30 Mei 2012

Our Life #1


Sayang, maaf banget ya mama baru berangkat! Tadi temen mama ke rumah mendadak. Nanti mama jemput di BIP ya..

Hhh, kesal! Kenapa Mama selalu ngasih tahu mendadak? Mama tidak mengerti, aku sudah sangat menantikan saat-saat ini, karena jam lima nanti ada idolaku, David Archuleta di suatu  acara di televisi. Kalau begini, mungkin sampai di rumah, acaranya sudah selesai! Aku memutuskan pergi ke Hypermart untuk membeli cemilan sambil menunggu Mama datang.

“Pengen banget es krim! J.cool aja deh,” saat aku keluar dari Hypermart, tiba-tiba....

BRUKK!

Cowok bertubuh tegap menabrakku. “Oh---hm---I’m sorry,” ujarnya menarik lengan atasku. “No, I’m sorry,” kataku sambil tersenyum. “Oh, no! It’s my fault! Hm, btw, lo mau kemana?” tanyanya. “Aku mau ke J.co,” jawabku sambil memasukkan kantong keresek ke dalam tasku. “Kebetulan banget! Bareng aja! Gue gak ada temen, nih,”

Lumayan juga nih cowok! Gumamku dalam hati. “Oh iya, lo mau mangga atau berry?” tanyanya membuyarkan lamunanku. “Hm---aku yang berry aja deh! Aku gak terlalu suka mangga,” cowok itu mengangguk lalu memesan j.coolnya.

“Oya, kita belum kenalan! Nama gue Gani,” cowok itu menjulurkan tangannya ke arahku. “Aku Disha. Kamu sekolah dimana? Kelas berapa?” aku memasukkan satu sendok yoghurt ke dalam mulutku. “Gue di SMA Hilton, mau naik kelas 12. Lo?”, “Aku di SMP 2, kelas 9, hehehe. Maaf, tadi aku gak manggil pake ‘Kak’,” kataku malu. “Hahaha, no prob----Disha! Gak usah manggil ‘kakak’ juga gak apa-apa, kok!” aku tersenyum, “tapi gak enak aja, kak!” “Hahaha, okay! Oh iya, btw, ngapain lo kesini? Sendirian lagi!” tanya kak Gani. “Aku baru pulang bimbel, terus nunggu mama jemput. Ya, jadi aku kesini deh. Kakak ngapain?”, “Gue? Gue cuma iseng jalan-jalan aja. Di rumah gak ada siapa-siapa, ya sudah gue iseng kesini,”

Disha, kamu dimana? Mama udah nyampe parkiran! Mama nyamperin kamu aja, sekalian shalat Maghrib dulu” ternyata itu Mama. “Lagi di J.co Ma! Okay, Disha tunggu di depan Hypermart aja ya!” aku memencet tombol merah di Blackberry-ku. “Hm, kak, maaf, mamaku udah jemput nih!” ujarku lalu memasukkan dompet ke dalam tas. “Eh, tunggu dulu! Minta pin lo dong! Siapa tahu ntar lo di ospek sama gue, hahahha,” Kak Gani mengeluarkan handphonenya lalu mulai mengetik ketika aku berbicara. “Okay, thanks, Dish! Bye, hati-hati!” Aku melambaikan tangan ke arahnya sambil berlari kecil.
***
“Oh iya, tadi siapa Dish?” tanya Mama sambil menyalakan mesin mobil. “Siapa apaan?” aku balik bertanya. “Hhhh, kamu pikir Mama gak liat ya tadi kamu bareng siapa?” aku tersontak. “Eh---hm, itu kak Gani, Mah,” “Mama kan udah bilang sama kamu, jangan jalan bareng sama orang yang kamu gak kenal sebelumnya,” Mama mulai melajukan mobilnya. “Tapi dia baik kok, Ma. Dia bakal jadi kakak kelas Disha entar SMA,” jawabku santai. “Maksudmu?” tanya Mama lagi. “Ya, dia sekolah di SMA Hilton, Mah. Dia kelas 11,” Mama hanya berho-oh sambil memperhatikan jalan.

“Aaaaaahhhh,” Mama kaget mendengarku berteriak tiba-tiba. “Kamu kenapa?” tanyanya dengan nada sedikit marah. “Disha baru inget, Ma! Jam lima tadi ada David Archuleta!! Mama sih, kenapa jemputnya telaaaaatt!!” ujarku merengek. “Ya ampun, Disha! Mama kira apaan! Lagian yang kayak gitu mah banyak,” Hhhh, Mama selalu tidak mengerti. Memang Mama dulu gak pernah muda apa? Pikirku. “Banyak darimana, Mah? David tadi tuh nyanyi di acara live, Mah, LIVE!” “Ah, nanti liat aja di youtube, gampang kan?” ujar Mama dengan santai. Aku mendesah lalu memainkan handphoneku lagi.

Sesampainya di rumah, aku segera menuju kamar tidurku. Aku membanting pintu kamar. “Bodo amat lah, Mama mau marah-marah lagi juga! Lagian, salah sendiri kenapa buat anaknya kesel?” Isakku sambil menjatuhkan tubuhku di atas kasur. Kemudian aku mengambil headphone dan Ipod yang terletak di meja belajar, lalu memutar lagu David Archuleta kesukaanku.
***
“Dish, ini siapa?! Kece banget!!” Ghina, teman dekatku memperlihatkan layar handphoneku yang penuh dengan foto kak Gani. “Oh, itu kak Gani,” jawabku singkat. “Mana, mana?---Eh, iya Dish, kece sangaaaad pake d!” pekik Rahmi ikut nimbrung. “Anak SMA Hilton. Kemaren aku gak sengaja ketemu dia di BIP, pas nungguin Mama jemput,” ujarku santai. “Aihh, parah! Kece banget, Dish! Namanya Gani pula---Ghina---Gani. FIX, JODOH!” Ghina berteriak di kelas layaknya tarzan. Aku dan Rahmi saling memandang. “Ngarep lo, Ghin!” Rahmi mengubah posisi duduknya.

Sejak saat itu, Rahmi dan Ghina mulai menjadi stalker twitter kak Gani, yang kebetulan tertulis di status BBMnya. Aku sih, biasa saja, hanya mengagumi tampangnya yang lumayan dan badannya yang kekar. Aku pun hanya chatting bareng kak Gani di malam hari. “Ih, enak banget sih! Kalau aja kemaren aku pulang bareng kamu! Nyesel, Dish! NYESEL!” rengek Rahmi. Aku hanya tertawa, “hey, udah lah, aku berasa jadi orang paling beruntung di dunia ini, hahahah,” “tapi da bener atuh, Dish! Kamu emang beruntung ketemu cowok kece kayak gitu!” balas Ghina. “Aih, woles, selow! Banyak kali cowok di dunia ini yang lebih kece dari kak Gani,”
***
Graha Ganiarja: Dish, bsk jalan yuk?

Aku yang sedang mengerjakan tugas bahasa Indonesia, tersontak kaget. Kak Gani? Ngajak jalan? Pikirku.


Disha Syaputri Rahma: Hm, boleh! Kemana, kak?
Graha Ganiarja: Alah, yg deket ajalah! BIP aja lagi! Mau? Ketemuan aja di J.Co
Disha Syaputri Rahma: jamber nih, kak? Soalnya aku ada pemantapan di bimbel.
Graha Ganiarja: Km selesai bimbel jam brp? Nah, sesudahnya aja.
Disha Syaputri Rahma: jam 11 selesai kok, hehe.
Graha Ganiarja: Boleh, jam 11.30 gue tunggu di J.Co ya. Mau nonton?
Disha Syaputri Rahma: Pengen sih, kak. Tp gaada duit, hehehe.
Graha Ganiarja: Ah, udah! Dari gue aja! Nonton The Woman In Black gpp?
Disha Syaputri Rahma: Gausah, kak! Disha minta ke mama aja.
Graha Ganiarja: Eh, udah! Anak kecil diem aja! Gue yang bayar! The Woman In Black gapapa ya? Gue penasaran banget sama filmnya. Pemain utamanya juga abang gue tuh, Daniel Radcliffe. Wkwk.
Disha Syaputri Rahma: Anak kecil-__- okedeh, gapapa kok kak! Oh iya, kakak suka Daniel? Berarti suka harpot dong?! GABISA! Daniel tuh abang aku!
........
***
“Mah, nanti gak usah jemput ya! Disha mau ke gramed dulu, nyari novel buat sesudah UN. Terus Disha juga mau nonton The Woman In Black sama kak Gani,” kataku ditengah perjalanan. “Oke deh. Tapi jangan macem-macem ya, awas!” “Apaan sih, Mah! Gak bakal kok, emang Disha cewek apaan?” balasku dengan ketus. “Ya, Mama gak mau aja anak Mama dimainin sama laki-laki kurang ajar!” ujar Mamaku. Aku tidak berkata-kata lagi. Aku capek berdebat terus dengan Mama.

“Eh, Dish, makan sushi yu!” ajak Rahmi. “Eh, maaf guys! Aku udah ada janji sama—” Ghina memotong, “KAK GANI!!! CIE!!!!!” Mataku melebar, “Darimana kamu tau, Ghin?” “Gak sengaja liat chat kamu sama kak Gani, hehehe,” Ghina tersenyum lebar. “AAAA, GHINA!! BALIKIN!!” aku mengejar Ghina, tidak peduli orang-orang yang ada disekitarku melihatnya. “Ghin, udah, balikin aja! Gak sopan baca chat orang,” ujar Sino dari belakang. “Cie nih, Sino ngebela Disha nih? Oh iya Dish, gue lupa! Sino kan ngeceng! Hahahaha,” mukaku memerah. “Apaan sih, Ghin! Udah balikin sini!” aku menarik-narik baju Ghina. “Iya deh, kak Ganinya nelepon tuh! Sin, kasih nih ke Disha! Cepetan!” Sino merebutnya dari tangan Ghina dengan segera. Rahmi yang melihat, berusaha menahan tawa. Sino segera menghampiriku dan aku merebut handphone dari tangannya dengan perasaan kesal. Kemudian aku berlari meninggalkan mereka.

“Ternyata masih jam sebelas. Oh iya, tadi kan keluar jam 10.45. Ya sudahlah, ke gramed aja dulu,” gumamku dalam hati sambil melihat jam. Aku mempercepat langkahku. Ghina dan Rahmi memanggilku dari arah belakang. Tapi aku tidak menghiraukan mereka. Aku masih sedikit kesal dengan kejadian tadi. “Disha, maafin kita dong! Tadi kita cuma bercanda!” teriak Ghina untuk terakhir kalinya setelah melihatku menghilang di persimpangan.

Aku sampai di gramedia. Kubuka tas ranselku dan memberikannya kepada penjaga tempat penitipan barang sambil tersenyum. Setelah itu, aku segera melangkahkan kaki menuju tempat novel-novel. Ya, aku memang penggila novel. Sudah banyak novel yang tersimpan di rak bukuku, baik itu milik Mama atau milikku. Sebelum tiba di tempat novel, aku melihat sesosok lelaki dengan badan tegap, bertampang lumayan di sekitar komik. Itu pasti kak Gani, pikirku.

Aku menghampiri ka Gani yang sedang membaca komik Naruto dan satu komik Conan di tangannya tanpa dibaca. “Hai, Kak! Kebetulan banget ya ketemu disini, hahahaha,” sapaku. “Oh, hai! Kaget, dikira siapa,” kak Gani mengelus dada layaknya orang yang kaget, yang baru saja bertemu dengan sesosok makhluk yang menyeramkan. “Hehehe, ampun, kak. Oh iya, ngapain kak Gani kesini? Kakak suka baca komik ya?” tanyaku sambil sesekali melihat isi dari komiknya. “Gue sengaja kesini, mau beli komik baru. Sekalian mau nyari-nyari novel Harry Potter yang Half Blood Prince sama Deathly Hallow, nih. Ngelengkapin gitu deh, hehehe. Lo sendiri kenapa kesini?” balasnya. “Ya ampun, kak. Beli komik sekaligus novel! Novelnya Harry Potter pula! Aku kesini kebetulan tadi selesai bimbel jam 10.45, karena masih ada waktu buat jam setengah 12, ya sudah aku kesini, kak. Biasanya juga aku kesini, hehehe,” jawabku dengan senyum lebar. “Sebenernya gue termasuk kutu buku untuk ukuran seorang cowok,” Kak Gani menutup komik yang tadi dibaca, “Hm, gituuu. Temenin gue ke tempat novel yuk!” lanjutnya sambil menarik tanganku.

Siang itu, kak Gani menemaniku mencari novel yang aku mau.  “Nih, kenapa gak novel ini aja?” kak Gani menyodoran novel bersampul biru. “Coba liat dulu, kak,” aku membaca bagian sinopsisnya dengan serius. “Boleh juga kak!” aku menyimpan novel tadi, lalu mengambil lagi yang baru. “Udah? Mau beli novel apalagi?” tanya kak Gani lagi. Kali ini sambil tersenyum. “Udah aja deh. Gak bawa duit banyak,” balasku. “Eh, gak apa-apa lagi. Gue yang bayar ini,” katanya sambil melihat-lihat novel remaja yang lain. “Hah? Kak, jangan! Kakak udah bayarin tiket nonton bioskop, masa iya harus bayarin novel juga? Mending novel gak usah deh, yaa,” aku menatap mata kak Gani yang berwarna coklat tua itu. “Gak apa-apa, Dish. Lo mau yang i..” aku sudah tidak kuat. Kak Gani selalu memaksakan segala kemauannya. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan uang kak Gani hanyut begitu saja. “Enggak! Kalo kakak terus kayak gini, lebih baik Disha pulang!” aku menatapnya dengan tajam. Akhirnya kak Gani mengalah untuk yang pertama kalinya.

Aku dan kak Gani sudah duduk dengan nyaman di seat H 11 dan H 12. Ditemani dengan pop corn dan seorang lelaki membuatku menjadi sedikit berani untuk menonton film horror. “Kalo lo takut, lo bisa nutupin muka lo di bahu gue,” ujarnya sesaat sebelum film di mulai. Aku mengangguk dan tersenyum. “Oh iya, lo sebelumnya pernah nonton film horror juga?” tanyanya pelan. Aku menggeleng, “enggak, kak! Hehehe. Emang kenapa?” balasku. “Wah, gawat. Gue harus nyiapin tabung oksigen nih kalo lo lagi ketakutan,” canda kak Gani. “Lebay!” ujarku memukul lengan atas kak Gani. Kak Gani tertawa lalu mengambil segenggam pop corn.

Aku menonton film itu dengan serius. “Daniel kenapa keren banget ya?” tanyaku pada diriku sendiri. “Pemberani! Jadi Harry Potter, pemberani. Jadi Arthur juga sama. Emang nasibnya dia gitu kali ya,” komentar kak Gani yang ternyata mendengar perkataanku. “Iya! Bener banget, kak! Ahhh—” aku menutup mataku. Kak Gani tertawa melihatku ketakutan, “ya ampun, itu cuma bapak-bapak yang tadi nganter Arthur ke rumah itu! Hahahaha,” “Ya tetep aja kaget, kak!” gerutuku. Kak Gani tertawa semakin kencang. “Sshh!” ujar seseorang disebelahnya. “Hahaha, makanya diem!” kataku.
***
Pagi ini, aku berangkat ke SMA Hilton untuk menjalani ospek. Aku membawa karton, setangkai bunga mawar, dan lainnya yang diperintahkan oleh senior. “Berat banget nih tas kamu, Dish!” ujar Papa. “Hehe, gak tau, Pah. Disuruh sama kakak kelas,” balasku sambil mengoleskan selai ke roti. “Ya sudahlah, ikutin aja apa kata kakak kelas,” kata Mama.

“Okay, hati-hati di jalan  ya,” Mama melambaikan tangan kepadaku dan Papa. “Eh iya, nanti anterin Papa ya,” kata Papa. “Kemana?” mataku berpaling dari layar handphoneku. “Udah, ikut aja,” katanya lagi. Aku mengangguk penasaran. Memang, Papa orangnya misterius. Jarang berbicara, tapi sekalinya Papa memberi kejutan pada keluarganya, Papa termasuk orang yang romantis. Diam-diam menghanyutkan. Dan sekalinya Papa marah, pasti ada satu barang yang rusak di rumahku. “Nanti pulang jam berapa?” tanya Papa. “Jam....12an, Pah,” jawabku. “Oke, Papa jemput kamu jam 12.15 ya,” ujar Papa sambil memutar musik jazz kesukaannya. Aku mengangguk lagi, lalu menatap kembali layar handphoneku.

“Selamat pagi semuanya,” sapa seorang senior di SMA Hilton. “Pagi, kak!” semua teman-teman seangkatanku menjawab dengan semangat. “Perkenalkan, nama saya Dimas. Saya ketua OSIS tahun ajaran 2011-2012. Sebelah saya Tasya,” perempuan yang bernama Tasya itu langsung maju dan membungkukkan badannya. “Dia sebagai wakil ketua OSIS,” lanjut kak Dimas. “Hari ini, hari pertama kalian ospek. Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok dengan sepasang senior. Mengerti?” tanya kak Dimas dengan muka galak. “Mengerti, kak!” jawab semua anak baru. “MENGERTI?” tanya kak Tasya lebih keras. “MENGERTI, KAK,” akupun menjawab lebih kencang.

“Okay. Tiffany, Sheila, Novia, Disha, Nabil, Rendra, Zhafran, dan Adit. Kalian kelompok pertama, yang bakal di bimbing sama Cantika dan Gani,” mataku melebar. KAK GANI?!?! Pikirku. Aku langsung memisahkan diri dari kumpulan semua murid baru, dan bergabung bersama temanku yang tadi disebutkan. “KELOMPOK SATU MANA? LAMA BANGET SIH!!” aku tersontak kaget. Kak Gani berubah 180 derajat sejak aku masuk di SMA Hilton. Aku langsung berlari menghampiri kak Gani dan kak Cantika. “Udah kumpul semua?” tanya kak Cantika lalu menghitung jumlah anak di regunya. “Okay, udah lengkap. Perkenalkan diri kalian! Mulai dari---kamu!” kak Cantika menunjuk perempuan berjilbab. “Nama saya Tiffany Audria. Saya berasal dari SMP 4,” lalu kak Cantika menunjuk ke arahku. Aku maju dengan perasaan tegang dan malu. Malu karena salah satu pembimbingku adalah orang yang ku kenal dan tegang karena orang yang ku kenal itu menjadi pembimbingku. “Namaku Disha Syaputri Rahma. Asal sekolah SMP 2,”, “nama yang bagus,” ujar kak Cantika. “Tapi sayang, terlalu jutek untuk seorang adik kelas,” ceplos kak Gani.

Cess..


Hatiku menjadi dingin. Dan lama-kelamaan sakit, seperti datang anak panah yang menusuk hati yang beku. Kata-kata yang tidak biasa keluar dari mulut kak Gani. Aku langsung kembali ke barisan reguku dengan perasaan marah. Kemudian kak Gani menyuruh seorang laki-laki bernama Rendra untuk memperkenalkan diri.
***
Waktu istirahat tiba. Aku bersama teman baruku, Tiffany, Sheila, dan Novia bergegas menuju kantin. “Eh iya, pada mau jajan apa?” tanya Sheila. “Hm, aku gak bakal jajan, Sheil. Aku udah bawa bekel. Tapi aku anter kalian aja, sekalian makan di kantin,” balasku. “Oke, Dish! Ayo!” Tiffany memasukkan uang dan handphone ke dalam saku bajunya. Di hari pertama ospek, aku, Tiffany, Sheila, dan Novia sudah saling bertukar pengalaman dan melontarkan lelucon.

“Eh, pembi-hng kita, gancen ya,” ujar Sheila sambil mengunyah makanannya. “Hah? Ngomong apa kamu, Sheil?” tanya Novia dengan tampang polos. “Kunyah dulu yang bener, terus telen. Baru deh ngomong,” ujar Tiffany. Aku hanya tertawa pelan. “Maaf, maaf,” Sheila menelan makanannya, “tadi pembimbing kita, kak Gani, ganteng ya?” lanjutnya. “Biasa aja tuh,” jawab Novia dengan tampang polos, lagi. “Lumayan sih kalo kata aku,” komentarku. “Iya, Dish. Lumayan, gak ganteng-ganteng amat,” lanjut Tiffany. “Eh, shh! Orangnya lewat,” bisikku. Kak Gani lewat tersenyum kepadaku, seakan-akan dia tidak mengenalku. Bahkan melihatku pun tidak sama sekali. Aku marah.

“Lanjut! Udah pergi tuh orangnya,” pekik Tiffany. “Dan menurut aku, kak Cantika tuh cantik banget! Sesuai sama namanya!” ujar Sheila lalu memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya. “Banget, Sheil! Cantik, berjilbab, pake kacamata, behel. Subhanallah banget cantiknya!” komentar Novia yang sedikit berlebihan. “Cocok gak sih sama kak Gani?” aku tersedak dan mata melotot. Tiffany, yang berada disebelahku langsung mengambil air mineral yang ada di tasku lalu memberikannya kepadaku. “Trims, Tiffany,” kataku dengan air mata berlinang di pelipis. “Kamu kenapa, Dish? Jangan-jangan jealous gara-gara kita sebut kak Gani cocok sama kak Cantika?” Sheila memasang muka jahil. “Bukan! Aku emang lagi gak konsen aja. Kalo kepanasan emang suka gini,” jawabku. Tunggu. Kenapa terasa sangat panas? Ku lihat, cuaca disini cukup cerah, tidak ada cahaya matahari yang menyorot. Dan, aku sedang duduk di kantin dengan atap semen. Apa kurang cukup untuk mengurangi hawa panas? Yang aku tak mengerti, udara terasa panas ketika mereka menyebut, “Kak Gani cocok ya sama Kak Cantika.” Atau mungkin aku, benar-benar cemburu?

“REGU 1 SAMPAI 10, DIHARAP UNTUK BERKUMPUL SEKARANG DI RUANG 13,” pengumuman itu membuyarkan lamunanku. “Dish, kita ke ruang 13 yuk! Regu satu dipanggil tuh! Eh iya, Nabil, Rendra, Zhafran, sama Adit kemana ya? Eh, itu dia!” Sheila menarikku dan berjalan cepat ke arah  anggota laki-laki dari regu 1. “Ke ruang 13 bareng, yuk! Sebagai kelompok, kita harus bareng-bareng kan?” ucap Tiffany sebagai ketua reguku. Keempat laki-laki itu mengangguk lalu berjalan bersama menuju ruang 13.

***
“Gimana tadi ospek hari pertamanya?” tanya Papa saat aku menutup pintu mobil. “Ya, gitu deh, Pah. Kak Gan---kakak senior pembimbingku galak banget!” Huff, hampir salah ngomong. “Hahaha, galak gimana? Namanya juga ospek, Dish. Nanti kalo ospeknya udah selesai juga sifatnya bakal kayak semula, kok!” kata Papa tertawa. Aku terdiam. Apa mungkin kak Gani hanya berakting saja? “Ya, gak tahu juga sih, Pah,” balasku. “Oh iya, sekarang mau kemana, Pah?” tanyaku. “Kita beli tiket ya,” jawab Papa dengan santai. “TIKET APA PAH?!” tanyaku lagi. “Maunya tiket apa?” tanya Papa tersenyum jahil. “Tiket pesawat ke Paris! Hehehe,” aku tersenyum lebar. “Enak aja, mahal!” sentak Papa. “Papa mau beliin kamu tiket---konser,” katanya lagi. “APA?!?! TIKET KONSER SIAPA, PAH?!?!” aku berteriak kegirangan. “Seorang bocah lelaki yang hendak berusia 15 tahun pada bulan Agustus ini. Dia terkenal berkat keahliannya memainkan piano dan menyanyikan lagu Paparazzi milik idolanya,” ujar Papa panjang lebar. “GREYSON PAH?!?! GREYSON?!?! MAKASIH BANGET PAH!!!” aku tak henti-hentinya mencium pipinya. “Sebagai hadiah dari Papa karena anak Papa udah masuk SMA dan beranjak remaja! Boleh deh kamu sama temen perginya. Tapi, jangan sama temen cowok ya!” Papa mengacak-ngacak rambutku. Ah, benar-benar siang yang indah!

Sesampainya di lokasi penjualan tiket konser, aku segera berlari ke antrian. Papa sedang mencari tempat untuk parkir. “Disha?” seseorang menepuk pundakku. Aku kaget. Mukaku sedikit pucat. Aku jadi teringat kejadian saat aku kecil. “Dish, kamu kenapa?” saat aku berbalik, ternyata itu Rahmi! “Rahmi, aku kaget!” pekikku memukul lengan atasnya. “Hahaha, ampun, Dish! Kamu kesini ngapain?” tanya Rahmi. “Beli tiket lah! Ngapain lagi coba?” balasku. “Ya, siapa tahu cuma sekedar nganterin. Tiket apaan?” tanya Rahmi lagi. “Dasar ya, keponya gak pernah ilang dari dulu! Tiket konser Greyson,” jawabku. “Wah, move on dari Archie nih? Aku juga beli tiket konser Greyson! AAAA, sebelahan aja duduknya!” Rahmi menggoyang-goyangkan tubuhku. “Bukan move on, kamu lupa ya aku selain ArchAngels itu Enchancers? Gimana sih, katanya sahabat!” candaku. “EH IYA, LUPA! Hehehe,” Rahmi tersenyum memamerkan behelnya.

“Dish---eh, Rahmi! Apa kabar?” Rahmi menyalami tangan Papa. “Alhamdulillah baik, Om. Om sendiri gimana?” tanya Rahmi. “Om baik-baik aja. Eh, beli tiket konser juga? Bareng aja atuh,” ujar Papa sambil mengeluarkan uang dari sakunya. “Nih, duitnya. Yang paling depan ya,” Papa memberikan uang untukku dan Rahmi. “Oh iya, nih sekalian buat Ghina. Ajak aja ya,” Papa mengeluarkan uang lagi dari dompetnya. Aku melongo. Papa mendadak baik! Gumamku dalam hati. “Oke, Pah. Tunggu ya,” aku dan Rahmi mulai berjalan menuju loketnya.

“Dish, Papa kamu ternyata baik!” Bisik Rahmi. “Ya, tumben-tumbenan itu mah, Rah,” balasku sambil tertawa. “Jahat banget, Dish! Tapi Papa kamu gak seburuk yang kamu omongin waktu SMP loh,” ujar Rahmi. “Menjelang SMA, Papa emang mendadak baik---mbak, purple 3 yaa---sebenernya baik sih, cuma jutek aja---oh, ini mbak uangnya---ya, kamu ngerti kan maksud aku?” tanyaku sambil mengambil tiket dan kembalian. “Makasih, mbak,”  ujarku lagi. “Iya, aku ngerti, kok!” Rahmi menganggukan kepala. “Eh, kesini bareng siapa?” aku memberikan satu tiket ke Rahmi.  “Mau nelepon taksi, Dish,” jawabnya. “Ya udah, bareng aja kali. Ngirit ongkos!” aku menarik tangan Rahmi.
***
Akhirnya masa ospek pun berakhir kemarin. Aku, Tiffany, Sheila, dan Novia ternyata satu kelas. “Sheil, duduk bareng yuk!” ajak Novia. “Oke. Dish, kamu sama Tiffany ya. Dia belum dateng. Macet kayaknya,” Sheila duduk disebelah Novia. Aku menyimpan tas tepat di depan Sheila dan Novia. “Dish, mau kemana?” tanya Novia. “Mau ke gerbang, siapa tahu Tiffany dateng,” ujarku langsung meninggalkan kelas.

Aku berjalan cepat sambil mengetik SMS untuk Tiffany. Tiba-tiba...BRUK! “Hm, maaf kak,” kataku menundukkan kepala. “It’s my fault,” katanya. Saat aku menatap wajahnya, “kak Gani?” “Iya, ini gue,” katanya. “Oh iya, lo mau kemana nih?” tanyanya lagi. Hah? Sifat kak Gani berubah seperti semula. “Mau ke gerbang, kak. Mau nyamperin temen yang baru mau dateng,” jawabku.

Deg... deg...


“Tolong! Jangan gugup! Gak biasanya kamu gini, Dish!” gumamku dalam hati. “Oh, hati-hati ya! Eh iya, nanti gue anter pulang! Jangan pergi kemana-mana dulu lo!” aku mengangguk lalu meninggalkan kak Gani yang dihampiri oleh teman-temannya.

Tak lama kemudian, aku melihat Tiffany baru muncul dari gerbang dengan tas ungunya. “Tiffany!” Tiffany mengarahkan pandangannya kearahku. Aku langsung merangkul pundak Tiffany, “darimana aja? Tumben, waktu ospek kamu dateng pagi banget. Sekarang malah hampir bel masuk.” “Iya nih, tadi jalanan macet banget. Lagian tadi berangkatnya juga telat,” jawab Tiffany dengan napas terengah-engah.

27 Mei 2012

Pecinta musik. Ya, itu aku.
Berikut beberapa album yang tersimpan rapi di rakku.

Love, Love & Love and My First Love
My First Love merupakan album pertama dari Vierra yang diluncurkan pada tahun 2010. Dan pada tahun 2011, Vierra meluncurkan album keduanya, yaitu Love, Love & Love.

Hold On Til The Night (special for Asia) and Hold On Til The Night
Hold On Til The Night (HOTTN) merupakan album pertama yang diluncurkan penyanyi asal Edmond, Oklahoma, Greyson Chance, pada bulan Agustus 2011. Setelah kunjungannya ke berbagai negara di Asia, Greyson meluncurkan album khusus fansnya (Enchancers&Greysonators) di Asia.



The Other Side Of Down (Asian Tour Edition)
Setelah kunjungannya ke Indonesia dan berbagai negara di Asia, David Archuleta meluncurkan album The Other Side of Down (Asian Tour Edition)


Gapai Bintangmu (Idola Cilik 1), Gapai Mimpimu (Idola Cilik 2), Dunia Idola (Idola Cilik 3)


Balada Shalawat and Harmony Cinta
Gita Gutawa meluncurkan album Harmony Cinta pada tahun 2009/2010. Kemudian, pada bulan Ramadhan, Gita Gutawa meluncurakan album religinya, Balada Shalawat.


My Worlds and Never Say Never (the remixes)
Pada tahun 2010, Justin Bieber meluncurkan album My Worlds. Setelah film 'Karate Kid' tayang di seluruh bioskop di dunia, Justin mengeluarkan album Never Say Never yang merupakan original soundtrack dari film 'Karate Kid'


Eiffel Tower






Paris is beautifiul place.
Some of these picture, just for people who loves Paris xoxo







I LOVE PHOTOGRAPH!!

David Archuleta












He's very handsome and cute!! AAAAA

26 Mei 2012

My Playlist

I love music! Music like everything in my life. Everyday, I must to listen music.

Here's a song that I often play. Both in player, laptop, or mobile phone:

-Broken Hearts by Greyson Chance.
-Waiting Outside The Lines by Greyson Chance.
-Unfriend You by Greyson Chance.
-Home Is In Your Eyes by Greyson Chance
-Hold On Til The Night by Greyson Chance.
-Heart Like Stone by Greyson Chance.
-Little London Girl by Greyson Chance.
-Cheyenne by Greyson Chance.
-Summer Train by Greyson Chance.
-Stranded by Greyson Chance.
-Take A Look At Me Now by Greyson Chance.
-Running Away by Greyson Chance. I love this song!
-Slipping Away by Greyson Chance.
-Purple Sky by Greyson Chance.
-Light Up The Dark by Greyson Chance.
-Paparazzi covered by Greyson Chance. OMG, his voice very GREXY!
-Fire by Greyson Chance. I love this song!
-Waiting Outside The Lines (remix) by Greyson Chance feat Charice.
-A Little Too Not Over You by David Archuleta.
-Crush by David Archuleta. I love this song!
-Something 'Bout Love by David Archuleta.
-When You Believe covered by David Archuleta. I love this song!
-That Should Be Me by Justin Bieber.
-One Thing by One Direction.
-Canon In D (guitar version) by DEPAPEPE.
-Fur Elise
-Canon In D (violin)
-Canon In D (piano)

....and many mooooorrreeee!

About Me

Name: Jasmine Cikal Fadhlia.


Nickname: Jasmine, but my bestfriends called me 'Mimine'


Religion: Muslim


Birth: 2nd April, 1998


Part of: Laboratorium UPI Elementary School, 2 Junior High School, and Insya Allah 5 Senior High School. Aamiin.


Family: Enchancers, ArchAngels, Potterheads. I love them very much


Greyson Chance is my future husband, David Archuleta is my brother from other parents, and Hogwarts is my home.


- @jascikalf -

About My House


HOGWARTS


GRYFFINDOR COMMON ROOM


HUFFLEPUFF COMMON ROOM


RAVENCLAW COMMON ROOM


SLYTHERIN COMMON ROOM

19 Mei 2012

Without You, I'm nothing


Lelaki itu...

“Oh Tuhan, kenapa aku harus mengingatnya lagi?” Aku terisak tepat di depan buku-buku yang di tata rapi di meja belajarku.

Awalnya aku hanya ingin mengambil novel bersampul merah muda yang dikarang oleh penulis favoritku, Ilana Tan. Saat aku ingin mengambilnya, tepat di sebelah novel itu terletak sebuah pigura yang mengingatkanku kepada seseorang. Seseorang yang sangat berarti di hidupku. Tapi, itu dulu...

-flashback-

Pagi itu, di rumahku, tepatnya di daerah Lembang, udara yang dingin tak dapat aku rasakan karena kesibukanku untuk menyiapkan baju dan sarapan untuk kedua adikku dan ayahku. Aku melakukan ini setiap hari semenjak ibuku meninggal setahun yang lalu karena kanker rahim. Aku sebagai anak tertua di keluarga Singleton, bertanggung jawab mengurusi adik-adikku yang masih berumur tiga dan tujuh tahun itu.

“Georgina, sudah siap masakannya?” Ayahku berteriak saat keluar dari kamarnya sambil membetulkan dasinya. Aku mengangguk lalu menyajikannya di meja makan yang sudah di tata rapi. Adik kecilku, Oliver, berlari menghampiriku. “Iya, Oliver. Tunggu sebentar ya, aku akan membuat susu coklat hangat untukmu sebentar lagi,” ujarku menggosok-gosok kepala Oliver sehingga rambut coklatnya sedikit berantakan.

“Semua sudah siap?” Tanya ayah kepadaku, Oliver, dan Lucy, adikku yang pertama. Kami semua mengangguk dan berjalan membuntui ayah. Selagi ayah mengeluarkan mobilnya, aku mengunci pintu rumah lalu memberikannya kepada penjaga di rumahku. “Georgina, ayo putar lagu! Aku bosan!” Oliver mengeluh. Lucy yang sedang asyik membaca buku cerita mendesah, “tidak! Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau begini!”, “Memang aku peduli?” Tanya Oliver mengeluarkan lidah kecilnya. “Sudah, Oliver, Lucy! Bagaimana kalau Lucy di depan bersama ayah, aku pindah ke belakang untuk mendengarkan lagu bersama Oliver?” Keduanya mengangguk setuju.
***
Aku Georgina Singleton, anak pertama dari Oscar Singleton dan Emily Singleton, pemilik perusahaan pegadaian emas di yang tersebar di seluruh Indonesia. Aku berumur dua belas tahun saat Agustus nanti. Aku bersekolah di International Smart School, salah satu Sekolah International ternama di Bandung. Aku dari lahir sudah berada disini, namun saat aku berumur aku berumur empat tahun, orang tuaku memutuskan untuk tinggal sementara di Aussie sampai aku berusia delapan tahun.

Saat kembali ke Indonesia, aku akan mempunyai seorang adik lagi. Tapi, saat usia kandungan ibuku menginjak lima bulan, ibuku dinyatakan kanker rahim. Dokter memberi dua pilihan, menggugurkan adikku atau mempertahankan adikku dengan taruhan nyawa. Ayahku sudah menyuruh ibuku untuk menggugurkannya, tapi apa yang ibuku katakan? “Tidak, ini karunia Tuhan. Aku tidak akan menggugurkan kandunganku. Aku sayang pada anak-anakku, Oscar.” Ayahku hanya bisa mengalah dan berharap ibuku akan baik-baik saja.

Saat ibuku melahirkan Oliver, ibuku selamat, ibuku tidak apa-apa. Ayah sangat senang mendengarnya. Tapi, sepuluh bulan setelah melahirkan, kanker rahim ibuku semakin parah dan akhirnya meninggal saat ibuku akan di operasi.
***
Aku tiba di sekolahku tepat pukul 7. Bel baru akan dibunyikan 15 menit lagi. Aku menutup pintu mobil lalu berjalan ke arah gedung sekolah. Aku berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya karena aku belum mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh Mr. Lucas. Aku tertidur semalam karena aku sangat lelah.

“Georgina! Kenapa kau? Kau berkeringat sangat banyak!” Sahabatku, Greyson Chance, meghampiriku ke depan kelas sambil memberikan sapu tangan hitamnya. “Aku belum mengerjakan tgas Mr.Lucas, Grey! Ayolah, bantu aku! Ada soal yang tidak aku mengerti,” ujarku dengan keringat membanjiri tubuhku. “Tumben sekali kau belum mengerjakan tugas,” Greyson berjalan menuju bangkunya untuk mengambil buku matematikanya. “Mana yang kau tidak mengerti?” Lanjut Greyson saat kembali ke bangkuku. “Aku tadi malam terlalu lelah, dan aku tertidur. Hehehe,” Aku menunjuk nomor soal yang sangat sulit untuk di mengerti.

Teeett....

Bel istirahat berbunyi. “Oh, thank you so much, Grey! Kau menyelamatkan hidupku,” Greyson tertawa. “Kenapa kau tertawa?” Keningku mengkerut. “Kau ini! Tugas Mr.Lucas kau anggap sebagai suatu ancaman?” Suara tawa Greyson makin didengar oleh banyak orang. “Shh, Grey! Kau memalukan!” Aku berjalan lebih jauh di depan Greyson. Greyson mengejarku lalu mengecilkan volume tertawanya, “oh, ayolah, Georgin! Masa begitu saja kau marah?” Greyson menyubit kedua pipiku dengan kedua tangannya. Aku meringis kesakitan, “jika kau tidak mengajariku tadi, aku tidak harus dihukum di depan kelas karena aku tidak bisa mengerjakannya!” Bisikku saat mengambil nampan dari tangan Greyson.
***
Sore itu aku sangat bosan menunggu kehadiran teman kelompokku, yaitu Dinda, Nana, Michael, dan Greyson. Mereka janji akan datang ke rumahku jam 5 tepat. Saat aku melihat jam, “ah, yang benar saja? Baru jam 4? Jam 5, cepatlah datang!” Aku sesekali melihat ke luar rumah untuk memastikan mereka sudah datang atau belum.

Teng... tong...

Aku segera membukakan pintu. Aku sudah mengenali suara bel yang dibunyikan oleh Greyson. “Ya, tunggu sebentar,” ayah berteriak sambil melempar bola kepada Oliver.

“Halo semua! Jam 5 tepat!” Aku menyuruh mereka masuk. Selama aku mengambilkan minuman dan cemilan, aku menyuruh mereka untuk masuk ke kamarku. “Eh, tidak! Kita di ruang tamu saja, Georgina!” Nana menarik tanganku, mencegahku untuk mengantar mereka ke atas. “Bagaimana kalau di ruang tengah? Di ruang tamu ada Lucy dan Oliver yang sedang bermain. Mereka kedua adikku. Aku takut mereka mengganggu kita mengerjakan fisika ini,” jelasku. Mereka semua mengangguk. Aku mengantar mereka ke ruang tengah yang terdapat beberapa foto keluarga.

“Itu ibunya?” Michael menunjuk seorang wanita berjilbab dan berkulit putih halus. “Iyaa,” balas Greyson 
sambil tersenyum lalu mengeluarkan beberapa alat yang dibutuhkan untuk kerja kelompok fisika. “Cantik sekali!” Puji Dinda. “Ya, sangat cantik! Pantas saja Georgina dan Lucy cantik! Mereka sangat mirip,” tambah Nana. Greyson yang mendengarnya tersenyum-senyum sendiri sambil memeriksa alat-alat yang dibawa olehnya.

“Ini dia! Selamat menikmati,” Georgina datang membawa lima gelas minuman rasa jeruk. “Terima kasih, Georgin! Kau sangat tahu saat sahabatmu sedang kelaparan dan kehausan,” Greyson mengambil minuman paling awal diantara teman-temannya yang lain. Sore itu penuh dengan keceriaan, canda dan tawa.
***
Selama aku bersekolah di International Smart School, aku menemukan sahabat yang benar-benar sahabat. Saat lulus SMP, aku dan Greyson bersepakat untuk bersekolah kembali di International Smart High School.

“Halo, Grey! Aku sangat ingin bercerita padamu!” Kataku memulai percakapan.
Ceritalah, Georgin!” Balas Greyson dari seberang sana.
“Ah, aku ingin menceritakannya secara langsung! Aku ingin meluapkan semua kesenanganku hari ini!! Bagaimana kalau kita bertemu di taman?”
“Hm----Georg----okay, baiklah! Jam berapa?” Nada Greyson aneh, seperti yang tidak ingin bertemu di taman.
“Grey, kau tak apa kan? Atau mungkin aku bisa ke rum----“
“Tidak! Tidak usah, kita bertemu ditaman saja,” Greyson memotong pembicaraanku sambil tertawa kecil.
“Oh, oke! Sampai ketemu disana,” Aku menutup telepon dan mengambil baju hangat berwarna coklat tua kesukaanku. Aku segera turun untuk meminta izin membawa mobilnya.

Sesampainya di taman, aku melihat Greyson sedang duduk manis di bangku hijau muda. Dia baru saja menutup botol air mineralnya yang bergambarkan piano, alat musik yang dia sukai. Aku melangkahkan kakiku dengan pelan.

“Greyson!!” Aku menepuk pundaknya. “Aw, sakit!” Greyson mengelus-elus pundak yang tadi kutepuk. “Hehehe, I’m sorry, Grey!”, “It’s okay, Georgi. Oh ya, kau ingin bercerita apa?” Greyson melipat kaki kanannya diatas kaki kirinya. “Kau tahu kan aku, Lucy, dan Oliver pernah menyuruh ayahku untuk menikah?” Greyson mengangguk sambil memainkan tutup botol minum miliknya. “Ayahku menolaknya. Dia sangat mencintai ibuku. Tapi dia mengatakan sesuatu!” lanjutku. Greyson mengkerutkan keningnya melihat mataku melebar, “what?”, “Dia akan mengadopsi anak! Dia umurnya lebih tua dariku! Dia kuliah tingkat dua! Waaaa!” Aku menggoyang-goyangkan badan Greyson saking senangnya. “Yayayaya, I know you happy. But---kau tak perlu menggoyangkan badanku,” Greyson memegang kedua tanganku.
***
Bel masuk berbunyi. Aku gelisah, Greyson belum juga datang. Aku segera menanyakannya kepada teman sebangkunya, Joseph.

“Kenapa Greyson belum datang?” tanyaku pada Joseph yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Aku tak tahu. Ku kira kau----kekasih Greys---“, “Hey! I’m not talking to you, Peter! And I’m not his girlfriend! I’m his friend!” Aku menampar kedua teman Joseph yang menertawakanku, Joseph menyuruh keduanya diam. “I’m sorry, Georgina. Aku tidak tahu dia masuk atau tidak. Dia tak memberitahu apapun padaku,” jelas Joseph. “Okay, thanks, Joseph!” Aku tersenyum dan berbalik arah menuju mejaku.

Selama pelajaran, aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku memikirkan siapa kakak angkatku, dan----Greyson tentunya. Tidak berkonsentrasi saat pelajaran ekonomi menambah beban pikiranku. Bagaimana tidak? Aku dihukum oleh Mrs. Megan karena aku melamun dan tidak memperhatikan pembicaraannya. Aku harus membantunya mengisi daftar nilai dan itu membuatku terlambat pulang sekolah.

“Maaf, ayah. Tadi aku harus membantu Mrs. Megan mengisi daftar nilai,” kataku sambil menutup pintu. “Oke, tak apa, Georgina. Sekarang kita ke panti asuhan, kan? Lalu ke rumah sakit. Ingatkan ayah, Lucy,” Ayah menatap Lucy lewat spion. “Hah? Ke rumah sakit? Untuk apa, yah?” Tanyaku ketika ayah melajukan mobilnya. “Kau tidak tahu, Georgina? Greyson sakit!” Lucy mendekat padaku. Mataku melebar, kaget. “Ayah, lebih baik kita ke rumah sakit dulu!! Aku ingin bertemu Greyson!”, “tidak, Georgina. Lebih baik kita ke panti asuhan dulu. Ke panti asuhan hanya sebentar. Nanti kau bisa berlama-lama di rumah sakit,”
Aku hanya bisa terisak di sepanjang jalan memikirkan apa yang diderita Greyson. Saat aku tiba di panti asuhan pun aku hanya berdiam diri di mobil, menangis. Ayahku menyuruhku untuk turun dari mobil, untuk berkenalan dengan kakak angkatku. Tapi aku tidak bisa menahan air mataku, aku pun tidak mau memperlihatkan air mataku---air mata untuk sahabatku, Greyson---kepada orang lain.

“Georgina, ini Dini, kakak angkatmu,” aku hanya bisa tersenyum padanya sambil menahan genangan air mata yang sebentar lagi akan jatuh menjadi butiran-butiran kristal yang membasahi pipiku. “Tunggu, sebaiknya aku pindah ke belakang. Dini, kau duduk di depan,”, “Baiklah Dini, kau sudah tahu nama-nama mereka, kan? Georgina, Lucy, dan Oliver. Sekarang kau boleh memanggilku ayah,” Ujar Ayah tersenyum pada Dini lalu melihat ke arah kaca spion untuk melihat Lucy, Oliver, dan aku.

Tiba di rumah sakit, aku berlari menuju perawat untuk menanyakan kamar Greyson. Ayahku  menarik tanganku untuk mencegahku terburu-buru. Aku mengalah dan membiarkan ayahku yang menanyakan kamar Greyson. Aku hanya bersandar di dada Dini.

“Greyson ada di lantai tiga, kamar 311. Ayo!” Ayah menggandeng Oliver, Dini menggandeng Lucy, dan aku berjalan cepat di depan mereka. Ayahku berteriak kepadaku agar aku berjalan sedikit lebih santai. Tapi aku tidak bisa, sahabatku sakit.

Aku memasuki ruangan yang cukup luas. Disana terdapat seorang anak laki-laki yang terbaring lemah di kasur. Aku segera menghampirinya. Anak laki-laki terbaring dengan selang di hidungnya, tabung oksigen dan alat pengukur detak jantung di sampingnya. Air mataku langsung terjatuh saat tepat berada di sampingnya.

“Greyson...” aku menangis, lebih kencang dibandingkan saat menangis di mobil tadi. Aku langsung memegang erat tangan Greyson. “Georgin?” Greyson membuka matanya perlahan-lahan. Air mataku terhenti sejenak, kaget melihat Greyson tiba-tiba bangun, seakan-akan dia menyadari kehadiranku. “Georgina? Kapan kau datang?” Tanya Mom Lisa yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Oh, hello, Oscar! Hello Lucy, Oliver, dan....” lanjut Mom Lisa bingung melihat Dini berada di samping Oliver. “Dini. Saya kakak angkat dari Georgina, Lucy, dan Oliver,” Mom Lisa tersenyum dan mengangguk. “Jadi, kapan kalian datang?” tanya Mom Lisa. “Baru saja kami datang, Lisa,” jawab ayahku.

Aku tidak mempedulikan apa yang mereka bicarakan. Aku terus menatap mata Greyson sambil memegang tangan kirinya. “Georgin, kenapa kau menangis?” Suara Greyson lemah. Aku tidak bisa bersuara. Aku tidak kuat menahan air mataku, apalagi setelah mendengar suara Greyson yang tidak seperti biasanya.

“Georgina, ayah, Dini, dan adik-adikmu akan pulang. Kau ikut?” Tanya ayah menghampiriku. Aku menggeleng sambi melihat Greyson yang terdiam dengan mata setengah menutup. “Oke, nanti ayah akan kembali untuk menjemputmu,” Aku terisak-isak. “Mom,” Greyson memanggil Mom Lisa. “Mom Lisa,” ujarku lebih keras. Mom Lisa menengok ke arahku lalu menghampiri Greyson. “Mom, hari ini aku ingin Georgin yang menemaniku. Mom pulang saja, aku khawatir Mom terlalu capek, kurang tidur,” ujar Greyson dengan lemah. Mom Lisa mengangguk dan tersenyum. Beliau langsung membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. “Oke, ayah nanti kembali untuk membawakan baju untukmu. Ayo Lisa, pulang saja bersamaku,” ucap ayah. “Tolong jaga Greyson baik-baik. Mom percaya sama kamu, Georgina,” Mom Lisa mengecup keningku, aku mengangguk.

Hari itu aku dan Greyson saling melontarkan candaan. Walaupun sedang berbaring lemah, Greyson masih terbilang humoris. Aku sampai lupa kalau sebelumnya aku menangis. “Georgin, kenapa tadi kau menangis?” tanya Greyson tiba-tiba. Aku mengeluarkan air yang ada di mulutku dengan refleks, Greyson tertawa. “Aku khawatir denganmu, Grey! Kau tadi tidak ke sekolah tanpa memberi kabar kepadaku!” Suaraku mengencang, aku tahan kembali air mataku. “Maaf, Georgin. Tadi malam aku lemas, bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja aku sudah tertidur di kasur ini dengan selang dan kabel-kabel ditubuhku,” jelas Greyson. “Tapi setidaknya kau kabari aku saat kau sudah bangun!!” suaraku lebih kencang dari sebelumnya, sampai-sampai aku tidak kuat menahan air mata. “Georgina Singleton, sahabatku, y-----maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf! Aku sebenarnya tak ingin kau bersedih, aku tak ingin kau tahu kalau sebenarnya aku begini,” Greyson memegang tanganku. Aku merasakan tangan Greyson yang lebih dingin dari biasanya. Aku lemas-----semakin lemas, aku menangis.
***
Kemarin malam Greyson dinyatakan sembuh dari penyakit jantungnya. Aku sangat senang mendengarnya. Pagi ini aku ikut menjemputnya bersama Alexa dan Tanner. Sebelumnya, aku sudah menyiapkan hadiah untuknya.

Sesampainya di kamar, aku berlari ke arah Greyson yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Tapi saat aku sudah dekat dengannya, Greyson membalikkan badannya dan-------AW!----basah! “Oh, I’m sorry, Georgin!” Aku dan Greyson saling menertawakan diri sendiri, lalu Greyson memelukku. “Thanks! You’re everthing for me! Without you, I’m nothing!”

“Oh ya, ini untukmu!” aku memberikan kotak berwarna hitam dan putih--warna kesukannya--yang tidak terlalu besar. “Georgin, kau mengerjaiku! Sangat susah untuk dibuka-----Oh, Georgin! Pigura----penuh dengan foto kita berdua, dan---hei! Kenapa kau tempelkan foto saat aku sedang sakit dan tertidur? But, thank you so much!! I love this sweater!” Greyson mengeluarkan pigura dan sweaternya sambil tersenyum senang. “Oh iya, aku punya ini untukmu, Georgina!” Greyson memberiku sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf G. “Thank you so much, Grey! I like it!” aku berteriak hingga perawat yang melewati kamar Greyson melirik ke arahku. “Sama-sama, Georgin! Sini, aku akan mengalungkannya di lehermu,” aku mengikat rambutku yang sedikit panjang, lalu Greyson memakaikan kalung di leherku. “Oke, sudah! Lihat, Georgin----G—dan G! Georgina and Greyson!” Greyson menunjukkan kalung yang sedang dipakainya sambil tertawa.

Selama perjalanan pulang, aku dan Greyson bercanda, bermain, dan bernyanyi seperti dulu---sebelum penyakit jantungnya kambuh. “Oh, tadi menyenangkan!” ujar Greyson kepadaku. “Apanya yang menyenangkan?” aku mengkerutkan keningku. “Saat aku tak sengaja menciummu!” Bisik Greyson. Aku dan Alexa pun tertawa. “Alexa, kau mendengarnya?” Greyson menjulurkan lidah ke arah Alexa. Alexa kemudian menjulurkan lidahnya kepada Greyson. Mukaku memerah seperti buah tomat yang baru saja matang.
Semenjak Greyson dinyatakan sembuh, Greyson selalu mengajakku bermain di taman pada malam ataupun siang hari, mengajakku untuk berolahraga bersama. Padahal, dokter sudah menyuruhnya untuk beristirahat dan jangan kelelahan. Aku sudah berusaha memberitahunya, tapi dia keras kepala. Apa yang dia katakan? “No, Georgin! That’s me, Greyson Michael Chance! Aku ceria, tidak bisa diam, dan----kau sahabatku, Georgin! Kau seharusnya tahu aku!” Aku benar-benar tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa melihat Greyson tersenyum dan tertawa bahagia.
***
Cinta itu tumbuh dalam diriku. Aku tak mengerti kenapa rasa ini tumbuh. Sebab, aku dan Greyson adalah sahabat. Mungkin karena dia sangat baik kepadaku, memberikan semua perhatiannya untukku, dan memberikan segalanya untukku. Tapi aku tahu, Greyson memberikan semua itu hanya untuk membuatku bahagia sebagai sahabatnya.

“Morning, princess!” Greyson mengetuk pintu kamarku dengan sangat keras. “Wake up, Georgin!!” ujarnya lagi. “Okay, Grey! Wait a minute,” aku beranjak dari kasurku lalu berjalan dengan lesu untuk membuka pintu kamar. “What?” Tanyaku kepada Greyson. “Tolong, Georgin! Mukamu sangat kusut! Cepat mandi! Temani aku ke mall!” Greyson mengambilkan handukku lalu menarikku ke arah kamar mandi.

“Oh my---you’re so beautiful with your casual style, Georgin!” Greyson menyambutku di ruang tamu. “Thank you, Grey. You’re look so handsome this morning,” ujarku. Oh, jangan! Mukaku jangan memerah! “Hahahaha, I know I’m handsome, Georgin. Oh, come on! Nanti macet! Kau tahu kan sekarang malam Minggu? Dan kau tahu bagaimana keadaan Bandung kalau malam Minggu?” Greyson mengeluarkan kunci mobil dari sakunya. “Dad, I’ll go to mall with Greyson,” aku menghampiri ayahku yang sedang bermain duduk di ayunan bersama Lucy. “Oke,” ayah mengangguk setuju. “Bye Dad, bye Lucy!” “Bye, Georgin!” teriak Lucy saat aku memasukki mobil yang dikendarai Greyson. Terlihat dari kejauhan Lucy berlari keluar rumah dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku dan Greyson membalasnya.

“Greyson, tumben sekali kau mengajakku ke mall. Biasanya kalau aku ajak, kau tidak mau,” aku membuka percakapan di mobil berplat nomor D 1608 GC itu. “Ya, aku sadar, Georgin. Aku seharusnya tidak begitu kepada sahabat,” ujar Greyson yang sesekali melihat ke arahku. Aku terdiam, tak dapat bicara. Apa Greyson hanya menganggapku sebagai sahabat? “Georgin? Kau sakit?” pertanyaan Greyson membuyarkan lamunanku. “Oh, tidak. I’m just sleepy, Grey, hehehehe,” jawabku berbohong. “Ya Tuhan, Georgin! Kau sudah mandi, sudah terlihat sangat cantik, tapi kau mengantuk?” Greyson mengarahkan mobilnya ke salah satu mini market. “Oke, aku akan membelikan kopi untukmu. Tunggu sebentar,” Greyson keluar dari mobilnya, aku menarik pergelangan tangannya, mencegah Greyson membeli kopi. “Tidak, Greyson. Tidak usah,” “Tak apa, Georgin! Lagipula aku ingin kopi,” ujar Greyson tersenyum lalu menutup pintu mobil.
***
“Georgin, menurutmu bagus mana? Ini----atau ini?” Tanya Greyson memperlihatkan dua jaket pilihannya. “Aku suka yang hitam ini, Grey!” Aku menunjuk jaket kulit hitam. “Waw, pilihan yang tepat!” Greyson menyimpan kembali jaket berwarna coklat ke barisannya dan memasukkan jaket pilihanku ke dalam tas belanja yang disediakan disana.

“Kau suka ini, Georgin?” Tanya Greyson menunjuk gaun berwarna ungu. “I love it, Greyson!” pekikku. “Or-----this?” Greyson memperlihatkan gaun lain yang berwarna hitam. “Oh my----i love it very much!” aku memutar-mutar bagian gaun itu. “Coba kau pakai dua-duanya,” Greyson memberikan kedua gaun itu kepadaku. “Hah? Greyson, aku tidak bermaks---“ “Ah, sudah! Ayo coba!”  Greyson mendorongku ke fitting room.

“Grey----umm?” Aku keluar dengan gaun selutut yang berwarna ungu. “You’re so beautiful!! Coba pakai yang warna hitam,” Greyson mendorongku lagi. “Cepat berikan gaun ungu itu kepadaku sesudah kau melepasnya!” teriak Greyson di luar sana. Aku segera membuka gaunnya dan memberikannya pada Greyson. “Oke, cepat pakai gaunmu!” aku mengangguk. Tak lama aku kembali keluar, “Grey----bagaimana?” “Hm---oke. Cepat buka gaunmu, dan berikan kepadaku!” Greyson mendorongku kembali.

“Nah, ini pegang!” Greyson memberikan kantong belanjanya kepadaku lalu mengambil kunci mobilnya. Karena aku penasaran, aku membuka kantongnya. “Grey, gaun ini?! Kau membelinya?!” Greyson tak menghiraukan pertanyaanku. “Grey, jawab!!” aku memukul kepalanya dengan kantong belanjaan saat aku menutup pintu mobil. “Oke, Georgin! Itu hadiah untukmu, aku membelinya karena aku tahu kau sangat menyukainya,” jelas Greyson menatapku, kemudian mengelus pipiku dengan tangannya yang lembut. “Hm, Georgin, nanti malam aku tunggu di cafenya Syifa. Pakai gaun ungu itu,” aku mengangguk tersenyum sambil menatap matanya. Greyson tersenyum kembali kepadaku lalu menyalakan mobilnya.
***
“Oh, my----Georgin! You’re so beautiful this evening!” ayah menghampiriku ketika aku akan merapikan rambutku. “Thank you, Dad,” aku membalasnya dengan tersenyum. “Mau kemana?” tanya ayah. “Syifa’s cafe, yah. Tak jauh dari sini,” balasku. “Date with Greyson?” tanya ayahku lagi. Pipiku memerah, “no, Dad! But----Greyson ikut juga kesana----nah, itu sudah datang! Bye, Dad!” Ayah tersenyum senang melihatku selalu berpergian dengan Greyson.

Setibanya di cafe, Greyson menyuruhku untuk turun mobil terlebih dahulu. Alasannya, dia harus mencari tempat parkir. Aku menurutinya, lalu menghampiri teman-temanku yang lain. “Georgina! Kau-----cantik!!” Puji Syifa. “Thank you, Syifa. You too,” ujarku memeluk Syifa.

Aku gelisah, Greyson tak juga muncul di cafe itu. “Greyson kemana? Lama sekali dia memarkir mobil,” ujarku kepada Michelle. Michelle menggeleng lalu meninggalkanku. Aku kesal! Aku datang ke pesta ini bersama Greyson, lalu Greyson menghilang, dan semua orang disini sama sekali tidak memperhatikanku. “Georgin, kemarilah! Tutup matamu!” Syifa memberikan penutup mata kepadaku, dan dia menarikku agak kencang.

“Sekarang, biarkan aku membuka penutup matamu, Georgin,” Itu--suara yang sering ku dengar. Greyson. Saat penutup matanya dibuka---aku tidak bisa berkata apa-apa. Suasananya indah sekali. Tiba-tiba terdengar suara piano yang begitu merdu. Aku membalikkan badan, dan-----Greyson sedang bernyanyi tepat di depannya.

I’m waiting.... waiting... just waiting.. I’m waiting... waiting outside the lines~ I wanna be holding your hand in the sand by the tire swing, where we use to be, baby, Georgina, you and me~

Kedua lagu itu...

Air mata kembali tergenang di pelipis mataku. Tapi aku menahannya, aku tak mau menangis dihadapan banyak orang hanya karena lagu ini. Kemudian Greyson berjalan ke arahku, “Aku tahu kau sahabatku. Tapi apa karena sahabat, seseorang tidak bisa memendam rasa cinta?” Aku tak mengerti apa yang dia ucapkan. Greyson mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku celananya, “Georgina Singleton, do you want to be mine, for today, tomorrow, and forever?” Tanpa disadari, air mataku terjatuh, sampai-sampai mengenai wajah Greyson. Aku mengangguk senang, lalu Greyson berdiri dan memelukku. Semua teman-temanku bersorak. “Georgin, you’re mine. So don’t cry!” Greyson mengusap air mataku. Aku tersenyum lalu memakai cincin yang diberikan oleh Greyson.
***
Tak terasa, besok, aku dan Greyson telah menjalani hubungan selama dua tahun. Aku tak pernah menyangka akan begini. Karena sebelumnya, aku dan Greyson hanyalah sahabat biasa. Aku menuruni tangga untuk sarapan.

“Good morning, Georgin!” sapa Dini, Lucy, dan Oliver. “Good morning too,” aku mencium pipi Dini, Lucy, dan Oliver. “Dad mana?” tanyaku kepada Dini. “Dia sudah pergi kerja tadi, ada tugas penting,” jawab Dini. Aku mengangguk lalu mengambil selembar roti dan keju.

Ting... tong...

Bel rumah berbunyi. “Biar aku yang buka,” ujarku lalu menyimpan sisa rotinya. “Oh, hello, Grey! Ayo masuk, kebetulan kita lagi sarapan!” Greyson lalu merangkulku dan berjalan ke arah meja makan. “Hello, Greyson! How are you?” tanya Lucy. “Lucy, sebaiknya habiskan makanan yang ada di mulutmu, baru kau boleh bicara,” Lucy tersenyum lebar kepada Dini lalu menelan rotinya. “I’m sorry, Greyson,” Lucy malu-malu. “Tak apa, Lucy,” Greyson tertawa dan mengacak-ngacak rambut Lucy.

“Georgin, maaf, aku tak bisa berlama-lama. Mom sudah meneleponku untuk pulang. Bye, Georgin!” Greyson mengecup bibirku, sementara Lucy dan Oliver menutup matanya. “Hahahaha, you’re so cute, Lucy, Oliver! Okay, good bye!” Greyson berlari ke depan rumah. Tak lama, terdengar suara mobilnya yang baru keluar dari rumahku.
***
Malam itu aku kesal, sedih, dan gelisah. Bagaimana tidak? Greyson tidak membalas SMS dan BBM. Dia juga tidak menjawab teleponku.

Drrtttt..

Handphoneku bergetar. Segera aku mengambilnya. “Alexa---Halo?---APA?! OKE, AKU KESANA SEKARANG!” aku menutup teleponnya. “DAD, KE RUMAH SAKIT SEKARANG!! GREYSON, DAD!!!!” Aku menarik ayahku yang sedang asyik menonton, sambil terisak.

Ayah segera menyalakan mesin mobil. Aku tidak bisa berhenti menangis memikirkan Greyson. Bagaimana bisa penyakit itu menyerangnya lagi? Sedangkan dua tahun lalu, dokter sudah menyatakan sembuh. “Georgina, kau tahu kan....” obrolan ayahku tak aku hiraukan. Didalam pikiranku hanya ada Greyson, Greyson, dan Greyson. Tak lama kemudian, ayah terdiam. Di mobil hanya terdengar isak tangisku saja.
Sesampainya di rumah sakit, aku segera berlari menuju UGD tanpa peduli orang-orang yang memperhatikanku. Aku melihat Mom Lisa, Dad Scott, Alexa, dan Tanner gelisah. Aku langsung menghampiri mereka.

“Mom, Dad, kenapa Greyson---“ aku tak bisa meneruskan perkataanku. Air mataku terus dan terus mengalir membasahi pipiku. “Kita juga tidak tahu, Georgina. Awalnya dia sedang duduk di kursi taman di rumah. Tak lama kemudian, Tanner berteriak memanggil nama Greyson. Greyson jatuh dari kursi sambil memegang dadanya,” Mom Lisa menangis lebih keras dibandingkan aku.

Tak lama, dokter pun keluar. “Dokter, bagaimana dengan Greyson?!?!?!” aku langsung menghampiri dokter itu sambil menangis lebih kencang dari sebelumnya. “Kondisi Greyson saat ini sangat lemah. Tidak ada yang boleh menjenguknya sampai kondisinya membaik,” jelas dokter. “Tapi, aku mamanya, dok. Boleh kah aku menjaganya?” Mom Lisa memegang erat tangan Dad Scott. Dokter mengangguk. Mom Lisa mengikuti dokter dari belakang. “Sebaiknya kita pulang, Scott. Biarlah Lisa yang menjaga Greyson. Ayo Georgina, Alexa, Tanner,” ayah mengajak semuanya untuk pulang.

Keesokan harinya, aku terbangun oleh bunyi alarm di handphoneku---suara Greyson---dengan mata sembab. Aku segera membasuh mukaku. Tak sengaja aku melihat ke arah rumah Greyson, yang tak jauh dari rumahku. Kenapa rumahnya dikunjungi banyak orang? Aku langsung buru-buru berlari mencari ayahku.

“DAD!! WHAT HAPPEN?! KENAPA BANYAK ORANG YANG MENGUNJUNGI RUMAH GREYSON?!” Air mataku mulai menggenang kembali. “Greyson----meninggal, Georgina,” aku langsung menangis di pelukkan ayahku sambil memegang kalung dengan liontin “G” yang diberikan Greyson dua tahun lalu.

Aku melepas pelukkan ayahku dan bergegas mandi. Aku memilih gaun hitam yang diberikan Greyson kepadaku pada tanggal ini, dua tahun yang lalu. Terdengar ayah menyuruh Dini, Lucy, dan Oliver untuk mengganti bajunya lalu bersiap-siap untuk melayat Greyson.

Rumah Greyson---sesak. Banyak orang disana. Keluarga, temannya di sekolah, temannya saat berlatih untuk bernyanyi. Alexa dan Tanner melihatku, lalu terbangun dan menghampiriku. “Georgina, maafkan aku. Aku bukan kakak yang baik, aku tidak bisa menjaga Greyson dengan baik,” ujar Alexa. “Bukan, ini bukan salah kalian! Ini salahku! Aku bukan sahabat yang baik, aku bukan pacar yang baik untuknya,” aku terisak. Tanner dan Alexa langsung memelukku. “Oh iya, ini untukmu. Greyson menitipkannya kepadaku saat malam itu,” Alexa melepas pelukannya, lalu memberikan sepucuk surat berwarna merah muda becampur ungu. Alexa juga memberi jaket hitam milik Greyson. “Terima kasih,” aku segera menghampiri jasad Greyson.
Greyson Chance. Orang yang ceria, selalu bersemangat, tidak pernah menyerah, kini sekarang berada dihadapanku. Kaku, dingin, pucat. Kemudian aku memeluk erat jasad Greyson, air mataku mengalir semakin deras. Setelah puas memeluk tubuhnya untuk yang terakhir kalinya, aku mengecup bibirnya yang dingin dan pucat. Air mataku jatuh tepat di pelipis mata Greyson. “Greyson, I’ll miss you. I’ll always love you. Forever. I promise,” bisikku di telinga Greyson.

Semuanya berbalik badan lalu pulang. Kini, aku sendiri---di depan batu nisan yang bertulisan namanya, Greyson Chance. “Halo Greyson, lihat! Aku memakai gaun berwarna hitam yang kau berikan dua tahun lalu. Dan lihat! Aku memakai kalung dengan liontin huruf “G”. Kau ingat? Greyson and Georgina! Lalu---cincin ini yang kau berikan dua tahun lalu! Greyson!!” Aku memeluk batu nisan itu. Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku. “Sudahlah, kau tak usah bersedih. Dia akan bahagia jika kau bahagia. Oh iya, namaku Cody Simpson,” ujar laki-laki yang menepuk pundakku. “Tak usah takut, aku bersahabat dengannya. Aku sudah berjanji padanya, kalau aku akan menjagamu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis,” lanjut Cody.

“Nah, Cody. Ini taman yang memberiku banyak kenangan bersamanya,” ujarku setibanya di taman yang biasa aku dan Greyson kunjungi. “Taman ini indah. Oh iya, ayo buka surat itu,” Cody memegang pundakku untuk duduk bersama di kursi yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengangguk, lalu mengambil suratnya dari saku jaket Greyson.

Aku tahu ketika kau membaca ini, aku sudah pergi meninggalkanmu menuju kehidupan di surga.
Aku ingat ketika aku dinyatakan sembuh oleh dokter, kau dan aku tidak sengaja berciuman. Asal kau tahu, aku merasa senang dan pikiranku meluncur bebas di angkasa. Seandainya aku masih hidup, aku akan datang ke rumahmu untuk meminangmu, Georgin. You’re the best in my life, tapi jangan kau jadikan aku yang terbaik dihidupmu. Hidupmu masih panjang, Georgin. Carilah orang lain yang lebih pantas unuk menjadi sahabat dan kekasihmu.
Tak ada yang lebih indah di dunia ini selain persahabatan dan cinta. Georgina Singleton, terima kasih kau sudah mau menerimaku sebagai sahabat dihidupku dan cinta dihatiku
Yours,
Greyson Michael Chance
-now-

Masih terlihat bekas tetesan air matanya di surat ini...

“Georgina, bersiaplah,” ujar seorang laki-laki yang membuyarkan lamunanku. Aku langsung menyimpan surat itu ke dalam laciku, dan mematikan voice note dari Greyson---yang isinya rekaman isi dari surat itu.

“Oh, Georgina. Aku mengerti. Tapi, jangan biarkan butiran-butiran ini jatuh. Ini berharga,” aku tersenyum lalu memeluknya. Ya, aku mengerti isi surat yang diberikan Greyson itu. Cody lah ‘orang lain’ yang Greyson maksud. Aku berjanji, aku tidak akan pernah mengecewakannya. Aku akan terus mencintainya, walaupun sudah ada Cody disisiku.

-THE END-