengajak Siska dan Luna! Aku sudah lama tidak bertemu  dengan mereka, aku rindu bermain dengan mereka! Ayolah, Mom, boleh ya?” Greyson mengedipkan kedua matanya berulang kali *centil ya._.* Mom Lisa mengangguk setuju, “baiklah, Grey! Tapi besok Dad tidak bisa mengantarmu ke Edmond, dia sedang ada tugas minggu ini.”, “Okay, aku akan pergi bersama Tanner dan Alexa besok! Bye, Mom!” Greyson mengecup pipi Mom Lisa lalu berlari keluar kamar untuk mencari Alexa dan Tanner.
***
“Halo, Siska! Aku mau kau ke lapangan basket jam 2 siang nanti---ya, aku sedang di perjalanan menuju Edmond----jangan lupa ajak Luna!----apa yang---ah, sudah! Sampai nanti!” Greyson mengakhiri percakapannya dengan Siska. “Kenapa kau tidak menghubungi Luna langsung?” Tanya Tanner diikuti dengan anggukan kepala Alexa. “Aku tidak punya kontak Luna. Semenjak Luna----hm, tidak,” Greyson memamerkan giginya yang putih bersih kepada Tanner melalui spion. Tanner menatap Greyson dengan tatapan curiga.

Sesampainya di Edmond, Tanner memasukkan mobil ke garasi rumah, sedangkan Greyson buru-buru masuk untuk mengambil kunci motor lalu pergi menuju lapangan basket. Greyson sudah tidak sabar bertemu dengan kedua sahabat lamanya, sampai-sampai teriakan Alexa tidak dihiraukannya. Saat hampir melewati rumah Luna, Greyson melihat gadis cantik dengan rambut pirang panjang sedang menutup pagar. Greyson menghampiri gadis itu.

“Hai, Luna!” Sapa Greyson saat tepat di samping gadis itu yang ternyata Luna. Luna kaget, “hai, Greyson! Kapan kau kesini?” “Baru saja sampai, hahaha. Apa kabar, Luna? Kau cantik sekali dengan bandana yang kau pakai itu, ” Tanya Greyson. “Kau tidak lelah? Baru saja kau sampai kesini, kau sudah keluar rumah lagi. Terima kasih, Grey,” Muka Luna memerah. “Ah, aku sudah tidak sabar bertemu dengan kau----dan Siska. Ada yang ingin aku bicarakan di lapangan basket nanti. Ayo, pergi denganku!” Greyson menarik lengan Luna lalu mengisyaratkan agar Luna segera naik ke motornya.

Selama di perjalanan, banyak gadis-gadis yang meneriakan namanya dan tak segan-segan berkata, “Hi you’re Greyson?” “Greyson! You’re singing paparazzi by Lady Gaga?” “Grey, I love you!! Hi,who’s she?!” Greyson hanya tertawa kecil lalu sesekali melihat ke arah Luna sambil tersenyum. Dan saat Greyson mengendarai motornya, dia sering melontarkan lelucon lucu dan Luna tertawa dengan manis.

Sesampainya di lapangan basket, terlihat Siska yang sedang bermain basket sendirian.

“Dia masih tomboy seperti dulu, ya!” Bisik Greyson kepada Luna. Luna mengangguk sambil tertawa. “Hai, Greyson, Luna!” Teriak Siska yang baru menyadari bahwa kedua sahabatnya telah datang. “Hai, Siska! I miss you!” Greyson memeluk Siska lalu merangkul pundak Luna dan Siska. “I miss you too, Grey! Kau—datang bersama Luna?” Bisik Siska. “Tadi aku bertemu dengannya saat aku melewati rumahnya,” jelas Greyson. “Bagaimana kalo kita main basket dulu?” Greyson berlari mengambil bola basket lalu melemparnya ke arah Luna. “Hei, tangkapan yang bagus, Luna!” Greyson bertepuk tangan lalu mengangkat kedua tangannya agar bola dilempar kembali kepadanya. “Jadi, kau menantang?” Luna melempar bolanya kepada Siska dan mereka bermain basket.

Saat Greyson ingin melempar bola ke ring basket, tiba-tiba saja Luna terjatuh. Greyson dan Siska sangat panik. Dari kejauhan terdengar suara tawa. Greyson segera menoleh ke belakang dan mencari asal suara tawa itu. Siska dan Greyson tersontak! Itu adalah Maria dan Justin, teman sekolah mereka.

“Hei, kalian! Apa ini? Kenapa kalian melakukan ini pada Luna?!” Greyson menghampiri Maria dan Justin dengan sangat marah. Keduanya hanya tertawa puas. “Oh, kau GREYSON MICHAEL CHANCE? Penyanyi terkenal itu? Yang dulu satu sekolah dengan kita?” Ujar Justin berkacak pinggang. Greyson mengkerutkan keningnya, “Haloo! Aku bertanya kepada kalian!!”, “Ow, Justin! Jawab pertanyaan dia! Dia artis besar! Kalau kau tidak menjawabnya dia akan mengadu kepada paparazzi! Tidak!!” Maria tertawa mengejek. Greyson menarik kerah baju Justin, “kenapa kalian melakukan ini pada Luna?!”, “Karena kami kesal dengannya!! Puas?!?” Mata Justin melebar. “Oh, Luna! Aku tak menyangka pacarmu seorang penyanyi! HA!” Ejek Maria.

Saat mereka sedang bertengkar, tak lama kemudian datang Alexa dan Tanner. Tanner langsung keluar dari mobilnya lalu berlari ke arah mereka, terutama Greyson dan Justin, juga Siska dan Maria, sedangkan Alexa menghampiri Luna yang terluka di bagian hidung. Tanner lalu melerai mereka berempat.

“HEI, ADA APA INI?!” Tanner berteriak dan membuat keempatnya menoleh ke arah kanan. “Dia melempar bola basket dengan kencang ke arah Luna, Tanner! Lihat! Hidung Luna berdarah!” Greyson berteriak yang tak kalah kencang dengan Tanner karena emosi. Justin dan Maria terdiam. “Kalau kalian tidak menyukai seseorang, kalian tidak harus melakukan ini! Coba bayangkan jika ini terjadi pada kalian! Apa kalian mau?” Tanya Tanner dengan santai. Justin dan Maria terdiam lagi lalu mengangguk. “Baiklah, sebaiknya kalian minta maaf kepada Luna,” Greyson melepas kerah Justin lalu mengisyaratkan agar Justin dan Maria segera meminta maaf kepada Luna. “Luna, maafkan kami. Kami hanya bermaks----“, “Ah, sudahlah! Tidak apa-apa. Hanya berdarah sedikit,” ujar Luna tersenyum. Alexa menyuruh Justin dan Maria untuk meninggalkan lapangan basket.

“Luna, berdarah sedikit darimana? Lihat, darahmu terus mengalir!” Siska lalu berlari menuju mobil yang dikendarai Tanner dan mengambil kotak perlengkapan obat-obatan. “Ini harus dibawa ke rumah sakit! Aku tidak bisa menyembuhkannya! Tulangnya patah,” Ujar Alexa. Greyson segera mengangkut Luna menuju mobil. “Siska, buka pintunya! Sekarang kita ke rumah sakit! Cepat!”
***
“Ayo, kalian sudah siap?” Tanya Greyson saat tiba di rumah Luna. “Aku sudah siap! Koperku sudah dimasukkan ke mobil,” balas Siska sambil memakai jaketnya. “Waaa! Tunggu aku! Aku akan mengambil laptopku!” Saat Luna sedang berlari di tangga, Luna tidak seimbang dan-----hampir terjatuh. “Oh, Grey! Thank you,” Luna kembali berdiri dari pangkuan Greyson yang berusaha menahan Luna. “Oke, sama-sama, Luna. Lain kali hati-hati, hidungmu baru saja sembuh. Sekarang cepat ambil laptopmu!” Greyson tersenyum lalu mendorong tubuh Luna dengan pelan.

Luna menutup pintu mobil lalu menurunkan kaca mobil. Siska, Luna, Greyson, Dad Scott, dan Alexa melambaikan tangan kepada orang tua Siska dan Luna. Mom Lisa dan Tanner sudah berada di bandara terlebih dahulu untuk mengurus semua tiketnya. Di perjalanan, penuh dengan suara merdu dan canda tawa.

“Mom! Tanner!” Greyson berlari lalu memeluk Mom Lisa dan Tanner. Begitupun dengan Alexa, Luna, dan Siska. Sedangkan Dad Scott mencium bibir mungil dari Mom Lisa *aw co cwit:3*. “Bagaimana, Lisa? Sekarang kita kemana?” Tanya Dad Scott sambil menutup pintu bagasi mobil. “Sekarang kita harus check in terlebih dahulu,” jawab Tanner melihat jam  tangannya. “Oke, Tanner. Ayo, anak-anak, bawa troli masing-masing!” Dad Scott berjalan membawa troli berisikan kopernya dan Mom Lisa, Tanner membawa troli berisikan kopernya dan Alexa, sedangkan Greyson membawa koper troli berisikan kopernya, Luna, dan Siska.
***
Greyson tiba di London setelah 9 jam duduk di pesawat sambil bercanda ria bersama Luna dan Siska. Greyson keluar bandara disambut dengan beberapa penggemarnya. Greyson mengedipkan mata kepada Luna dan Siska lalu berjalan menghampiri penggemarnya. Luna dan Siska saling bertatap muka lalu mengangguk mengerti. Mereka memegang troli yang tadi Greyson bawa lalu menyusul Greyson.

“AAAAA, GREYSON!!” Teriak salah satu penggemarnya. “Aw, you’re amazing fans! I love you!” Ujar Greyson tersenyum manis. “Oke, Grey, sekarang kau  harus istirahat!” Bisik Mom Lisa lalu tersenyum pada gadis-gadis yang sedang berhadapan dengan Greyson. “Sampai bertemu di konserku besok malam!! I love you all!” Greyson berjalan menghampiri Luna dan Siska, lalu mendorong trolinya. Teriakan penggemar Greyson membuat Siska sedikit kesal. Tapi dia memakluminya, dia ikut berkelilng bersama sahabatnya yang merupakan bintang besar.

“Grey, aku tidak menyangka penggemarmu sebanyak itu!! Aku ikut bangga!” Ujar Luna diikuti anggukan kepala Siska. “Kalian sangat berlebihan, teman!” Greyson tertawa. “Oh, Grey! Bagaimana dengan Tanner, Alexa, dan orang tuamu?” Tanya Siska sambil memainkan hpnya. “Mereka berada di mobil yang berbeda,” jawab Greyson dengan santai. Siska dan Luna mengangguk lalu mengambil pizza yang sudah ada di depan mereka.
***
Running away through the night so black, the stars on your shoulder pulling me back...

Suara Greyson saat menyanyikan lagunya yang berjudul Running Away membuat Luna meneteskan air mata. Luna tidak mengerti, entah karena lirik lagunya yang menyentuh, atau memang lagu ini sangat cocok dengan keadaannya selama 4 bulan terakhir ini. Siska yang menyadarinya langsung merangkul Luna.

“Aku tahu kenapa kau menangis, Luna. Sudahlah, Greyson pasti tidak akan suka melihatmu menangis. Begitupun denganku,” Siska menghapus air mata di pipi Luna. “Tolong jangan katakan ini pada Greyson, Siska!” ujar Luna dengan penuh harap. Siska mengangguk sambil tersenyum. “Luna, Siska! Ayo bersiap-siap! Greyson sudah menyanyikan lagu terakhirnya,” ujar Alexa tersenyum. Luna dan Siska mengangguk lalu beranjak dari sofa di belakang panggung. “Tunggu! Luna, kau berikan ini pada Greyson ya! Siska, bantu aku mengangkut barang-barang ini,” lanjut Alexa memberikan handuk kecil kepada Luna. Luna berjalan mendekati belakang panggung, menunggu Greyson turun.

Thank you so much, London! I love you! Good night! Ketika Luna mendengarkan kalimat terakhir Greyson, Luna bangkit dari kursinya lalu menghampiri Greyson.

“Nih,” Luna memberikan sebotol air mineral kepada Greyson. “Terima kasih, Luna!” Greyson meminum minuman yang diberikan Luna. Tubuh Greyson dibanjiri oleh keringat, dengan refleks Luna mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya. “Eh—um---sorry, Grey!” Luna terlihat salah tingkah lalu memberikan handuk kecil kepada Greyson. “Hm---no prob, Luna,” Greyson membalasnya sambil tersenyum, walaupun sebenarnya jantung Greyson berdetak sangat kencang. “Lun---umm---kita ke mobil yuk! Mungkin yang lain sudah menunggu,” Greyson menarik tangan Luna.
***
@greysonchance Arrived. Paris with @Lunaaa and @siskaw !! I can’t wait for my last concert tonight! See you, fans!

Paris adalah kota terakhir yang Greyson kunjungi selama tour di Eropa. Terlihat ekspresi bahagia di wajah mereka, terutama Luna. Ya, Luna memang pecinta Paris. Sudah lama dia ingin ke Paris.

“Grey, kau sengaja ya mengadakan tour terakhirmu di kota favorit Luna?” Bisik Siska saat berjalan menuju kamar hotel. Greyson mengangguk, lalu membisikan sesuatu kepada Siska. Saat Luna melihat, Greyson dan Siska hanya tersenyum lebar. “Kalian membicarakan apa?” Tanya Luna heran. “Kau mau tahu ya?” balas Greyson diikuti dengan tawa manis Siska. “Suatu hari juga kau akan mengetahuinya, Luna,” lanjut Siska. Luna hanya bisa tersenyum-----tersenyum dalam kecemburuan yang membakar hatinya.

Sesampainya di kamar, ternyata sudah ada Alexa dan Tanner. Greyson berlari lalu memeluk kedua kakaknya seakan-akan mereka tidak pernah bertemu selama beberapa tahun. Tanner lalu mendorong Greyson ke kasur dan menggelitik pinggang Greyson. Greyson langsung teringat saat dia berumur 5 tahun, saat dia masih menetap di Oklahoma, dan saat dia masih membawa angan-angan bahwa suatu saat nanti dia akan berkeliling dunia.
***
“Hai, Paris!! Aku senang sekali bisa kembali ke sini untuk menemui kalian semua! Tapi ada yang berbeda pada kunjunganku hari ini. Aku membawa kedua sahabatku yang cantik dan manis. Tunggu sebentar!” Greyson berlari ke belakang panggung dan menarik lengan Siska dan Luna. Saat Greyson kembali ke atas panggung, semua penggemarnya histeris saat Greyson membawa Siska dan Luna. Keduanya hanya bisa tertawa melihat tingkah penggemar Greyson. “Halo, namaku Luna,” Luna memperlihatkan keahliannya. “Namaku Siska! Salam kenal semua!” lanjut Siska. “Kalian tahu? Luna sangat mencintai kalian! Luna sangat mencintai Paris!” Greyson bercerita kenapa dia bisa kenal dengan Luna dan Siska.

Selama konser, Siska dan Luna adalah ‘model’ dari setiap lagu yang dibawakan Greyson. Saat lagu Stranded, Luna dan Siska berdansa dengan Greyson. Lagu Home Is In Your Eyes, Luna dan Greyson duduk bersama di sebuah ayunan berhias bunga-bunga. Dan saat lagu Running Away, seperti biasa, butiran air mata jatuh ke pipi Luna. Greyson menatap wajah Luna dengan jarak yang tidak terlalu jauh, lalu menghapus air mata Luna. Setelah Greyson menghapus air matanya, Greyson tak ragu-ragu untuk mencium bibir kecil Luna.
***
Pagi itu Alexa dan Tanner berteriak agar Greyson bangun. Greyson mendesah lalu menutup wajahnya dengan selimut. Tapi Alexa dan Tanner terus mencari cara agar adik kecilnya bangun.

“Ayo, Grey! Bangun! Katanya kau akan pergi berkeliling Paris!! Ayooo, ingat malam ini kita ke menara Eiffel!” Alexa menarik selimutnya dan Tanner menarik tangan Greyson agak beranjak dari kasur. “Iya, Alexa, Tanner! Cukup! Aku akan bangun, aku akan mandi, aku akan berdandan!” Greyson berjalan ke kamar mandi dengan mata masih tertutup. Tanpa disadari, Tanner diam-diam masuk terlebih dahulu ke kamar mandi dari Greyson lalu mengubah suhu air menjadi sangat panas. Lalu kembali ke tempat tidur tanpa suara. “AAAAAAAAAAAAAAA PANAS!!!” Mata Greyson melebar saking kagetnya. “TANNER!!! ALEXA!!!!!!!!!!” teriaknya lagi. Tanner dan Alexa hanya tertawa terbahak-bahak di depan televisi.
Greyson turun ke lobby paling terakhir dari yang lainnya. Alexa dan Tanner sudah terlebih dahulu turun agar tidak diomeli oleh Greyson. Siska dan Luna sedang asyik memainkan hp masing-masing sambi tertawa.

“Hei, kalian! Ayo kita berangkat!” Greyson menepuk pundak kedua sahabatnya. “Mom, Dad!” Greyson berlari lalu mengecup pipi kedua orang tuanya. “Hei Alexa! Tanner! Kau sangat kurang hajar tadi!!” Greyson memukul keduanya. Mom Lisa dan Dad Scott hanya bisa tertawa melihat kelakuan ketiga anaknya yang saling menjahili. “Hm---mobilnya sudah ada di depan! Ayo!” Ujar Siska yang menghampiri Greyson bersama Luna. “Oh, tunggu apa lagi? Ayo! Eh, ada yang tertinggal?” Tanya Greyson kepada kedua sahabatnya. Luna menggeleng, “tidak! Aku sudah membawa kamera milik Siska dan laptopku! Lengkap!”
***
“Waaaaa, menara Eiffel!!!” Luna berlari mendekati menara Eiffel, diikuti oleh Siska dan Greyson. Luna langsung memotret dari segala sudut menara Eiffel. “Bagaimana kalau aku yang memotretmu?” Greyson menjulurkan tangannya. Luna mengangguk senang dan memberikan kameranya kepada Greyson.

“Siska, Luna, ini untuk kalian!” Greyson memberikan es krim rasa blueberry cheescake kesukaan Luna dan rasa strawberry favorit Siska. “Terima kasih, Grey!”, “Dimana Mom Lisa dan Dad Scott? Dimana Alexa, Tanner?” Tanya Luna. “Mom sama Dad  di restoran, Alexa dan Tanner----setahuku mereka sedang mencoba kuliner pinggiran situ---itu dia!” Greyson menunjuk ke arah Alexa dan Tanner sedang berjalan bersama.

Mereka sangat menikmati es krim dengan pemandangan indah kota Paris malam itu. Banyak orang yang memanfaatkan momen ini, termasuk Greyson dan kedua sahabatnya. Benar-benar malam yang romantis! Mom Lisa dengan Dad Scott, Alexa dengan Tanner, Luna dengan laptop novel romantis favoritnya, Greyson dengan headphone dan iPodnya, Siska dengan permen karet dan kameranya.

“Aw, ada apa? Jangan menyiku,” bisik Greyson kepada Siska. “Sekarang saja!” ujar Siska mengedipkan mata. Greyson mengangguk.

I wanna be holding your hand, in the sand by the tire swing,
Were we use to be, Luna, you and me
I traveled thousand miles, just so I can see you smile
Feel so far away, when you cry, cause home is in your eyes


Jari-jari Greyson memetik gitarnya dengan indah, suaranya membuat hati Luna menangis, penghayatannya membuat orang-orang disekitarnya ikut merasakan suasana hatinya.

“Luna Fills, aku tahu kau sangat mencintai menara Eiffel itu. Aku tahu kau sangat mencintai kota Paris. Aku tahu kau selalu menjatuhkan butiran air mata saat kau mendengar laguku. Tapi mereka semua tidak akan pernah mencintaimu seperti kamu mencintai mereka. Apakah ada yang mencintaimu? Ada, Luna. Lihatlah orang di depanmu, lihatlah seorang lelaki yang ada di depanmu. Ya, aku. Aku cinta padamu, Luna,” Greyson menatap Luna dengan penuh cinta.

-Luna-

Dag.... Dig.... Dug....

Luna tak percaya kalau Greyson Chance----seseorang yang ia cintai----sedang berada tepat di depannya, sedang menyatakan cinta kepadanya, di hadapan menara Eiffel. Luna tidak percaya Greyson memainkan gitar dengan sangat indah. Dia ingat, saat dia mengajari Greyson bermain gitar, tangan Greyson terluka dan membuatnya sedikit trauma terhadap gitar. Tapi sekarang, Greyson bernyanyi dengan petikan gitar. Jari-jarinya dengan lincah memainkan gitar, walaupun tidak selincah saat jari-jarinya menari diatas tuts piano.
Luna terdiam sejenak. Dia bingung apa yang harus dia katakan pada Greyson.

Ayo Luna, bilang “YA!” gumamnya dalam hati. Tapi mulut Luna tidak bisa digerakkan. Seperti menunggu kata-kata tepat yang dikatakan Greyson.

“Luna, mau kah kau menjadi kekasihku, untuk hari ini, dan selamanya?” Greyson memegang kedua tangan Luna. “Ya, Greyson. Aku mau," tanpa disadari mulut Luna terbuka sendiri seperti telah menemukan kuncinya. Greyson lalu mendekat----semakin mendekat, dan-----mencium bibir Luna.

KLIK..

Siska memotret pada saat yang tepat. Luna menjauh dari Greyson , kaget. Dia pikir tidak ada sahabatnya disana. Siska berlari menghampiri Luna lalu memeluknya. Dengan malu-malu Luna membalas pelukan Siska. Malam yang awalnya dingin, menjadi malam yang hangat. Mereka bertiga pun bermain dan bercanda tawa bersama angin malam disekitar menara Eiffel.
***
21 tahun kemudian..........

“Daddy! Ini dimana? Aku ingin sekali pergi kesana!” ujar seorang bocah laki-laki berambut coklat sambil menarik baju ayahnya. “Adhelm, Daddy sedang sibuk! Ayo sini, main dengan Mommy!” Luna berdiri tepat di depan pintu mini studio milik Greyson. “But, Mommy....aku ingin sekali ke menara itu! Aku ingin melihat langsung tempat kalian menikah!” balas Adhelm. “Oke, enam bulan lagi Daddy ada konser disana. Kau bisa  ikut, boy!” Greyson menggendong anak keduanya.

Ya, Greyson dan Luna menikah 11 tahun yang lalu, di Paris, kota favorit Luna, tepat dihadapan menara Eiffel, dimana Greyson menyatakan cintanya kepada Luna saat keduanya berusia 15 tahun. Mereka dikaruniai dua orang anak. Anak pertama, seorang gadis cantik bernama Paris Aethelburg Chance yang sekarang berusia 10 tahun. Greyson dan Luna menamainya Paris karena anak pertama mereka lahir di kota Paris. Paris sangat mirip dengan Luna, terutama rambutnya yang berwarna pirang panjang. Hanya saja Paris memiliki bentuk mata sama seperti Greyson, sleepy eyes. Anak keduanya bernama Adhelm Bradley Chance, bocah laki-laki  yang masih berusia 5 tahun. Adhelm sangat mirip dengan Greyson saat berumur 5 tahun.

Anak-anak mereka mewarisi bakal di bidang musik dan menulis. Paris mewarisi suara emas Greyson. Tak tanggung-tanggung, Greyson mengajak Paris berduet di setiap konsernya dan membuatkan lagu dan album untuk Paris. Paris juga mewarisi bakat menulis dari Luna. Dia mengeluarkan kurang lebih tiga novel dan menjadi bestseller di Amerika. Sedangkan Adhelm mewarisi bakat dalam bermain alat musik. Setiap hari dia memukul drum yang ada di dalam studio Greyson.
***
Greyson telah selesai konser dan mengajak Paris dan Adhelm pergi ke menara Eiffel, sesuai keinginan mereka. Saat Luna sedang membelikan es krim blueberry cheesecake untuk Adhelm, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya.

“Luna! Apa kabar?” ternyata itu Siska, sahabat Luna dan Greyson. “Hai, Siska! Baik! Bagaimana denganmu? Greyson!” Luna memanggil Greyson yang sedang bermain dengan Paris dan Adhelm. “Hai, Siska! Senang bertemu denganmu lagi! Apa kabar?” Greyson menjabat tangan Siska. “Baik! Baik sekali! Charlie, Chandler! Ayo sini!” Siska memanggil kedua anaknya yang sedang bermain bersama kupu-kupu. “Namaku Paris,” Paris menyalami Siska sambil tersenyum manis. “Aku Adhelm. Salam kenal,” Adhelm melambaikan tangan pada Siska. Siska tertawa lalu memperkenalkan kedua anaknya.

“Charlie, anak keduaku. Dan ini Chandler, anak ketigaku,” ujar Siska. “Loh, anak pertamamu? Suamimu kemana?” Tanya Luna. “Anak pertamaku David, dia sedang membantu George, suamiku yang bekerja sebagai fotografer. Aku hanya mengantar Charlie dan Chandler kesini, karena mereka bosan berada di kantor George,” jelas Siska. “Wah! Keren! Kau dan keluargamu semuanya fotografer,” Greyson tertawa sambil memasukkan satu sendok es krim ke dalam mulut Adhelm. “Paris juga mewarisi bakat menyanyimu, Grey! Dan kalau tidak salah dia berduet denganmu ya saat konser tadi? Dan dia juga menulis tiga novel bestseller? Waw, it’s awesome! Dia mewarisi bakat kedua orang tuanya,” Siska merangkul kedua anaknya.

“Daddy, aku ingin foto dengan menara itu, seperti Daddy dan Mommy saat menikah!” Adhelm mengelus wajah Greyson. “Wah, boleh! Ayo aku yang memotret, ya! Satu..dua..tiga!”
***
Setelah sekian tahun lost contact akibat berbeda hobi dan profesi, akhirnya ketiga sahabat itu berkumpul kembali di kota favorit mereka. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di rumah yang bersebelahan di daerah Oklahoma, kampung halaman mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar