26 Jun 2012

Magic.... Uh?


Alexa duduk bersama Tanner, sang kakak, dan teman-temannya di Hogwarts Express. “Hi, I’m Ryan. What’s your name?” tanya salah satu teman Tanner. “Kau menggoda adikku, Ryan?” Tanner mendekatkan Alexa ke arahnya dari ‘serangan’ Ryan. Semua teman Tanner, yang berjumlah 5 orang, termasuk Ryan, tertawa. Alexa, yang merupakan orang paling muda disitu hanya bisa terdiam.

Setelah beberapa jam duduk di kereta dengan menyisakan bungkus permen dan coklat di tempat duduk, Alexa sampai di Hogwarts. “Alexa, sebaiknya kau cari teman seangkatanmu. Kita akan naik kereta kuda menuju kastil. Dan tidak akan muat jika ditumpangi oleh enam orang. Maaf,” ujar Tanner setelah turun dari kereta. “Hm, no prob, Tanner. Bye,” balas Alexa sambil memeluk Tanner. Tanner kemudian menghampiri teman-temannya yang tadi duduk bersama Alexa.

Alexa berjalan mencari kereta kuda untuk dia tumpangi. “Hai!” seorang lelaki bertubuh sedang dan berambut agak pirang menepuk pundaknya. Alexa memekik pelan. “Ah, kau tidak perlu takut. Aku sama sepertimu, murid baru,” kata lelaki itu seakan bisa membaca pikirannya. “Namaku James, James Sirius Potter,” lanjutnya. “Oh, uhm---aku Alexa. Alexa Chance,” balas Alexa. “Nama yang bagus! Maukah kau menemaniku menumpangi kereta kuda ini?” tanya James sambil menunjuk sebuah kendaraan beroda tanpa ada yang menariknya.”Hei, ini tidak ada yang menariknya,” ujar Alexa sedikit takut. “Kau takut Alexa? Tenang, kau tidak perlu takut! Sebenarnya mereka ada, hanya saja hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya,” jelas James sambil membantu Alexa naik. “Hah? Orang-orang tertentu? Maksudmu?” tanya Alexa yang kesulitan untuk duduk karena kereta itu basah. “Jadi, hanya orang-orang yang pernah melihat kematian secara langsung saja yang bisa melihat hewan itu,” kata James tersenyum. Alexa berho-oh sambil menanggukan kepalanya.

“Alexa Chance,” panggil wanita tua yang memegang sebuah topi yang dapat berbicara. Alexa duduk disebuah kursi, lalu wanita tua tersebut meletakkan topi itu diatas kepalanya. “Darah murni. Pintar. Rajin. Oh tidak---jenius! Memiliki sikap keingintahuan yang tinggi. Tidak takut akan kekalahan, selalu mengakui kesalahan, memiliki tingkat keberanian yang sangat tinggi. Gryffin---oh, RAVENCLAW!” anak-anak Ravenclaw bersorak. Alexa langsung berlari menuju meja Ravenclaw. James terlihat kurang setuju dengan keputusan topi seleksi untuk memasukkan Alexa ke Ravenclaw.

James melempar jubahnya ke kursi, kemudian melemparkan tubuhnya ke atas kasur. “Alexa? Ravenclaw? Bagaimana bisa? Dia jenius, darah murni, dan dia termasuk orang yang nekat menurutku,” James mendesah di kamar barunya di ruang Gryffindor. Dia memukul dirinya sendiri dengan bantalnya. Teman-teman barunya yang satu kamar dengannya tidak berani menyapa atau menenangkan James. Karena memang, malah itu James terlihat “garang” akibat Alexa dan dirinya tidak satu asrama.
***
3 years later....

Greyson sedang memakan nasi-jamur-keju-leleh bersama Alexa dan Tanner pagi itu. Suasana di rumah sangat sepi semenjak Scott pergi ke luar kota untuk tugas dari kementrian sihir, dan Lisa ikut menemaninya. "Kira-kira Dad pulangnya kapan ya?" Greyson memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. "Tugas Dad sangat sulit, Grey. Susah memprediksikan kapan Dad puulang. Bersyukurlah masih ada kami disini," ujar Tanner lalu merangkul Greyson.

Krak...

Greyson menoleh ke arah ruang tamu. “Oreo?” Greyson berlari ke sumber suara. Dan benar saja, Oreo, burung hantu milik keluarga Greyson baru saja datang membawa sebuah surat. “SURAT DARI HOGWARTS!”, Greyson mengambil surat itu dari paruh Oreo. Alexa dan Tanner langsung berlari dari ruang makan lalu memeluk adik kecil mereka. Greyson membuka surat itu.

*************************************************************************************************


Hogwarts School of Witchcraft and Wizardy

Headmaster: Albus Dumbledore

Dear Mr.Chance


We are pleassed to inform you that you have been accepted at Hogwarts of Witchcraft and Wizardy. Please find enclosed a list of all the necessary books and equipment.


Term begins on September, 1. We await your owl by no later that July, 31.






Your sincerely,







Minerva McGonagall
*********************************************************************

“Ready?” tanya Tanner. “For what?” Alexa dan Greyson balik bertanya. “Beli perlengkapan lah! Dad sudah menitipkan uangnya kepadaku sebelum berangkat tugas,” ujar Tanner. “Oh iya! Hehehe,” Greyson tersenyum lebar. “Ayo, Alexa, kau masuk duluan,” kata Tanner sambil membukakan pintu di perapian. “Tunggu, aku akan memakai jubahku!” teriak Alexa yang sedang menaiki tangga menuju kamarnya. “Oh iya, aku lupa! Tunggu disini, Grey!” Greyson mengangguk.

“Oke, Alexa!” Tanner menyuruh Alexa memasuki pintu perapian pertama, diikuti Greyson. “Sekarang kita kemana?” tanya Greyson setelah keluar dari bangunan yang menjadi alternatif semua penyihir yang tinggal di dunia muggle. “Kita ke---Flourish and Blotts!” kata Alexa sambil melihat daftar barang-barang yang harus dibeli. “Tempat apa itu?” tanya Greyson sambil berjalan. “Itu tempat untuk membeli buku-buku. Transfigurasi, pertahanan terhadap ilmu hitam, herbiologi, mantra, seja---” “cukup Alexa!” Greyson menutup telinganya dan berjalan lebih cepat.

“Sudah lengkap! Tinggal beli tongkat! Ayo kita ke Ollivanders!” Tanner mengangguk lalu merangkul kedua adiknya. “Eh tunggu! Barang kita kemana?!” Greyson baru menyadari tidak ada barang-barang miliknya dan kedua kakaknya. Alexa mengeluarkan tas kecil dari saku jaketnya. “What?! Ba---bagaimana bisa?!” tanya Greyson tak percaya. “Itu pakai mantra tak terbatas. Jadi, kita bisa menyimpan barang sesukanya di dalam sini. Perlengkapan kita sudah lengkap disini, termasuk kualimu!” jelas Tanner. Greyson melotot tak percaya.

“Selamat datang di Ollivander!” sapa sang pemilik toko. “Ayo, Grey! Tidak usah takut,” bisik Alexa. “Tunggu! Grey? Greyson Chance?!” tanya pemilik toko yang mendengar bisikan Alexa. “Euh---uhm, iya. Itu saya,”  Greyson gemetar sambil mendekatkan dirinya ke pemilik toko. “Kau---kau! Ayo, mendekatlah, tidak perlu takut! Namaku Ollivander. Aku yang membuat tongkat seluruh penyihir di dunia,”Lelaki tua itu memperkenalkan dirinya. “Akhirnya, ada yang memakai tongkat itu!! Aku sudah mengira saat kau kesini tiga tahun lalu untuk mengantar kakak perempuanmu,” lanjutnya. Greyson tidak mengerti apa yang dikatakan Mr.Ollivander.

Mr.Ollivander memberikan tiga tongkat sihir yang berbeda dari tongkat sihir lain  yang ada di toko itu. “Coba letakkan tangan kananmu diatasnya. Satu per satu dan perlahan-lahan,” ujar Mr.Ollivander pelan. Greyson mengangguk dan meletakkan tangan kanannya tepat di tongkat yang pertama. “Tidak ada reaksi apa-apa,” kata Greyson pelan. “Oh, tentu saja! Tongkat memilih penyihir, bukan penyihir memilih tongkat!” Mr.Ollivander mengambil tongkat pertama. “12 ½ inchi, dengan inti dari naga. Kayu aspen, cukup lentur. Coba tongkat kedua,” kata Mr.Ollivander setelah meraba-raba tongkat pertama.

Greyson melakukan---seperti apa yang dia lakukan pada tongkat pertama---di atas tongkat kedua. Masih tidak bereaksi apa-apa. “11 ½ inchi, inti dari unicorn. Kayu hazel, keras. Ini bukan tongkatmu, Mr.Chance. Coba yang terakhir. Aku yakin tongkat ini milikmu. Karena kau adalah lelaki-yang-telah-ditakdirkan,” jelas Mr.Ollivander lagi. Greyson tidak mengerti apa maksudnya. Greyson meletakkan tangan kanan diatas tongkat terakhir. Tiba-tiba saja terdengar suara angin yang bertiup sangat kencang. Tongkatnya terangkat ke arah tangan Greyson yang sempat terangkat karena kaget. “Waw! Aku tidak pernah melihat efek sedahsyat inI! Mr.Chance, kau adalah orangnya! Ya!” Mr.Ollivander menggoyangkan bahu Greyson. Alexa dan Tanner yang melihat dari dekat pintu tercengang dan juga tidak mengerti apa yang dikatakan Mr.Ollivander. “13 inchi, inti dari bulu burung phoenix. Kayu hitam dan keras. Ini adalah tongkat terhebat, Mr.Chance!” Mr.Ollivander memberikan tongkat itu kepada Greyson setelah dia meraba-raba tongkat itu.

“Uhm, berapa ini, Mr.Ollivander?” tanya Alexa sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. “Oh, tidak perlu! Aku sudah berjanji saat aku membuat tongkat ini, jika ada orang yang berhasil memilikinya, aku akan memberikannya gratis,” ujar Mr.Ollivander. “Oh, oke! Thank you, Sir!” Tanner mengajak Greyson dan Alexa keluar. “Alexa, Tanner, apa maksudnya ini?” tanya Greyson sambil membolak-balikkan kotak transparan yang berisi tongkat sihir miliknya. Alexa dan Tanner menggelengkan kepalanya dengan muka kaget. Saking heran dengan tongkatnya, Greyson terus menatap kotak itu.

Bruk!

Greyson menabrak seseorang yang kelihatannya seangkatan dengannya. “Oh, I’m so sorry!” ujar Greyson. “Hm, it’s okay! No prob!” balas perempuan itu langsung berlari ke arah laki-laki tua yang sepertinya ayahnya. “Come on, Grey! Kita harus cepat sampai rumah!” Tanner berlari sambil membawa burung hantu peliharaan Greyson.
***
“Alexa, kau tau apa maksud Mr.Ollivander?” tanya Tanner sedikit  pelan di kamarnya. “Aku pernah membaca sebuah buku ramalan kelas dua,” ujar Alexa menutup pintu kamar kakaknya. “Disitu tertulis, ‘penyihir terjahat di dunia akan bisa dikalahkan dengan seorang anak laki-laki yang memang ditakdirkan. Dia memiliki salah satu dari tiga tongkat terhebat yang pernah dibuat oleh seorang pembuat tongkat sihir terkenal, Mr.Ollivander,’”  lanjutnya.

Tanner dengan cepat mengambil buku ramalan miliknya, “halaman berapa?!” “Hm, coba 121,” kata Alexa. Tanner membuka halaman yang disebutkan oleh Alexa dengan cepat. “AH IYA! BENAR!” teriak Tanner. “Shhh! Sebenarnya dari sebelum dia lahir, aku merasakan yang berbeda. Greyson lahir saat hari terakhir peperangan,” Alexa merebut buku itu dari Tanner. “Lihat! ‘anak laki-laki itu lahir pada saat hari terakhir perang penyihir yang sangat dahsyat. Dunia berubah saat anak laki-laki itu lahir. Kejahatan lama telah usai, dan kejahatan yang baru akan muncul detik itu juga.’” Alexa menatap wajah Tanner dengan wajah khawatir.
***
Grey, kau sudah siap? Jangan pakai jubahmu dulu! Nanti kalau kau hampir sampai di Hogwarts, barulah kau pakai,” Lisa mengambil jubah yang sudah Greyson masukkan ke sebagian tubuhnya. “Kenapa, Mom?” tanya Greyson. “Lebih aman jika kau pakai disana. Para muggle tidak biasa melihat seragam sekolah seperti ini. Dan memang ini dilakukan semua penyihir. Ayo cepat, Dad sudah menunggu dibawah! Jangan lupa bawa daging asap kejunya,” ujar Lisa sambil melipat jubah Greyson dan memasukkannya ke dalam koper.

“Oreo mana?” tanya Greyson pada Tanner “Dia sudah ada di mobil. Tenang saja,” jawab Tanner sambil berlari keluar rumah. Greyson mengangguk lalu memasukkan daging asap keju bikinan Lisa ke dalam tas kecilnya. “Greyson!!” Panggil Alexa dan Tanner. “Yaaa, tunggu!” Greyson berlari mengunci pintu rumahnya.

Greyson dan keluarganya telah tiba di stasiun King Cross tepat pukul 10.30 waktu London. “Come on, Oreo! Kita akan pergi sekolah!” Greyson memindahkan kandang Oreo ke troli yang telah disiapkan Tanner. “No, Dad! Biar aku saja yang memindahkan koper ini,” ujar Greyson. Scott membiarkan anaknya bekerja sendiri agar terbiasa.

Para muggle yang sedang berlalu-lalang di stasiun itu menatap Greyson dengan heran. “Grey, abaikan saja! Mereka tidak biasa melihat ini, mereka hanya muggle,” gumam Greyson dalam hati, seakan dirinya membaca pikiran orang itu. “Tanner!” Scott memanggil anak pertamanya. Tanner langsung menembus dinding peron 9 dan 10, diikuti Alexa dan Lisa.

Saat Greyson akan berlari menembus dinding itu, dia bertemu dengan seorang anak laki-laki bermata biru. “Hai!” sapa Greyson. “Oh, halo!” balasnya sambil tersenyum. “Namaku Greyson, Greyson Chance,” kata Greyson. Wanita berambut merah mengembang itu menatap Greyson kaget. “Namaku Albus Severus Potter. Panggil sama Al. Oh iya, ini kakakku James Sirius Potter, dan adikku Lily Luna Potter,” Al memperkenalkan saudara kandungnya kepada Greyson. “Ini ayahku, Harry Potter, dan ibuku Ginny Potter,” lanjutnya. Greyson tersenyum kepada keluarga Potter.

“Oh, bagaimana kalau kalian berbicara di dalam kereta? 15 menit lagi kereta berangkat,” ujar pria berkacamata yang bernama Harry Potter. Scott mengangguk dan membiarkan keluarga Potter terlebih dulu menembus dindingnya. “Albus, kau duluan saja bersama Greyson. Aku ingin berbicara dengan ayahnya,” ujar Harry. Albus mengangguk lalu mengajak Greyson menembus dinding itu bersama.

"Greyson, kemana ayahmu?" tanya Lisa. "Dia bersama Mr.Potter, Mom. Tenanglah, dia akan kesini. Oke, aku berangkat dulu. Sampai jumpa!" Greyson mengecup pipi ibunya lalu berlari ke arah Albus yang sedang berbincang dengan ibunya. "Albus, come on!" Greyson menepuk pundak Albus. "Oh, come on! Bye, Mom!" Albus berlari menyusul Greyson yang sudah berada di dalam kereta.

(to be continued)

23 Jun 2012

Ka(mu)lian yang Terbaik #2


-Greyson-

Greyson. Cowok ganteng, imut, berambut dan bermata coklat. Greyson adalah sahabat Cody sejak mereka bertemu di Amerika, saat mereka diputuskan untuk tour bersama di Amerika. Keduanya memutuskan untuk berkuliah di Inggris, walaupun mereka berkuliah di tempat berbeda. Karena Inggris adalah tempat teraman untuk ‘mengungsi’ dari paparazzi. Pagi itu, Greyson bersiap-siap untuk menjemput sahabatnya di bandara.

-Laras&Cody-

Laras dan Cody sampai di bandara Internasional di Inggris. Mereka baru pulang dari Indonesia. Ya, mereka telah bertunangan. Cody yang menginginkan semua ini, spesial untuk Laras. Lagipula,Laras sudah sering bertemu  orang tua Cody, jadi Cody menggunakan kesempatan ini untuk bertemu orang tua Laras. Laras merasa bahwa dia adalah salah satu orang yang beruntung di dunia ini, karena memiliki calon suami yang benar-benar baik dan perhatian.

“And last, is yours,” Cody menyerahkan koper milik Laras. Kemudian Laras menyimpannya di troli lalu melajukan trolinya. “Now, my friend has already promised to meet  me at the airport now,” kata Cody. “Okay! So, we got to meet him now. Maybe he’s been waiting,” ujar Laras mempercepat langkahnya. Cody mengangguk lalu membantu Laras mendorong trolinya.

-Greyson-

“Cody!!” Greyson berteriak memanggil Cody. “Greyson!” Cody mengarahkan trolinya ke arah Greyson. Laras mengikuti Cody dari arah belakang. “Hi, bro! How are you? Long time not see you!” kata Greyson memeluk Cody. “I’m fine. Greyson, she’s Laras. She’s my fianc,” Cody memperkenalkan Laras. Laras tersenyum pada Greyson. “Greyson. Greyson Chance,” Greyson membalas senyum Laras. “Oh guys, we have to go now! There’s someone waiting for us. It seems to talk about our concerts,” ujar Greyson melihat jam tangannya. Cody dan Laras mengangguk, lalu menarik kopernya.

She’s look different. Uh, Grey! What  do you think?! She belongs to Cody!!” gumam Greyson dalam hati. Ya, Greyson terpesona pada Laras. Pada pandangan pertama. Tapi Greyson tahu, Laras milik Cody. Bahkan mereka telah bertunangan. “Greyson, are you okay?” tanya Cody membuyarkan lamunan Greyson. “I’m okay Cody,” ujar Greyson tersenyum. “Are you---”, “Laras, I’m fine! I’m just tired,” Greyson memotong pembicaraan Laras. “Oh. Uhm, it’s okay!” balas Laras sambil tersenyum.

Selama di perjalanan, Greyson dan Cody mulai membicarakan konsep untuk konser mereka nanti. Laras hanya bisa memperhatikan mereka sambil mendengarkan lagu dari Ipodnya. Karena Laras tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, Laras memutuskan  untuk tidur. Greyson yang menyadarinya langsung melihat ke arah Laras lalu tersenyum kecil. “Grey,” panggil Cody. “Laras. She’s sleeping,” ujar Greyson kepada Cody. Greyson melihat senyum yang menghiasi wajah Cody. Belum pernah Greyson melihat Cody tersenyum sebahagia ini. “Mungkin aku harus mengalah,” gumam Greyson dalam hati sambil tersenyum. Air matanya sudah menggenang di matanya. Tapi Greyson tak membiarkan air mata itu jatuh di depan sahabatnya.
***
Pagi ini, Laras, Cody, dan Greyson sudah tiba di bandara untuk pergi ke Korea sebagai negara yang mereka kunjungi ketiga setelah Taiwan dan Indonesia. Laras sangat suka dengan Korea! Oleh sebab itu, Cody memutuskan untuk lebih lama berdiam di Korea, dan Greyson menyetujuinya.

“Laras, come on!” ujar Cody setelah mendengar pengumuman. Laras menyelendangkan tas kecilnya lalu menggandeng tangab Cody. “Greyson, let’s go!” kata Laras yang melihat Greyson masih terdiam di tempat duduknya sambil menatap layar handphonenya. “Grey, are you okay?” Cody menghampiri Greyson. “Uhm, I’m okay, Coco!” Greyson langsung menyembunyikan handphonenya. Cody dan Laras langsung mengkerutkan keningnya. “Let’s go, guys!” Greyson menarik tangan Cody lalu berlari kencang menuju pesawat.

Selama perjalanan dari Taiwan menuju Korea yang memakan waktu kurang lebih 2 jam, Laras tertidur dibahu Cody dengan earphone di telinganya. Cody dan Greyson berbincang sambil meminum segelas kopi yang baru saja diberi oleh pramugari. Ketika Greyson berdiri untuk mengambil barang ditasnya, Greyson tak sengaja melihat Laras yang tertidur. “She’s beautiful,” gumam Greyson dalam hati. Kemudian matanya kembali tertuju kepada tas miliknya.

Tak terasa mereka akhirnya tiba di Korea. Laras yang masih mengantuk tidak bisa melepaskan tangan Cody dan tidak bisa menyandarkan kepalanya ke bahu Cody. “Annyeong! Welcome to South Korea, Cody, Greyson!” sapa salah satu fans---lucky fans mereka yang menyambut tepat di pintu keluar pesawat. “Thank you---what’s your name?” tanya Greyson sambil menjabat tangan gadis itu. “My name is Chung Ae,” balas gadis Korea itu sambil tersenyum. “And, what’s your name?” tanya Chung Ae kepada Laras. “Oh, uhm, Laras. Nice to meet you, Chung Ae,” jawab Laras sambil tersenyum sambil membetulkan poninya yang hampir menutup mata kirinya.

Chung Ae mengajak Greyson, Cody, dan Laras untuk segera mengambil koper-koper mereka lalu keluar bandara. Mereka mengikuti langkah Chung Ae. Laras tampak lebih bersemangat, lalu menghampiri Chung Ae yang berjalan didepannya. Mereka asyik berbincang dengan bahasa Korea, membuat Cody dan Greyson mengkerutkan keningnya. “Laras can speak in Korean, Cody?” Greyson mengalihkan pandangannya dari Blackberrynya. Cody menggelengkan kepalanya. Cody selama ini tidak tahu bahwa Laras sangat mencintai Korea, sampai-sampai fasih berbahasa Korea. Cody dan Greyson lalu tertawa, dan Laras kemudian menatap keduanya dengan tajam.

The-Boy-Who-Are-Destined had been Born


Texas, 16 Agustus 1997

Pagi itu, suasana peperangan antar penyihir masih terasa, bahkan sampai ke dunia muggle. Scott sebagai kepala keluarga berusaha menyelamatkan istri, kedua anaknya, dan seorang calon anak yang sebentar lagi akan menghirup udara di dunia untuk yang pertama kalinya.

“Dad, ada apa ini? Kenapa kita harus kabur dari rumah? Lihat, Mom sudah kesakitan,” ujar Tanner. Alexa, adik Tanner yang masih berusia 3 tahun, hanya bisa terdiam disebelah mamanya yang merintuh kesakitan. “Sekarang kita akan mengantar Mom ke rumah sakit, Tanner,” ujar Scott berbohong.

Sebenarnya Scott tidak berbohong. Dia memang akan membawa istrinya, Lisa, ke rumah sakit muggle untuk melahirkan. Tapi, dia juga harus berhati-hati terhadap serangan dari dunia sihir. Scott tidak bisa memberitahu anaknya tentang sihir terlebih dahulu, khawatir anak-anaknya menyalahgunakan sihir itu.

Scott menyuruh Alexa dan Tanner masuk ke mobil, sementara dirinya menggotong Lisa yang sebentar lagi akan melahirkan. Setelah semuanya telah berada di dalam mobil, Scott mulai melajukan mobilnya dengan kencang dan sangat hati-hati. Scott menghindari sejumlah penyihir yang berperang di dunia muggle.
***
London, 20 Juli 2006

“Dad, ada burung hantu di ruang tamu!!” Greyson kecil berlari ke arah Scott dengan sedikit ketakutan. “Kenapa, Grey? Apa kau takut?” tanya Scott mengelus. Greyson menganggukan kepalanya. “Hahaha, ngapain kau takut? Nanti kau perlu burung hantu suatu hari nanti,” kemudian Scott menggendong putra kecilnya dan berjalan menuju ruang tamu untuk menghampiri burung hantu miliknya.

Greyson ketakutan saat ayahnya mengambil surat dari paruh burung tersebut. “Apa itu, Dad?” tanya Greyson. “Ini? Surat untuk Alexa. Sama seperti Tanner empat tahun lalu. Mungkin kau tidak ingat ya, hahaha,” Scott menurunkan Greyson dari pangkuannya kemudian duduk di sofa terdekat. 

Terdengar suara langkah kaki yang cepat. Alexa berlari menuju Scott lalu memeluknya dari belakang. “Dad, itu apa?” tanya Alexa. “Surat untukmu, Alexa. Dari Hogwarts,” jawab Scott memberikan suratnya kepada Alexa. “Hogwarts?! Oh, Dad, benarkan?! Akhirnya aku bisa sekolah disitu!!!!” Alexa melompat kegirangan. Greyson yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa terdiam.

“Mungkin besok kita akan ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan untukmu dan Tanner---” “But, Dad, bagaimana denganku? Tempat apa itu?” tanya Greyson memotong pembicaraan ayahnya. “Kau? Untukmu masih tiga tahun lagi. Tapi Dad akan mengajakmu juga ke Diagon Alley,” Scott tersenyum. “DAD!! Kau tidak adil! Kau membiarkan Greyson dan Alexa tahu tentang sihir sejak kecil, sedangkan aku tidak boleh mengetahuinnya sampai surat itu tiba!” ujar Tanner yang masuk ke ruang tamu dengan tiba-tiba. “Kata siapa?! Aku baru mengetahui sihir sejak kau baru pulang dari Hogwarts pada tahun pertamamu!” Alexa memprotes kepada Tanner. “Dan itu empat tahun yang lalu, Alexa!” Tanner membuang muka. Dad Scott tertawa.

“Dad tidak pilih kasih. Dad melakukan ini semua juga demi kebaikan kalian. Kalau kau, Tanner..” Lisa mencubit pelan hidung Tanner, “kalau kau tidak aku perlakukan seperti tujuh tahun lalu, sepertinya kau dan adik-adikmu akan membuat ulah,” lanjutnya. Tanner dan Alexa terdiam, lalu mengangguk tanda mengerti. “Mengerti apa yang Mom bicarakan?” tanya Scott. “Mengerti, Dad,” jawab Tanner dan Alexa bersamaan. Kemudian Scott bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar tidurnya.

“Sekarang, kalian bersiaplah untuk makan siang tanpa ayah kalian. Dia sedang beristirahat, tidak bisa diganggu,” ujar Lisa sambil memasukkan makan siangnya ke piring. “Masak apa, Mom?” tanya Greyson yang heran melihat warna kuning dengan ukuran kecil keluar dari panci. “Kita makan makaroni keju leleh ya!” Lisa memberikan piring untuk Tanner dan Greyson, lalu mengambil dua piring  lagi untuk dirinya dan Alexa.
***
“Anak-anak, ayo bangun! Hari ini kita akan membeli perlengkapan ke Diagon Alley!” Lisa menepuk pinggul ketiga anaknya dengan perlahan. “Mom, berilah waktu sedikit! Aku masih mengantuk,” ujar Greyson dengan mata masih tertutup. “Ayolah, bukankah kau ingin pergi kesana, Grey?” tanya Lisa sambil menggelitik pinggang Greyson. Greyson terbangun sambil tertawa geli lalu memeluk mamanya. “Aku mau mandi!” celetuk Greyson.

Setelah semua sudah siap, Scott mengajak Lisa dan ketiga anaknya ke depan perapian di rumahnya. “Dad, apa-apaan ini? Katanya kau akan mengajakku ke Die-a-gun a-li!” ujar Greyson sambil berkacak pinggang. “Die-a-gun a-li? Diagon Alley maksudmu?” Lisa mengkerutkan keningnya. “Ya, terserah! Tempat itu maksudku! Kenapa kita ke perapian?” tanya Greyson. “Karena ini jalan menuju Diagon Alley, adikku sayaaang,” kata Tanner tertawa. “Tapi---”, “Sudah, kita berangkat sekarang. Dad sudah ada janji disana,” Greyson cemberut karena pembicaraannya dipotong oleh Scott.

Dad membuka sebuah pintu kecil yang ada di dalam perapian tersebut. Tanner masuk ke pintu paling awal dari yang lainnya, diikuti Alexa, Lisa, Greyson , lalu Scott. Greyson melihat sekelilingnya. Tidak terlihat seperti pertokoan. “Dad, ini Die---Diagon Alley. Yeah, Diagon Alley! Aku bisa, Dad! Diagon Alley! Yeeaaa! Ini terlihat seperti rumah,” Greyson melompat kegirangan.

“Ayo kita keluar!” Scott menggandeng tangan kecil Greyson lalu mengajaknya keluar. “Waw, Dad! It’s amazing! Tapi, dimana Mom, Alexa, dan Tanner?” Greyson kembali melihat sekeliling. “Mungkin di Potage’s Cauldron Shop,” jawab Dad yang memang melihat mereka dari luar. “Tempat apa itu, Dad?” tanya Greyson lago. “Kau akan tahu suatu hari nanti, Grey! Oh, come on, Mom dan kakak-kakakmu sudah menunggu kita,” Scott mempercepat langkahnya kemudian memasuki “Potage’s Cauldron Shop”.
***
1 September 2006
10.00 am

Greyson telah sampai di Stasiun kereta api King Cross. Dia melihat kedua kakaknya membawa koper besar dan burung hantu peliharaan keduanya. Greyson heran, kenapa orang-orang yang berlalu lalang jarang yang membawa troli seperti kedua kakaknya. “Mungkin aku akan tahu tiga tahun lagi,” pikirnya.

Greyson dan keluarganya berhenti di peron 9 dan 10. “Tanner, kau duluan,” ujar Scott. Lalu Tanner berlari ke arah tembok itu, dan---menghilang?! Untuk apa?” tanya Greyson dalam hati. “Oke, Alexa! Kau bersamaku. Pegang erat-erat trolimu,” ujar Lisa, lalu berlari ke tempat Tanner tadi menghilang bersama Alexa. “Are you ready, boy?!” tanya Scott sambil meletakkan tangannya di bahu Greyson. “Yeah, I’m ready!” jawab Greyson dengan semangat, ragu, dan penasaran. Mereka pun berlari ke arah yang sama seperti mama dan kedua kakaknya.

Greyson memejamkan kedua matanya. Hey---dia tidak merasakan apa-apa! “Menyenangkan!” pekiknya. Scott yang melihat hanya tertawa kecil. Greyson mendecak kagum. Kereta kuno yang bertulisan “HOGWARTS EXPRESS”, sudah siap membawa para penyihir menuju sekolahnya. “Lisa!” Scott memanggil istrinya yang sedang berdiri dihadapan Alexa. “Dimana Tanner?” tanya Greyson. “Dia sudah masuk kereta,” jawab Alexa tersenyum. “Ready?” tanya Scott. Alexa mengangguk lalu mencium pipi kedua orang tuanya dan Greyson, kemudian masuk ke kereta.

Tutt... tuutttt...

Kereta kuno itu segera berangkat. Alexa dan Tanner melambaikan tangan ke arah keluarganya dari tempat duduk yang sama. “Bye Tanner! Bye Alexa!” Greyson berteriak sambil melambaikan tangannya. “Oke, Grey! We must to go now,” ujar Lisa merangkul Greyson. “Yap! Ah, ternyata dunia sihir sangat menyenangkan! Aku tidak sabar tiga tahun lagi!” kata Greyson tersenyum lebar.

(to be continued)

21 Jun 2012

About My New Story

Hello, guys!

Fyi, I'll make new story about Greyson Chance!!! Wohooo~

I'll describe Fact about Chance's family....

.Greyson and his family are a wizard
.Greyson wizard school: HOGWARTS!
.Chance's family: pureblood.
.Scott Chance: Slytherin. The best quiddicth captain.
.Lisa Chance: Gryffindor. The brightest wizard in Hogwarts.
.Tanner Chance: Slytherin. The best keeper and a prefek.
.Alexa Chance: Ravenclaw. The brightest wizard in Hogwarts after her mother.
.Greyson Chance: Gryffindor. The sorting hat ask him to Slytherin, but he doesn't like Slytherin. Seeker and captain quidditch.

Yeah, Greyson likes Harry Potter. But the story is very DIFFERENT!!

Thanks (:

- @jascikalf -

9 Jun 2012

Ka(mu)lian yang Terbaik #1

Laras. Itulah panggilannya. Gadis cantik bermata hijau melangkah menuju sebuah ruangan. Disana sudah banyak orang-orang jenius yang akan menjadi teman sekaligus saingannya selama tiga sampai empat tahun kedepan.

Finally, Oxford University! Huaaaa,” Laras berteriak dalam hati. Kemudian Laras berjalan cepat menuju kursi kosong yang berada di paling kanan. Dengan perasaan senang sekaligus gugup, Laras mengeluarkan alat tulis dan bukunya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. “Uhm, hello. What’s your name?” tanyanya. “My name is Laras. And you?” balas Laras sambil menjulurkan tangan. “Hi, Laras! I’m Cody. Cody Simpson. Nice to meet you!” katanya. “Hi Cody, nice to meet you too. Btw, where are you come from?” “I was born in Australia. But, at 2011 I moved to America to debut my first album. And finally, I’m here!” Jelas Cody. “Tatapannya. Oh Tuhan!!” tanpa sadar Laras tersenyum sendiri. Aneh, Cody tidak merasa ada yang aneh dariku. Dia terus menatapku dan sepertinya menanti jawabanku walaupun dia tidak bertanya. “Ooohh. I’m from Indonesia. Wait! First album? Are you a singer?” kening Laras mengkerut. “Yeah, hehehe,” Cody tersenyum lebar. Dia mengambil sesuai dari dalam tasnya. “This is for you. Just for you! Don’t tell anybody,” Cody memberi albumnya kepada Laras. “Gratis?” tanya Laras kebingungan. “Eh---uhm, free?” Laras lupa kalau dia sedang berada di Inggris, bukan Indonesia. Cody mengangguk. “Uhm, thanks!” Laras tersenyum. Tak lama, dosen pun datang.

“Laras! Where do you live?” Cody menghampiriku dari arah belakang. “Uhm, at---I don’t know. I’m new here. The place is not far from here. I forgot the name of the street,” kata Laras tersenyum lebar. “Laras has a sweet smile!” Pikir Cody. “Oh, okay! Come on, get into my car! Who knows we’re living in the same apartemen,” Cody menarik tangan Laras dengan lembut. Pertemuan pertama yang sedikit konyol menurut Laras.

Diperjalanan menuju apartemen, Cody dan Laras saling bertukar cerita tentang masa lalu mereka, dan saling melontarkan candaan. “Stop here, Cody. This is my apartemen,” Laras menepuk pundak kanan Cody. “I live there also! Waw, I never thought we could meet and stay in the same apartment!” kata Cody sambil tertawa. “Okay, Cody! You’re blocking the others. Hurry up!” Laras menyuruh Cody melajukan mobilnya setelah melihat antrian dibelakang semakin panjang. Laras dan Cody tertawa ketika telah menemukan tempat parkir. “What number you stay in the room?” tanya Cody melepas sabuk pengamannya. “248. You?” tanya Laras balik. “251. Oh, come on!” Cody menarik tangan Laras.
***
Sudah hampir setahun Laras dan Cody berteman. Mereka selalu saling membantu dalam mengerjakan tugas. Mereka juga sering melepas kepenatan dengan berjalan-jalan di mall bersama. Saking seringnya mereka bersama, teman-teman sering mengira mereka pacaran. Laras dan Cody hanya bisa tertawa mendengar pendapat teman-temannya.

Sebenarnya, dari hati Laras, tersimpan rasa yang tak biasa kepada Cody. Selain baik, Cody juga perhatian, tampan, gentle, dan berbeda.Tapi Laras menyadari, Cody adalah superstar. Pasti banyak perempuan yang mengidolakannya. Kadang terpikir dibenak Laras, “aku mencintai Cody lebih dari mereka. Aku benar-benar tulus mencintainya. Tidak seperti perempuan-perempuan lainnya yang hanya sekedar ‘mencintai’ Cody,” tapi Laras berusaha untuk tidak mengharapkan yang lebih. Laras takut kehilangan Cody sebagai sahabatnya. Laras tidak mau.

Brrrtt... brrrtt...

Handphone Laras bergetar. Pesan dari Cody.

Laras, I want us to meet at the park tonight at 8. And I want you to wear dress –Cody-

Laras mengangguk. Perasaan senang dan penasaran bercampur dibenaknya. Kira-kira ada apa? Laras tak peduli. Dilihatnya jarum sudah menunjukkan pukul 7. Laras harus bersiap-siap. Dia beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Dia sudah memutuskan untuk memakai gaun tak berlengan dengan warna hijau, warna kesukaannya. Tepat jam 7.45, Laras keluar kamar dan berjalan menuju taman untuk memenuhi janjinya kepada Cody.

Laras telah menunggu selama 30 menit di taman itu. “Mana Cody? Katanya mau ketemu disini jam 8. Apaan, sekarang udah jam 8.15 gini!” ujar Laras kesal. Orang-orang yang sedang berlalu-lalang bingung melihat Laras berbicara sendiri dengan bahasa asing bagi mereka. Laras tak peduli. Air mata Laras sudah menggenang di kelopak matanya.

Tak lama kemudian, ada bunyi kembang api. Laras tersontak kaget. Kembang api itu membentuk hati. Tiba-tiba terdengar alunan gitar yang Laras kenal. Cody. Ya, alunan gitar khas Cody. Laras membalikkan badannya. Cody tersenyum manis kepadanya sambil memainkan gitar. “Lagu apa ini? Aku belum pernah mendengar sebelumnya,” gumam Laras dalam hati.

“Laras, I love your eyes. I love your brown hair. I love all of you,” Cody menyimpan gitarnya lalu berjalan ke arah Laras. “Laras, will you be my girlfriend?” tanya Cody saat tepat berada di depan Laras. Tanpa sadar, Laras membuka mulutnya lalu membisikan kalimat, “Yes, Cody,” Cody langsung memeluk Laras lalu memutar-mutar badannya. Malam yang indah bagi mereka berdua.

3 Jun 2012

Will Dunn: Seumur Hidup Cinta Harry Potter


Penampilan Will di HPDTH part 2 emang sebentar banget, tapi sebagai penggemar berat Harry Potter, bisa memerankan karakter James Sirius Potter itu berarti sekali buat Will. "Aku enggak nyangka sekaligus semangat main film ini. Aneh banget rasanya bisa main di film terakhir ini, soalnya Harry Potter udah jadi idola seumur hidupku. Emang sih aku cumma muncul di adegan terakhir, tapi menurutku karakter James termasuk salah satu peran besar di Harry Potter," cerita cowok yang suka main sepak bola ini.

Sebelum main di HPDTH part 2, Will pernah beberapa kali beraksi di depan kamera. Bulan Mei 2011 lalu, film pendek pertamanya yang berjudul My Song tayang di Film 4 (salah satu channel tv di Inggris dan Irlandia. Will juga pernah memerankan karakter bernama James di sebuah film yang menceritakan tokoh Zeus (raja para dewa di mitologi Yunani). Ehm, jadi gak sabar nih liat Will di film-film berikutnya!


2 Jun 2012

Benedict Clarke: Kaget Lihat Ribuan Fans


"Umurku 14 tahun, aku tinggal di West London. Aku suka fotografi, musik, (serial) tv, dilm dan aku juga penggemar (drama) teater. Aku bisa bermain piano dan enggak bisa menari. Aku memainkan karakter Severus Snape remaja di Harry Potter and The Deathly Hallows part 2. Aku mencari agensi yang sedang membuka audisi agar bisa memerankan lebih banyak karakter (di film) lagi," jelas Benedict soal dirinya.\

Enggak heran kalau Ben, panggilan akrab Benedict, pengin memerankan lebih banyak karakter di film lagi. Soalnya akting Ben di film terakhir Harry Potter sebagai Snape meninggalkan kesan mendalam buat para penggemar Harry Potter. Followers Ben di Twitter pun langsung bertambah ribuan orang. Daan, Ben juga sering banget menjawab pertanyaan para cowok yang doyan sushi ini tetap merasa aneh dan kaget melihat antusiasme penggemar Harry Potter. "Aku kaget saat melihat 3400 fans Harry Potter kompak memakai kostum (seperti di film HP)," kjawab Benedict waktu ditanya ha teraneh apa yang pernah dia lihat. Penasaran pengin ngobrol sama Ben? Follow aja @benedictclarke di Twitter, terus ajak ngobrol, deh. Semoga dibalas ya! Hi hi hi.

Arthur Bowen: Coklat dan Permen Gratis


Memerankan karakter Albus Severus Potter di film Harry Potter and The Deathly Hallows part 2 (HPTDH) benar-benar jadi pengalaman pertama Arthur di dunia hiburan. Makanya waktu pertama kali syuting di King Cross Station yang penuh dengan properti film, kru, dan para pemeran HPTDH part 2, Arthur sempat merasa kaget melihat kesibukan semua orang yang ada di set. "Awalnya aku takut banget, tapi ternyata semuanya baik dan mau memperhatikanku. Dan, aku pun merasa nyaman begitu syuting dimulai," kata Arthur.

Enam bulan setelah selesai syuting, jantung Arthur berdebar-debar kembali begitu dapat undangan premiere HPTDH part 2 di London. Sejak saat itu hari-harinya berubah drastis. Berpose di karpet merah, dimintai tanda tangan oleh para fans, sampai diwawancara di berbagai saluran tv dan radio sedunia.

Tapi yang paling menyenangkan untuk Arthur adalah acara after party-nya. "Disana ada air mancur cokelat, tumpukan permen serta candy floss (sejenis permen kapas), dan semuanya gratis!" ucap Arthur sambil nyengir lebar.

30 Mei 2012

Our Life #1


Sayang, maaf banget ya mama baru berangkat! Tadi temen mama ke rumah mendadak. Nanti mama jemput di BIP ya..

Hhh, kesal! Kenapa Mama selalu ngasih tahu mendadak? Mama tidak mengerti, aku sudah sangat menantikan saat-saat ini, karena jam lima nanti ada idolaku, David Archuleta di suatu  acara di televisi. Kalau begini, mungkin sampai di rumah, acaranya sudah selesai! Aku memutuskan pergi ke Hypermart untuk membeli cemilan sambil menunggu Mama datang.

“Pengen banget es krim! J.cool aja deh,” saat aku keluar dari Hypermart, tiba-tiba....

BRUKK!

Cowok bertubuh tegap menabrakku. “Oh---hm---I’m sorry,” ujarnya menarik lengan atasku. “No, I’m sorry,” kataku sambil tersenyum. “Oh, no! It’s my fault! Hm, btw, lo mau kemana?” tanyanya. “Aku mau ke J.co,” jawabku sambil memasukkan kantong keresek ke dalam tasku. “Kebetulan banget! Bareng aja! Gue gak ada temen, nih,”

Lumayan juga nih cowok! Gumamku dalam hati. “Oh iya, lo mau mangga atau berry?” tanyanya membuyarkan lamunanku. “Hm---aku yang berry aja deh! Aku gak terlalu suka mangga,” cowok itu mengangguk lalu memesan j.coolnya.

“Oya, kita belum kenalan! Nama gue Gani,” cowok itu menjulurkan tangannya ke arahku. “Aku Disha. Kamu sekolah dimana? Kelas berapa?” aku memasukkan satu sendok yoghurt ke dalam mulutku. “Gue di SMA Hilton, mau naik kelas 12. Lo?”, “Aku di SMP 2, kelas 9, hehehe. Maaf, tadi aku gak manggil pake ‘Kak’,” kataku malu. “Hahaha, no prob----Disha! Gak usah manggil ‘kakak’ juga gak apa-apa, kok!” aku tersenyum, “tapi gak enak aja, kak!” “Hahaha, okay! Oh iya, btw, ngapain lo kesini? Sendirian lagi!” tanya kak Gani. “Aku baru pulang bimbel, terus nunggu mama jemput. Ya, jadi aku kesini deh. Kakak ngapain?”, “Gue? Gue cuma iseng jalan-jalan aja. Di rumah gak ada siapa-siapa, ya sudah gue iseng kesini,”

Disha, kamu dimana? Mama udah nyampe parkiran! Mama nyamperin kamu aja, sekalian shalat Maghrib dulu” ternyata itu Mama. “Lagi di J.co Ma! Okay, Disha tunggu di depan Hypermart aja ya!” aku memencet tombol merah di Blackberry-ku. “Hm, kak, maaf, mamaku udah jemput nih!” ujarku lalu memasukkan dompet ke dalam tas. “Eh, tunggu dulu! Minta pin lo dong! Siapa tahu ntar lo di ospek sama gue, hahahha,” Kak Gani mengeluarkan handphonenya lalu mulai mengetik ketika aku berbicara. “Okay, thanks, Dish! Bye, hati-hati!” Aku melambaikan tangan ke arahnya sambil berlari kecil.
***
“Oh iya, tadi siapa Dish?” tanya Mama sambil menyalakan mesin mobil. “Siapa apaan?” aku balik bertanya. “Hhhh, kamu pikir Mama gak liat ya tadi kamu bareng siapa?” aku tersontak. “Eh---hm, itu kak Gani, Mah,” “Mama kan udah bilang sama kamu, jangan jalan bareng sama orang yang kamu gak kenal sebelumnya,” Mama mulai melajukan mobilnya. “Tapi dia baik kok, Ma. Dia bakal jadi kakak kelas Disha entar SMA,” jawabku santai. “Maksudmu?” tanya Mama lagi. “Ya, dia sekolah di SMA Hilton, Mah. Dia kelas 11,” Mama hanya berho-oh sambil memperhatikan jalan.

“Aaaaaahhhh,” Mama kaget mendengarku berteriak tiba-tiba. “Kamu kenapa?” tanyanya dengan nada sedikit marah. “Disha baru inget, Ma! Jam lima tadi ada David Archuleta!! Mama sih, kenapa jemputnya telaaaaatt!!” ujarku merengek. “Ya ampun, Disha! Mama kira apaan! Lagian yang kayak gitu mah banyak,” Hhhh, Mama selalu tidak mengerti. Memang Mama dulu gak pernah muda apa? Pikirku. “Banyak darimana, Mah? David tadi tuh nyanyi di acara live, Mah, LIVE!” “Ah, nanti liat aja di youtube, gampang kan?” ujar Mama dengan santai. Aku mendesah lalu memainkan handphoneku lagi.

Sesampainya di rumah, aku segera menuju kamar tidurku. Aku membanting pintu kamar. “Bodo amat lah, Mama mau marah-marah lagi juga! Lagian, salah sendiri kenapa buat anaknya kesel?” Isakku sambil menjatuhkan tubuhku di atas kasur. Kemudian aku mengambil headphone dan Ipod yang terletak di meja belajar, lalu memutar lagu David Archuleta kesukaanku.
***
“Dish, ini siapa?! Kece banget!!” Ghina, teman dekatku memperlihatkan layar handphoneku yang penuh dengan foto kak Gani. “Oh, itu kak Gani,” jawabku singkat. “Mana, mana?---Eh, iya Dish, kece sangaaaad pake d!” pekik Rahmi ikut nimbrung. “Anak SMA Hilton. Kemaren aku gak sengaja ketemu dia di BIP, pas nungguin Mama jemput,” ujarku santai. “Aihh, parah! Kece banget, Dish! Namanya Gani pula---Ghina---Gani. FIX, JODOH!” Ghina berteriak di kelas layaknya tarzan. Aku dan Rahmi saling memandang. “Ngarep lo, Ghin!” Rahmi mengubah posisi duduknya.

Sejak saat itu, Rahmi dan Ghina mulai menjadi stalker twitter kak Gani, yang kebetulan tertulis di status BBMnya. Aku sih, biasa saja, hanya mengagumi tampangnya yang lumayan dan badannya yang kekar. Aku pun hanya chatting bareng kak Gani di malam hari. “Ih, enak banget sih! Kalau aja kemaren aku pulang bareng kamu! Nyesel, Dish! NYESEL!” rengek Rahmi. Aku hanya tertawa, “hey, udah lah, aku berasa jadi orang paling beruntung di dunia ini, hahahah,” “tapi da bener atuh, Dish! Kamu emang beruntung ketemu cowok kece kayak gitu!” balas Ghina. “Aih, woles, selow! Banyak kali cowok di dunia ini yang lebih kece dari kak Gani,”
***
Graha Ganiarja: Dish, bsk jalan yuk?

Aku yang sedang mengerjakan tugas bahasa Indonesia, tersontak kaget. Kak Gani? Ngajak jalan? Pikirku.


Disha Syaputri Rahma: Hm, boleh! Kemana, kak?
Graha Ganiarja: Alah, yg deket ajalah! BIP aja lagi! Mau? Ketemuan aja di J.Co
Disha Syaputri Rahma: jamber nih, kak? Soalnya aku ada pemantapan di bimbel.
Graha Ganiarja: Km selesai bimbel jam brp? Nah, sesudahnya aja.
Disha Syaputri Rahma: jam 11 selesai kok, hehe.
Graha Ganiarja: Boleh, jam 11.30 gue tunggu di J.Co ya. Mau nonton?
Disha Syaputri Rahma: Pengen sih, kak. Tp gaada duit, hehehe.
Graha Ganiarja: Ah, udah! Dari gue aja! Nonton The Woman In Black gpp?
Disha Syaputri Rahma: Gausah, kak! Disha minta ke mama aja.
Graha Ganiarja: Eh, udah! Anak kecil diem aja! Gue yang bayar! The Woman In Black gapapa ya? Gue penasaran banget sama filmnya. Pemain utamanya juga abang gue tuh, Daniel Radcliffe. Wkwk.
Disha Syaputri Rahma: Anak kecil-__- okedeh, gapapa kok kak! Oh iya, kakak suka Daniel? Berarti suka harpot dong?! GABISA! Daniel tuh abang aku!
........
***
“Mah, nanti gak usah jemput ya! Disha mau ke gramed dulu, nyari novel buat sesudah UN. Terus Disha juga mau nonton The Woman In Black sama kak Gani,” kataku ditengah perjalanan. “Oke deh. Tapi jangan macem-macem ya, awas!” “Apaan sih, Mah! Gak bakal kok, emang Disha cewek apaan?” balasku dengan ketus. “Ya, Mama gak mau aja anak Mama dimainin sama laki-laki kurang ajar!” ujar Mamaku. Aku tidak berkata-kata lagi. Aku capek berdebat terus dengan Mama.

“Eh, Dish, makan sushi yu!” ajak Rahmi. “Eh, maaf guys! Aku udah ada janji sama—” Ghina memotong, “KAK GANI!!! CIE!!!!!” Mataku melebar, “Darimana kamu tau, Ghin?” “Gak sengaja liat chat kamu sama kak Gani, hehehe,” Ghina tersenyum lebar. “AAAA, GHINA!! BALIKIN!!” aku mengejar Ghina, tidak peduli orang-orang yang ada disekitarku melihatnya. “Ghin, udah, balikin aja! Gak sopan baca chat orang,” ujar Sino dari belakang. “Cie nih, Sino ngebela Disha nih? Oh iya Dish, gue lupa! Sino kan ngeceng! Hahahaha,” mukaku memerah. “Apaan sih, Ghin! Udah balikin sini!” aku menarik-narik baju Ghina. “Iya deh, kak Ganinya nelepon tuh! Sin, kasih nih ke Disha! Cepetan!” Sino merebutnya dari tangan Ghina dengan segera. Rahmi yang melihat, berusaha menahan tawa. Sino segera menghampiriku dan aku merebut handphone dari tangannya dengan perasaan kesal. Kemudian aku berlari meninggalkan mereka.

“Ternyata masih jam sebelas. Oh iya, tadi kan keluar jam 10.45. Ya sudahlah, ke gramed aja dulu,” gumamku dalam hati sambil melihat jam. Aku mempercepat langkahku. Ghina dan Rahmi memanggilku dari arah belakang. Tapi aku tidak menghiraukan mereka. Aku masih sedikit kesal dengan kejadian tadi. “Disha, maafin kita dong! Tadi kita cuma bercanda!” teriak Ghina untuk terakhir kalinya setelah melihatku menghilang di persimpangan.

Aku sampai di gramedia. Kubuka tas ranselku dan memberikannya kepada penjaga tempat penitipan barang sambil tersenyum. Setelah itu, aku segera melangkahkan kaki menuju tempat novel-novel. Ya, aku memang penggila novel. Sudah banyak novel yang tersimpan di rak bukuku, baik itu milik Mama atau milikku. Sebelum tiba di tempat novel, aku melihat sesosok lelaki dengan badan tegap, bertampang lumayan di sekitar komik. Itu pasti kak Gani, pikirku.

Aku menghampiri ka Gani yang sedang membaca komik Naruto dan satu komik Conan di tangannya tanpa dibaca. “Hai, Kak! Kebetulan banget ya ketemu disini, hahahaha,” sapaku. “Oh, hai! Kaget, dikira siapa,” kak Gani mengelus dada layaknya orang yang kaget, yang baru saja bertemu dengan sesosok makhluk yang menyeramkan. “Hehehe, ampun, kak. Oh iya, ngapain kak Gani kesini? Kakak suka baca komik ya?” tanyaku sambil sesekali melihat isi dari komiknya. “Gue sengaja kesini, mau beli komik baru. Sekalian mau nyari-nyari novel Harry Potter yang Half Blood Prince sama Deathly Hallow, nih. Ngelengkapin gitu deh, hehehe. Lo sendiri kenapa kesini?” balasnya. “Ya ampun, kak. Beli komik sekaligus novel! Novelnya Harry Potter pula! Aku kesini kebetulan tadi selesai bimbel jam 10.45, karena masih ada waktu buat jam setengah 12, ya sudah aku kesini, kak. Biasanya juga aku kesini, hehehe,” jawabku dengan senyum lebar. “Sebenernya gue termasuk kutu buku untuk ukuran seorang cowok,” Kak Gani menutup komik yang tadi dibaca, “Hm, gituuu. Temenin gue ke tempat novel yuk!” lanjutnya sambil menarik tanganku.

Siang itu, kak Gani menemaniku mencari novel yang aku mau.  “Nih, kenapa gak novel ini aja?” kak Gani menyodoran novel bersampul biru. “Coba liat dulu, kak,” aku membaca bagian sinopsisnya dengan serius. “Boleh juga kak!” aku menyimpan novel tadi, lalu mengambil lagi yang baru. “Udah? Mau beli novel apalagi?” tanya kak Gani lagi. Kali ini sambil tersenyum. “Udah aja deh. Gak bawa duit banyak,” balasku. “Eh, gak apa-apa lagi. Gue yang bayar ini,” katanya sambil melihat-lihat novel remaja yang lain. “Hah? Kak, jangan! Kakak udah bayarin tiket nonton bioskop, masa iya harus bayarin novel juga? Mending novel gak usah deh, yaa,” aku menatap mata kak Gani yang berwarna coklat tua itu. “Gak apa-apa, Dish. Lo mau yang i..” aku sudah tidak kuat. Kak Gani selalu memaksakan segala kemauannya. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan uang kak Gani hanyut begitu saja. “Enggak! Kalo kakak terus kayak gini, lebih baik Disha pulang!” aku menatapnya dengan tajam. Akhirnya kak Gani mengalah untuk yang pertama kalinya.

Aku dan kak Gani sudah duduk dengan nyaman di seat H 11 dan H 12. Ditemani dengan pop corn dan seorang lelaki membuatku menjadi sedikit berani untuk menonton film horror. “Kalo lo takut, lo bisa nutupin muka lo di bahu gue,” ujarnya sesaat sebelum film di mulai. Aku mengangguk dan tersenyum. “Oh iya, lo sebelumnya pernah nonton film horror juga?” tanyanya pelan. Aku menggeleng, “enggak, kak! Hehehe. Emang kenapa?” balasku. “Wah, gawat. Gue harus nyiapin tabung oksigen nih kalo lo lagi ketakutan,” canda kak Gani. “Lebay!” ujarku memukul lengan atas kak Gani. Kak Gani tertawa lalu mengambil segenggam pop corn.

Aku menonton film itu dengan serius. “Daniel kenapa keren banget ya?” tanyaku pada diriku sendiri. “Pemberani! Jadi Harry Potter, pemberani. Jadi Arthur juga sama. Emang nasibnya dia gitu kali ya,” komentar kak Gani yang ternyata mendengar perkataanku. “Iya! Bener banget, kak! Ahhh—” aku menutup mataku. Kak Gani tertawa melihatku ketakutan, “ya ampun, itu cuma bapak-bapak yang tadi nganter Arthur ke rumah itu! Hahahaha,” “Ya tetep aja kaget, kak!” gerutuku. Kak Gani tertawa semakin kencang. “Sshh!” ujar seseorang disebelahnya. “Hahaha, makanya diem!” kataku.
***
Pagi ini, aku berangkat ke SMA Hilton untuk menjalani ospek. Aku membawa karton, setangkai bunga mawar, dan lainnya yang diperintahkan oleh senior. “Berat banget nih tas kamu, Dish!” ujar Papa. “Hehe, gak tau, Pah. Disuruh sama kakak kelas,” balasku sambil mengoleskan selai ke roti. “Ya sudahlah, ikutin aja apa kata kakak kelas,” kata Mama.

“Okay, hati-hati di jalan  ya,” Mama melambaikan tangan kepadaku dan Papa. “Eh iya, nanti anterin Papa ya,” kata Papa. “Kemana?” mataku berpaling dari layar handphoneku. “Udah, ikut aja,” katanya lagi. Aku mengangguk penasaran. Memang, Papa orangnya misterius. Jarang berbicara, tapi sekalinya Papa memberi kejutan pada keluarganya, Papa termasuk orang yang romantis. Diam-diam menghanyutkan. Dan sekalinya Papa marah, pasti ada satu barang yang rusak di rumahku. “Nanti pulang jam berapa?” tanya Papa. “Jam....12an, Pah,” jawabku. “Oke, Papa jemput kamu jam 12.15 ya,” ujar Papa sambil memutar musik jazz kesukaannya. Aku mengangguk lagi, lalu menatap kembali layar handphoneku.

“Selamat pagi semuanya,” sapa seorang senior di SMA Hilton. “Pagi, kak!” semua teman-teman seangkatanku menjawab dengan semangat. “Perkenalkan, nama saya Dimas. Saya ketua OSIS tahun ajaran 2011-2012. Sebelah saya Tasya,” perempuan yang bernama Tasya itu langsung maju dan membungkukkan badannya. “Dia sebagai wakil ketua OSIS,” lanjut kak Dimas. “Hari ini, hari pertama kalian ospek. Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok dengan sepasang senior. Mengerti?” tanya kak Dimas dengan muka galak. “Mengerti, kak!” jawab semua anak baru. “MENGERTI?” tanya kak Tasya lebih keras. “MENGERTI, KAK,” akupun menjawab lebih kencang.

“Okay. Tiffany, Sheila, Novia, Disha, Nabil, Rendra, Zhafran, dan Adit. Kalian kelompok pertama, yang bakal di bimbing sama Cantika dan Gani,” mataku melebar. KAK GANI?!?! Pikirku. Aku langsung memisahkan diri dari kumpulan semua murid baru, dan bergabung bersama temanku yang tadi disebutkan. “KELOMPOK SATU MANA? LAMA BANGET SIH!!” aku tersontak kaget. Kak Gani berubah 180 derajat sejak aku masuk di SMA Hilton. Aku langsung berlari menghampiri kak Gani dan kak Cantika. “Udah kumpul semua?” tanya kak Cantika lalu menghitung jumlah anak di regunya. “Okay, udah lengkap. Perkenalkan diri kalian! Mulai dari---kamu!” kak Cantika menunjuk perempuan berjilbab. “Nama saya Tiffany Audria. Saya berasal dari SMP 4,” lalu kak Cantika menunjuk ke arahku. Aku maju dengan perasaan tegang dan malu. Malu karena salah satu pembimbingku adalah orang yang ku kenal dan tegang karena orang yang ku kenal itu menjadi pembimbingku. “Namaku Disha Syaputri Rahma. Asal sekolah SMP 2,”, “nama yang bagus,” ujar kak Cantika. “Tapi sayang, terlalu jutek untuk seorang adik kelas,” ceplos kak Gani.

Cess..


Hatiku menjadi dingin. Dan lama-kelamaan sakit, seperti datang anak panah yang menusuk hati yang beku. Kata-kata yang tidak biasa keluar dari mulut kak Gani. Aku langsung kembali ke barisan reguku dengan perasaan marah. Kemudian kak Gani menyuruh seorang laki-laki bernama Rendra untuk memperkenalkan diri.
***
Waktu istirahat tiba. Aku bersama teman baruku, Tiffany, Sheila, dan Novia bergegas menuju kantin. “Eh iya, pada mau jajan apa?” tanya Sheila. “Hm, aku gak bakal jajan, Sheil. Aku udah bawa bekel. Tapi aku anter kalian aja, sekalian makan di kantin,” balasku. “Oke, Dish! Ayo!” Tiffany memasukkan uang dan handphone ke dalam saku bajunya. Di hari pertama ospek, aku, Tiffany, Sheila, dan Novia sudah saling bertukar pengalaman dan melontarkan lelucon.

“Eh, pembi-hng kita, gancen ya,” ujar Sheila sambil mengunyah makanannya. “Hah? Ngomong apa kamu, Sheil?” tanya Novia dengan tampang polos. “Kunyah dulu yang bener, terus telen. Baru deh ngomong,” ujar Tiffany. Aku hanya tertawa pelan. “Maaf, maaf,” Sheila menelan makanannya, “tadi pembimbing kita, kak Gani, ganteng ya?” lanjutnya. “Biasa aja tuh,” jawab Novia dengan tampang polos, lagi. “Lumayan sih kalo kata aku,” komentarku. “Iya, Dish. Lumayan, gak ganteng-ganteng amat,” lanjut Tiffany. “Eh, shh! Orangnya lewat,” bisikku. Kak Gani lewat tersenyum kepadaku, seakan-akan dia tidak mengenalku. Bahkan melihatku pun tidak sama sekali. Aku marah.

“Lanjut! Udah pergi tuh orangnya,” pekik Tiffany. “Dan menurut aku, kak Cantika tuh cantik banget! Sesuai sama namanya!” ujar Sheila lalu memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya. “Banget, Sheil! Cantik, berjilbab, pake kacamata, behel. Subhanallah banget cantiknya!” komentar Novia yang sedikit berlebihan. “Cocok gak sih sama kak Gani?” aku tersedak dan mata melotot. Tiffany, yang berada disebelahku langsung mengambil air mineral yang ada di tasku lalu memberikannya kepadaku. “Trims, Tiffany,” kataku dengan air mata berlinang di pelipis. “Kamu kenapa, Dish? Jangan-jangan jealous gara-gara kita sebut kak Gani cocok sama kak Cantika?” Sheila memasang muka jahil. “Bukan! Aku emang lagi gak konsen aja. Kalo kepanasan emang suka gini,” jawabku. Tunggu. Kenapa terasa sangat panas? Ku lihat, cuaca disini cukup cerah, tidak ada cahaya matahari yang menyorot. Dan, aku sedang duduk di kantin dengan atap semen. Apa kurang cukup untuk mengurangi hawa panas? Yang aku tak mengerti, udara terasa panas ketika mereka menyebut, “Kak Gani cocok ya sama Kak Cantika.” Atau mungkin aku, benar-benar cemburu?

“REGU 1 SAMPAI 10, DIHARAP UNTUK BERKUMPUL SEKARANG DI RUANG 13,” pengumuman itu membuyarkan lamunanku. “Dish, kita ke ruang 13 yuk! Regu satu dipanggil tuh! Eh iya, Nabil, Rendra, Zhafran, sama Adit kemana ya? Eh, itu dia!” Sheila menarikku dan berjalan cepat ke arah  anggota laki-laki dari regu 1. “Ke ruang 13 bareng, yuk! Sebagai kelompok, kita harus bareng-bareng kan?” ucap Tiffany sebagai ketua reguku. Keempat laki-laki itu mengangguk lalu berjalan bersama menuju ruang 13.

***
“Gimana tadi ospek hari pertamanya?” tanya Papa saat aku menutup pintu mobil. “Ya, gitu deh, Pah. Kak Gan---kakak senior pembimbingku galak banget!” Huff, hampir salah ngomong. “Hahaha, galak gimana? Namanya juga ospek, Dish. Nanti kalo ospeknya udah selesai juga sifatnya bakal kayak semula, kok!” kata Papa tertawa. Aku terdiam. Apa mungkin kak Gani hanya berakting saja? “Ya, gak tahu juga sih, Pah,” balasku. “Oh iya, sekarang mau kemana, Pah?” tanyaku. “Kita beli tiket ya,” jawab Papa dengan santai. “TIKET APA PAH?!” tanyaku lagi. “Maunya tiket apa?” tanya Papa tersenyum jahil. “Tiket pesawat ke Paris! Hehehe,” aku tersenyum lebar. “Enak aja, mahal!” sentak Papa. “Papa mau beliin kamu tiket---konser,” katanya lagi. “APA?!?! TIKET KONSER SIAPA, PAH?!?!” aku berteriak kegirangan. “Seorang bocah lelaki yang hendak berusia 15 tahun pada bulan Agustus ini. Dia terkenal berkat keahliannya memainkan piano dan menyanyikan lagu Paparazzi milik idolanya,” ujar Papa panjang lebar. “GREYSON PAH?!?! GREYSON?!?! MAKASIH BANGET PAH!!!” aku tak henti-hentinya mencium pipinya. “Sebagai hadiah dari Papa karena anak Papa udah masuk SMA dan beranjak remaja! Boleh deh kamu sama temen perginya. Tapi, jangan sama temen cowok ya!” Papa mengacak-ngacak rambutku. Ah, benar-benar siang yang indah!

Sesampainya di lokasi penjualan tiket konser, aku segera berlari ke antrian. Papa sedang mencari tempat untuk parkir. “Disha?” seseorang menepuk pundakku. Aku kaget. Mukaku sedikit pucat. Aku jadi teringat kejadian saat aku kecil. “Dish, kamu kenapa?” saat aku berbalik, ternyata itu Rahmi! “Rahmi, aku kaget!” pekikku memukul lengan atasnya. “Hahaha, ampun, Dish! Kamu kesini ngapain?” tanya Rahmi. “Beli tiket lah! Ngapain lagi coba?” balasku. “Ya, siapa tahu cuma sekedar nganterin. Tiket apaan?” tanya Rahmi lagi. “Dasar ya, keponya gak pernah ilang dari dulu! Tiket konser Greyson,” jawabku. “Wah, move on dari Archie nih? Aku juga beli tiket konser Greyson! AAAA, sebelahan aja duduknya!” Rahmi menggoyang-goyangkan tubuhku. “Bukan move on, kamu lupa ya aku selain ArchAngels itu Enchancers? Gimana sih, katanya sahabat!” candaku. “EH IYA, LUPA! Hehehe,” Rahmi tersenyum memamerkan behelnya.

“Dish---eh, Rahmi! Apa kabar?” Rahmi menyalami tangan Papa. “Alhamdulillah baik, Om. Om sendiri gimana?” tanya Rahmi. “Om baik-baik aja. Eh, beli tiket konser juga? Bareng aja atuh,” ujar Papa sambil mengeluarkan uang dari sakunya. “Nih, duitnya. Yang paling depan ya,” Papa memberikan uang untukku dan Rahmi. “Oh iya, nih sekalian buat Ghina. Ajak aja ya,” Papa mengeluarkan uang lagi dari dompetnya. Aku melongo. Papa mendadak baik! Gumamku dalam hati. “Oke, Pah. Tunggu ya,” aku dan Rahmi mulai berjalan menuju loketnya.

“Dish, Papa kamu ternyata baik!” Bisik Rahmi. “Ya, tumben-tumbenan itu mah, Rah,” balasku sambil tertawa. “Jahat banget, Dish! Tapi Papa kamu gak seburuk yang kamu omongin waktu SMP loh,” ujar Rahmi. “Menjelang SMA, Papa emang mendadak baik---mbak, purple 3 yaa---sebenernya baik sih, cuma jutek aja---oh, ini mbak uangnya---ya, kamu ngerti kan maksud aku?” tanyaku sambil mengambil tiket dan kembalian. “Makasih, mbak,”  ujarku lagi. “Iya, aku ngerti, kok!” Rahmi menganggukan kepala. “Eh, kesini bareng siapa?” aku memberikan satu tiket ke Rahmi.  “Mau nelepon taksi, Dish,” jawabnya. “Ya udah, bareng aja kali. Ngirit ongkos!” aku menarik tangan Rahmi.
***
Akhirnya masa ospek pun berakhir kemarin. Aku, Tiffany, Sheila, dan Novia ternyata satu kelas. “Sheil, duduk bareng yuk!” ajak Novia. “Oke. Dish, kamu sama Tiffany ya. Dia belum dateng. Macet kayaknya,” Sheila duduk disebelah Novia. Aku menyimpan tas tepat di depan Sheila dan Novia. “Dish, mau kemana?” tanya Novia. “Mau ke gerbang, siapa tahu Tiffany dateng,” ujarku langsung meninggalkan kelas.

Aku berjalan cepat sambil mengetik SMS untuk Tiffany. Tiba-tiba...BRUK! “Hm, maaf kak,” kataku menundukkan kepala. “It’s my fault,” katanya. Saat aku menatap wajahnya, “kak Gani?” “Iya, ini gue,” katanya. “Oh iya, lo mau kemana nih?” tanyanya lagi. Hah? Sifat kak Gani berubah seperti semula. “Mau ke gerbang, kak. Mau nyamperin temen yang baru mau dateng,” jawabku.

Deg... deg...


“Tolong! Jangan gugup! Gak biasanya kamu gini, Dish!” gumamku dalam hati. “Oh, hati-hati ya! Eh iya, nanti gue anter pulang! Jangan pergi kemana-mana dulu lo!” aku mengangguk lalu meninggalkan kak Gani yang dihampiri oleh teman-temannya.

Tak lama kemudian, aku melihat Tiffany baru muncul dari gerbang dengan tas ungunya. “Tiffany!” Tiffany mengarahkan pandangannya kearahku. Aku langsung merangkul pundak Tiffany, “darimana aja? Tumben, waktu ospek kamu dateng pagi banget. Sekarang malah hampir bel masuk.” “Iya nih, tadi jalanan macet banget. Lagian tadi berangkatnya juga telat,” jawab Tiffany dengan napas terengah-engah.

27 Mei 2012

Pecinta musik. Ya, itu aku.
Berikut beberapa album yang tersimpan rapi di rakku.

Love, Love & Love and My First Love
My First Love merupakan album pertama dari Vierra yang diluncurkan pada tahun 2010. Dan pada tahun 2011, Vierra meluncurkan album keduanya, yaitu Love, Love & Love.

Hold On Til The Night (special for Asia) and Hold On Til The Night
Hold On Til The Night (HOTTN) merupakan album pertama yang diluncurkan penyanyi asal Edmond, Oklahoma, Greyson Chance, pada bulan Agustus 2011. Setelah kunjungannya ke berbagai negara di Asia, Greyson meluncurkan album khusus fansnya (Enchancers&Greysonators) di Asia.



The Other Side Of Down (Asian Tour Edition)
Setelah kunjungannya ke Indonesia dan berbagai negara di Asia, David Archuleta meluncurkan album The Other Side of Down (Asian Tour Edition)


Gapai Bintangmu (Idola Cilik 1), Gapai Mimpimu (Idola Cilik 2), Dunia Idola (Idola Cilik 3)


Balada Shalawat and Harmony Cinta
Gita Gutawa meluncurkan album Harmony Cinta pada tahun 2009/2010. Kemudian, pada bulan Ramadhan, Gita Gutawa meluncurakan album religinya, Balada Shalawat.


My Worlds and Never Say Never (the remixes)
Pada tahun 2010, Justin Bieber meluncurkan album My Worlds. Setelah film 'Karate Kid' tayang di seluruh bioskop di dunia, Justin mengeluarkan album Never Say Never yang merupakan original soundtrack dari film 'Karate Kid'